
***
"Eh, Tante Linda?"
Ayana sedikit tersentak kaget saat baru keluar dari ruang IGD, tanpa sengaja ia bertemu dengan Mama Malvin. Sejujurnya ia buru-buru ingin pulang, tapi melihat Mama Malvin yang berusaha meluangkan waktu untuknya, kayaknya tidak mungkin kalau ia langsung pamit pergi begitu saja.
"Apa kabar, Tante?" ucapnya berbasa-basi lalu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
Linda mengangguk. "Baik, Na, kamu gimana?"
Ayana kemudian mengangguk cepat. "Ya, kayak yang keliatan, Tante, baik banget kan?"
Linda tersenyum kecil lalu menatap Ayana ragu-ragu. "Kamu punya waktu sebentar nggak, Na? Tante pengen ngobrol."
Waduh, gimana ini? Ayana sungkan kalau harus bilang sedang terburu-buru, apalagi saat melihat wajah mama Malvin, membuatnya semakin tidak tega.
"Gimana, Na? Kamu buru-buru, ya?" Linda kemudian manggut-manggut paham, "oh iya, Tante, baru inget, Na, kamu sekarang udah jadi ibu kan ya?" sambungnya kemudian.
Ia mengerti karena dirinya juga seorang ibu.
Ayana meringis sungkan. "Hehe, iya, Tante. Alhamdulillah, Yana udah dikasih kepercayaan buat jadi ibu."
Tiba-tiba Linda menghela napas. "Duh, enak banget ya jadi Mama kamu, udah punya cucu dua, eh, sekarang nambah satu cucu lagi dari kamu. Bikin Tante iri saja, Na."
"Hehe, alhamdulillah, Tante. Tante jangan iri dong, nanti nggak akan lama juga Tante bakalan nyusul kok jadi nenek."
Respon Linda hanya berupa helaan napas berat. Hal ini membuat Ayana bingung harus merespon bagaimana.
"Oh ya, Tante emang mau ngobrol apa? Mau ngobrol di coffe shop depan?" tawar Ayana kemudian. Kayaknya dirinya benar-benar tidak mungkin jika harus langsung pulang saat melihat ekspresi mama Malvin. Ia tidak tega.
"Duh, enak banget ya kayaknya ibu mertua kamu punya menantu kayak kamu?"
"Tante Linda bisa aja," respon Ayana sambil tersenyum malu-malu, "mari, Tante!"
Linda mengangguk lalu mengikuti langkah kaki perempuan itu.
"Tante nggak ganggu waktu kamu kan?" tanya Linda mencoba memastikan sekali lagi. Ia tidak enak jika sampai mengganggu waktu perempuan ini.
Sambil tersenyum super tipis, Ayana mencoba mengangguk cepat. Meski dalam hati ia terus merapalkan doa semoga Linda tidak mengajaknya mengobrol lama.
__ADS_1
"Kamu beneran kenal sama Olive, Na?" tanya Linda setelah mereka tiba di coffe shop dan sudah memesan minuman untuk mereka.
"Olive? Olivia yang tetangga apartemen Malvin, Tante?"
Linda mengerutkan dahi bingung. "Mereka bertetangga? Yang dikenalin ke Tante, katanya mereka sempat pacaran tapi kalau sekarang udah putus sih."
"Iya, bener berarti, Olive emang tetangga Malvin. Enggak tahu, Malvin kayaknya seneng banget nyari yang tetangganya sendiri terus. Kayaknya demi hemat bensin deh," gurau Ayana sambil tertawa, membuat Linda pada akhirnya ikut tertawa.
"Kamu masih aja lucu ya, Na. Suamimu pasti seneng banget ya punya istri lucu kayak kamu."
"Haha, kayaknya dia pusing tiap hari deh, Tante, soalnya aku cerewet sedangkan suami aku nggak suka ngomong. Udah kayak penyanyi top yang punya jam terbang tinggi, tarif ngomongnya mahal jadi irit banget."
Linda kembali tertawa sejenak sebelum akhirnya kembali bertanya, "Kalau boleh Tante tahu, mereka putus karena apa sih, Na? Apa berita yang beredar atau karena Papa-nya Malvin mau jodohin dia lagi sama anaknya Om Erik?"
Mampus, harus jawab apa nih?
"Malvin tiap Tante tanya nggak pernah mau jujur, makanya Tante putuskan nanya kamu. Kamu mau kan kasih tahu Tante?"
"Aduh, gimana ya, Tante?"
Ayana garuk-garuk kepala salah tingkah, memangnya dia boleh menceritakan hal ini?
"Tante Linda nggak perlu ngerasa bersalah karena ini nggak seperti yang Tante khawatirkan kok. Masalah ini bener-bener karena mereka sendiri, nggak ada sangkut pautnya sama Om atau Tante."
"Kamu yakin?"
Ayana mengangguk cepat. "Iya, Tante. Kalau boleh jujur, ini memang terjadi pure karena Malvin sendiri."
"Jadi beneran ini salah Malvin? Kenapa nggak kamu nasehatin dia, Na. Minta Malvin berubah dan memperbaiki semuanya. Jujur, dibandingkan anak Erik, Tante lebih suka Olive ini, jadi Tante beneran sedih pas tahu mereka putus."
"Ini soal perasaan Tante."
Linda terlihat heran. "Olive nggak benar-benar sayang sama anak Tante?"
Sambil tersenyum tipis Ayana menggeleng. "Justru sebaliknya, Tante."
"Apa?" Linda terlihat sangat shock.
"Duh, aku nggak tahu deh ini boleh bilang atau enggak tapi yang pasti sebenernya Malvin sebenernya belum bener-bener move on dari dokter Yasmin--"
__ADS_1
"Jadi maksudmu, ini semua gara-gara anaknya Erik yang nggak bisa hamil itu?" potong Linda membuat Ayana langsung panik seketika.
"Eh, enggak gitu, Tante." Ayana mengibaskan kedua tangannya panik, "aduh, gimana ngomongnya ya?"
Linda mengangguk. "Iya, Tante ngerti, nggak usah kamu jelaskan detail, Na."
Ayana melotot kaget. Ngerti gimana? Kalau beliau malah menyalahkan orang lain begini? Batinnya kebingungan
"Tante, mohon maaf, ini terjadi karena masalah perasaan Malvin. Sejak awal harusnya dia yang bertanggung jawab atas perasaan dia sendiri, dan bukannya malah melibatkan orang lain."
Linda manggut-manggut paham. "Berarti memang Tante yang kurang bener ya dalam ngedidik anak?"
Ayana garuk-garuk kepala. Ini dirinya salah deh kayaknya duduk di sini dan mengobrol dengan Mama Malvin. Tahu akan berakhir begini, ia tadi memilih jujur dan sibuk saja biar nggak serba salah.
"Tante jadi ngerasa bersalah sama Malvin."
Apalagi dirinya. Ia sekarang makin menyesal karena menerima ajakan Mama Malvin. Kalau begini ia bisa diamuk oleh pria itu.
"Aku yakin Malvin sanggup melewati ini semua kok, Tante,jadi Tante nggak terlalu ngerasa bersalah. Dia udah jadi pria dewasa yang akan bertanggung jawab atas perasaan dirinya sendiri."
"Tapi Tante denger dari Papa-nya kalau Malvin siap dijodohin dengan siapapun habis ini."
Kali ini giliran Ayana yang terlihat terkejut. "Malvin bilang begitu?"
Linda menggeleng. "Tante juga kurang yakin tapi kata Papa-nya iya."
Ayana langsung mengepalkan telapak tangannya kuat. Dalam hati ia meruntuki kebodohan pria itu. Bagaimana bisa ia bersikap tidak dewasa begitu? Memang apa yang sudah ia lalui kemarin belum bisa dijadikan pelajaran?
"Dia belum kapok juga, Tante?"
Linda kembali menggeleng tanda tidak tahu. "Tante ngerasa dia kayak udah terlalu putus asa untuk berurusan dengan cinta, Na."
Mendengar jawaban Linda, Ayana langsung terdiam. Apakah pria itu mengalami trauma yang begitu serius sehingga nekat bersikap demikian? Batinnya bertanya-tanya.
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar. Cepat-cepat ia mengecek ponselnya. Dan betapa terkejutnya dia saat menemukan begitu banyak panggilan masuk dari sang suami dan sang Mama. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Ya, halo, Mas? Mala kenapa?"
Tbc,
__ADS_1