Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Ngidam


__ADS_3

Mood Ayana pagi ini kurang begitu bagus. Ekspresinya cemberut, seperti orang yang sedang menahan kesal. Lain halnya dengan Saga, pria itu masih tetap pada ekspresi andalannya.


"Mas!" panggil Ayana dengan nada merengek.


Saga masih fokus pada laptop di hadapannya, tanpa perlu repot-repot menoleh, ia langsung menggeleng tegas.


"Enggak," balas Saga tegas dan seolah tidak ingin dimasak.


Ekspresi Ayana makin cemberut. "Kamu tega? Ini pertama kalinya aku ngidam loh, Mas, masa kamu tega giniin aku?" tangannya mengusap perutnya yang masih belum terlihat membuncit.


Saga menghela napas panjang. Ditutup laptopnya dengan gerakan sedikit kasar, sebelum akhirnya ia menoleh ke arah sang istri. "Sayang," panggilnya dengan nada selembut mungkin, "istriku yang paling cantik sekelurahan. Besok kita udah ada agenda buat kondangan, jadi tahan sebentar sampe besok, cuma sampe besok loh. Masa nggak bisa?"


Ayana menggeleng cepat dengan eskpresi manyun. "Enggak. Maunya sekarang, Mas, nggak mau besok-besok. Pokoknya sekarang, ya, sekarang. Aku ngidamnya sekarang, Mas, masa kamu suruh nunggu besok? Kamu mau anak kita nantinya ileran? Mau?"


"Mitos."


"Mas, astaga, masa tega banget sama istri sendiri?"


Saga tidak merespon. Pria itu bahkan malah membuka laptopnya kembali. Hal ini membuat kesabaran Ayana habis. Ia kemudian langsung berdiri pergi meninggalkan suaminya begitu saja. Saga melirik sang istri sekilas sebelum akhirnya kembali fokus pada laptopnya.


"Kalau Mas Saga nggak mau nurutin, aku telfon Aska."


Ayana kembali tak lama setelahnya sambil membaca ponsel. Ia menunjukkan layar ponselnya yang kini menampilkan nomor Aska.


Saga melirik sekilas lalu fokus kembali pada layar laptop. "Telfon aja kalau berani!" tantangnya tidak mau kalah, "belum tentu juga dia mau kan?"


Emosi Ayana makin meradang. "Oke, fine, nih, liat! Aku beneran telfon Aska."


Saga masih pura-pura abai. Meski dalam hatinya sudah mulai khawatir. Ia baru benar-benar panik saat sambungan telfon itu terjawab.


"Ya, halo, Na?"


"AYANA! KAMU BENERAN TELFON MANTAN KAMU?"


"Siapa suruh nantangin?"


Saga memejamkan kedua matanya, guna meredam emosinya. "Oke, fine, kita pergi, tapi kamu matiin dulu telfonnya!"


Ekspresi Ayana seketika langsung berbinar cerah. Cepat-cepat ia meminta maaf kepada Aska karena telah mengganggu minggu pagi pria itu, sebelum mematikan sambungan telfon.


"Nah, gitu dong, nyenengin istri sama anak kok harus banget pake ancaman dulu biar nurut."


Saga tidak langsung membalas, pria itu hanya memasang wajah datar andalannya. Baru beberapa saat kemudian ia berkomentar.


"Tapi permintaan kamu aneh-aneh," balasnya kemudian. Dari nada bicaranya terdengar seperti tidak terima.


"Aneh-aneh gimana?" Kali ini giliran Ayana yang tidak terima, "lagian yang minta itu anak kamu, bukan aku."


"Ya, pasti kamu yang hasut."


"Kok aku? Oh, jadi kamu nggak ikhlas? Ya udah aku--"


"Enggak ada telfon-telfon mantan!" potong Saga dengan tatapan mata tajamnya.


Ayana langsung mencibir. "Dih, curang, aku nggak ada marah tuh kamu ditelfon mantan kamu malam-malem," gerutunya kemudian.


"Viona nelfon cuma buat konsultasi tentang anaknya. Lagian itu yang nelfon dia, bukan aku," balas Saga tak mau kalah.


"Aku juga nelfon Aska cuma buat nemenin aku karena kamu-nya yang nggak mau. Kalau kamunya langsung mengiyakan aku nggak bakal repot-repot nelfon mantan aku, ya."


Saga menghela napas panjang. "Mau lanjut debat apa pergi?"


Ayana manyun. "Pergi. Ya udah, iya, iya, aku ganti baju dulu. Tunggu bentar." ia hendak langsung naik ke lantai atas, namun, urung, "eh, Mas Saga juga ganti baju dong."


"Iya, gampang. Nanti."

__ADS_1


Awalnya Ayana hendak memprotes, namun, akhirnya ia mengalah dan memilih untuk langsung ganti pakaian. Karena kalau dipikir-pikir toh, ia kalau berdandan cukup lama sedangkan Saga hanya sebentar.


Pagi ini setelah mereka sarapan dan jalan santai pagi di sekitar komplek, saat ia tengah bersantai dan Saga sibuk dengan laptopnya. Ayana tiba-tiba nyeletuk ingin makan makanan yang ada di tempat kondangan. Saga sudah mencoba membujuk sang istri dengan berbagai upaya, namun, Ayana tetap pada pendirian teguhnya dan tidak ingin dibantah.


Ayana mulai kesal saat sang suami tidak kunjung menyusul ke kamar, padahal ia hampir siap.


"Mas! Mas Saga!" teriak Ayana emosi.


Hening tidak ada respon.


"Mas!!"


"Apa?"


Ayana agak tersentak kaget karena keberadaan pria itu yang tiba-tiba sudah ada di kamar dan sedang memakai kemejanya. Ayana heran, kapan suaminya itu masuk ke dalam kamar?


"Kok Mas Saga udah ada di dalem?"


"Kamu teriak-teriak begitu."


Ayana merengut. "Makanya kalau dipanggil sekali itu nyaut, jangan cuma diem aja. Kan aku jadinya nggak perlu capek-capek teriak. Udah tahu istrinya bawel masih aja suka digituin, heran banget."


"Ya, gimana, suka kok."


"Mas Saga!"


Saga terkekeh samar sambil menyisir rambutnya. Mendengar sang istri mengomel adalah momen yang tidak boleh ia lewatkan.


***


Agus dan Darti tidak tahu harus berkomentar apa saat melihat wajah pasrah Saga yang dipaksa Ayana untuk berkeliling mencari tempat kondangan sekitar komplek. Antara kasian tapi merasa lucu juga.


"Doakan saya semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ya?" ucap Saga sebelum pamit pergi.


"Siap, Pak, semangat! Semoga dapet tempat kondangannya deket-deket sini, ya."


Mendengar ucapan putus asa sang majikan Darti langsung menyahut. "Jangan begitu dong, Pak, yang optimis, pasti dapet. Nanti kalau nggak dapet anaknya bisa ileran."


Saga menatap Darti datar. "Masalahnya besok saya dapet undangan."


"Eh, undangan apa, Pak?" tanya Agus.


"Kondangan."


"Heh?" koor supir dan ART-nya secara bersamaan.


"Jadi, sekarang kalian paham kan kenapa saya menolak permintaan dia?"


Baik Darti dan Agus sama-sama tidak mampu berkomentar. Selain karena bingung hendak berkomentar apa, karena Ayana sudah keluar dari rumah, makanya keduanya tidak berani berkomentar apapun.


"Udah, yuk, Mas!" ajak Ayana.


Saga hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil begitu saja.


Saat mobil mereka hendak meninggalkan komplek. Mereka tidak sengaja bertemu dengan Kartika.


"Loh, rapi banget mau ke mana kalian?"


"Nyari tempat kondangan, Ma," jawab Saga jujur.


Kartika tidak paham. "Hah? Gimana maksudnya? Nyari apa?"


"Yana ngidam, Ma."


"Terus?"

__ADS_1


"Kondangan."


Kartika kehilangan kata-kata selama beberapa saat. "Oh, oke, oke, Mama paham. Good luck ya, moga dapet."


"Makasih, Ma."


Setelahnya mereka kembali melajukan mobilnya, berkeliling mencari tempat diadakan hajat nikahan. Karena Ayana sempat menolak saat mereka menemukan acara khitan.


"Jam sebelas kalau belum nemu pulang ya?"


Bibir Ayana langsung manyun.


"Kan besok kita udah pergi ke acara temen aku, Yan," ucap Saga mencoba untuk membujuk sang istri. Tapi Ayana masih dengan wajah betenya.


"Kamu nggak sayang sama kita."


Saga diam. Ia menghela napas frustasi. Kesabarannya benar-benar diuji.


"Oke, kita nggak akan pulang sebelum nemuin. Kamu puas?"


Dengan wajah berbinar penuh bahagia, Ayana langsung mengangguk cepat. Setelah berkeliling hampir dua jam, akhirnya mereka menemukan ada janur kuning melengkung di jalan. Saga kemudian membelokkan mobil dan mencari tempat hajat. Sudah terlihat namun beberapa mobil menghalangi jalan mereka.


"Kayaknya nggak bisa masuk deh mobilnya, penuh, kita parkir agak jauh nggak papa?"


Ayana mengangguk semangat. "Enggak papa, yang penting kita kondangan."


Saga mengangguk paham dan mulai mencari tempat parkir. Setelah ketemu, ia langsung menghentikan mobilnya dan langsung keluar dari mobil.


"Ini seriusan kita masuk?" tanya Saga masih terlihat ragu-ragu. Ia tidak cukup punya keberanian untuk pergi ke kondangan yang bahkan tidak dikenalnya. Yang dikenal saja ia tidak pasti datang, gimana enggak dikenal.


"Ya, serius dong, Mas. Masa bercanda, lupa kamu, kita udah dua jam lebih keliling nyari tempat kondangan? Udah, nggak papa, nanti kalau ditanya-tanya, bilang aja aku lagi ngidam."


Kali ini giliran Saga yang merengut. "Besok-besok nggak usah nontonin tiktok terus. Biar kamunya nggak ngikut-ngikut begini."


"Terus kalau aku gabut ngapain?"


"Belajar."


"Dih, belajar terus."


"Tugas dokter itu memang harus belajar terus, kalau nggak mau belajar ya jangan jadi dokter."


"Mas Saga galak banget sih seharian ini? Segitu keberatannya ya nurutin ngidamnya aku?"


Saga menghela napas berat. "Aku nggak akan ngeluh kalau semisal memang nggak ada agenda mau kondangan dalam waktu dekat, tapi masalahnya besok kita ada acara kondangan, Yan. Tinggal besok loh, tapi kamunya ngeyel ngajakin kondangan ke tempat yang bahkan nggak kita kenal. Gimana aku nggak sensi?"


"Ya udah, kalau gitu kita pulang," ajak Ayana seenak jidat.


Saga menatap Ayana datar. "Yakin? Ntar baru masuk mobil kamunya ngeyel ngajak masuk ke sana."


"Ya udah, kalau gitu ayo masuk ke sana! Janji nggak bakal lama, salaman sama pengantin, makan, terus pulang. Mau ya?"


"Mau nggak mau."


Ayana tersenyum girang lalu merangkul lengan sang suami. "Makasih, sayang, janji abis ini kamu bakal dapet bonus."


"Bonus yang aku minta cuma satu."


"Apa?" tanya Ayana kepo.


"Besok-besok kalau ngidam jangan yang aneh-aneh."


"Kalau itu di luar kuasa, Mas. Tergantung situasi dan kondisi ya? Enggak bisa kasih kepastian aku, soalnya di luar kontrol."


Saga menghela napas pasrah. "Janji ya, Nak, kalau besar harus jadi kebanggan Mama sama Papa. Udah dituruti nggak boleh banyak tingkah!"

__ADS_1


"Mas Saga!" tegur Ayana sambil melotot.


__ADS_2