
***
"Jadi gimana lo udah baikan sama dokter Yasmin?"
Malvin langsung menghela napas berat saat mendengar pertanyaan Yana dan bukannya menjawab. Hal ini menimbulkan kecurigaan dalam diri ibu satu anak yang kini tengah memotong buah-buahan untuk dibikin jus. Putri kecilnya sudah mulai belajar makan dan kini ia tengah membuatkan jus untuknya.
"Dokter Yasmin beneran mau putus?" tebak Yana ragu-ragu yang sayangnya langsung diangguki cepat oleh pria itu, "kok bisa?"
Malvin mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Bulan jodoh kali."
"Lo mau nyerah gitu aja, Vin?"
Helaan napas berat kembali terdengar. "Bukan perkara gue mau nyerah atau enggak, Na, tapi masalahnya dia yang nggak mau gue perjuangin." Malvin tersenyum miris, "sekarang aja gue bahkan nggak tahu dia ada di mana."
"Hah? Kok bisa nggak tahu? Lo nggak coba nyari tahu? Terus kliniknya gimana?"
"Kliniknya tetep jalan karena emang dari awal itu klinik punya bokapnya, tapi dia udah nggak di sana, ganti dokter aja."
"Ya ampun, padahal gue belum sempet ke sana buat perawatan, eh, dia malah udah pergi aja," gumam Yana pelan, namun, masih terdengar cukup jelas pada indera pendengaran Malvin.
Pria itu mendengus sambil melempar bekas kulit buah pisang yang tadinya tergelatak di atas meja.
"Lo bener-bener ya, Na, gue baru patah hati lo malah mikirin perawatan," decaknya sebal, "temen macam apa sih lo?"
"Hehe, ya maaf, namanya emak-emak, Vin. Mau mikir perawatan tuh sekarang mikir-mikir banget. Soalnya udah ada bocil, sayang. Mending uangnya buat beli kebutuhan anak gue."
"Ya elah, Na, jangan kayak orang susah deh, suami lo ini Saga loh. Lo mau perawatan seminggu dua kali juga nggak bakalan bikin laki lo miskin."
__ADS_1
Yana seketika langsung mengerutkan dahinya heran, saat mendengar nada bicara pria itu yang terdengar ketus. Emosi betulan nih orang, batinnya berasumsi.
"Oke, oke, sorry, terus gimana? Lo udah coba nyari dia di mana aja?"
"Gue sampe datengin ke rumahnya."
"Hah? Kok bisa? Kok lo nekat banget sih?"
"Ya, gimana, gue beneran pusing soalnya, Na." Malvin kemudian menyadari ada yang salah dengan kalimatnya, "eh, maksud gue, bukan gue yang nyamperin rumahnya langsung sih tapi ceritanya gue nemuin adeknya dulu."
"Terus adeknya ngajak lo ke rumah mereka?"
Bukannya langsung menjawab, Malvin malah menggaruk kepalanya sambil meringis.
"Lo tahu kan adeknya itu orang yang dulunya mau dijodohin ke gue."
"Astaga, ya ampun, gue hampir lupa. Terus-terus."
Yana menerjapkan kedua bulu matanya dengan ekspresi datar. "Terus lo dapet info tentang dokter Yasmin dimana?"
Sambil meringis miris, Malvin menggeleng. "Enggak. Bego banget sih gue karena ketipu adeknya."
"Astaga, Tuhan, Malvin. Kok bisa sih, maksud gue otak lo di mana? Ya logikanya aja lah, dia adeknya dokter Yasmin, lo pernah nolak adeknya itu, udah jelas dia pasti mau bales dendam ke lo lah. Lo kenapa nggak mikir sampai sana?"
Malvin hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sebagai respon. Hal ini membuat Yana menyipitkan kedua mata curiganya.
"Tapi kok muka lo mencurigakan?" tuduhnya kemudian.
__ADS_1
"Maksud lo?" balas Malvin tidak terima.
Yana menggeleng. "Enggak tahu, pokoknya muka lo keliatan mencurigakan. Lo diapain adeknya selain ditipu, Vin?"
Malvin mendengus tidak paham lalu berdiri. "Ngomong apaan sih lo? Nggak jelas." ia berjalan menuju ke arah kulkas untuk mengambil botol air minum.
Yana menggeleng. "Enggak tahu, tapi seriusan muka lo mencurigakan. Enggak bisa dapetin kakaknya, lo mau beralih ke adiknya ya, Vin?"
Malvin yang tadinya sedang menegak air minum tersebut spontan tersedak hingga air itu tumpah sedikit.
"Nah, kan, makin mencurigakan banget lo sumpah."
"Anjir, basah semua nih!" decak Malvin kesal, ia kemudian meraih beberapa lembar tisu yang tersedia di dapur untuk mengeringkan kemejanya.
"Beneran begitu ya, Vin?"
"Enggak usah aneh-aneh lo, gue yang nolak Ailee. Ngapain juga gue harus beralih ke dia gegara ditolak kakaknya."
Yana mengangkat kedua bahunya bersamaan. "Ya mana gue tahu, siapa jadi ini kurma buat lo, karena berani banget nolak cewek, eh, padahal jodoh lo dia."
"Kurma, kurma, kurma itu yang buat buka puasa Mama-nya Mala," decak Malvin kesal, "udah lah, daripada lo makin ngaco nggak jelas, mending gue cabut."
"Lah, nggak nunggu gue masak dulu?"
Malvin spontan menghentikan langkah kakinya. "Emang lo mau masak?"
"Masak MPASI buat Mala. Hehe."
__ADS_1
Malvin mendengus kesal diiringi umpatan samar. "Dasar lo!"
Tbc,