Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Mengakhiri Kesalahpahaman


__ADS_3

Aska memasang wajah ogah-ogahannya saat memasuki sebuah Cafe dan netranya menangkap sesosok perempuan yang ingin dia hindari beberapa hari terakhir. Tapi terpaksa tetap harus ia temui.


"Hai," sapa Ayana sambil memamerkan senyum terbaiknya. Sebelah tangannya melambai untuk menyapa pria itu, meski kenyataannya pria itu justru seperti mengabaikannya.


Masih dengan wajah tidak bersahabatnya, Aska menarik kursi dan duduk di sana. "Mau ngomongin apa lagi? Gue rasa semua udah selesai dan nggak ada yang perlu kita bahas."


"Kita pesen dulu, ya?"


Aska menggeleng sambil memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Gue nggak bisa lama-lama, kerjaan gue banyak. Jadi bisa langsung ke intinya aja?" Mendadak senyum sinisnya terbit, "sorry, soalnya gue bukan anak pemilik perusahaan dan hanya karyawan biasa, jadi gue nggak bisa seenaknya," sambungnya terdengar seperti sedang menyindir.


Hal ini membuat Ayana tersinggung entah kenapa. Rahangnya terlihat mengetat dan telapak tangannya mengepal kuat di bawah meja. Ia tidak menyangka kalau Aska akan bicara demikian.


"Lo kenapa ngomong gitu sih, Ka?"


"Kenapa?" Bukannya menjawab Aska malah balik bertanya, "gue kan cuma ngomongin fakta. Gue ini emang cuma karyawan biasa, Na, bukan anak orang kaya kayak lo atau pun Mas Saga."


"Gue nggak nyangka ternyata lo begini orangnya, Ka." Ayana menggeleng dengan ekspresi tidak percayanya.


Aska mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Gue emang begini orangnya, Na. Dan kalau lo nggak suka, ya, sorry."


Ayana makin kehilangan kata-kata untuk membalas. Yang dilakukan perempuan itu hanya mendengus tidak percaya seraya menyandarkan punggungnya pada kursi, kedua tangannya menyilang di depan dada, tatapan matanya menatap lurus ke arah Aska yang masih mencoba menghindari tatapan matanya.


Aska berdehem keras. Ia mulai merasa risih ditatap Ayana sebegitu intens. "Kalau ngomongnya udah, gue mau balik kantor, Na. Udah kan?"


Ayana langsung menggeleng cepat. "Gue bahkan belum mulai, Ka."


"Gue bilang to the point! Jangan muter-muter, bisa nggak sih, Na?"


Ayana mengangguk paham. "Gue mau minta maaf. Sorry, udah bikin lo kecewa."


Aska mengangguk seraya memainkan ujung jarinya pada meja. Pandangannya terlihat menerawang, helaan napas terdengar tak lama setelahnya. "Gue kecewa banget sama lo, Na. Kenapa harus sampai bohong sih? Seenggaknya kalau lo nggak bohong, gue nggak terlalu berharap lebih. Lo ngerti nggak sih gimana sakit hatinya gue sekarang? Sakit banget, Na, hati gue."


"Gue nggak bohong, Ka. Gue sama Mas Saga emang nggak ada hubungan apa-apa. Ya, oke, Abang gue emang berniat deketin kita, tapi gue nggak ada perasaan lebih. Mas Saga udah gue anggep kayak Kakak sendiri. Dan menurut gue emang nggak bisa lebih. Bisa lo percaya sama gue?"


Aska menggeleng. "Gue nggak tahu," akunya jujur, "ini nggak mudah bagi gue, Na." Ia menatap Ayana, kedua pasang mata itu saling bertemu, hingga tak lama terdengar helaan napas panjang dari pria itu, "lo tahu nggak? Kemarin di nikahan Mas Jaka, hampir semua tamu ngomongin lo, Na. Dan lo tahu, lo diomongin sebagai apa? Sebagai calon istri Mas Saga, bisa lo bayangin betapa cemburunya gue?"


Ayana diam. Kepalanya menunduk dalam, ada perasaan bersalah dalam diri gadis itu.


"Lo bahkan nggak bisa ngebayangin kan?"


Ayana menggeleng. "Enggak," balasnya tanpa ragu, "tapi lo juga nggak bisa kan bayangin, gimana rasanya suka sama orang tapi orang itu malah mikir kita suka sama orang lain. Lo bisa bayangin?"


Ragu-ragu Aska menggeleng. "Lo lagi ngomongin siapa sih?"


"Lo."


Aska masih terlihat bingung. Keningnya berkerut heran, ragu-ragu jari telunjuknya menunjuk diri sendiri. "Gue?" tanyanya tidak yakin, "bentar, bentar, gue nggak ngerti deh. Maksudnya gimana sih?"


"Gue juga suka sama lo," ucap Ayana malu-malu dan terdengar pelan.


"Gimana, Na?"

__ADS_1


Pertanyaan Aska langsung membuat Ayana berdecak kesal. Dengan ekspresi cemberut, gadis itu berdiri. "Tahu lah terserah lo, mau lo beneran nggak denger atau cuma pura-pura, yang jelas gue nggak mau ngulangin. Gue mau ca--"


"Hei, mana boleh gitu?" potong Aska terdengar tidak suka, "duduk dulu, kita pesen sesuatu ya? Masa udah duduk di sini nggak pesen apa-apa, nanti apa kata pelayannya?"


Ayana langsung tertawa sinis seraya mengetuk meja. "Helo, siapa ya, yang tadi ngakunya nggak bisa lama-lama di sini karena banyak kerjaan?" sindirnya kemudian.


"Oke, aku ngaku salah. Jadi, plis, duduk dulu, ya!"


"What? Aku?"


Aska langsung mengangguk cepat. "Oke, gue," ralatnya kemudian.


"Aku-kamu kedengaran bagus," balas Ayana yang kini sudah kembali duduk di hadapan Aska. Hal ini langsung mengundang senyum sumringah dari pria itu.


Masih sambil menahan senyum bahagianya, Aska mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan Cafe. Selesai memesan mereka kembali mengobrol.


"Jadi kamu beneran suka sama aku?"


"Ka!" Ayana kesal, kedua pipinya mendadak merasa panas. Ia malu dan juga salah tingkah. Ia secara spontan mengibaskan kedua tangannya di depan wajah, berharap hawa panas itu pergi.


"Why? Aku cuma mau memastikan kalau apa yang aku rasain itu nggak sendirian, Na. Apa salahnya sih?"


"Gue malu."


"Aku," koreksi Aska cepat, "lagian meski wajah imut-imut ngegemesin, bukan berarti kamu masih cocok sok malu-malu gitu." Ia menggeleng cepat, "udah nggak cocok, Na. Malu sama umur."


"Iya, Ka, aku juga ngerasain yang sama. Sekarang udah jelas?"


"Aska," panggil Ayana dengan nada menegur, lengkap dengan pelototan mata tajamnya.


Bukannya takut Aska malah tersenyum cerah. Sebelah tangannya yang tadi menopang dagu, kini beralih meraih telapak tangan Ayana dan menggenggamnya erat.


"Aku sayang sama kamu, Na, mulai hari ini aku mau kamu jadi pacar aku.  Ini bukan pertanyaan, tapi permintaan, dan yang aku butuhkan hanya kata ya or yes. Jadi kamu pilih yang mana?"


Ayana spontan langsung melepas genggaman tangan Aska. Wajahnya pura-pura merengut diiringi dengusan tidak percaya. "Itu sih namanya bukan permintaan, tapi paksaan."


"Dan jawabannya?" Aska tidak memperdulikan ucapan Ayana, yang ia inginkan saat ini hanya lah kejelasan hubungan mereka. Ia tidak butuh apapun.


Oh, tidak, ternyata Aska salah. Ia butuh air minum. Buktinya saat pelayan menyajikan pesanan mereka, ia langsung menyambar minuman pesanannya.


"Makasih, Mbak," ucap Aska setelah berhasil membasahi kerongkongannya. Ternyata menunggu kepastian membuatnya haus juga.


"Sama-sama, selamat menikmati, Mas, Mbak." Pelayan itu mengulas senyum terbaiknya, "permisi."


"Jadi jawabannya?" Aska masih terlihat tidak sabarannya.


"Ya."


Aska langsung bersorak kegirangan. "Berarti aku yang bilang yes, ya?"


"Terserah," balas Ayana sambil geleng-geleng kepala. Merasa sedikit malu juga dengan kelakuan Aska yang menurutnya sedikit berlebihan. Kesan pertamanya dulu saat pertama kali bertemu mendadak hancur. Ternyata pria ini memiliki sifat senorak ini hanya karena mendapat pacar baru.

__ADS_1


"Yes, akhirnya gue punya pacar!"


"Aska, udah deh, malu tahu. Jangan norak! Buruan duduk, makan!" omel Ayana dengan wajah galaknya.


Mendapati wajah galak sang kekasih, nyali Aska seketika langsung menciut. Ia kembali duduk sambil meminta maaf.


"Maaf, sayang, kesenengan."


Ayana berdecak sambil menggulung spagetti-nya menggunakan garpu dan menyuapkannya ke dalam mulut. "Norak!"


"Dih, norak-norak begini kan pacar kamu, sayang."


"Dan aku kayaknya mulai nyesel deh."


"Heh! Sembarangan, nggak boleh gitu. Masa baru 5 menit jadian, udah mau diputusin."


"Bercanda," kekeh Ayana.


Aska langsung merengut. "Bercandanya nggak lucu."


Tanpa Ayana duga, detik berikutnya, ekspresi Aska tiba-tiba berubah serius. "Makasih ya, Na, udah mau jadi pacar aku. Maaf soal yang kemarin dan tadi, maaf karena hampir nggak mau dengerin penjelasan kamu. Aku nyesel banget."


"Its okay, Ka, kamu nggak sepenuhnya salah. Aku juga salah karena udah bikin kamu kecewa. Aku juga minta maaf, ya?"


"Iya, sayang, kita bisa saling memaafkan dan memulai hubungan yang baru." Aska meletakkan sendok dan garpunya, mengusap dagu seraya berpikir serius, "nanti malam kita enaknya ke mana ya?"


Bukannya menjawab, Ayana malah meringis sungkan. Hal ini mengundang kerutan di dahi Aska.


"Kenapa ekspresi kamu begitu? Sakit?"


Ayana menggeleng.


"Terus?"


"Aku... aku shift malam, Ka."


Hening.


"Ka, kamu marah?"


Aska menggeleng. "Cuma agak shock aja, Na, maaf, belum terbiasa. Ini pertama kalinya aku pacaran sama dokter."


"Maaf."


Aska kembali menggeleng. "Enggak papa. It's okay. Cuma aku boleh minta satu hal?"


"Apa?"


"Tutup telinga kamu sebentar boleh?"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Pengen ngomong kasar," balas Aska asal.


__ADS_2