
***
Pulang dari rumah kedua orang tua Malvin, mereka memutuskan untuk berhenti saat menemukan beberapa pedagang kaki lima yang tengah menjajakan dagangannya.
"Lo pengen makan apa? Makan di mobil atau turun?"
Olivia celingukan untuk memastikan kira-kira apakah ada tempat untuk mereka duduk atau tidak, karena tempatnya cukup ramai.
"Makan di mobil aja nggak sih? Kayaknya rame gitu, Mas."
Malvin mengangguk paham. "Ya udah, kalau gitu gue turun dulu buat pesen, lo tunggu bentar di sini nggak papa kan?"
Olivia mengangguk tanda setuju. Tentu saja ia tidak masalah. Justru yang jadi masalah kalau ia ikut turun. Ia memutuskan untuk scroll sosial media saja demi membunuh perasaan bosan.
Saat sedang asik berselancar di dunia maya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk. Nama sang mantan kekasih yang tertera di layar. Karena malas mengurusinya, ia memutuskan untuk menolak panggilan tersebut.
"Kenapa nggak diangkat?"
Olivia seketika langsung tersentak kaget saat tiba-tiba Malvin masuk sambil membawa dua piring nasi goreng. Satu untuknya dan yang satu untuknya sendiri. Pria itu kemudian terkekeh geli saat melihat wajah terkejut perempuan itu.
"Kenapa sih? Kok kaget banget? Kayak abis ketahuan selingkuh aja," kekeh Malvin setengah bercanda, "beneran selingkuh ya kamu?" tuduhnya kemudian saat menyadari raut wajah Olivia yang terlihat semakin panik.
Namun, tak lama setelahnya ia terkekeh geli.
"Jangan terlalu serius, Liv, gue cuma bercanda."
__ADS_1
Olivia menggeleng lalu menunjukkan layar ponselnya, di mana panggilan dari sang mantan kekasih kembali masuk.
"Mantan?" ledek Malvin sambil terbahak.
Malvin terbahak karena Olivia menyimpan kontak nama sebagai mantan, alhasil Malvin mengetahui dari itu. Malvin merasa agak geli karena perempuan itu menamakan tersebut.
"Kenapa lo namain gitu?"
"Ya emang harus dinamain apa? Kan emang mantan aku. Aku males ditelfon, kalau aku block nggak enak, tapi dibiarin begini terus. Menurut kamu, aku harus gimana?"
Malvin menyerahkan piring nasi goreng miliknya pada perempuan itu. "Pegang dulu! Biar gue yang jawab telfonnya."
Olivia terlihat ragu-ragu di awal, namun, ia tetap menyerahkan ponsel itu kepada Malvin. Pria itu berdehem sejenak sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo," sapa Malvin saat sambungan terhubung.
"Kayaknya gue deh yang perlu nanya, ini siapa ya? Kok cewek gue sampe terganggu gitu sama panggilan dari lo."
"Cewek gue?"
Malvin mengangguk meski pria di seberang tidak bisa melihatnya. "Iya, gue cowoknya, ini nomor cewek gue. Lo siapa nelfon-nelfon nomor cewek gue malem-malem begini?"
"Gue mau ngomong sama Livia, bisa lo kasih hapenya ke dia?"
Malvin menatap bingung ke arah Olivia karena merasa asing dengan nama yang disebutkan pria di seberang.
__ADS_1
Olivia kemudian menjawab tanpa mengeluarkan suara. "Nama panggilan aku, dia emang suka panggil aku Livia."
Malvin manggut-manggut paham. "Oh, nggak bisa, bro, cewek gue nggak bisa diganggu. Lagi sibuk dia, lo bisa nggak, mulai sekarang jangan ganggu cewek gue. Gue juga nggak suka sih kalau semisal cewek gue merasa terganggu. Lo ngerti kan maksud gue?"
"Asal lo tahu ya, gue sama Livia belum lama putusnya. Lo itu dibohongi sama dia, dia pasti jadiin lo selingkuhannya. Gue kasih tahu ya, orang yang punya tabiat selingkuh selamanya bakalan selingkuh. Gue kasih tahu lo karena kita sama-sama korban."
Malvin pura-pura memasang wajah kagetnya. "Apa lo sama Olive belum lama putusnya? Jangan-jangan baru tadi pagi ya putusnya? Duh, jadi dia mutusin lo demi mau nerima cinta gue. Kasian banget deh lo, asal lo tahu ya, gue sama Olivia bahkan baru jadian belum lebih dari tiga jam. Ngerti lo! Gue nggak main-main, kalau sampai lo ketahuan ganggu cewek gue, lo bakalan berhadapan langsung sama gue. Paham lo?"
Karena kesal, Malvin langsung mematikan sambungan telfon begitu saja dan menyerahkan ponsel perempuan itu. Baru setelahnya ia mulai menikmati nasi gorengnya.
"Lo kok bisa sih pacaran sama cowok modelan begitu?" tanyanya dengan nada sebal.
"Apes mungkin, ya namanya juga pas lagi cinta nggak keliatan beginiannya kali, Mas, kan keliatannya baru setelah putus." Olivia meringis sambil mulai menyuap nasi goreng miliknya.
"Emang harusnya lo itu putus sama dia sejak lama kali, Liv, mungkin kalau dari lama lo putus sama dia, kita udah sah kalau mau ngapa-ngapain."
"Hah? Emang mau ngapain kalau udah sah?"
"Bangun rumah tangga dong," goda Malvin sambil memainkan kedua alisnya naik-turun. Olivia hanya merespon dengan dengusan tidak percaya.
"Liv," panggil Malvin tiba-tiba, "kalau gue ajak lo nikah sama gue, lo bakalan mau nggak?"
"Enggak tahu," jawab perempuan itu jujur, "kamu itu baik, Mas, aku juga ngerasa nyaman sama kamu. Tapi aku nggak cukup yakin kalau harus menikah sama kamu, apalagi dalam waktu dekat."
Malvin mengangguk paham. "Enggak papa, kita nggak harus terburu-buru, pelan-pelan aja. Tapi sebelum itu aku juga mau kasih tahu kamu sesuatu."
__ADS_1
"Apa itu?" Olivia mengerutkan dahinya bingung. Perasaannya mulai berdebar. Apa jangan-jangan pria ini hendak mengakui masa lalunya?
Tbc,