
Seperti biasa saat Ayana pulang, Saga masih menunggunya. Pria itu sedang asik membaca buku seperti biasa. Entah lah, Ayana kadang juga heran kenapa sih suaminya itu seolah tidak pernah bosan membaca. Bahkan stok bacaan pria itu juga seolah tidak ada habisnya. Berbeda sekali dengan dirinya yang kalau membaca malah bawaannya ketiduran, tapi kalau dipikir-pikir dulu tidak separah ini deh.
"Assalamualaikum," sapa Ayana.
Saga langsung mengangkat wajahnya, ia langsung menutup bukunya saat menyadari keberadaan sang istri. "Wassalamu'alaikum. Udah makan?" tanyanya kemudian.
Ayana mengangguk. "Udah. Mas Saga sendiri gimana? Udah makan belum?"
Saga ikut mengangguk sebagai tanda jawaban. Setelahnya ia langsung berdiri seraya mengulurkan tangannya. Ayana loading sebentar, namun, setelah itu ia langsung mencium punggung tangan sang suami. Detik berikutnya ia melirik Saga ragu-ragu.
"Mas Saga udah nggak marah sama aku?"
Saga mengerutkan dahi heran. "Marah? Siapa?"
"Mas Saga."
"Karena?"
"Yang semalem. Tadi pagi kan Mas Saga langsung berangkat kerja gitu aja masih marah kan?"
Saga menggeleng polos. "Tadi pagi ada operasi cito, kamu tidurnya nyenyak banget. Ya, mana tega aku bangunin."
Ayana melotot kaget. "Jadi Mas Saga nggak marah sama aku?" tanyanya tidak percaya.
"Kenapa harus?" Saga balik bertanya.
Ayana terlihat kehilangan kata-kata. Emosinya nyaris meluap kala mengingat saran Tama, yang bodohnya kenapa dirinya sangat menurut dengan ide konyol sang Abang. Memang salahnya karena menuruti saran sang Abang.
Astaga Tuhan!
"Kenapa?" Saga merangkul pundak sang istri dengan kerutan di dahinya.
Sambil meringis Ayana menggeleng. Ia kemudian melepaskan rangkulan sang tangan sang suami, lalu ia pamit untuk mandi.
Saga merasa aneh dengan tingkah sang istri. Namun, ia mencoba untuk tidak terlalu mengambil pusing. Ia kembali duduk dan meneruskan kegiatan membacanya yang tadi sempat tertunda.
Cepat-cepat Ayana menyembunyikan baju dinas haramnya yang tadi sempat ia beli. Baru setelahnya ia langsung bergegas mandi dan membersihkan diri.
Saat ia keluar dari kamar mandi, ternyata Saga sudah berada di kamar mereka. Masih sibuk dengan buku kesayangannya tentu saja.
Ehem Ehem
Mendengar deheman sang istri, Saga langsung menoleh ke asal suara. Keningnya mengkerut heran. Ia langsung menutup bukunya dan memperhatikan sang istri dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kenapa nggak dipake?" tanyanya heran.
Ayana terlihat bingung. "Apanya?"
"Yang tadi."
Ayana tidak paham. Otaknya mencoba berpikir keras. Seketika kedua bola matanya membulat sempurna saat menyadari sesuatu. Reflek ia membungkam mulutnya sendiri.
"Mas Saga udah lihat?" tanyanya panik.
Dengan wajah andalannya, Saga mengangguk. Pria itu terlihat tenang dan tidak seperti sedang menahan tertawa atau lainnya.
"Kok bisa?"
"Kamu taruh situ. Kelihatan lah."
Ayana merengut sebal. Batinnya menggerutu kesal terhadap sang kakak. Tapi di satu sisi ia juga menyalahkan kebodohannya sendiri, yang bisa-bisanya menurut saja dengan ide gila pria itu.
"Kenapa nggak dipake?" tanya Saga tiba-tiba.
Lamunan Ayana seketika langsung buyar. Ia melongo kaget. "Gimana, Mas?"
__ADS_1
"Kenapa nggak dipake?" ulang Saga sekali lagi.
"Mas Saga berharap aku pake baju dinas haram itu?"
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Daripada mubazir."
Ayana meringis. Otaknya kembali berpikir keras untuk mengalihkan topik baju dinas haram itu. Yang untungnya tak berapa lama kemudian, ia teringat sesuatu.
"Ah, Mas, aku tadi bikinin kamu pie buah kesukaan kamu loh. Mau cobain?" tawarnya kemudian.
"Udah malam. Besok aja."
"Eh, nggak mau sekarang?" tanya Ayana panik.
Saga menggeleng sebagi tanda jawaban. "Tidur aja lah," ajaknya kemudian.
Ayana langsung mengangguk setuju. "Ya udah, ayo!" ia langsung menyusul sang suami dan berbaring di samping pria itu.
"Aku beneran khawatir tahu, Mas, kalau kamu beneran ngambek. Serem tahu, ngebayangin kamu marah."
"Maaf."
Ayana menghela napas. "Hampir seharian ini aku mikir, Mas, kata Bang Tama aku tuh nggak niat-niat banget pengen jadi dokter spesialis. Jadi, kalau seandainya aku nggak ambil program spesialis pun nggak papa." ia langsung memeluk tubuh pria itu, "Mas Saga ada masalah nggak kalau aku nggak jadi ambil program spesialis?"
Saga langsung merubah posisi berbaringnya hingga menghadap Ayana. Kedua mata pria itu menatap intens sang istri, sebelah tangannya membelai rambut Ayana pelan.
"Mau ambil program spesialis atau enggak, bagi aku tidak masalah, Yan. Asal itu benar-benar yang kamu inginkan. Kamu nggak perlu ambil keputusan dalam waktu dekat, bisa dipikirin pelan-pelan sekali lagi, baru abis itu ambil keputusan."
Ayana mengangguk setuju. Ia tidak berkomentar lebih lanjut, dan yang ia lakukan hanya lah memeluk tubuh sang suami secara erat.
"Kalau soal anak gimana, Mas?"
"Sedikasihnya. Tapi kalau kamu belum siap, kita bisa tunda dulu."
Ayana menggeleng cepat. "Enggak usah, Mas. Lagian kalau seandainya kita nggak nunda pun, belum tentu langsung dikasih kan?"
Ayana tiba-tiba merenggangkan pelukan mereka dan menatap Saga malu-malu. "Mas Saga nggak liat aku pake yang tadi?"
"Baju baru?"
Ayana mengangguk cepat. "Mau nggak?"
"Emang nggak capek?"
"Lah, kan nyoba baju doang kan? Masa nyoba baju doang bikin capek? Ada-ada aja kamu, Mas," goda Ayana iseng.
Saga langsung memasang wajah datarnya. "Ya udah, nggak jadi. Langsung tidur!" ajaknya kemudian.
"Dih, gitu aja ngambek," ledek Ayana sambil terbahak.
"Emangnya kamu," balas Saga tidak terima.
"Tapi kamu juga bete tuh."
"Biasa aja," elak Saga.
"Ya udah, kalau gitu ayo!"
"Tidur apa ngapain?"
"Bikin anak."
Seketika tawa renyah Ayana langsung mengisi kamar mereka.
***
__ADS_1
Saga bangun saat mendengar adzan subuh dari ponselnya. Buru-buru ia meraih celana dan kaosnya yang tergeletak di samping ranjang, baru setelah ia berpakaian lumayan rapi. Baru lah ia membangunkan sang istri. Perlu sedikit kesabaran ekstra agar istrinya itu gampang dibangunkan.
"Yan," bisik Saga sambil menggoyangkan lengan Ayana.
Perempuan itu menggeliat sesaat sampai selimutnya sedikit melorot. Dengan sedikit gugup Saga buru-buru membenarkan selimut itu hingga batas leher.
"Yan, subuh. Ayo, bangun! Mandi."
"Iya, Mas, sebentar lagi. Lima menit." Telapak tangan Ayana terangkat tinggi, meski kedua matanya masih terpejam erat.
Saga menghela napas panjang lalu memilih untuk melaksanakan mandi wajibnya. Berharap sang istri akan benar-benar menepati janjinya untuk bangun setelah lima menit berlalu. Tapi, bahkan sampai saat ia keluar dari kamar mandi dan selesai mandi. Ayana masih terlihat terlelap di dalam mimpi indahnya. Bahkan posisi perempuan itu kini sedang meringkuk nyaman sambil memeluk bantal, padahal jelas-jelas di kasur mereka ada guling di sana. Tapi memang selera istrinya itu kadang-kadang agak-agak.
Bahkan terkadang selimut mereka yang seharusnya digunakan untuk menyelimuti tubuh mereka, malah digunakan Ayana sebagai pengganti guling. Dipeluk erat seolah selimut mereka itu adalah guling. Padahal jelas-jelas di sampingnya ada dirinya yang bisa dipeluk nyaman, kenapa malah memilih selimut yang seharusnya digunakan untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Yan, udah lima menit lebih banyak, buruan bangun! Aku udah ambil air wudhu, buruan bangun! Jangan bikin aku ulangi kalimat!"
Ayana berdecak kesal, karena tidur nyenyaknya diganggu.
"Ayana Iswari Janitra!" panggil Saga dengan nada tegasnya.
Mendengar nama panggilnya dipanggil dengan nada tegas. Ayana reflek langsung bangun dari posisi berbaringnya.
"Ayana! Selimut! teriak Saga panik langsung berbalik membelakangi Ayana.
Ayana yang menyadari kelakuannya, otomatis langsung menutupi dadanya dengan selimutnya sambil meringis malu.
"Hehe, maaf, Mas, lupa."
Saga berdecak sedikit kesal sambil mengibaskan telapak tangannya tidak peduli. "Buruan mandi!" perintahnya kemudian.
"Iya, Mas." Ayana kemudian celingukan mencari sesuatu, "tapi ini baju aku di mana ya, Mas? Semalem kamu buang ke mana?"
Saga langsung membantu mencari baju untuk Ayana. Kedua matanya masih berusaha mengindari pandangan terhadap sang istri. Setelah ketemu, ia langsung memberikannya pada Ayana.
"Kok yang ini sih, Mas?" protes Ayana sambil berdecak. Pasalnya Saga memberikan baju dinas haramnya semalam, bukan kaosnya atau dasternya.
"Sama aja. Buruan pake terus mandi! Aku tungguin biar bisa salat berjamaah."
Meski sedikit terpaksa Ayana akhirnya memakai baju dinasnya semalam, lalu bergegas ke kamar mandi untuk melaksanakan mandi wajibnya. Setelah selesai mandi barulah mereka melaksanakan salat berjamaah.
Dua minggu lebih menikah, momen salat berjamaah tidak melulu bisa mereka laksanakan, kala mengingat jam kerja mereka yang suka beda.
"Pagi ini mau dibikinin sarapan apa, Mas?" tanya Ayana selepas melaksanakan salat subuh.
"Kan ada Darti."
"Ya, pengen aja gitu, sesekali bikinin sarapan suami. Mau apa, Mas? Biar aku masakin. Gini-gini kan masakan aku lumayan, buktinya kamu luluh lagi kan berkat masakan aku."
"Apa aja."
Ayana berdecak.."Jangan apa aja dong, Mas, coba sebut pengen apa gitu."
"Bubur ayam."
"Hah?" Ayana melongo tidak percaya, "Mas Saga serius?"
"Bercanda."
Ayana mengedipkan kedua matanya bingung. "Eh, serius apa bercanda sih, Mas?"
Bagaimana tidak bingung, mulut suami bilang bercanda, tapi ekspresinya serius sekali. Tentu saja ia bingung.
"Bercanda, Yan. Bikin nasi goreng kalau gitu."
Ayana berdecak gemas. "Makanya, Mas, kalau bercanda itu ekspresinya jangan serius-serius amat. Biar lawan bicaranya nggak bingung."
__ADS_1
Saga menggaruk kepala bagian belakangnya. "Salah lagi, ya?"
Ayana tersenyum sambil menepuk pipi sang suami. "Enggak papa, sayang, besok dicoba lagi, ya. Yuk, semangat!"