
***
Saga mengerutkan dahinya heran, saat ia masuk ke dalam rumah tapi rumah tampak sepi. Batinnya bertanya-tanya apakah sang putri sedang tidur dan Ayana ikut tertidur saat menemani putrinya? Ia kemudian memutuskan untuk naik ke lantai atas. Dahinya semakin mengerut heran saat ia masuk ke dalam kamar dan ruangan itu nampak sepi, ke mana pergi istri dan sang putri? Ia kemudian mencoba mencari di tempat lain, namun, lagi-lagi ia belum menemukannya. Lelah mencari tapii berakhir nihil, ia kemudian memutuskan untuk mencari Darti, dan menanyakan keberadaan sang istri kepada sang asisten rumah tangga.
“Ti,” panggil Saga.
“Ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?”
Saga menggeleng. “Yana sama Mala ke mana?”
“Mbak Yana? Bukannya belum pulang, Pak? Kayaknya tadi saya belum denger suara mobilnya deh. Emangnya mobilnya udah ada di garasi?”
“Kayaknya emang belum pulang kok Mbak Yana-nya, berarti kalau Mbak Yana belum pulang, berarti Non Mala ya masih di rumah Ibu Tika, Pak.”
Saga mengangguk paham. Ia kemudian memutuskan untuk menuju garasi dan memastikan apa mobil sang istri apakah sudah ada sana apa belum. Saga merasa sedikit kesal saat ia tidak menemukan mobil sang istri di mana.
“Malah pergi kemana dia,” gumamnya sedikit kesal. Ia kemudian memutuskan untuk menelfon sang istri sebelum pergi ke rumah sang mama mertua.
Ia bertambah kesal karena saat ia mencoba menghubungi sang istri beberapa kali, panggilannya masih belum terjawab. Mungkin ia tidak akan sekesal ini kalau tidak ingat putri mereka yang sedang pagi memang dalam kondisi kurang bagus. Sejak semalam Mala sedikit demam, tadi saja saat Mala hendak berangkat kerja putri mereka menangis kencang dan tidak mau ditinggal sang Mama. Dan sekarang justru perempuan itu entah sedang pergi ke mana.
Sekarang emosi Saga berada di ambang benar-benar berada di ambang batas. Apalagi saat ia baru masuk ke dalam pekarangan rumah sang Mama mertua dan ia sudah dapat menangkap suara tangis sang putri. Ia kemudian mempercepat langkah kakinya dan mencari keberadaan mereka.
“Akhirnya kamu datang juga, Ga. Yana mana kok kamu yang datang sendirian? Belum pulang emang dia?”
Saga memilih mengambil alih Mala dari gendongan sang Mama mertua sebelum menjawab pertanyaan beliau.
“Belum, Ma.”
“Emang ke mana kok belum pulang juga padahal udah jam segini? Udah tahu anaknya lagi kurang enak badan. Rewel terus kok tega-teganya nggak langsung pulang.”
“Mungkin ada urusan, Ma,” jawab Saga singkat.
“Urusan apa, mau ada urusan penting sekalipun anak tetep lebih utama lah,” balas Kartika tidak habis pikir.
Sejujurnya sama seperti sang mama mertua ia juga rasanya sangat kesal dengan sang istri, tapi ia tetap memilih menjaga nama baik sang istri daripada ikut mengompori sang mama bukan.
“Coba Mama telfon dulu,” ucap Kartika lalu pergi untuk mencari keberadaan ponselnya.
Sementara Saga berusaha menenangkan sang putri yang terus menangis dan sulit untuk ia tenangkan.
__ADS_1
“Enggak diangkat, Ga.”
Kartika terlihat khawatir saat melihat ekspresi sang menantu sekarang. Selama ia menjadi mertua pria itu rasanya ia belum pernah melihat wajah marah pria itu.
“Ma, bisa titip Mala bentar. Aku mau coba hubungi dia lagi.”
Kartika mengangguk cepat. “Iya, sini, sini, sama nenek dulu ya.” Ia kemudian langsung mengambil alih Mala dari gendongan Saga. Dalam hati wanita paruh baya itu mengomeli sang putri.
Bagaimana putrinya bersikap demikian?
***
Ayana memutuskan langsung bergegas pulang ke rumah begitu mendapat telfon dari sang suami. Perasaan cemas dan juga bersalah menguasai dirinya. Bahkan sepanjang perjalanan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Berkali-kali ia harus menyeka pipinya yang basah dan membagi fokusnya menyetir. Sekarang ia benar-benar tengah merasa menjadi ibu yang buruk.
“Mas, gimana Mala? Masih dia udah tidur? Gimana demamnya? Dia mau minum asinya nggak? Dia nggak papa kan?”
“Kita perlu bicara.”
Ayana menggeleng tidak setuju. “Aku mau liat Mala dulu, Mas.”
Ekspresi Saga terlihat seperti tidak bisa dibantah. Tapi Ayana masih ingin melihat putri kecilnya. Ia tidak ingin menyerah meski sang suami terlihat sangat marah kali ini.
“Mas, aku mama-nya, gimana bisa kamu nggak kasih aku izin buat liat anak aku sendiri. Meski kamu papanya tapi kamu nggak punya hak buat larang aku liat anak aku sendiri kan?”
“Kita bicara di tempat lain kalau nggak mau bangunin Mala. Kasian seharian dia rewel sekarang biarin dia istirahat dulu.”
Kali ini mau tidak mau Ayana menuruti sang suami meski rasanya ia masih tidak rela karena masih ingin memastikan keadaan sang putri.
Tapi ia mencoba untuk menahan diri karena ia tidak ingin Saga semakin marah terhadapnya. Jadi mau tidak mau ia harus sedikit mengalah.
“Dari mana?” todong Saga begitu Ayana akhirnya menyusulnya.
“NUngguin Hesti karena dia datang telat.”
Saga menatap sang istri dengan wajahnya yang tidak bisa ia katakan cukup bersahabat. Menurut Ayana wajah sang suami saat ini terlihat menyeramkan. “Dia telat berapa lama sampai kamu jam segini baru pulang?”
Bukannya langsung menjawab Ayana malah menundukkan kepalanya. Hal ini membuat Saga makin tersulut emosinya. Tapi jelass saja ia tidak akan meluapkannya begitu saja.
“Jawab, Yan!”
__ADS_1
Ayana merasa merinding seketika. Nada bicara Saga terdengar kalem tapi penuh dengan penekanan.
“Tadi ketemu sama Tante Linda dulu abis itu,” jawab Aayana dengan ekspresi takut-takutnya.
“Siapa?”
Saga masih pada mode kalemnya tapi Ayana tetap saja merasa tertimidasi.
“Mama Malvin.”
“Malvin lagi?”
“Mas,” panggil Ayana dengan ekspresi tidak sukanya. Ia tidak suka cara sang suami menyebut nama Malvin yang terkesan menyalahkan pria itu.
Saga menggeleng sambil meraup wajahnya frustasi. “Jujur aku nggak tahu harus gimana, Yan.”
“Maksud kamu apa ngomong gitu, Mas?”
Kali ini Saga diam. Pria itu terlihat seperti orang yang sedang melamun.
“Prioritas kamu untuk sekarang siapa, Na?” tanyanya tiba-tiba.
“Mas, kok kamu tega nanya begitu? Tentu saja kalian, kamu sama Mala. Kenapa kamu masih meragukannya?”
“Karena sikap kamu akhir-akhir ini bikin aku mikir begitu.”
Ayana bahkan tidak mampu mengeluarkan kalimat untuk membalas sang suami, yang dilakukan perempuan itu hanya menangis. Sekarang ia benar-benar sedang lelah tapi sang suami malah berpikir demikian.
“Aku tahu, Yan, Malvin sangat berarti buat kamu. Aku tahu hubungan erat kalian, saat kita ada masalah memang Malvin yang akan ngebantu kita. Tapi bisa nggak kamu tetap harus menentukan prioritas kamu?”
“Oke, aku ngaku salah. Tapi bisa nggak kalau kamu nggak terkesan kayak nyalahin Malvin gini, Mas?”
“Jadi menurut kamu begitu?” Saga balik bertanya dengan wajah kesalnya. Jarang-jarang ia akan mengekspresikan emosionalnya sejujur ini.
Momen langka.
“Kalau emang nyesel nikah sama aku bilang, Yan,” ucap Saga tiba-tiba.
Ayana yang terkejut mendengarnya langsung melotot tajam. “Ngomong apa kamu, Mas?” tanyanya tidak terima, “kenapa jadi kemana-mana? Bukannya aku udah minta maaf, iya, oke aku ngaku salah. Cuma karena perasaan sungkan aku, aku sampai harus pulang telat. Tapi kamu nggak usah bawa-bawa masalah seolah aku nyesel kamu nikahi. Kamu bikin aku tersinggung, Mas.” Ia mendengus tidak percaya, “serah kamu deh, Mas, aku nggak peduli. Terserah kamu mau mikir apa.” Ia langsung memilih pergi begitu saja karena terlanjur emosi.
__ADS_1
Saga sendiri hanya menatap nanar ke arah punggung sang istri yang kian menjauh. Sekarang ia meruntuki kebodohannya.
Tbc,