Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Antologi Rasa?


__ADS_3

______________________________________


Ayana hanya mampu mengerutkan dahinya heran saat Tama tiba-tiba menyodorkan kartu undangan. Bukannya langsung membaca undangan tersebut, perempuan itu lebih memilih bertanya langsung pada sang kakak.


"Dari siapa?"


"Saga."


"Saga siapa?" tanya Ayana tiba-tiba ngegas.


Tama berdecak mengusap-usap telinganya yang mendadak berdenging karena nada suara Ayana yang tiba-tiba naik. "Ya Saga temen gue, tetangga lo, mantan gebetan lo. Emang ada berapa Saga yang lo kenal?"


"Lo yang serius dong, Bang, jangan bercanda!" Ekspresi tidak percaya masih terlihat pada wajah gadis itu.


"Ya, ini gue serius, Na, ngapain bercanda? Lagian kenapa gue bercandain temen gue yang mau kawin?" Tama geleng-geleng kepala tidak habis pikir.


"Dia mau nikah sama siapa?"


"Mantannya. Berkat lo yang nggak mau sama dia, Saga jadi sadar kalau ternyata dia masih cinta sama mantannya. Saga ngundang lo itu sebagai ucapan terima kasih gitu, Na, lo jangan lupa dateng. Ajakin Aska juga." Pandangan Tama tiba-tiba menerawang, "nggak nyangka banget gue kalau ternyata jodoh Saga itu mantannya sendiri. Pantesan aja dia lama nggak nikah-nikah, eh, nggak tahunya jodohnya masih dijagain orang sampai punya anak dulu."


"Maksud lo apa, Bang?" Ayana memasang wajah shocknya.


"Mantan Saga ini udah pernah nikah dan sampai punya anak, Na. Tapi meski dia udah jadi janda, nggak keliatan sama sekali kalau udah pernah ngelahirin anak. Parah sih emang selera Saga."


Dengan hati yang terluka Ayana mengangguk membenarkan perkataan Tama. Perempuan itu memang tidak terlihat seperti perempuan yang pernah melahirkan. Masih terlihat cantik, anggun, dan awet muda. Tubuhnya pun masih sangat langsing tanpa lemak berlebih. Hal ini membuatnya bertambah iri.


"Jadi gue kalah sama janda," gumam Ayana tanpa sadar.


Tama spontan langsung menoleh saat samar-samar mendengar gumaman Ayana. "Hah? Ngomong apa lo barusan?"


Sambil tersenyum paksa, Ayana menggeleng. "Enggak, enggak papa kok."


"Oh kirain, ya udah kalau gitu gue cabut duluan ya. Nanti dateng ke kondangannya bareng gue aja."


Ayana tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk setuju. Lidah seolah terasa kelu untuk sekedar membalas. Batinnya seolah tidak terima ditinggal nikah, tapi ia tidak bisa berbuat apapun karena ini memang kesalahannya. Yang dapat ia lakukan saat ini hanya mampu menangis seperti orang bodoh.


______________________________________


"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Sagarana Naurel Cakra bin Bramantio Hadiningrat dengan Viona Anastasya binti Ahmad Kamarudin dengan mas kawin uang tunai sebesar 21,7 ribu USD dengan emas batangan seberat 2000 gram dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Viona Anastasya binti Ahmad Kamarudin dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sah!!"


"TIDAK!!"


Bugh!


Ayana tiba-tiba merasakan sebuah bantal mengenai wajahnya. Gadis itu langsung membuka matanya dan segera bangun dari posisi berbaringnua. Deru napasnya terdengar ngos-ngosan, ekor matanya kemudian mengedar ke seluruh ruangan, detik berikutnya ia baru tersadar kalau barusan yang terjadi hanya mimpi. Perasaannya langsung lega.


"Udah dibilang kalau ngantuk itu tidur di ruang tamu sana, Na! Lo bikin anak gue kebangun ini," gerutu Tama kesal. Pasalnya saat ini Fira sedang di bawah dan yang bertugas menjaga putri mereka dirinya, jelas ia tidak ingin tidur putri kecilnya terusik sedikit pun, karena jelas Tama tidak sehandal itu dalam mengurus bayi, meski ini sudah menjadi anak keduanya.


"Sorry, sorry, Bang, gue enggak sengaja," sesal Ayana merasa tidak enak. Ia memang kelelahan beberapa hari terakhir, tidurnya tidak nyenyak, sering jaga malam dan ia bahkan belum baikan dengan Aska, apalagi kalau mengingat pertemuannya dengan Saga, Ayana merasa semakin stress memikirkannya.


"Sana tidur di kamar sebelah," usir Tama dengan wajah galaknya, sambil mencoba membuat putrinya kembali tertidur.


Dengan perasaan bersalahnya, Ayana berjalan mendekat ke arah sang kakak. "Sini gue aja yang gendong."

__ADS_1


"Enggak usah, lo tidur aja sana! Nggak tidur berapa hari sih lo? Jelek banget mukanya."


Ayana menggeleng sambil mengusap wajahnya lalu duduk di tepi ranjang. "Pusing gue, Bang," keluhnya kemudian.


"Masih belum baikan sama Aska?"


Ayana menggeleng lemah.


"Terus tadi lo mimpi apa sampai kayak nggak rela gitu?" tanya Tama kepo, "kenapa? Lo ngimpiin Aska sama cewek lain?" tebaknya kemudian. Diiringi kekehan geli tak lama setelahnya.


Mungkin Ayana tidak akan seresah ini kalau seandainya itu terjadi. Maksudnya, bukankah wajar kalau ia merasa tidak rela melihat kekasihnya menikah dengan perempuan lain? Tapi yang membuatnya resah sekarang adalah ketidak relaannya melihat seseorang yang tidak memiliki hubungan spesial dengannya bersama orang lain. Bukankah ini aneh dan tidak wajar?


"Na," panggil Tama khawatir, "lo kenapa sih?"


"Gue nggak tahu, Bang." Ayana menggeleng seperti orang linglung, "mau pulang aja deh gue." Ia langsung berdiri dan membereskan barang-barangnya.


"Nyetir sendiri?"


Ayana terkekeh seraya menoleh. "Kenapa? Mau lo setirin, Bang?"


"Ya enggak, cuma--"


Tok Tok Tok


Baik Ayana dan Tama secara kompak langsung menoleh ke arah pintu. Di sana ada Malvin sambil menenteng bingkisan kado dengan ukuran cukup besar, tengah tersenyum seraya melambaikan sebelah tangannya.


"Pas banget ada lo, Vin."


"Kenapa? Perasaan gue mendadak nggak enak, anjir," ucap Malvin langsung masuk ke dalam kamar dengan wajah ditekuknya.


"Anterin adek gue."


"Lo kan anak angkat nyokap gue, otomatis jadi adik tiri gue lah. Udah buruan anterin dia," gertak Tama agar Malvin menurut. Dan berhasil, meski dengan wajah ogah-ogahannya Malvin akhirnya meletakkan barang bawaannya dan mengajak Ayana segera pergi.


"Ayo, buruan! Ngerepotin banget sih lo hidup di dunia ini."


Ayana langsung tersenyum puas. "Iya, gue juga sayang sama lo, Vin," balasnya tidak nyambung.


Dengan wajah sinisnya Malvin membalas, "Taik!"


Respon Ayana hanya terbahak puas lalu berpamitan dengan sang Kakak setelah mencium hampir seluruh bagian wajah sang ponakan. Alhasil tidur anteng bayi itu terusik dan tentu saja membuat sang Papa mengamuk.


______________________________________


"Lo lagi sakit, Na?" tanya Malvin saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.


Ayana menggeleng. "Kenapa lo nanya begitu?"


Malvin tidak langsung menjawab dan malah menunjuk wajahnya sendiri membentuk lingkaran. Lalu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Tama. "Pucet. Kuyu. Jelek banget sumpah."


"Oh, mungkin gegara make up gue udah luntur kali, ya."


"Na, gue udah lihat muka lo yang tanpa make up atau bahkan baru bangun tidur dengan rambut singa lo. Dan seenggaknya muka bangun tidur lo lebih baik ketimbang sekarang. Lo itu tetep cakep meski nggak pake make up sekalipun, jeleknya lo itu biasanya kalau pas lagi sakit."


Tangan Malvin kemudian terulur untuk memeriksa suhu tubuh Ayana. "Anjir, panas, Na. Demam lo?" Buru-buru ia menepikan mobilnya ke jalanan yang agak sepi, "sekarang apa yang lo rasain?" Dengan sigap ia melepas seat beltnya.


Ayana menggeleng. "Enggak tahu, gue emang ngerasa kayak pusing habis ngimpi aneh tadi, badan gue juga rasanya kayak lemes gitu. Tadi pagi sih emang udah kerasa nggak kayak biasanya, cuma barusan banget kerasa makin nggak enaknya."


"Perut gimana? Lo ngerasa mual atau mau muntah nggak?"

__ADS_1


Ayana menggeleng. "Cuma nggak nyaman aja."


"Habis ngimpi apaan sih lo sampai bikin lo begini? Nggak biasanya loh lo begini, lo kan biasanya nggak gampang sakit, Na. Gara-gara belum baikan sama Aska?"


Ayana kembali menggeleng. "Enggak, kita udah baikan kok."


"Terus masalahnya apa?" tanya Malvin heran.


Tiba-tiba kedua mata Ayana terlihat memerah seperti sedang menahan tangis. Malvin yang melihat itu langsung mengelus lengan gadis itu.


"Gue abis mimpi aneh."


"Aneh gimana?" tanya Malvin heran, "It's okay, kita pulang sekarang biar lo bisa istirahat. Udah makan belum?"


Lagi-lagi Ayana hanya menggeleng.


"Ya udah, ntar sampai rumah langsung makan terus minum obat abis itu tidur. Enggak usah mikirin mimpi aneh lo itu, oke?"


Ayana diam saja.


"Enggak usah mikirin Saga juga," ucap Malvin tiba-tiba.


Kedua pipi Ayana seketika langsung basah saat mendengar nama Saga. Cepat-cepat ia menghapusnya sebelum ketahuan Malvin. Namun, sayang pria itu sudah terlanjur melihatnya karena posisinya yang menghadap langsung ke arah Ayana.


"Na, lo inget film Antologi Rasa?"


"Kenapa mendadak nanyain film sih?" Ayana yang sedang membersihkan ingusnya menggunakan tisu langsung memprotes.


"Pengen tahu aja lo inget quote di film itu apa enggak."


"Enggak, gue inget pemainnya aja, Herjunot Ali sama Refal Hady kan?"


"Buset, giliran cogan aja inget," cibir Malvin sambil memakai seat beltnya, bersiap kembali melajukan mobilnya membelah jalanan ibukota yang hampir setiap saat padat merayap.


"Emang quote nya apaan?"


"Jika dia membuatmu tertawa, itu berarti kamu menyukainya, tetapi jika dia membuatmu menangis, itu berarti kamu mencintainya."


Detik berikutnya tangis Ayana kembali pecah. Ia merasa bodoh karena terlambat menyadari perasaannya.


"Vin, sekarang gue harus gimana?" tanya Ayana dengan suara bergetar.


"Perbaiki, Na," jawab Malvin singkat.


"Tapi gue udah merusak semuanya."


"Na, segala sesuatu yang rusak nggak semuanya nggak bisa diperbaiki, sebagian tetep ada yang bisa diperbaiki. Dan menurut gue hubungan rumit lo ini tetep bisa diperbaiki kok, kalau Mas Saga lo ini emang jodoh lo, lo bakal bisa bersatu sama dia. Percaya sama gue!"


"Terus kalau ternyata dia bukan jodoh gue?"


"Ya, berarti lo jodoh gue."


Jawaban Malvin langsung membuat pria itu mendapat tatapan tajam dari Ayana.


"Lo nggak lihat wajah sembab gue, Vin? Masih aja bercanda," gerutu Ayana sambil menarik tisu dengan kasar.


"Biar nggak tegang, Na, abis muka jelek lo jadi tambah jelek pas nangis gini."


"Malvin!! Bisa nggak sih nggak usah rese, kan gue lagi sedih. Mana gue lagi sakit lagi."

__ADS_1


"Bodo amat." Dengan wajah tak berdosanya Malvin menjulurkan lidahnya guna semakin memancing amarah Ayana. Gadis itu pun hanya bisa mengumpat samar di sela sesegukannya.


__ADS_2