
Ayana langsung menyusul Saga setelah keluar dari dapur. Seperti biasa, kegiatan pria itu adalah membaca. Memang benar tidak ada yang bisa dilakukan pria itu kalau sedang menganggur kecuali membaca. Tidak ada. Membosankan. Ya, suaminya ini memang lah tipe pria yang membosankan.
"Mas, mau jeruk," rengek Ayana tiba-tiba.
"Ambil di kul--" kalimat Saga otomatis terhenti saat menyadari kalau Ayana bahkan sudah membawa jeruk itu. Ia menghela napas lalu menutup bukunya, "maksudnya gimana?" tanyanya tidak paham.
Ayana menyengir lalu menyerahkan buah jeruk yang baru saja ia ambil dari dapur kepada Saga. "Kupasin!"
Tanpa protes, Saga menerima buah jeruk itu dan langsung mengupasnya. Ayana? Tentu saja perempuan itu langsung menonton televisi. Kepalanya kemudian menyender pada lengan sang suami, sedangkan sebelah tangannya sibuk menggonta-ganti chanel yang menurutnya cocok dengannya.
"Minggu ini shift apa?"
"Kenapa?"
"Nanya."
Ayana langsung bangun dari posisi bersandarnya. "Maksudnya, nanya begitu dalam rangka apa, Mas?"
"Arisan."
"Hah? Arisan apaan lagi? Perasaan kemarin baru ikut arisan."
"Yang ini dari keluarga Mama. Kemarin Papa."
Ayana reflek menepuk dahinya sendiri. "Astaga, ya ampun, perasaan arisan mulu. Aku nggak usah ikut boleh nggak sih?"
"Emang shift pagi?"
"Sore sih kayaknya."
"Berarti nggak bisa."
Ayana merengut sedih. Saga langsung menyuapi sang istri dengan jeruk yang baru saja ia kupas.
"Emang kenapa?"
"Ya, males aja gitu loh, Mas. Ditanya-tanya udah hamil apa belum terus. Aku sampe bingung mau jawab apa."
"Tinggal dijawab belum, sekalian minta didoain, kenapa harus bingung?"
Mendengar jawaban santai sang suami, Ayana langsung melotot tajam ke arah pria itu. "Enak bener jawabnya, kamu mah cowok, Mas, nggak pernah ditanya-tanyain soal ginian."
"Pernah," sahut Saga.
"Ya, tapi kan nggak kayak perempuan ditanyanya, mana kalau aku suka dibanding-bandingin sama Bia yang udah hamil. Katanya masa kalah sama adiknya." Ayana mendengus tidak percaya, "ya wajar kan, Mas, kalau Bia duluan yang hamil, orang yang nikah aja juga duluan mereka. Kesel banget tahu, kadang."
"Siapa?"
"Apanya?"
"Yang nanya?"
Ayana menyipitkan kedua matanya heran. "Kamu ngeledek, Mas?"
"Kok ngeledek?" protes Saga, ia kemudian kembali menyuapi sang istri dengan potongan jeruk terakhir, "aku nanya siapa yang nanya begituan."
"Oh, kirain ngeledek. Ya, ada, nggak bisa sebut nama dong, Mas, yang jelas ada, dan itu nggak cuma satu atau dua. Tapi beberapa."
"Kenapa nggak bilang?"
Ayana terkekeh. "Emang kalau aku bilang Mas Saga mau ngapain? Mau marah-marah ke mereka?"
"Ya enggak."
__ADS_1
"Terus mau ngapain?"
Saga hanya mengangkat kedua bahunya sebagai tanda jawaban. Sepertinya pria itu juga bingung mau membalas apa.
"Mau lagi?" tawarnya kemudian.
Tangannya menunjuk ke arah bekas kulit jeruk yang berada di atas meja. Lalu Ayana menggeleng sebagai tanda jawaban. Setelah itu, Ayana memilih menyandarkan kepalanya pada pundak Saga.
"Tapi emang belum ya?"
"Apanya?"
"Hamil."
"Ya, mana aku tahu, kan belum cek."
"Kenapa belum?"
"Ya kan, belum ada tanda-tandanya, masa tahu-tahu cek. Nanti kalau masih tetep segaris, rasanya nyesek loh, Mas. Serius. Aku perempuan. Sensitif banget orangnya, beda sama kamu yang apa-apa ya udah doang."
"Tapi kan aturan dua minggu abis suntik HCG, bisa coba tes."
Dengan gerakan tiba-tiba Ayana langsung menegakkan tubuhnya. "Ya ampun, Mas, kok aku bisa lupa kalau abis suntik? Mana ini udah hampir sebulan lebih lagi."
"Lupa juga sama rasanya abis suntik?"
Saga menampilkan wajah datarnya kala mengingat betapa rewelnya Ayana saat itu.
"Hehe, kalau itu nggak mungkin lupa lah, Mas. Apa lagi Mas Saga marah banget waktu itu. Serem. Aku-nya udah ngerasain badan nggak karuan, eh, kamunya malah begitu. Bikin trauma."
"Emang salah siapa?" balas Saga tidak terima.
Nyali Ayana seketika langsung menciut. "Iya, iya, salahnya aku, Mas. Enggak usah marah lagi juga kan bisa?"
"Enggak boleh menyimpan dendam, Mas, apalagi sama istri."
"Siapa?"
"Kamu lah."
"Aku enggak." Saga menggeleng cepat.
Ayana langsung mencibir tidak percaya.
"Serius," ucap Saga meyakinkan.
Sambil tersenyum paksa, Ayana hanya mengangguk dan mengiyakan. "Iya, deh, iya."
***
"Mas!!"
Saga langsung berlari panik dan langsung masuk ke kamar mandi begitu saja, saat mendengar teriakan sang istri. Deru napasnya terdengar ngos-ngosan.
"Kenapa?" tanyanya panik.
Bukannya langsung menjawab pertanyaan sang suami, Ayana malah menyerahkan testpack yang baru saja dia coba.
"Menurut kamu, ini bener nggak, Mas?"
Saga mengangguk setelah mendapati dua garis pada alat tes kehamilan itu. Kedua pasangan suami-istri itu saling melempar pandangan, seolah masih tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Jadi aku hamil, Mas? Kita mau jadi orangtua?"
__ADS_1
Lagi-lagi Saga hanya mengangguk.
"Kamu nggak seneng, Mas?" tanya Ayana. Pasalnya ekspresi suaminya itu masih datar seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal hasil testpack menunjukkan dua garis, otomatis dia hamil. Lalu kenapa suaminya ini hanya diam saja seolah tidak senang?
"Seneng kok."
"Terus kenapa diem aja?"
"Takut cuma mimpi," akunya jujur. Lalu dengan perasaan tanpa bersalah, Ayana langsung mencubit paha suaminya kencang.
Saga langsung mengaduh kesakitan. "Kok dicubit?"
"Sakit nggak?"
"Teriakkan aku tadi kurang kenceng?"
"Kurang. Kalau sakit berarti bener, ini bukan mimpi. Aku beneran hamil. Kamu bentar lagi jadi Papa, terus aku bentar lagi jadi Mama, kita mau jadi orangtua, Mas."
"Terima kasih."
Saga langsung memeluk sang istri, lalu dilanjut dengan mencium pucuk rambut Ayana. Ciumannya lalu turun ke dahi, hidung, dan kedua pipi sang istri.
"Bibir nggak sekalian, Mas?" Ayana masih sempat-sempatnya menggoda sang suami.
Saga langsung mencium bibir Ayana tepat setelah sang istri bertanya. Reflek Ayana terbahak setelah ciuman mereka berakhir.
"Nanti kita cek semuanya dulu, ya, aku bikin janji sama Dian dulu kira-kira bisa kapan. Kita perlu langsung kasih tahu Mama sama Papa dulu nggak?"
"Enggak udah dulu, ya, nanti aja kalau semua udah jelas."
Saga mengangguk paham. "Berarti abis ini langsung nyari supir?"
Ayana melongo tidak paham. "Supir?" beonya kemudian, "buat apa?"
"Anter-jemput kamu."
Ayana meringis tidak yakin. "Aku rasa nggak perlu deh, Mas."
"Dulu kamu bilang mau pake supir setelah hamil kan? Sekarang udah. Mau alesan pake apa lagi?"
Ayana garuk-garuk kepala bingung. Bingung mencari alasan. Mau tidak mau akhirnya ia mengangguk pasrah. "Ya udah, terserah Mas Saga aja lah, gimana baiknya. Aku sebagai makmum yang baik nurut aja. Daripada kualat."
Saga mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Ia tersenyum tipis seraya mencium dahi Ayana sekali lagi. "Makasih ya, Yan," ucapnya tulus. Tangannya kemudian mengelus perut sang istri yang masih rata, "baik-baik ya, Nak! Jangan nakal!"
Saga kemudian sedikit menunduk untuk mengecup perut sang istri. Ada perasaan haru yang mendadak Ayana rasakan melihat pemandangan ini. Bahkan, ia sampai tidak sadar kedua pipinya tiba-tiba basah.
"Mas, kok aku tiba-tiba nangis liat kamu ngomong gitu!"
Ayana mengibaskan sebelah tangannya. Kepalanya sedikit mendongak. Ia terkekeh tak lama setelahnya. Saga yang melihat itu sedikit panik.
"Aku salah?"
Ayana menggeleng cepat. "Bukan, Mas, tapi aku terharu. Kayaknya anak kamu cewek nggak sih? Kalau cewek duluan papa nggak sih?"
"Cewek atau cowok nggak masalah. Cewek semua juga nggak masalah. Cowok semua juga nggak papa. Yang penting sehat."
"Semua? Emang pengen berapa?"
"Banyak."
"Enak aja, banyak, banyak. Kamu pikir aku kucing. Jangan banyak-banyak lah, Mas. Tiga aja ya?"
"Oke."
__ADS_1