Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 51


__ADS_3

****


Setelah kondisinya membaik dan dokter mengizinkan pulang, Malvin memutuskan untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. Selain karena kondisinya yang belum mampu melakukan apa-apa sendiri, ia memilih alternatif ini demi membantu agar Olivia tidak bertemu dengannya. Perempuan itu pasti tidak akan nyaman jika masih harus bertemu dengannya. Jadi demi menjaga perasaan gadis itu, ia memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Meski sejujurnya ia bosan berada di sana, tapi ia merasa tidak punya pilihan lain.


"Papa pikir kamu akan pulang ke apartemen kamu, kenapa ke sini?" tanya Damar heran saat memasuki rumah dan melihat sang putra berada di rumah. Sebuah hal yang tidak biasa terjadi.


"Enggak boleh?" Malvin balik bertanya dengan nada kesalnya.


Damar mengerutkan dahi heran. "Papa cuma nanya, Vin, kapan Papa nggak ngebolehin? Lagian rumah kita terlalu besar kalau cuma buat ditinggali berdua sama Mama-mu."


Malvin menghela napas lalu menatap sang Papa dengan ekspresi seriusnya. "Pa, Malvin mau ngomong."


"Soal?"


"Perjodohan."


"Oh. Nggak usah dipikirin, mulai sekarang kamu bisa--"


"Malvin mau, Pa," potong Malvin tiba-tiba membuat Damar melotot saking kagetnya, "Malvin mau dijodohin sama siapa aja asal bukan sama anaknya Om Rajendra," sambungnya kemudian.


Damar masih terlihat terkejut. "Kamu serius? Pacarmu yang kemarin gimana?"


"Putus."


"Kenapa?"


Malvin mengangkat sebelah bahunya yang tidak terluka. "Enggak cocok kayaknya," balasnya kemudian.


Damar diam sebentar lalu menatap sang putra serius. "Untuk sekarang kamu fokus saja sama kesembuhanmu dulu, terus kelarin program spesialis kamu dan gabung ke rumah sakit Papa. Baru abis itu Papa cariin, jangan terlalu terburu-buru kalau kamu tidak ingin kembali terluka." tanpa menunggu respon sang putra, Damar langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Malvin.


Lalu tak lama sang Mama datang dan menghampirinya dengan raut wajah terkejutnya.


"Kalian putus, Vin? Kenapa padahal Mama suka banget loh sama Olive, kalian abis berantem karena berita yang sempat beredar kemarin?"


Malvin tersenyum getir. "Maaf ya, Ma."


"Kenapa, Vin, coba cerita sama Mama, kenapa kalian bisa putus?" todong Linda dengan wajah keponya. Ia benar-benar menyukai gadis itu, rasanya tidak rela kalau harus membiarkan sang putra putus dengan gadis itu. Jadi ia masih ingin mengetahui penyebab pastinya.

__ADS_1


"Mungkin belum jodoh, Ma." Malvin kemudian mencoba kembali tersenyum, "kayaknya Malvin perlu istirahat deh, Ma, Malvin ke kamar duluan ya?"


Meski raut wajahnya terlihat tidak rela, Linda pun dengan terpaksa akhirnya mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, apalagi kondisi sang putra memang masih dalam tahap pemulihan. Tentu saja ia tidak ingin sang putra memaksakan diri.


Berhubung ia tidak ingin memaksa sang putra, Linda pun akhirnya memilih menggunakan caranya sendiri. Cepat-cepat ia mencari keberadaan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Ya, halo?"


***


Jam tidur Malvin menjadi lebih teratur semenjak ia tinggal di rumah. Ia akan tidur lebih awal dan bangun pagi sekali untuk berjalan-jalan di sekitar komplek atau kalau ia malas keluar maka ia hanya perlu berjalan santai menggunakan treadmill milik sang Mama.


"Morning, sayang, hari ini mau sarapan apa?"


Sebuah kebiasaan baru yang dimiliki sang Mama, yaitu membuatkan dirinya sarapan. Awalnya Malvin lumayan meragukan kemampuan sang Mama dalam hal memasak, tapi ternyata ia salah, kemampuan sang Mama dalam hal ini ternyata cukup baik bahkan lebih baik daripada yang ia kira.


Malvin seraya kembali menjadi bocah berumur belasan tahun karena mendapat perlakuan demikian. Tapi ia tidak protes dan justru malah menikmatinya. Karena kalau dipikir-pikir memang ini lah dulu yang sempat ia cari, meski ia mendapatkan kasih sayang itu terlalu terlambat, tapi ia tidak masalah akan hal itu. Ia tetap senang menerima semua perlakuan sang Mama.


"Kok malah ngelamun?" kekeh Linda, "mau sarapan apa, Vin, nanti Mama keburu harus berangkat ke rumah sakit loh."


"Bentar lagi mikir tadi, Ma."


"Pancake. Mama bisa bikin pancake nggak?"


"Okay. Mama coba ya."


Lah?


"Bisa nggak sih, Ma?"


Linda merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Ya kalau belum dicoba mana tahu lah, Vin, ini mau Mama coba dulu makanya. Udah, sana, kamu cuci muka sama sikat gigi dulu. Abis itu turun ke bawah ya, Mama bikinin susu hangat."


Malvin sendiri tidak protes apalagi membantah, ia juga tidak membalas dan hanya mengangkat jarinya membentuk huruf O.


Sementara Linda langsung bergegas menuju lantai bawah untuk membuat pancake sesuai request sang putra.


"Pinjem bentar," ucap Linda saat melihat sang suami memegang i-Padnya. Tanpa menunggu jawaban Damar, ia langsung membawa i-Pad itu menuju dapur.


Damar yang sedikit kaget hanya mampu memasang wajah melongonya. Baru setelah ia tersadar, ia langsung menyusul sang istri.

__ADS_1


"Ngapain sih?" tanya Damar heran. Ia melihat sang istri sudah mulai sibuk menyiapkan bahan-bahan entah untuk membuat apa.


"Mau bikin pancake."


"Buat siapa? Malvin?" tebak Damar yang langsung diangguki cepat oleh sang istri.


Damar yang melihat kelakuan istrinya akhir-akhir ini hanya mampu berdecak sambil geleng-geleng kepala. Baru setelahnya ia pergi meninggalkan dapur untuk mencari sang putra, yang ternyata sedang asik berjalan santai di atas treadmill sambil mendengarkan musik melalui ear phone.


"Vin," panggil Damar dengan nada bicara yang tidak bisa dikatakan santai. Bukan apa-apa masalahnya sang putra tidak dapat mendengar suaranya karen terhalang earphone yang menyumpal kedua telinga Malvin.


"Ya, kenapa, Pa?" tanya Malvin saat menyadari keberadaan sang Papa.


Damar menghela napas sambil berkacak pinggang. "Kamu ini bener-bener ya, kamu sengaja ya ngerjain Mama-mu?" omelnya kemudian, sedang yang diomeli hanya mampu memasang wajah bingung.


"Ngerjain gimana?" tanya Malvin bingung.


"Ya itu, nyuruh-nyuruh bikin sarapan. Kan ada bibi, Vin, Mama-mu udah capek ngurus pasien dan rumah sakit, ngapain kamu masih tega nyuruh-nyuruh Mama-mu? Masih kurang pembantu di rumah, mau ditambah lagi?"


"Itu kan atas kemauan Mama sendiri kali, Pa, Malvin nggak pernah nyuruh. Lagian Malvin cuma ditawarin. Kan Malvin juga cuma tinggal ngeiyain. Lagian biarin dong, Pa, Mama juga pengen itu ngemanjain anaknya, emangnya Papa maunya keras terus ke aku."


"Kamu dikerasi begini saja suka kurang ajar kok, gimana enggak," dengus Damar kesal, "udah, pokoknya ini hari terakhir, "Papa nggak mau tahu ya."


"Ya kalau masalah itu Malvin nggak janji, soalnya emang ini semua pure atas kemauan Mama, Pa. Lagian biarin kenapa sih, yang penting Mama bahagia. udah itu aja kan, Pa?"


Damar mendengus lalu menggeleng cepat. "Tapi Papa nggak suka liatnya, Mama-mu pasti kecapekan, Vin. Kamu ngerti nggak sih maksud Papa."


"Iya, ngerti kan cuma ini emang kemauan Mama sendiri, Pa, Malvin mana bisa kalau disuruh begitu. Kalau mau mending Papa sendiri aja," saran Malvin yang langsung disambut dengusan oleh sang Papa.


"Kamu pikir kalau Mama-mu nurut sama Papa, Papa bakalan repot-repot nyuruh kamu? Ya enggak bakalan lah."


"Ya udah, sama, Malvin juga nggak bisa kali, kalau mau mending Papa suruh Mama sendiri, kalau nggak ya udah terima nasib. Lagian cemburuan banget sama anak sendiri."


"Dasar anak durhaka, bisa-bisanya kamu bilang Papa cemburu sama kamu?"


"Ya terus apa?" Malvin sedikit terkekeh geli, "sirik, iri, dan juga dengki? Sama aja kali, Pa," sambungnya kemudian. Ia kemudian langsung berlari saat sang Papa mulai mengambil ancang-ancang dengan melepas sandal rumahnya.


Malvin langsung berlari terbirit-birit sambil memanggil sang Mama dan mencari keberadaannya. Untuk sesaat, ia benar-benar menikmati semua ini. Malvin berharap semuanya tidak cepat berlalu.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2