Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Persiapan Acara Lamaran


__ADS_3

Ayana tidak dapat menahan keterkejutannya saat masuk ke dalam rumah, dan langsung disambut dengan pemandangan orang yang sedang berlalu-lalang menyusun dekor lamaran. Acara lamarannya memang akan diadakan malam ini, Tama juga kemarin sempat memberitahu kalau sang Mama sudah sibuk mencari dekor untuk acara lamaran. Namun, ia tidak menyangka kalau acara lamarannya akan benar-benar menggunakan dekor. Karena menurutnya acara hanya akan dilakukan oleh keluarga inti saja. Bahkan baik Saga maupun dirinya, hari ini bahkan tidak mengambil cuti karena memang menurutnya acara akan sangat-sangat sederhana.


Dengan langkah buru-buru Ayana langsung mencari keberadaan sang Mama, yang ternyata sedang sibuk di dapur.


"Eh, anak kesayangan Mama udah pulang. Kenapa? Mau bantuin, ya? Enggak usah, kan kamu pasti capek, langsung istirahat aja, biar nanti malem pas acara lebih seger.


"Mama apa-apaan sih pake segala sewa dekor segala? Kan acara lamarannya sederhana aja," protes Ayana dengan ekspresi cemberut, "kan yang dateng juga cuma keluarga Mas Saga doang. Mama nggak ada rencana ngundang tetangga kan?


"Lah, ini juga sederhana kok. Enggak lah, Mama gengsi dong, Na, kalau ngundang tetangga ya minimal harus sewa gedung. Masa di rumah aja."


Ayana kehilangan kata-kata.


Sambil tersenyum, Kartika langsung menghampiri putri bungsunya lalu menginstruksi Ayana agar segera meninggalkan dapur.


"Udah, kamu nggak usah mikirin apapun. Sekarang mending kamu ke kamar, ganti baju terus istirahat. Nanti sore Mama bangunin kalau semua udah beres. Pokoknya kamu terima beres."


Mau tidak mau, akhirnya Ayana pasrah mengikuti instruksi sang Mama. Karena kalau membantah bisa jadi malah terjadi perdebatan yang tak ada ujungnya. Ia merasa sedikit sungkan dengan orang-orang suruhan sang Mama yang sedang sibuk menata ruang tamu dan juga memasak. Alhasil, ya solusi terbaik adalah menurut. Meski sebenarnya ia merasa sedikit terpaksa melakukannya.


Setelah sampai di kamarnya, Ayana memutuskan untuk mandi biar lebih segar. Setelah mandi ia tidak langsung tidur sesuai instruksi sang Mama. Ia memilih untuk scroll sosial media. Bosan men-scroll sosial media, ia memutuskan untuk tidur. Kebetulan ia mulai mengantuk. Saat bangun ternyata sudah pukul setengah lima sore. Ayana kemudian memutuskan untuk melakukan ibadah salat Azhar. Selesai melakukan ibadah baru lah ia turun ke bawah.


Ruang tamunya sudah terlihat rapi dan cantik. Sesaat ia terpesona, sekaligus merasa menyesal karena tadi sempat mengomel kepada sang Mama. Memang tidak salah, meski sering kali adu mulut, Mama-nya ini memang paling mengerti dirinya.


"Gimana, cantikkan dekor pilihan Mama? Simple, tapi tetep elegan. Biar Nuansa lamaran terkesan kekeluargaan acaranya lesehan aja, Na."


"Ya ampun, Ma, masa lesehan?"


"Kan biar kekeluargaan, Na. Lagian kan yang dateng keluarga Saga doang. Kata Saga ada calon iparmu yang nggak bisa dateng, ponakan-ponakannya juga. Jadi, ya biar terasa nuansa kekeluargaannya Mama bikin konsep lesehan." Kartika tersenyum bangga, "gimana kamu suka nggak sama dekornya?"


Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Ayana langsung mengangguk untuk mengiyakan.

__ADS_1


Kartika tersenyum bangga. "Pilihan Mama emang nggak pernah salah kan? Lihat, endingnya siapa yang bakalan berani ke sini sama bawa orangtuanya? Pilihan Mama kan? Coba kalau kamu masih sama yang kemarin." Kartika langsung mencibir, "enggak tahu deh sampai kapan kamu dilamarnya."


"Mama," panggil Ayana dengan nada tidak suka, "bisa nggak sih nggak usah bahas yang udah-udah? Lagian Mama kan tahu rasanya dibanding-bandingin itu enggak enak, kenapa masih suka aja banding-bandingin? Enggak sopan tahu."


Kartika berdecak sambil mengangguk paham. "Iya, iya, Mama paham. Ya udah, kamu sana buruan mandi!" perintahnya sambil mendorong bahu sang putri.


Ayana menggeleng tidak setuju sambil menyingkirkan telapak tangan sang Mama, yang tadinya menempel pada pundaknya. "Yana udah mandi, Ma."


"Mandi lagi!" perintah Kartika tidak ingin dibantah.


"Astaga, ya ampun, itu namanya pemborosan, Ma. Pemborosan air dan juga sabun. Lagian aku mandinya di rumah tadi, nggak buat dipake apa-apa, jadi belum keringetan juga."


Kartika menggeleng tidak setuju. "Enggak bisa, tetep harus mandi lagi. Ini acara lamaran kamu, Na. Bakal ketemu calon mertua sama calon suami, masa nggak mandi? Malu-maluin lah, ntar kalau Saga jadi berubah pikiran gimana?"


"Aku udah mandi, Ma, bukan nggak mandi," koreksi Ayana tidak terima.


"Hah? MUA? Mama pake MUA?" tanya Ayana shock.


Kartika langsung mengangguk cepat. "Harus dong."


"Ma, segitu nggak percayanya sama kemampuan make up aku, sampe sewa MUA segala?" Ayana berdecak kesal, "kalau cuma buat acara lamaran aku juga bisa kali, Ma, nggak perlu sewa MUA, astaga!"


Makin ke sini, Ayana makin tidak mengerti dengan keantusiasan sang Mama.


"Enggak bisa dong, nanti dikira Mama nggak mampu. Masa acara lamaran make up sendiri, keliatan banget pengiritannya."


Ayana sudah benar-benar kehilangan kata-kata untuk sekedar membalas kalimat sang Mama.


"Tahu lah, terserah Mama aja mau-nya gimana. Aku udah pasrah."

__ADS_1


Dengan wajah sedikit cemberut, karena menahan bete, Ayana langsung bergegas menuju kamar dan menelfon sang Kakak.


"Halo, adek gue yang paling cantik! Yang bentar lagi bakalan jadi suami orang. Ada apa nih jam segini udah nelfon? Ini gue sama kakak ipar lo udh otw kok, santai aja nggak usah gugup."


Emosi Ayana makin meluap, karena ia menelfon sang kakak agar dirinya bisa curhat dengan sang kakak. Tapi Tama malah nyerocos panjang lebar.


"Bang, gue lagi kesel jangan lo tambahin bisa nggak sih?" tanya Ayana sebal.


Terdengar suara terbahak dari seberang. "Wkwk, kenapa? Kenapa? Sini cerita sama Abang, Mas Saga lo bikin ulah apa sampe bikin adek gue yang paling manis jadi bete gini? Sok atuh cerita!"


"Bukan Mas Saga yang bikin gue bete, Bang."


"Eh, bukan? Terus siapa?"


"Mama." Ayana berdecak kesal, "Mama rese banget tahu. Heboh banget padahal yang mau lamaran aku loh."


"Ya wajar dong, kalau Mama heboh, namanya anak gadis satu-satunya mau dilamar orang. Wajar lah, ntar kalau kamu sama Saga udah nikah dan punya anak, gue rasa lo bakal begitu juga. Bakal sama aja kayak Mama. Soalnya kalian mirip."


Ayana hendak memprotes tidak terima dengan pendapat Tama yang bilang kalau dirinya mirip dengan sang Mama. Tapi berhubung suara Kartika terdengar memanggil dari luar, alhasil ia mengurungkan niatnya.


"Na! Yana! Udah selesai belum mandinya? Ini MUA-nya udah nyampe!" teriak Kartika dari luar kamar.


Ayana berdecak kesal. "Ya udah deh, gue tutup dulu telfonnya, itu Mama lo udah manggil-manggil."


"Oke. Good luck adek gue! Lancar ya buat nanti malem. Duh, gue nggak sabar liat lo dilamar Saga. Wkwk, gue udah siapin kamera buat videoin kalian berdua. Mama beneran jadi sewa dekor kan?"


"Bodo amat."


Karena kesal, Ayana langsung mematikan sambungan telefon begitu saja. Ia dapat mendengar samar-samar suara terbahak dari seberang sebelum ia benar-benar mematikan sambungan. Abangnya ini benar-benar mengesalkan. Awas aja nanti, ia bersumpah akan membuat anaknya menangis. Lihat saja nanti!

__ADS_1


__ADS_2