
***
Malvin terlihat shock saat tanpa sengaja menemukan isi amplop coklat milik sang Mama yang ketinggalan. Awalnya ia berniat untuk mengantar amplop tersebut karena siapa tahu sang Mama sangat membutuhkannya, tapi saat tanpa sengaja dirinya melihat foto yang tidak sengaja menyembul keluar, ia menghentikan niat tersebut. Dengan penasaran tingkat tinggi ia langsung membukanya begitu saja dan ia sangat terkejut saat menemukan beberapa foto Olivia beserta beberapa data informasi tentang gadis itu. Bahkan ada beberapa hal yang tidak ia tahu dan ia mengetahuinya dari sana.
Tanpa sadar tangannya terkepal kuat. Ia marah dengan sikap sang Mama yang menurutnya seenaknya sendiri dan cenderung melanggar privasi ini. Bagaimana sang Mama tega melakukan hal ini?
Tak tahan, Malvin kemudian memutuskan untuk segera pergi menemui sang Mama tanpa perlu repot-repot mengganti pakaiannya lebih dahulu.
Berhubung kondisinya belum memungkinkan untuk menyetir, dan di rumah sedang tidak ada supir, Malvin kemudian memutuskan untuk memanggil taksi. Ia tidak dapat memikirkan hal lain selain menemui sang Mama secepat mungkin.
Saat ia sampai di rumah sakit, ternyata sang Mama sedang ada rapat bersama timnya, alhasil ia harus menunggu beberapa waktu sebelum akhirnya ia bisa menemuinya.
Linda tampak heran saat ada salah satu staf yang memberitahu kalau putranya mencari dirinya. Pikirannya seketika langsung berkecamuk, ia kemudian langsung bergegas menuju ruangannya begitu rapat yang diadakan timnya sudah selesai.
"Vin," panggil Linda dengan nada khawatir begitu masuk ke dalam ruangannya.
Ia sedikit bernapas lega saat melihat sang putra terlihat baik-baik saja. Ya, meski tidak bisa ia katakan baik-baik saja sepenuhnya mengingat kondisi sang putra memang sedang dalam tahap pemulihan.
"Ya ampun, Mama takut banget pas dapet kabar kalau katanya kamu nyariin. Ada apa sih, Vin, kok sampai ke sini dan bikin Mama takut?"
Nada bicara khawatir terdengar jelas tidak bisa Linda sembunyikan. Padahal jelas-jelas sang putra saat ini sedang menampilkan wajah datarnya.
"Maksud Mama apa ini?" tanya Malvin dengan kedua mata tidak bersahabat.
Ragu-ragu Linda menerima amplop yang diserahkan sang putra. "Emang apa ini isinya?" ia malah balik bertanya sebelum membuka amplop tersebut. Ia langsung berseru lega begitu selesai membuka amplop dan mengeluarkan isinya dari dalam sana.
__ADS_1
Oh, ternyata yang dicari hanya ketinggalan di rumah. Ia pikir ia menjatuhkannya tadi dan sekarang hilang. Tapi untung saja sang putra menemukannya.
"Ya ampun, Mama kira ilang, Vin." Linda masih sempat-sempatnya tersenyum dan tak lupa langsung berterima kasih, ia tidak terlihat panik. Meski sejujurnya ia tidak berharap sang putra mengetahui hal ini.
Malvin menatap sang Mama sambil tertawa tidak percaya. "Mama masih bisa bersikap sesantai ini setelah mengusik aku?"
Sekarang Linda melotot tidak percaya. "Maksud kamu apa bilang Mama mengusik kamu, Vin?" tanyanya tidak terima, "emang Mama ngapain? Mama cuma pengen tahu Olive tinggal di mana dan Mama pengen ketemu. Udah itu aja. Kayaknya penggunakan kalimat kamu terlalu berlebihan, Vin," sambungnya kemudian.
"Lalu kenapa harus sampai menyelidiki latar belakangnya, Ma? Itu nggak sopan," decak Malvin kesal.
Ia benar-benar tidak menyangka kalau sang Mama akan tega melakukan hal semacam ini. Kekecewaan jelas ia rasakan dengan sangat serius.
Linda mengakui kesalahannya. Ia sama sekali tidak mengelaknya. Ia setuju dengan kalimat sang putra kalau apa yang ia lakukan memang lah tidak sopan alias ilegal. Benar, sesuatu yang dikatakan sang putra, ia memang tidak seharusnya melakukan hal demikian. Karena itu termasuk melanggar privasi orang.
"Oke, Mama ngaku salah, tapi Mama juga ngelakuin ini secara terpaksa karena kamu nggak mau jujur ke Mama, Vin. Kalau kamu nggak mau cerita, maka Mama ya terpaksa harus cari tahu dengan cara Mama sendiri," balasnya kemudian.
Ekspresi Linda terlihat kaget. "Eh, Yana tahu? Duh, kenapa Mama nggak kepikiran ya, Vin. Kan kalian deket, nggak mungkin kalau sampai Yana nggak tahu tentang hal ini. Tahu begini kan Mama bisa tinggal minta tolong ke Yana, nggak perlu sampe keluar uang." ia berdecak kesal tak lama setelahnya, "mana orang suruhan Mama minta bayaranya nggak sedikit lagi, Vin, tahu gini kan lumayan bisa hemat uang."
Malvin menghela napas sambil menatap sang Mama dengan ekspresi tidak percayanya. Astaga, Tuhan, malah kepikiran uangnya. Dasar ibu-ibu.
Baiklah kalau hal ini bisa ia maklumi karena kayaknya semua ibu-ibu atau perempuan kalau sudah berurusan sama uang juga bakalan begini.
"Lagian Mama mau ngapain sih pengen ketemu Olivie?" tanya Malvin heran.
"Mama cuma pengen ngobrol," balas Linda jujur. Karena memang ia tidak memiliki rencana serius selain mengajak gadis itu mengobrol. Ia hanya ingin tahu penyebab kandasnya hubungan mereka, lalu kalau dirasa ia bisa membantu, ia kan membantu tapi kalau tidak bisa, ya sudah.
__ADS_1
Malvin berdecak. "Mau ngobrolin apa? Nggak usah aneh-aneh deh, Ma, aku sama dia udah putus. Udah berakhir, jangan Mama perumit keadaan dengan nemuin dia."
"Mama juga pengen bantuin kamu."
"Bantuin apa?" Malvin menggeleng cepat, "kalau Mama mau bantuin aku, cukup diam dan nggak usah berbuat hal aneh-aneh."
Linda tampak menyesal. "Maafin Mama," sesalnya kemudian, "Mama cuma mau bantu, Vin, nggak lebih. Kamu jangan marah ya sama Mama?"
Malvin mengusap wajahnya menggunakan sebelah tangannya. "Di sini yang salah Malvin, Ma, Olive bisa makin benci sama aku kalau sampai Mama beneran nemuin dia dan minta balik sama aku. Jadi nggak usah, jangan Ma, biarin kita bahagia dengan cara kami sendiri."
Linda terlihat ragu-ragu melihat sang putra kemudian mengangguk cepat tak lama setelahnya. ia mencoba menghargai sang putra meski sejujurnya ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengannya.
"Ya udah, nggak papa, gagal di percintaan sekarang, masih bisa dicoba lagi kok, Vin. Yang penting kamu jangan nyerah, nanti kalau udah waktunya kamu bakalan ketemu sama orang itu."
Kali ini Malvin tersenyum miris, untuk sekarang ia tidak akan berekspektasi apapun soal cinta. Ia sudah cukup bahagia dengan kehidupannya sekarang. Akur dengan kedua orang tuanya sudah cukup baginya.
"Kamu harus nemuin kebahagiaan kamu sendiri, Vin, jangan mau kalau dijodoh-jodohin sama Papa-mu. Mama khawatir kalau hubungan kalian nantinya nggak akan berhasil."
"Semua orang punya caranya sendiri saat bertemu jodohnya, Ma, mungkin Malvin begitu."
Linda menggeleng kurang setuju. "Tapi Mama kurang yakin, Mama khawatir."
Sambil tersenyum tulus, Malvin mengangguk. "Makasih, Ma, tapi Malvin siap kok."
"Meski bertengkar setiap hari pun, kamu harus berantem dengan orang yang kamu cintai, karena dengan itu kamu akan ngerasa lebih baik, Vin."
__ADS_1
Kali ini Malvin tersenyum getir. Ia tidak membalas dan hanya mengangguk seadanya. Semoga saja ia bisa menemukan orang itu, meski sejujurnya ia sendiri meragukannya.
Tbc,