
Malvin tidak dapat menahan keterkejutannya saat menemukan siapa yang baru saja masuk ke dalam ruang inapnya. Ia bahkan sampai harus menampar pipinya demi menyadarkan kalau apa yang ia lihat bukan lah sebuah mimpi.
“Yas, ini beneran kamu?” tanya Malvin dengan ekspresi tidak percayanya. Kedua matanya mendadak memerah, terlihat seperti orang hendak menangis saking terharunya ia menyadari keberadaan perempuan itu di sana.
Perempuan itu mengangguk untuk mengiyakan. Malvin langsung turun dan memeluk perempuan itu.
“Aku pikir kamu udah nggak mau ketemu aku lagi, Yas.”
Ragu-ragu perempuan itu membalas pelukan pria itu. “Maafin aku ya, Vin. Padahal secara umur aku lebih dewasa dari pada kamu, tapi justru sikap aku yang sama sekali nggak dewasa. Maafin keegoisan aku ya.”
Kali ini Malvin tidak tahu harus menjawab apa. Pria itu diam saja dan memilih untuk menikmati pelukan mereka. Sampai akhirnya Yasmin mulai merasa sedikit tidak nyaman dan mengurai pelukan mereka.
“Sorry,” ucap Malvin merasa tidak enak.
Yasmin mengangguk tidak masalah. Ia mengerti karena mereka sudah lama tidak bertemu.
“Aku senang kamu baik-baik saja.”
Yasmin kembali mengangguk. Lalu menyuruh pria itu kembali berbaring pada ranjangnya tapi pria itu jelas saja langsung menolaknya dengan tegas.
“Aku baik-baik saja, Yas.”
‘Syukurlah, aku kaget banget pas denger kabar kalau kamu sama Ailee kecelakaan.”
Malvin tersenyum tipis lalu meminta maaf pada perempuan itu. “Aku minta maaf ya karena udah bikin adik kamu terlibat kecelakaan sama aku. Aku beneran nyesel.”
Kali ini Yasmin menggeleng tidak masalah. “It’s okay, Vin, namanya juga kecelakaan, nggak bisaa dihindari. Semua orang juga nggak mau kan kalau ditawarin kan?”
Malvin mengangguk dan mengiyakan. Lalu keduanya kembali hening.
"Yas/Vin."
"Kamu dulu aja, Yas," ucap Malvin sambil tersenyum.
__ADS_1
Yasmin menggeleng. "Kamu aja, Vin," ucapnya ikut tersenyum.
Malvin menatap perempuan itu ragu-ragu kemudian mengangguk setuju. "Oke, kalau gitu aku dulu."
Yasmin mengangguk setuju.
Malvin menarik napas panjang. Kedua matanya menatap perempuan itu dengan tatapan intensnya. "Aku boleh tahu nggak kenapa kamu pergi menjauh dari aku sampai ke luar negeri. Bahkan kamu pergi tanpa pamit, Yas, boleh aku tahu alasannya?"
Yasmin diam dengan kepala menunduk. Ekspresi bersalah terlihat pada wajah perempuan itu. Ia mengigit bibir bawahnya lalu menatap pria itu ragu-ragu dan bukannya langsung menjawab.
"Apa kamu bahagia, Yas, setelah ninggalin aku begitu saja?"
"Maaf."
Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Yasmin. Malvin memejamkan kedua matanya karena kecewa dengan respon perempuan itu. Ia kemudian menggeleng tak lama setelahnya.
"Aku serius pengen tahu, Yas, cuma itu, aku udah nggak berharap lebih supaya kamu mau menerima aku lagi." Malvin menggeleng cepat tak lama setelahnya.
"Aku memang bersalah karena udah pergi tanpa pamit, tapi setelah beberapa lama aku mulai menikmati keputusan aku. Sepertinya kita sama-sama baik-baik saja kan setelah berpisah jarak jauh?"
Malvin menghela napas. "Sebenernya kalau boleh jujur aku nggak baik-baik saja setelah kamu pergi, aku patah hati dan gagal move on, bahkan sampai sekarang," akunya jujur.
"Vin," panggil Yasmin merasa tidak enak sekaligus merasa bersalah.
"It's okay, Yas, perasaan aku biar jadi urusan aku. Kamu nggak perlu merasa terbebani."
Yasmin mengangguk paham. "Sekarang boleh aku yang tanya?"
Kini giliran Malvin yang mengangguk dan mengiyakan.
"Apa kamu marah sama aku, Vin?''
Meniru gaya perempuan itu, Malvin mengangguk dengan cepat. "Bohong, Yas, kalau aku nggak marah. Selain marah aku juga kecewa sama kamu, rasanya sakit, Yas, sedikit nggak adil juga buat aku." ia tersenyum getir tak lama setelahnya, "kamu bilang setuju mau nikah sama aku, aku bahkan siap menerima kekurangan kamu tapi kamu," ia tertawa, "memilih pergi ninggalin aku. Menurut kamu, wajar kalau aku nggak marah?"
__ADS_1
Malvin kemudian menggeleng cepat. "Aku manusia biasa, Yas, aku bukan malaikat."
Yasmin mengangguk setuju, benar. ia cukup senang karena pria itu mau jujur. Sambil tersenyum tulus ia berterima kasih. ''Makasih, Vin, karena mau jujur sama aku.''
Malvin kali ini hanya diam saja, pria itu tidak membalas dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tapi, Vin, kata Ailee kamu udah punya cewek baru?''
Dengan ekspresi datarnya, Malvin mengangguk untuk mengiyakan. ''Tapi aku nggak tahu sekarang masih atau bukan."
Yasmin mengerutkan dahi bingung. ''Maksudnya?'' tanyanya tak paham.
Pria itu menggeleng saat merespon pertanyaan Yasmin. "Aku sendiri nggak tahu, Yas, semua terasa begitu rumit."
Yasmin terlihat ragu-ragu kemudian menebak. "Apa dia salah paham karena aku?"
Malvin menggeleng. Olivia bahkan belum tahu-menahu soal Yasmin.
"Terus karena Ailee?"
Lagi-lagi Malvin menggeleng. Semua terjadi bukan karena siapa-siapa, tapi karena dirinya sendiri. Dirinya sendiri lah yang telah membuat semuanya menjadi rumit. Dan Malvin menyesalinya sekarang. Yasmin mendadak merasa iba kala melihat wajah memelas sang mantan kekasih. Karena tidak tega, ia kemudian memutuskan untuk menggeser tubuhnya mendekat ke arah pria itu dan kembali memeluk pria itu.
"Vin, janji sama aku meski kita nggak bisa bareng-bareng pada akhirnya, kita harus sama-sama bahagia ya?"
Malvin menatap gadis itu tidak terlalu yakin. "Menurutmu bisa, Yas?" ia menggeleng sambil tersenyum miris, "aku ragu deh, Yas."
"Kamu harus op--"
Kalimat Yasmin mendadak terhenti karena pintu terbuka dan muncul lah Olivia dengan wajah shocknya.
Apa lagi ini ya Tuhan? Batin gadis itu mendadak ingin menghilang dari dunia ini.
Tbc,
__ADS_1