
...______________________________________...
"Maaf cari siapa?"
Ayana sangat terkejut dengan pertanyaan Aska yang baru saja membukakan pintu untuknya. Entah efek kelelahan karena habis jaga malam atau bagaimana, wajah gadis itu terlihat mendadak pucat karena shock. Apalagi saat melihat raut wajah Aska yang terlihat benar-benar seperti tidak mengenalnya.
"Aska," panggil Ayana dengan suara sedikit gemetar. Kan tidak lucu kalau kekasihnya ini benar-benar lupa padanya, hanya karena mereka yang akhir-akhir ini jarang meluangkan waktu untuk bersama.
Detik berikutnya Aska langsung tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, sayang, muka kamu lucu banget kalau lagi panik. Sumpah aku nggak nyangka kalau kamu bakal kena."
Kesal dikerjai, Ayana langsung memukul sang kekasih menggunakan tasnya. "Iiih, jahat banget sih, aku pikir kamu lupa sama aku beneran tahu."
"Haha, gegara kita lama nggak ketemu terus kamu mikir aku lupa gitu?"
"Iya!"
"Selow aja lah, nggak usah ngegas, sayang." Aska langsung merangkul pundak sang kekasih dan mengajak Ayana masuk ke dalam apartemennya, "masuk dulu, yuk! Aku udah masakin masakan spesial buat kamu."
Ayana menaikkan sebelah alisnya ragu-ragu. Aska bisa masak?
"Kamu bisa masak?"
Dengan wajah yakinnya, pria itu mengangguk cepat. Ayana masih terlihat ragu-ragu sekaligus tidak percaya. Tapi ia bisa menebak masakan apa yang tersaji di meja makan nantinya. Paling juga nasi goreng. Sarapan sejuta umat, tapi pasti berasa spesial banget kalau itu yang masak pria.
Oh, tidak! Ayana salah. Ia salah besar. Ia tidak dapat menahan ekspresi mulut menganganya, saat sampai di meja makan dan tersaji nasi putih lengkap beserta sayur dan lauknya. Bahkan tidak sampai di situ, ada sambal pelengkapnya juga.
Wow, ini tidak mungkin semua yang masak Aska kan?
"Kamu yang masak semua ini?" Belum juga Aska menjawab, Ayana kembali mengimbuhi, "enggak mungkin dong? Kamu pasti cuma masak nasi sama potong-potong sayurnya aja, terus kamu ngaku-ngaku kalau ini yang masak kamu sendiri."
Aska menyipitkan kedua mata tidak suka. "Kok nuduh ya?" Kedua tangannya menyilang di depan dada.
Ayana tidak dapat menahan ekspresi kagetnya kembali. "Serius kamu yang masak semua ini?" tanyanya masih terlihat seperti tidak percaya, "aku pikir kalau seandainya beneran kamu yang masak pun paling juga cuma nasi goreng."
"Iya, beneran aku yang masak, sayang, enggak mungkin juga aku masakin kamu nasi goreng doang padahal kamunya baru abis jaga malam." Aska menyingkirkan anak rambut Ayana ke belakang telinga, "kalau bukan aku yang masak siapa lagi? Aku nggak kuat kalau nyewa ART buat masakin aku, kalau beli terus di luar juga boros, ya mending belajar masak sendiri kan? Lebih hemat?"
"Kamu hebat. Bikin aku ngerasa insecure. Mama kamu nyari mantu yang pinter masak nggak sih, Ka?"
Aska menggeleng cepat. "Mama sih nyarinya yang penting pinter ngebahagiain anaknya."
"Kalau aku nggak pinter juga soal itu gimana?"
"Ya, terpaksa kamu nggak dilolosin seleksi." Aska mencubit hidung Ayana gemas, "meski orangnya secantik ini." Ia kemudian membimbing sang kekasih agar segera duduk di kursi. Dengan penuh perhatian pria itu melayani Ayana.
"Kebalik nggak sih?"
"Apanya?"
"Ya, harusnya aku yang ambilin kamu makannya dong."
"Siapa yang mengharuskan? Enggak ada kan? Udah, buruan dimakan, nanti keburu dingin."
Ayana mengangguk setuju. "Makasih, langsung aku makan ya?"
Aska mengangguk dan mempersilahkan. Pria itu menghentikan niatnya untuk mengambil sayur, kedua tangannya saling bertaut. Memperhatikan Ayana makan masakan pertamanya. Perasaan berdebar itu tiba-tiba hadir tanpa bisa dicegah, ia mulai khawatir kalau masakannya kurang sesuai di lidah sang kekasih.
"Gimana?" tanya Aska harap-harap cemas.
"Boleh aku jujur?"
__ADS_1
Aska mendadak gelisah. "Enggak enak ya masakan aku?"
"Tapi kamu jangan marah!"
"Enggak bakal, sayang. Jadi masakan aku kurang apa?"
"Kurang... kurang..."
"Iya?" desak Aska tidak sabaran.
"Kurang banyak. Soalnya ini enak banget, Ka, kamu kok bisa masak enak begini? Siapa yang ngajarin?"
Ekspresi Aska terlihat masih tidak percaya sekaligus malu-malu dipuji sang kekasih. "Serius enak?"
Dengan ekspresi yakinnya, Ayana mengangguk mengiyakan. Gadis itu kembali menyuap masakan Aska, hal ini mengundang senyum cerah dari pria itu. Ada perasaan bangga saat melihat hasil masakannya dipuji orang terkasih.
"Aku seneng kamu suka."
"Enak soalnya. Kamu makan juga dong. Masa aku makan sendiri."
Aska mengangguk cepat lalu mulai mengambil nasi beserta lauk pauknya.
"Abis ini jangan langsung pulang dulu ya?" ucap Aska sebelum menyuap nasi.
"Kenapa?"
"Masih kangen lah."
Ayana tersenyum kecil lalu mengangguk. Ia pun merasakan hal sama. Dua bulan sudah mereka resmi berpacaran, tapi selama itu pertemuan mereka hanya bisa dihitung jari. Entah kenapa, semesta seolah tidak berpihak pada mereka untuk bertemu pada awal pacaran. Kesal tentu saja, tapi ia tetap merasa bersyukur.
Meski awalnya keluarga Ayana menyayangkan gagalnya hubungan ia dan Saga, tapi lama kelamaan mereka bisa memahami keputusannya. Tama yang awalnya seolah begitu marah padanya atas keputusannya yang itu, kini perlahan mulai menerima, meski belum sepenuhnya menerima. Dan untuk hubungannya dengan Saga? Entah lah, Ayana sendiri tidak paham.
Rasanya aneh saat mengingat betapa dekatnya mereka, yang hampir setiap hari bertemu kini tiba-tiba hampir tak pernah bertemu. Ada perasaan kehilangan.
"Sayang! Yana! Ayana!"
Lamunan Ayana langsung buyar. Ia mengusap tengkuknya dan mencoba memfokuskan pandangannya pada Aska.
"Ya, kenapa? Kamu ngomong sesuatu?"
"Kamu lagi mikirin apa sih? Lagi ada masalah?"
Ayana menggeleng lalu meneguk air putihnya. "Enggak kok, ayo, lanjut makannya! Nanti habis ini kita nonton."
"Nonton? Nonton bioskop?" Aska menaikkan sebelah alisnya tidak yakin.
"Ya, enggak. Nonton film atau apa gitu, kamu tega ngajakin aku keluar setelah aku begadang semalaman?"
Aska kembali menyuap dan menggeleng tegas.
"Netflix-an seru juga kayaknya. Gimana menurut kamu?"
Kedua mata Aska langsung menyipit dengan kedua sudut bibir yang berkedut, seperti menahan senyum geli. Ayana yang menyadari perubahan ekspresi sang kekasih langsung menaikkan sebelah alisnya curiga.
"Kenapa kamu?"
Aska menggeleng, masih dengan senyum tertahannya. "Enggak. Netflix and chill seru juga kayaknya," godanya kemudian. Sebelah matanya mengedip jahil
Ayana yang mendengar itu langsung melotot. "Sembarangan!"
__ADS_1
"Bercanda, sayang. Nanti aja ya, kalau udah halal, kita cobanya, ya," kedip Aska sekali lagi.
Ayana hanya tidak membalas, gadis itu hanya merespon dengan dengusan malas saja.
______________________________________
"Kadang-kadang tak mengapa.... untuk tak baik-baik saja.... Segala sesuatu yang pelik.... Bisa diredakan dengan.... Duit...."
Aska memang memiliki hobi menyanyi apalagi kalau lagi berkendara begini, kekasihnya itu hampir tidak pernah diam sepanjang perjalanan. Entah itu bercerita atau menyanyi seperti barusan. Untung suara Aska termasuk kategori yang bagus, jadi telinga Ayana masih baik-baik saja hingga sekarang. Coba kalau sebaliknya, tidak tahu lah bagaimana nasibnya. Untuk sekedar membayangkannya saja ia tidak sanggup. Selain hobi menyanyi, Aska juga hobi sekali mengganti lirik lagu yang dinyanyikan sesuka hatinya. Ya, lagi-lagi seperti yang dilakukan pria itu barusan. Dan kalau sudah diprotes, pasti ada saja jawaban yang diberikan pria itu.
"Peluk dong, Ka, kok duit sih?"
Tanpa Ayana duga, Aska tiba-tiba menepikan mobilnya.
"Kok berhenti?" tanya Ayana bingung.
Aska tidak membalas, pria itu tanpa basa-basi langsung melepas seatbelt-nya dan memeluk Ayana.
"Aska, jangan mulai deh!" tegur Ayana sambil menepuk pundak Aska, berharap pria itu langsung melepas pelukannya. Dan berhasil, detik berikutnya, Aska langsung melepas pelukannya.
"Katanya tadi minta dipeluk."
"Lirik lagunya, sayang."
Aska menyengir sesaat lalu kembali memakai seatbeltnya dan mengemudikan mobilnya kembali.
"Ya abis, kamu ngomongnya nggak jelas sih. Ambigu. Kan aku jadi mikirnya yang iya-iya."
Ayana langsung mencibir, "Halah, emang dasar kamunya aja yang modus."
Aska mengangguk setuju. "Enggak papa, yang penting modusnya sama pacar sendiri. Daripada modusin pacar orang, emang kamu rela?"
"Modusin aja kalau kamu berani, nanti aku aduin Bang Tama," ancam Ayana yang sukses membuat nyali Aska menciut seketika.
Aska sadar betul kalau sampai sekarang Tama seperti kurang menyukainya. Jadi ia tidak boleh macam-macam, karena bisa Aska bayangkan kalau hidupnya tidak akan selamat kalau sampai ia berani menyakiti adik semata wayang Tama.
"Jangan dong, sayang, aku takut kalau sama Bang Tama. Abang kamu lebih serem ketimbang Papa kamu."
Ayana langsung terbahak puas saat melihat ekspresi ketakutan sang kekasih. Ia menyetujui kalau Tama memang lebih menyeramkan ketimbang Papa-nya.
"Makanya kamu jangan macem-macem!"
"Enggak lah, satu macem aja masih suka mikir-mikir. Gimana mau macem-macem coba?" Sambil memainkan kedua alisnya naik turun Aska.
Ayana hanya mengangguk dan mengiyakan.
"Tapi, sayang," ucap Aska tiba-tiba.
Ayana langsung menoleh. "Kenapa?"
"Aku bener loh tadi."
"Yang mana?"
Aska tidak langsung membalas dan memilih untuk menghentikan mobilnya dulu karena lampu merah. "Kalau segala sesuatu yang pelik itu bisa diredakan dengan duit. Contohnya orang yang kelilit utang, pelukan nggak akan bantu mereka loh, tapi duit? Jelas sangat membantu."
Astaga, ternyata masih membahas itu. Ayana kira apa.
Dengan ekspresi datarnya, Ayana mengangguk dan mengiyakan. "Iya, Ka, yuk, jalan! Itu udah lampu hijau."
__ADS_1
"Oke, sayang."