
Saga menatap sebuah klinik kecantikan sambil menghela napas pasrah. Perasaannya mendadak ragu-ragu, terbesit pikiran ingin pulang saat ini juga. Namun, egonya melarang keras. Lantas setelah dirinya sudah sampai di sini, ya sudah, ia memutuskan untuk masuk ke dalam.
"Selamat datang di klinik kecantikan My Angel. Ada yang bisa kami bantu?"
Bukannya langsung menjawab, Saga malah garuk-garuk kepala dengan ekspresi bingung. Hal ini membuat sang penjaga resepsionis ikutan bingung.
"Mohon maaf, Kak, ada yang bisa kami bantu?"
"Saya cari dokter Yasmin," ucap Saga pada akhirnya.
"Apa Kakak sudah membuat janji sebelumnya dengan dokter Yasmin?"
Saga menerjapkan kedua mata bingung. "Emang harus begitu?"
"Iya, Kak, karena pasien dokter Yasmin tidak sedikit, jadi kalau mau bertemu dengan beliau harus bikin janji dulu, atau minimal reservasi dua atau tiga hari sebelumnya."
Saga melongo kaget. Ia tidak menyangka kalau Yasmin akan sesulit ini ditemui. Ia sudah terlanjur di sini, rasanya akan sia-sia jika ia pulang begitu saja. Apalagi mengingat minggu ini jadwal operasinya penuh dan hanya hari ini saja yang tidak terlalu sibuk.
"Bagaimana, Kak, apa mau bikin reservasi dulu?" tawar sang resepsionis.
"Apa sekarang dokter Yasmin sedang menangani pasien?"
"Tidak. Dokter Yasmin sedang beristirahat, tapi tetap saja, beliau tidak bisa menerima tamu kalau belum bikin janji."
"Bilang saja saya Saga, teman kuliahnya dulu. Kalau dia tidak kasih izin saya masuk, saya akan langsung pulang."
Sang resepsionis mengangguk paham. Ia langsung meraih ganggang telefon dan menghubungi Yasmin.
"Selamat siang, dok, ini ada tamu yang ingin menemui dokter. Katanya teman kuliah dokter Yasmin."
"Siapa?"
"Kak Saga."
"Oh, iya, saya kenal. Suruh masuk aja!"
"Baik, dok."
Sang resepsionis mengangguk paham lalu menutup sambungan telfon. "Mari, Kak, saya antar ke ruangan!"
Saga mengangguk setuju lalu mengekor di belakang sang resepsionis.
Sebelum masuk ke ruangan, Saga mengetuk pintu dua kali, begitu dapat sahutan dari dalam baru lah ia masuk.
"Enggak nyangka banget gue kedatangan dokter sekaligus dosen yang bentar lagi mau jadi Bapak," sambut Yasmin begitu Saga masuk ke dalam ruangannya. Perempuan itu langsung berdiri dari kursi kerjanya dan menghampiri pria itu.
"Gue lebih nggak nyangka sama lo."
"Kenapa sama gue? Karena udah setua ini nggak nikah-nikah?"
"Kalau itu gue nggak kaget, justru sebaliknya."
Saga masih sibuk mengamati interior ruangan, "klinik lo gede. Kaya banget lo?""
Yasmin tertawa. "Bukan punya gue, tapi punya bokap. Gue cuma kerja di sini aja." ia kemudian mempersilahkan Saga duduk sementara dirinya meminta karyawannya untuk membuatkan teh, "jadi ada apa gerangan nih seorang dokter bedah jantung dan dosen favoritnya mahasiswa ciwi-ciwi mampir ke klinik gue? Mau konsultasi?"
"Gue juga bingung kenapa ke sini."
"Lah, gimana sih lo? Kenapa lo mulai insecure karena istri lo masih muda banget? Terus lo pengen perawatan kulit biar awet muda gitu kayak gue?"
"Kok lo tahu?" Ekspresi Saga terlihat kaget.
Yasmin pun tidak kalah kaget. "Serius lo begitu? Padahal gue cuma bercanda."
Saga menggeleng cepat. "Maksud gue, kok lo tahu istri gue?"
"Astaga, gue kirain lo beneran begitu. Kaget banget sumpah, kayak bukan lo banget. Lo sih dari dulu nggak berubah-berubah, kalau ngomong suka setengah-setengah, kan gue jadi salah paham," gerutu Yasmin, "iya, gue tahu dia. Baru sih."
"Kok bisa?"
"Dia nemuin gue."
"Ngapain?"
Yasmin meringis tipis. "Kayaknya nggak perlu gue jelasin deh."
"Soal Malvin?"
"Jangan bilang lo nemuin gue juga gara-gara soal dia?" tebak Yasmin curiga.
Dengan wajah santainya, Saga langsung mengangguk untuk mengiyakan. "Sebenernya disuruh."
__ADS_1
"Istri lo yang nyuruh?"
Sekali lagi Saga mengangguk untuk mengiyakan.
"Wow." Saga berseru takjub, "ternyata lo bisa bucin juga, ya."
"Lo juga bisa," sahut Saga.
"Sorry, tapi gue nggak tertarik."
"Kenapa?"
"Lo kok sekarang kepoan sih, Ga?"
"Malvin baik."
"Semua orang pada dasar emang baik kan?"
Mau tidak mau Saga mengangguk setuju. "Gue ke sini bukan buat merubah sudut pandang lo."
"Terus mau ngapain?"
"Kenapa?"
Yasmin tertawa. "Gue nanya, lo jawab dong, Ga, jangan balik nanya!"
"Kedatangan gue cuma buat nanya kenapa."
"Bukannya lo tahu?"
Saga menggeleng. "Lo nggak pernah benar-benar cerita, Yas."
"Lo tahu kondisi gue, kenapa lo masih nanya?"
"Alasan lo masih sama?"
Yasmin mengangguk untuk mengiyakan. "Gue nggak mau egois, Ga," ucapnya kemudian.
"Siapa?"
"Hah? Siapa yang apa? Lo kalau ngomong yang jelas kenapa sih, Ga? Emosi gue lama-lama kalau harus menerka-nerka. Jangan ajakin gue main tebak-tebakan?"
"Sorry," ucap Saga.
Saga manggut-manggut paham.
"Terus tadi lo nanyain siapa itu maksudnya apa?"
"Yang egois."
"Maksudnya?" Yasmin masih terlihat tidak paham dengan arah pembicaraan pria ini.
"Yang lo sebut egois itu siapa kalau lo begini?"
"Gue masih nggak ngerti," balas Yasmin dengan ekspresi wajah bingungnya.
"Sekarang gue tanya, lo kasih alasan ke Malvin kenapa lo begini?"
Yasmin diam.
"Lo memilih pergi karena nggak mau dibilang egois, tapi dengan lo memilih nggak kasih tahu Malvin, menurut gue, lo sama aja egoisnya."
Yasmin terkekeh. "Lo nggak berubah ya, dari dulu sukanya nggak banyak omong, sekalinya ngomong selalu bener. Berasa kena tampar gue."
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Jadi, kapan lo mau bilang?"
Yasmin menggeleng. "Gue nggak akan bilang, dan menurut gue biar aja begini. Seperti yang lo bilang gue emang egois, gue egois karena takut ditinggalin makanya memilih pergi. Karena faktanya emang gue nggak bisa tinggal, Ga."
"Yang berhak memutuskan Malvin, bukan lo."
"Gue takut serakah, Ga."
"Itu memang sifat manusia kan?"
Yasmin kembali diam sesaat. Perempuan itu bingung harus bereaksi apa selain tertawa. Karena apa yang dikatakan pria ini semua adalah kebenaran. Ia kemudian menggeleng tegas.
"Tapi tetep aja gue nggak bisa, Ga."
"Lo beneran nggak cinta sama Malvin?"
"Bukan itu intinya, Ga."
__ADS_1
Saga menggeleng tidak setuju. "Itu versi perempuan. Versi laki-laki, bagi kami itu yang terpenting. Yang lain bisa menyesuaikan."
"Mungkin itu versi lo, tapi enggak dengan versi pria lain."
"Jadi kedatangan gue sia-sia?"
Yasmin kembali tertawa. "Bukannya tadi lo bilang ke sini bukan buat mengubah sudut pandang gue? Kenapa sekarang berubah?"
"Itu yang disebut trik."
"Begini cara lo dapetin istri muda lo?"
"Lo kenapa sebut istri gue, istri muda?"
"Ya, karena istri lo kemudaan buat lo. Udah lulus kuliah belum sih? Gue curiga sebenernya dia mahasiswa lo."
"Lo tahu kan dia temennya Malvin?"
Yasmin mengangguk cepat. Beberapa detik kemudian ia menyadari sesuatu. "Eh, mereka seumuran?"
Saga mengangguk untuk mengiyakan.
"Serius? Demi apa lo?"
Saga hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan sebagai respon.
"Gue pikir malah belum lulus kuliah. Soalnya masih imut-imut gitu. Astaga, gue jadi nggak bisa ngebayangin ntar anak kalian manggil dia apa? Cocoknya dipanggil Kakak gitu masa mau dipanggil Mama sih, Ga?"
"Gue cabut," ucap Saga langsung berdiri.
"Kok buru-buru? Masih diajakin ngobrol juga malah pamit. Ini juga minuman lo aja masih dibikinin, tungguin bentar."
Tok Tok Tok
Tak lama setelahnya terdengar suara pintu diketuk. Lalu masuklah OB sambil membawa nampang berisi dua cangkir teh.
"Tuh, udah dateng. Duduk dulu deh, Ga, udah dibikinin. Hargain yang bikin lah."
Saga menggeleng. "Katanya kalau sekiranya nggak bisa ngehabisin, nggak usah diminum sekalian. Daripada mubazir."
"Lo serius mau langsung cabut?"
Saga mengangguk sambil mengulurkan tangannya. "Nice to meet you."
Yasmin berdecak sambil menjabat tangan Saga. "Gue sebenernya enggak, tapi thanks, udah mampir. Lain kali kalau istri lo pengen konsultasi, suruh aja ke sini, nanti gue kasih diskon temen."
Saga menggeleng. "Kalau temen nggak akan minta diskon."
Yasmin mengerutkan dahi bingung. "Kenapa begitu?"
"Sebagai temen itu harus dukung bisnis temennya, bukannya malah minta diskon."
"Oke. Siap, Pak Dosen."
Yasmin kemudian mengantar Saga keluar dari ruangannya.
"Gue udah bukan dosen."
"Loh, kenapa?" tanya Yasmin heran. Seingatnya Saga sangat suka mengajari. Meski suka irit bicara, menurutnya cara Saga kalau mengajari sangat menyenangkan dan tidak bertele-tele. Benar-benar to the point.
"Istri gue nggak suka."
Kali ini Yasmin tertawa. "Ah, mahasiswa lo?"
"Sibuk."
"Oh, emang dia jadi IRT banget? Nggak ada kegiatan apa gitu?"
"Dia dokter juga."
"Lah, dokter juga? Gue pikir nyari yang beda."
Saga mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Dapetnya sama."
"Tapi enak juga sih kalau sama-sama dokter gitu, kan katanya dosisnya sesuai. Menurut lo gitu juga nggak?"
"Lo penasaran?" Saga balik bertanya.
"Lumayan. Kasih bocoran dikit dong!"
"Coba ajakin Malvin!"
__ADS_1
Detik berikutnya Yasmin kehilangan kata-kata.