
***
Setelah beberapa jam membiarkan sang istri lebih tenang, baru kemudian Saga menyusul Ayana. Ternyata sang istri sedang bersama putrinya, sesekali mereka nampak bercanda gurau sampai membuat Mala tertawa terbahak-bahak. Padahal Ayana hanya pura-pura melakukan gigitan pada jari mungil putri mereka. Tapi Mala terlihat begitu senang. Tanpa sadar Saga ikut tersenyum saat melihatnya.
Raut ekspresi Ayana langsung berubah, kala menyadari kehadiran sang suami. Saga yang menyadari itu menghela napas sambil mengusap rambutnya ke belakang dengan salah tingkah.
"Ngobrol bentar bisa, Yan?" tanya Saga harap-harap cemas. Kalau sudah mode begini, untuk membujuk sang istri bukan kah perkara mudah.
"Mau ngomong apa lagi? Mau nyalahin aku lagi? Lanjut besok lah, aku capek, Mas," balas Ayana dengan nada bicara ketus.
Saga langsung menggeleng cepat. "Enggak, Yan, aku minta maaf. Aku tadi terlalu terbawa emosi makanya begitu. Maafin aku, ya?" sesalnya kemudian.
Mendengar sang suami yang minta maaf, Ayana jadi sungkan dan tidak enak. Ia langsung bangun dari posisi berbaringnya, hal ini membuat sang putri kecil mereka langsung protes. Sambil tersenyum ia langsung menggendong Mala.
"Lagi nggak bisa jauh sama kamu banget dia, Yan, makanya aku agak terbawa emosi pas tahu kamu telat pulang karena ketemu sama Mala Malvin."
Ayana mengangguk paham. "Aku juga minta maaf, Mas, aku juga ngaku salah."
"Baikan kan kita?"
Ayana mengangguk cepat. "Jangan begitu lagi lah, Mas, aku beneran takut serem banget tahu. Aku udah ngerasa bersalah banget sama Mala tapi malah kamu tambahin kan aku jadinya makin ngerasa bersalah."
Ayana merengut kesal. "Mana kamu itu kalau lagi mode marah serem banget, Mas, nggak bercanda aku tadi sampe lemes banget tahu.
"Maaf," ucap Saga tapi tidak terlihat seperti orang yang sedang menyesal. Setidaknya itu yang Ayana tangkap.
"Mas kamu ikhlas nggak sih minta maafnya?"
Saga berkedip dua kali. "Kenapa?" ia kemudian balik bertanya dengan nada heran.
"Soalnya muka kamu nggak keliatan kayak orang yang lagi minta maaf apalagi ngerasa nyesel."
Saga garuk-garuk kepala sebentar. "Bukannya emang begini, ya, biasanya?"
Kali ini Ayana tertawa, hal ini membuat Mala ikut tertawa. "Yee, ikut-ikutan aja kamu, emang kamu ngerti?" ledeknya sambil mengigit hidung sang putri. Bukannya menangis justru sang bayi malah tertawa terbahak-bahak, "lihat, Mas, anak kamu aneh banget sih," ucapnya mengadu pada sang suami.
"Anak kamu juga kan?"
Ayana terkekeh. "Iya juga sih."
"Yang biasanya suka aneh-aneh siapa?"
Rasanya Ayana seperti mendadak terkena mental. Suaminya ini memang jagonya sih kalau untuk menjatuhkan mental orang.
"Mas, nggak pengen ngajar lagi?"
Mendengar pertanyaan sang istri, Saga langsung mengerutkan dahinya heran. Batinnya langsung bertanya-tanya, istrinya tidak habis kesambet kan? Serem banget pertanyaan nya.
__ADS_1
Tangan Saga kemudian terulur dan menyentuh dahi sang istri. "Anget, pantesan."
Ayana langsung melotot tidak terima. "Enak aja," sahutnya tidak terima, "sama istri sendiri kok begitu."
Saga hanya terkekeh super tipis. sedangkan Ayana langsung mendengus. Lalu menyerahkan sang putri kepada sang suami.
"Nih, anaknya dijagain dulu yang bener, jangan dibikin nangis, aku mau mandi dulu."
Ekspresi Saga reflek langsung melongo tidak percaya. "Kamu belum mandi?"
"Ya, menurut kamu, Mas? Aku baru pulang terus kamu ngajak gelud, terus pas aku masuk kamar Mala-nya udah bangun, menurut kamu aku masih sempet gitu kalau udah mandi."
Bahu Saga tiba-tiba melemas. "Kalau belum mandi kenapa baringan di kasur?" protesnya kemudian. Ia menatap sang istri dengan pandangan tidak bersahabatnya, "mau kamu ganti sendiri atau aku suruh Darti?" ia cepat-cepat mengimbuhi saat menyadari mulut sang istri hendak mengeluarkan suara, "aku nggak mau kena protes lagi kalau kalau aku sendiri yang ganti. Pilih mana?"
Dalam hati Ayana langsung menggerutu. Kalau mode ngajak gelud bisa aja ngomong panjang.
"Astaga, ya ampun, Mas. Aku rebahan juga belum ada setengah jam. Lagian tiap malem kena keringat kita juga kamu kadang nggak nyuruh aku langsung ganti, kenapa giliran--"
"Itu beda, Yan," potong Saga tidak terima. Kedua matanya terlihat tidak begitu bersahabat, sedangkan Mala hanya memasang wajah bingungnya melihat perdebatan kedua orang tuanya.
Ayana berdecak kesal. "Ya udah kamu suruh Darti kalau gitu, aku capek kalau suruh ganti."
Saga mengangguk paham lalu keluar kamar bersama Mala sedangkan dirinya memutuskan untuk segera masuk ke kamar mandi karena ia merasa gerah.
***
Muka Ayana langsung berubah panik saat turun ke lantai bawah dan menemukan Malvin sedang asik bermain dengan putrinya. Sedangkan Saga, jangan ditanya, pria itu kini sedang sibuk dengan bukunya tentu saja. Bukan apa-apa ia baru saja melalui perdebatan sengit gegara pria itu. Tentu saja sekarang ia merasa panik.
Ketiganya kemudian menoleh dengan kompak. Tiga-tiganya kini sedang memasang wajah bingungnya masing-masing. Gemas melihat tingkah ketiganya, Ayana rasanya ingin mengabadikan momen tersebut. Tapi tidak bisa karena hal itu hanya berlangsung beberapa detik dan setelahnya mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Benar, setelahnya ia diacuhkan begitu saja. Agak kurang ajar memang, ketiganya hobinya padahal nyariin dirinya. Tapi sekarang lihat lah mereka, seolah tidak membutuhkannya saja.
"Makan, Yan!"
Kali ini Saga yang lebih dulu membuka suara, meski demikian pandangannya tetap fokus pada lembaran buku yang tengah ia balik.
"Kamu yang aku makan, Mas," balas Ayana agak judes.
"Woi, ngomongnya hati-hati ada bocil nih," sahut Malvin sambil menunjuk dirinya sendiri dan juga Mala.
Spontan Ayana langsung tertawa tak lama setelahnya.
"Kalau lo udah bangkotan, Vin, nggak masuk itungan bocil." Ayana kemudian duduk di sebelah sang suami dan menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.
Menyadari suhu tubuh sang istri yang tidak biasa, Saga langsung mengulurkan telapak tangannya dan memegang leher Ayana untuk mengecek suhu tubuh sang istri.
"Enggak enak badan?"
__ADS_1
Ayana mengangguk. "Aku shock karena kamu omelin tadi, Mas."
Saga menaikkan alisnya heran.
"Beneran," balas Ayana kekeuh. Ia langsung menegakkan badannya, "Vin, lo tadi tahu nggak tadi gue sama Mas Saga abis ribut besar."
Malvin sedikit terkekeh. "Gegara apa?"
"Lo," balas Ayana ngegas.
Malvin dan Mala sampai kaget mendengarnya. Pria itu langsung terbahak tak lama setelahnya.
"Anjir, Na, anak lo sampe ikutan kaget juga."
"Malvin Prawicaksana," tegur Saga dan kali ini giliran Ayana yang terbahak tak lama setelahnya.
"Apa? Apa? Gue salah apa, Bang?" sahut Malvin tidak terima.
"Lagi kemusuhan sama lo laki gue, Vin," sahut Ayana.
Saga menatap sang istri datar, bentuk protes tidak terimanya. Menghadapi mereka yang satu frekuensi sungguh melelahkan.
Ia menghela napas panjang. "Jangan pake begituan kalau lagi sama Mala."
Malvin mengerutkan dahi bingung. "Pake begituan apa?"
"Anjir," bisik Ayana tanpa mengeluarkan suara.
Pria itu ber'oh'ria sambil manggut-manggut paham.
"Astaga, ya ampun, gue kira apa. Terus kalau yang berantem gegara gue maksudnya apa?"
"Cemburu doi sama lo, karena perhatian gue ke doi jadi terbagi."
Saga menghela napas berat. "Makan, Yan, terus minum obat, kamu demam."
"Iiih, enggak, Mas, aku nggak demam. Aku baik-baik aja kok. Nih, ya, Vin, lo tahu nggak tadi Mas Saga sampe nanya gini ke gue. 'kamu kalau nyesel nikah sama aku bilang'. Pokoknya intinya begini, gue nggak begitu inget pasti, pokok begitu lah. Gila, Vin, gue rasanya kayak mak cleb banget, kayak, buset laki gue masa tega banget ngomong gitu ke gue. Kayak ya Allah, kesetiaan gue dari bocah diraguin sama suami aku sendiri. Terus gue kek yang mau nangis gitu tapi masih gue tahan-tahan. Tapi asli sih gue dengernya sakit hati banget, Mas."
"Kan aku punya alasan, Yan," sahut Saga tidak terima.
Sedangkan Malvin langsung memasang wajah shocknya. "Serius, Bang, lo nanya gituan?" tanyanya seolah tidak percaya.
Dengan cepat Ayana langsung mengangguk dan mengiyakan. "Beneran, nggak percayaan banget lo dikasih tahu. Serius, Vin."
"Iiih, serem banget buset, pulang aja deh gue. Nggak mau lah gue kalau gitu temenan sama kalian lagi." Malvin geleng-geleng kepala ngeri lalu berdiri hendak pamit pergi. Menyadari sang Om kesayangan hendak pergi Mala langsung menangis kencang.
Malvin seketika langsung panik. Cepat-cepat langsung mengendong Mala untuk menghentikan tangisnya.
__ADS_1
"Kayaknya anak kalian bucin ke gue deh, apa gue nungguin dia gede aja ya?" canda Malvin, namun, sukses membuatnya mendapatkan pelototan tajam dari kedua orang tuanya, "haha, bercanda elah, biasa aja kali mata kalian. Serem banget buset, kayak mau keluar dari tempatnya aja."
Tbc,