
Malvin tidak tahu harus bereaksi apa saat melihat perempuan yang--harus ia akui--sangat ia rindukan. Dalam hati menyuruh agar dirinya langsung berlari dan memeluk perempuan itu, namun, egonya melarang keras. Alhasil, ia tidak bisa berbuat atau bereaksi apapun selain diam saja.
"Hai," sapa Angel sambil tersenyum manis.
Senyuman yang membuat jantung Malvin seolah diremas kuat. Sakit kala mengingat problematika yang sedang mereka hadapi, sebuah kenyataan yang membuatnya ingin lari.
Malvin memalingkan wajah sekilas guna mengatur emosionalnya yang tiba-tiba naik. Setelah dirasa cukup membaik pria itu kemudian mengangguk untuk merespon.
"Bisa ngobrol sebentar?" tanya Yasmin hati-hati.
Sejujurnya Malvin ingin bilang tidak dan langsung pergi begitu saja, tapi ia takut menyesali kebodohannya saat memilih pergi. Maka dari itu dengan sedikit terpaksa akhirnya pria itu mengangguk.
"Ikut gue!" ucap Malvin langsung memimpin jalan. Tanpa memprotes Yasmin kemudian mengekor di belakang pria itu.
Sejujurnya Yasmin sedikit tidak menyangka kalau Malvin akan mengajaknya ke rooftop, maksudnya mereka hanya ingin mengobrol sebentar. Bukankah harusnya cafe adalah pilihan terbaik? Lalu kenapa pria ini malah mengajaknya ke sini?
"Kenapa ke sini?"
Akhirnya setelah lama diam, Yasmin membuka suara.
Malvin terkekeh sinis. "Biar kalau kita perlu saling berteriak nggak ada orang yang ngeliatin."
"Hah?"
Malvin hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
Hening. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Lo apa kabar?"
Malvin mengangguk. "Seperti yang terlihat."
"Kayaknya gue dateng telat banget, ya, sampai bikin lo begini?"
Kali ini pria itu menggeleng. "Kalau soal itu jujur gue nggak tahu. Pas gue sakit kemarin gue emang berharap lo bakal nemuin gue, rawat gue, atau sekedar jenguk. Tapi yang gue harapkan ternyata nggak kesampean, kecewa sih, tapi mau gimana lagi. Kayaknya emang hubungan kita nggak sebagus itu untuk lo sampai perlu meluangkan waktu buat gue."
"Sorry, buat semuanya. Pertama karena gue udah bohongin lo, dan yang kedua sorry karena udah bikin lo tambah kecewa. Maafin keegoisan gue."
Malvin menggeleng tidak masalah. "Emang dasar gue yang bego aja kali."
"Vin," panggil Yasmin, "lo orang baik dan pria baik kayak lo nggak seharusnya dapetin orang kayak gue."
Malvin langsung mendengus sinis. "Basi," komentarnya sarkas, "lo kalau mau nolak gue nggak begini caranya, kalau emang nggak suka bilang nggak suka. Bukan berlagak kalau gue terlalu baik buat lo. Gue nggak suka."
"Berarti emang dasar kita yang nggak cocok ya, Vin?"
Malvin mengepalkan telapak tangannya kuat. Emosinya kembali naik. "Lo sebenernya ke sini mau ngapain sih? Kalau cuma mau kasih alasan basi lo, gue rasa lo nggak seharusnya nemuin gue. Karena yang ada malah lo buka luka gue yang bahkan belum sembuh betul."
"Gue mau kasih alasan kenapa gue begini. Awalnya gue merasa lo nggak perlu tahu, tapi Saga nemuin gue. Emang udah lama sih dia nemuinnya pas lo sakit kemarin, tapi gue masih perlu mikir panjang buat nemuin lo. Gue butuh keberanian buat ngomong ini semua ke lo." Yasmin menghela napas dengan pandangan menerawang jauh, "harus gue akui nggak susah buat jatuh cinta sama lo, Vin. Dengan kepribadian lo dan semua yang ada pada diri lo, jelas bikin wanita manapun mudah jatuh cinta sama lo. Hal ini berlaku juga buat gue. Semakin lama gue mengenal lo, semakin gue jatuh cinta dengan semua yang ada pada diri lo. Meski fakta kalau lo kadang-kadang nyebelin. Tapi lo tipe yang pinter nyenengin perempuan, dan gue suka itu."
"Kalau lo suka juga sama gue, kenapa lo begini?" tanya Malvin tidak paham.
"Gue punya alasan."
"Karena umur kita?" tebak Malvin terdengar tidak yakin, "age just number. Kamu nggak pernah liat berita? Bahkan ada nenek-nenek yang dinikahi brondong. Seenggaknya gap years kita nggak sebanyak itu, cuma enam tahun kan? Enggak nyampe sepuluh tahun." Ia kemudian teringat sesuatu secara tiba-tiba, "karena adek lo?"
"Bukan. Ailee, nggak ada masalah. Dia sudah punya pacar, baru jadian dua hari yang lalu."
__ADS_1
"Terus kenapa?"
"Setelah nikah impian lo pengen punya anak berapa?" tanya Yasmin tiba-tiba.
Malvin tidak paham karena pertanyaan Yasmin, yang menurutnya tiba-tiba. Ia kesulitan menjawab karena khawatir jika pertanyaan yang perempuan ajukan adalah pertanyaan menjebak. Jadi ia harus tetap tenang dan berhati-hati.
"Gue? Gue tergantung istri sih nantinya. Gue anak tunggal, rasanya diabaikan itu nggak enak, apalagi sama orangtua kita sendiri."
Ekspresi lega tidak bisa Yasmin sembunyikan.
"Jadi aku nurut kamu. Terserah pengennya berapa. Cuma kalau aku minimal dua nggak sih?"
Seketika ekspresi lega Yasmin langsung sirna. Perasaannya mendadak gugup dan juga gelisah. Ternyata semua sesuai prediksi di awal. Astaga, kenapa dirinya bodoh sekali sampai berharap kalau Malvin tidak menginginkan anak.
"Yasmin?" panggil Malvin hati-hati. Tangannya melambai di depan wajah Yasmin, bermaksud membuyarkan lamunan wanita itu.
"Hah?"
"Kenapa?" tanya Malvin, "aku salah jawab, ya?" ekspresinya berubah khawatir.
Berusaha untuk tetap tersenyum, Yasmin menggeleng.
"Tapi keliatannya iya."
"Enggak, Vin, apa yang lo ucapkan sama sekali nggak salah."
Malvin masih terlihat tidak yakin. "Kasih tahu gue, Yas!"
Yasmin menggeleng dengan ekspresi menahan tangis. Kedua mata perempuan itu memerah. "Gue nggak bisa."
Malvin panik. "Hei, kenapa?" telapak tangannya menyentuh kedua pipi wanita itu, "Yas, liat gue! Sebenernya ada apa? Kenapa lo begini? Kasih tahu gue, kalau lo begini kita nggak bakal nemu solusinya."
"Yas, gue ngajakin lo ke sini biar seenggaknya kita saling teriak, biar sama-sama lega. Bukannya liat lo nangis gini. Kenapa? Kasih tahu gue."
Yasmin mengurai pelukannya. "Gue nggak bisa kasih lo keturunan, Vin, maaf. Kalau kita nikah, gue nggak bisa kasih lo anak, alasan kenapa gue memilih pergi karena ini. Gue terlalu egois karena takut lo tinggalin setelah lo tahu kondisi gue, makanya gue milih pergi. Maaf."
Malvin mematung. Ekspresi wajahnya terlihat terkejut. Ia bahkan sampai kehilangan kata-kata untuk sekedar merespon. Hal ini sudah diprediksi Yasmin, ia tidak heran.
"Sekarang lo udah tahu kan alasan kenapa gue begini?"
"Tapi..."
"Gue harap lo bahagia setelah ini, ya, lo harus dapetin orang yang lebih baik dari gue. Gue pamit," pamit Yasmin sambil tersenyum.
Malvin masih mematung. Dirinya masih terlalu shock, sampai bingung harus bagaimana. Ia bahkan sampai tidak sadar kapan Yasmin meninggalkan dirinya. Ia meruntuki kebodohannya sendiri sebelum akhirnya berusaha mengejar Yasmin, namun, sepertinya nasib sial sedang berpihak padanya. Ia mendapat emergency call. Sambil mengumpat kasar ia langsung bergegas meninggalkan rooftop.
***
Baik Saga dan Ayana hanya mampu memasang wajah shocknya, saat mendapati kedatangan Malvin dengan wajah kacaunya. Pasangan suami-istri itu saling bertukar pandang sebelum akhirnya mengajak Malvin menuju ruang tamu.
"Lo kenapa, Vin?" tanya Ayana khawatir.
"Gue kacau, Na. Gue bingung. Gue nggak tahu harus gimana."
"Bentar, pelan-pelan, Vin! Lo cerita dulu, sebenernya ada apa? Gue sama Mas Saga nggak bisa kasih masukan kalau lo begini."
Ayana makin panik karena Malvin tidak kunjung bercerita dan malah menangis. Bertahun-tahun saling mengenal, ini pertama kalinya ia melihat Malvin sekacau ini. Tak tega melihatnya, Ayana langsung mendekat ke arah pria itu dan memeluknya. Tanpa sadar ia ikut menangis. Hal ini membuat Saga merasa sedikit kurang nyaman.
__ADS_1
"Vin," panggil Ayana hati-hati.
"Na, kenapa jatuh cinta harus sesakit ini sih?"
"Namanya jatuh pasti sakit," sahut Saga.
Ayana langsung melotot tajam saat mendengar jawaban sang suami.
"Gue bukannya nggak ikut bersimpati tapi namanya jatuh emang sakit kan? Apalagi jatuh cinta? Lo udah terlalu tua untuk nangisi cinta."
"Mas!" tegur Ayana kesal, "Malvin itu lagi butuh support, kamu jangan malah bikin dia tambah down gini lah."
"Malvin cowok."
"Meski Malvin cowok lantas dia nggak boleh nangis gitu karena patah hati? Pola pikir kamu kolot banget sih, Mas?"
"Aku nggak bilang gitu. Malvin perlu disadarkan bukan cuma dukungan support." pandangan Saga kemudian beralih pada Malvin, "lo udah tahu?" tebaknya kemudian.
Malvin mengangguk ragu-ragu. Ayana nampak kebingungan.
"Tahu apa?"
"Alasan Yasmin."
"Lo udah tahu, Vin?"
Malvin mengangguk. "Gue tahu tadi. Cinta gue nggak bertepuk sebelah tangan."
"Bukannya itu bagus?"
Malvin diam. Ia meraup wajahnya frustasi.
"Kenapa sih?"
Saga menghela napas sambil menepuk pundak Malvin. "Sesulit itu untuk lo terima ya, Vin?"
"Jelas ini sulit, Bang, gue anak tunggal. Kedua orang tua gue menaruh banyak harapan buat gue. Ini nggak mudah, sama seperti pria pada kebanyakan gue juga mau mendapatkan keturunan dari pasangan gue."
"Ya, sudah, masalah beres."
Malvin menatap Saga marah. Ia tidak suka melihat ekspresi datar wajah pria itu. Emosi menguasai dirinya. Tanpa banyak berpikir ia langsung mencengkram kaos yang Saga kenakan.
"Lo kalau nggak bisa menunjukkan rasa simpati dan empati lo, minimal jangan ngegampangin masalah orang, Bang!"
Saga menyingkirkan tangan Malvin yang mencengkram kaosnya, dengan mudah. Ia masih tetap tenang dan kalem. "Sorry, kalau kalimat gue menyinggung. Maksud gue, kalau emang sesulit itu menerima kondisi Yasmin. Berarti cinta lo ke Yasmin emang nggak sebesar itu, lo bisa memilih pergi dan move on pelan-pelan. Mungkin bukan dia orangnya."
"Tapi gue sayang dan cinta sama dia, Bang!"
"Cinta nggak akan cukup kalau lo nggak bisa terima kondisi dia."
Malvin diam. Kalimat Saga cukup menampar dirinya.
"Gue tahu lo shock, ini juga keputusan sulit. Lo bisa pikirin semua baik-baik, nggak perlu gegabah! Untuk sekarang lo boleh berlarut dalam kesedihan lo, tapi habis itu lo bisa memutuskan."
"Gue bingung. Gue nggak bisa mikir, Bang."
Saga mengangguk paham. "Gue nggak minta lo bikin keputusan sekarang kan?"
__ADS_1
Malvin diam. Dilirik Saga dan Ayana secara bergantian. Pria itu mendesah frustasi sambil menyandarkan tubuhnya pada badan sofa. Keputusan ini terlalu sulit baginya.