Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Belanja Bulanan


__ADS_3

"Enggak jadi?"


Ayana rasanya ingin mengamuk saat mendengar pertanyaan Saga. Menurut rencana, sore ini mereka akan mengadakan kencan ala-ala sambil sekalian belanja kebutuhan bulanan mereka, kebetulan beberapa keperluan mereka sudah mulai habis. Jadi ibarat kata sambil menyelam minum air lah. Pacaran sekalian belanja bulanan. Tapi rencana tinggal rencana. Suaminya itu bahkan baru sampai pulang setelah adzan maghrib berkumandang setengah jam yang lalu.


Pakaiannya masih rapi dan Saga bertanya demikian. Melempar benda tajam ke arah suami saat sedang emosi termasuk dosa nggak sih? Kalau enggak, Ayana ingin melempar benda tajam ke arah Saga sekarang juga.


"Mas Saga nggak liat aku udah rapi begini?"


Saga langsung memperhatikan ujung kaki sang istri hingga ujung kepala. Kepalanya kemudian melirik ke arah tas selempang milik Ayana.


"Mau berangkat sekarang?" tawarnya kemudian.


"Ya iya lah, pake nanya lagi." Ayana langsung berdiri, "ke mana aja sih? Jam segini baru pulang, bukannya janjinya tadi pulang sore? Kenapa baru sampe abis maghrib?"


"Maaf. Ada operasi cito, Yan."


Ayana tidak berkomentar lebih lanjut dan langsung merangkul lengan Saga dan mengajak suaminya itu agar segera berangkat.


"Tunggu sebentar, kayaknya Agus masih di kamar mandi," ucap Saga saat mereka keluar dari rumah, dan tidak menemukan Agus, supir pribadinya.


"Kamu yang nyetir lah, Mas," sahut Ayana, "enggak usah manja deh, mentang-mentang punya supir, maunya disupirin terus. Sesekali nyupirin istrinya dong," sambungnya kemudian. Tanpa menunggu respon dari sang suami, Ayana langsung masuk ke dalam mobil begitu saja.


Sadar diri telah membuat mood sang istri berantakan, Saga hanya mampu menurut pasrah. Mengikuti semua yang diinginkan Ayana, ia tidak akan membantah atau sekedar mendebat.


"Jadi nonton dulu nggak nanti?" tanya Saga saat ia akhirnya menyusul masuk ke dalam mobil. Tangannya langsung memasang seat belt.


"Enggak," balas Ayana ketus. Moodnya terlanjur berantakan, ingin membatalkan acara belanja bulanan mereka, namun, ingat kalau beberapa keperluannya sudah benar-benar perlu diganti.


Saga langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Nyalinya kian menipis mendengar reaksi ketus Ayana. Maka dari itu yang dapat ia lakukan setelahnya hanya fokus menatap ke arah jalanan ibukota. Meski sesekali ia tetap melirik ke arah sang istri.


"Kamu tahu nggak sih, Mas, kenapa aku bete banget sama kamu?"


Saga mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Hal ini membuat Ayana merasa diabaikan.


"Mas!" protes Ayana kesal.


"Tahu."


"Kenapa?"


"Karena telat."


Ayana mendengus. "Bukan. Kamu telat pulangnya nggak papa, apalagi mengingat profesi kamu sebagai dokter. Aku tahu, aku paham, Mas, aku juga dokter, Mas, meski aku bukan dokter spesialis. Tugas kita mulia, tapi bisa nggak sih kalau mau tindakan dan harus batalin janji sama aku, aku-nya dikabarin dulu?"

__ADS_1


"Maaf." Ekspresi Saga terlihat begitu bersalah.


"Bisa apa enggak, Mas?" decak Ayana agak sebal.


"Iya, diusahakan. Lain kali nggak begitu. Maaf."


"Oke, dimaafin. Tapi awas aja kalau nanti sampai lupa lagi. Aku bakalan ngambek lama sama kamu. Setuju?"


"Iya," ucap Saga pasrah.


***


Saga akhirnya bisa bernapas lega saat akhirnya mereka sampai di super market. Karena mood sang istri langsung membaik saat perempuan itu akhirnya bisa memilih barang-barang keperluannya. Padahal sepanjang perjalanan menuju kemari, wajahnya terus-terusan ditekuk. Tapi lihatlah sekarang, wajah sang istri benar-benar terlihat cerah.


"Mas Saga suka aku pake shampo yang merk ini apa ini?" tanya Ayana antusias sambil menunjukkan dua merk shampo pilihannya.


Saga menggaruk kepalanya bingung. "Bukannya sama?"


"Beda dong, Mas. Lihat merk-nya aja beda!"


"Ya udah, ambil dua-duanya," saran Saga, ia cepat-cepat mengimbuhi kalimatnya saat melihat ekspresi sang istri yang terlihat seperti hendak memprotes, "buat stok sekalian, Yan, aku yang bayar," sambungnya kemudian.


Ayana langsung mencibir, "Sombong."


Sambil terkekeh Ayana pada akhirnya memasukkan botol shampo dua-duanya ke dalam keranjang troli mereka.


"Mas Saga shampoo-nya tetep yang biasa apa mau ganti?"


"Kamu maunya?"


Kebiasaan. Kalau ditanya pasti gantian balik nanya. Mau heran tapi ini suaminya.


"Aku suka yang biasa sih."


"Ya udah, yang biasa."


"Tapi sabunnya coba ganti ya, yang kemarin aku kurang suka."


Saga mengangguk tidak masalah dan langsung menyuruh Ayana mengambilkan sabun yang menurut sang istri suka.


"Sikat gigi kita juga udah mulai perlu diganti, tisu juga tinggal sedikit. Beli sekalian apa nunggu abis, Mas?"


"Sekalian. Sama pembalut buat kamu sekalian, kayaknya kemarin tinggal dua yang di rumah."

__ADS_1


"Dih, takut ya pasti kalau aku suruh beliin pembalut," ledek Ayana sambil menyenggol lengan sang suami.


Sudah pasti lah, tidak perlu mendengar jawaban dari Saga, Ayana sudah dapat menebak dengan pasti kalau suaminya ini pasti malu kalau disuruh beli keperluannya yang satu ini. Dulu saja waktu Abangnya ia suruh, Tama langsung mengamuk.


"Bukan takut," elak Saga.


"Terus?"


"Enggak paham. Asal kamu kirimin foto merk dan ukurannya, aku nggak masalah."


Kedua mata Ayana melotot tidak percaya. "Serius kamu, Mas?"


"Ya, serius. Kan cuma beli, kecuali kalau kamu minta aku nyolong. Baru deh, aku takut."


Ayana mendengus gemas. "Ya kali, aku nyuruh suami aku nyolong. Ada-ada aja kamu." ia langsung mengambil pembalut merk yang biasa dia pakai. Namun, secara tiba-tiba ia mengembalikan pembalut itu ke rak.


"Kenapa dibalikin?" tanya Saga heran.


Ayana meringis. "Pengen ngetes Mas Saga ntar kalau aku tiba-tiba bocor bulan depan, kira-kira kamu bakalan berani beliin apa enggak."


Mendengar jawaban sang istri, Saga langsung mengeluarkan ponselnya dan memotret merk pembalut itu.


"Lah, biar apa, Mas?"


"Buat jaga-jaga."


"Ya ampun, niat banget. Kan nanti bisa minta aku kirimin pas mau beli."


"Kelamaan."


Seketika Ayana langsung terbahak. "Kalau perkara males kelamaan, kan bisa aja kamu balik ambil pembalutnya lalu masukin ke keranjang troli, bukannya dibalikin ke rak. Gimana sih?" tanyanya heran.


Saga menggeleng tidak setuju. "Nanti kamu bilang aku takut lagi."


"Oke, kita liat nanti, ya. Tapi aku mau nanti kamu yang beli sendiri loh, Mas, nggak boleh nyuruh Pak Agus. Paham?"


Tanpa mengeluarkan protes atau sekedar mengeluarkan suara. Saga hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Lalu kemudian mereka kembali melanjutkan kegiatan berbelanja mereka.


Setelah selesai memilih, keduanya langsung bergegas menuju kasir untuk membayar. Namun, saat sedang mengantri Ayana melupakan sesuatu, alhasil, ia menyuruh Saga yang mengantri sendirian sedangkan dirinya pergi mengambil barang yang kelupaan. Dan betapa terkejutnya dirinya saat ia sampai di sana. Suaminya itu tengah asik mengobrol dengan seorang perempuan cantik dan tinggi. Wajah perempuan itu nampak tidak asing, namun, ia tidak yakin di mana mereka bertemu.


Apakah perempuan itu salah satu rekan sejawat sang suami? Tapi kalau cuma rekan sejawat kok sepertinya tidak mungkin. Lalu siapa perempuan itu? Apakah salah satu mantan Saga? Kalau iya, sudah sepatutnya ia merasa insecure dengan perempuan itu.


Astaga, ya Tuhan, perempuan itu bahkan hanya mengenakan heels yang tingginya tidak lebih dari enam senti, tapi lihatlah, tinggi mereka bahkan sejajar. Lain halnya dengan dirinya, yang mungkin ia haru memakai heels yang memiliki tinggi lebih dari lima belas senti agar bisa sejajar dengan sang suami. Ya Tuhan, semoga perempuan itu bukan mantan sang suami. Ayana mungkin benar-benar tidak bisa tidur jika perempuan itu mantan Saga.

__ADS_1


__ADS_2