
***
"Balik nyetir sendiri atau dijemput lo?"
Ayana seketika langsung mengerutkan dahi heran, saat baru selesai memeriksa pasien tiba-tiba Malvin nongol dengan napas yang sedikit ngos-ngosan. Bahkan pria itu langsung to the point bertanya tanpa berbasa-basi sesaat.
"Nggak mau nanyain kabar gue dulu lo?" dengus Ayana sambil mengalungkan stetoskopnya. Bukan apa-apa masalahnya semenjak dirinya jadi ibu dan Malvin benar-benar fokus ke residennya, keduanya jadi jarang bertemu. Jadi wajar bukan kalau ia berharap pria itu minimal berbasa-basi sebentar untuk menanyakan kabarnya.
"Kelamaan. Gue buru-buru, Na, lo baliknya dijemput apa nyetir sendiri?"
"Mau dijemput siapa emang? Lo kayak nggak tahu laki gue sibuknya kayak apa, nyetirin gue sebulan sekali aja belum tentu kejadian, gimana mau jemput gue," gerutu Ayana setengah curhat dengan wajah kesalnya.
Malvin yang sedang buru-buru tapi malah dicurhati tentang suaminya yang super sibuk itu, tentu saja kesal.
"Seluruh Indonesia raya juga tahu kali kalau laki lo sibuk. Tapi kan laki lo punya supir pribadi, bisa aja doi nyuruh supirnya buat jemput lo. Gimana sih?"
Ayana menggeleng. "Enggak, gue males kalau harus nunggu supir. Gue juga kadang nggak enak kalau harus membiarkan supir Mas Saga nungguin gue kelamaan, jadi gue emang biasa nyetir sendiri sih."
"Kalau shift malam juga?"
Kali ini Ayana mengangguk sebagai tanda jawaban.
"Tumben, biasanya juga laki lo kan posesif pol."
"Awal-awal sih nggak setuju, tapi lama kelamaan selow sendiri sih. Emang ada apaan sih?"
"Mau minta tolong gue."
"Minta tolong apa?"
"Ya, lo kira-kira kalau gue mintain tolong mau nggak?"
Ayana tertawa sinis. "Ya gue mana tahu kalau lo aja bahkan belum bilang minta bantuan apa, Vin. Kalau bisa gue bantu pasti gue bantu lah. Emang lo butuh bantuan apa? Mau minjem duit? Kenapa? Lo berseteru sama bokap lo lagi? Pengen buka klinik sendiri gitu?"
Malvin langsung menatap perempuan itu dengan ekspresi datarnya. "Gue nggak minat buka praktek sendiri apalagi klinik, Na, rumah sakit bokap gue sendiri aja gue males ngurus kok."
__ADS_1
Ayana mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Ya siapa tahu lo males ngurus karena itu rumah sakit milik keluarga lo tapi lain cerita kalau punya sendiri."
"Enggak gue nggak minat." Malvin kemudian melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya, "jadi gimana lo bisa bantuin kan?"
Kali ini Ayana benar-benar merasa gemas melihat kelakukan sang sahabat. "Vin, lo tinggal bilang butuh bantuan apa terus gue jawab bisa apa enggak. Apa susahnya sih tinggal bilang?" decaknya kesal.
Malvin terlihat ragu-ragu. Pria itu menatap Ayana sedikit kurang yakin.
"Ada apa sih?" tanya Ayan makin kepo.
"Gue mau minta tolong lo ntar pas balik jemput cewek gue dong. Gue nanti sore jam tiga jadi asisten operasi dokter Yuni, kalau mau jemput dia nggak bakalan bisa lah."
"Cewek lo?" Ayana menatap Malvin tidak yakin, "lo punya cewek? Pacar? Cewek beneran? Manusia kan itu?" berondongnya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Malvin langsung memutar kedua bola matanya malas. Pertanyaan perempuan itu menyentil egonya.
"Pertanyaan lo nggak bisa lebih ngaco lagi, Na?"
"Gue kaget beneran, Vin, kok bisa?"
"Tunggu bentar, lo balikan sama dokter Yasmin? Dokter Yasmin balik ke Indo?"
Mendengar nama itu disebut, wajah Malvin terlihat tidak suka. Sadar kalau ia telah salah bicara, Ayana cepat-cepat untuk meminta maaf.
"Sorry, gue nggak maksud. Terus ini gue harus jemput cewek lo di mana? Bandara atau stasiun?"
"Di kantornya."
"Hah?" Ayana melongo seperti orang bingung.
"Dia lagi kurang sehat gitu ceritanya, Na, flu berat, tapi maksain diri buat tetep ngantor. Terus katanya dia ntar sekitar jam setengah tigaan mau pulang jadi lo jemput dia, ya, sebelum pulang."
"Gue sih nggak masalah jemput cewek lo, tapi masalahnya kan gue nggak tahu orangnya yang mana, Vin. Ntar kalau gue salah jemput gimana?"
"Ntar gue kasih liat dia fotonya, dia pake masker kok karena emang flunya lumayan parah. Gue mau jemput sendiri tapi nggak bisa, mau nyuruh dia naik taksi sendiri apa lagi. Ntar lo coba periksa dia sekalian ya, kalau semisal dia nggak mau ancem aja buat diajak ke sini. Dia orangnya lumayan penurut kok."
__ADS_1
Ayana mendengus. "Lo minta gue ngancem anak orang? Yang bener aja lo."
"Enggak papa kalau ngancem demi kebaikan." Malvin kembali melirik jam tangannya, "gue cabut duluan, ya, ntar gue kirim fotonya. Thanks dulu karena lo udah mau bantuin gue, bye!" dengan langkah terburu-buru, pria itu meninggalkan Ayana begitu saja. Perempuan itu hanya mampu menatap punggung yang kian menjauh itu sambil berdecak dan geleng-geleng kepala.
***
Olivia spontan mendengus saat mendapat panggilan masuk dari Malvin. Entah sudah berapa kali pria itu menelfonnya dalam setengah hari ini. Sesaat ia mulai meragukan pria itu, yang sering kali menyebut dirinya super sibuk. Sibuk apaan kalau dari tadi pagi masih sempat-sempatnya mengganggunya.
"Apa?"
Di seberang, Malvin nampak kaget karena nada bicara Olivia yang terkesan ketus.
"Buset, galak banget sih, Liv?" protes Malvin kemudian. Di sela kesibukannya ia masih terus berusaha menghubungi sang kekasih karena merasa khawatir, tapi lihat lah barusan justru sambutan kurang menyenangkan yang didapat.
"Aku galak pasti ada alasannya, Mas, lagian kamu setengah hari ini ganggu aku terus loh. Mau ngapain lagi sih? Aku baik-baik aja, nggak pingsan seperti yang kamu sebutkan tadi."
"Namanya orang khawatir, Liv, aku beneran nggak tenang ini. Kamu jadi pulang jam berapa? Ini temen aku mau selesai dinas jam dua, aku suruh mampir ke kantor kamu ya, ntar biar kamu dianter dia. Terus sekalian minta periksa dia. Dia dokter umum kok, tapi tugasnya di IGD."
Astaga, Tuhan, kenapa sampai bawa-bawa rekan sejawatnya sekalian? Keluh Olivia dalam hati.
"Mas, aku cuma pilek doang loh, nggak usah lebay kenapa sih? Aku bisa kok pulang sendiri, kamu nggak percaya sama aku?"
"Aku begini bukan karena nggak percaya, Liv, tapi karena gue peduli. Udah kamu nggak usah banyak protes, ntar abis ini pokoknya kamu siap-siap tunggu temen aku, ya."
Olivia terlihat tidak setuju. Ia tidak suka merepotkan orang lain. Apalagi kalau sampai harus menjemputnya dan mengantarkan pulang. Duh, ia pasti merasa sungkan nantinya.
"Enggak usah lah, Mas, aku beneran nggak papa. Aku lebih nggak enak kalau ngerepotin temen kamu," ujar Olivia berusaha membujuk pria itu. Tapi Malvin tetap pada keputusannya.
"Enggak papa, nggak usah sungkan, dia lebih dari temen aku kok, udah kayak saudara kembar aku, dia juga suka ngerepotin aku, sekarang giliran aku yang ngerepitin dia. Udah, ya, aku harus siap-siap, sampai ketemu nanti!"
Klik.
Sambungan terputus begitu saja, bahkan Malvin tidak memberinya kesempatan untuk say good bye, dasar pria menyebalkan. Gerutu Olivia kesal.
Tbc,
__ADS_1