
Ayana memutuskan untuk langsung keluar dari ruang IGD begitu selesai mendengar penjelasan sang suami, terkait kondisi sang Papa. Ia marah dan juga kecewa, tidak hanya kepada sang Mama atau sang suami atau Abangnya, tapi marah dengan diri sendiri juga. Yang bisa-bisanya tidak tahu-menahu tentang kondisi sang Papa padahal dirinya cukup dengan dengan Papanya. Ingin rasanya ia marah-marah, tapi Ayana tidak tahu siapa yang harus ia marahi. Apakah dirinya sendiri?
Melihat wajah kacau sang istri Saga memutuskan untuk menyusul Ayana lebih dahulu, daripada bersiap untuk melakukan tindakan terhadap sang mertua. Bukan ingin mangkir dari tanggung jawab, hanya saja persiapan bisa dilakukan perawat staf bedah maupun dokter residen yang akan membantunya nanti, sedangkan sang istri harus ia sendiri yang menangani.
"Maafin kami," sesal Saga bersungguh-sungguh.
Ayana masih tetap diam dengan pandangan kosongnya.
"Yan," panggil Saga hati-hati.
"Kenapa?"
Saga lumayan sedikit bisa bernapas lega karena Ayana mau membuka suara.
"Papa nggak mau kamu khawatir."
Ayana langsung mencibir. "Nggak adil. Orang tua maunya tahu kondisi sang anak, sedangkan sang anak nggak boleh tahu kondisi mereka dengan alasan nggak mau khawatir," sindirnya kemudian, "nggak mau bikin khawatir atau sengaja bikin anak keliatan nggak berguna sih sebenernya tujuan mereka?"
"Sayang, nggak boleh ngomong gitu!"
"Kamu juga, Mas. Kenapa kamu nggak kasih tahu aku?" Ayana mati-matian menahan tangisnya agar tidak jatuh, "aku anaknya, Mas, dan aku istri kamu. Bisa-bisanya kamu lakuin ini ke aku?"
"Yan, aku juga serba salah. Aku dokter yang harus menjaga kerahasiaan sesuai perintah pasien, karena ini termasuk kode etik kedokteran, kamu tahu sendiri akan hal ini. Di lain sisi, Papa sebagai mertua minta tolong ke aku menantunya biar nggak kasih tahu kamu. Jadi aku terpaksa mengikuti perintah beliau untuk nggak kasih tahu kamu. Kamu ngerti kan?"
Air mata Ayana kali ini jatuh tanpa bisa dicegah. "Meski aku ngerti, aku tetap saja masih kecewa, Mas. Kenapa kalian semua jahat ke aku? Aku anaknya loh, Mas, aku juga berhak tahu kondisi Papa. Tapi kenapa bisa-bisanya cuma aku yang nggak dikasih tahu? Kenapa?"
"Karena kamu lagi hamil, kalau kamu tahu nanti kamu malah kepikiran."
"Terus karena kondisi Papa udah begini, kamu pikir aku malah nggak makin kepikiran? Kamu salah, Mas, yang ada aku malah makin kepikiran. Otak aku rasanya sekarang udah kacau banget, Mas, nggak bisa mikir. Marah, kesel, kecewa, takut, khawatir, cemas, semua jadi satu."
Saga tidak berkomentar apapun, yang ia hanya lakukan hanya memeluk sang istri. Berharap sedikit menenangkan perasaan Ayana.
"Maafin, aku," bisiknya kemudian.
"Papa nggak bakal kenapa-napa kan, Mas?" bisik Ayana dengan suara bergetar.
Saga mengangguk. "Iya, Papa bakalan baik-baik aja. Aku janji, beliau bakalan bisa sehat lagi dan gedong anak kita nantinya."
"Aku takut, Mas."
"Enggak papa, Papa bakalan baik-baik saja. Kamu jangan berhenti doain beliau ya?"
Ayana mengangguk sambil mengeratkan pelukannya. Ia butuh banyak energi untuk menghadapi semua ini.
__ADS_1
***
Tama hanya mampu menghela napas berat kala melihat Ayana dengan wajah pucat dan perut buncitnya. Merasa tak tega, ia kemudian memutuskan untuk menghampiri sang adik, yang kali ini memilih menjaga jarak dengan dirinya dan sang Mama. Sebelum duduk, ia mengkode Malvin agar pria itu memberinya ruang dengan sang adik.
"Na, lo masih marah?" tanya Tama hati-hati, setelah pria itu duduk.
Hening. Tidak ada jawaban.
Tama kembali menghela napas. "Pulang, ya?" bujuknya kemudian.
Kedua mata Ayana kembali memerah, ditatap sang kakak dengan tatapan amarah. "Atas dasar apa lo, Bang, berani ngusir gue?"
"Gue nggak ngusir lo, Na, gue cuma peduli sama kesehatan lo dan calon bayi lo. Kasian dia, pulang, ya? Ini udah malem."
Air mata Ayana kali ini jatuh, pertahanannya runtuh. "Bang, coba kalau posisi kita dibalik. Gue yang tahu kondisi Papa sedangkan lo, enggak. Menurut lo kalau gue suruh lo buat pulang sekarang, lo bakalan mau?"
Kali ini giliran Tama yang diam. Ayana kembali tersedu-sedu.
"Bang, kita sama-sama anak Papa, tapi lo bisa-bisanya nggak kasih tahu gue padahal lo tahu. Kasih gue alesan kenapa lo begini?"
Helaan napas kembali terdengar dari mulut Tama. Entah sudah berapa kali pria itu menghela napas.
"Jawaban yang gue kasih kayaknya nggak bakalan cukup bikin lo ngerasa lebih baik, Na. Jadi gue nggak akan jawab. Tapi satu yang pasti, kalau lo mikir kita semua nggak sayang sama lo hanya karena kita memilih untuk nggak kasih tahu lo, berarti lo salah. Karena justru sebaliknya, kita semua sayang sama lo, Na. Gue, Papa, Mama, Saga. Kita semua sayang sama lo. Ya udah, kalau emang lo nggak mau pulang sekarang. Gue nggak bakal maksa, tapi lo istirahat ya? Biar dianter Malvin?"
Ayana menggeleng.
"Bang," tegur Malvin sambil menggeleng, "jangan dipaksa," bisiknya kemudian.
Tama menghela napas dan memilih bangkit berdiri. Malvin kemudian langsung duduk di sebelah Ayana.
"Na, haus nggak? Mau minum?" tawar Malvin.
Ayana menggeleng.
"Kaki lo gimana? Pegel nggak? Apa mau selonjoran?"
"Enggak, Vin, gue oke. Puas? Ntar kalau gue butuh apa-apa, ntar bilang kok."
"Bener ya?" tanya Malvin memastikan.
"Iya."
"Kita semua beneran khawatir, Na. Cukup Ayah yang sakit, lo sama adek bayinya jangan ikutan. Nanti Ayah sedih, mau lo?"
__ADS_1
Sambil menangis, Ayana menggeleng. "Enggak, gue nggak papa kok. Gue nggak akan bikin beliau sedih."
"Janji ya?"
"Iya. Eh, iya, dokter Yasmin gimana? Nggak papa tadi langsung kita tinggal ke sini?"
"Hah? Yasmin?" Malvin menggeleng, "enggak papa. Aman. Dia pasti ngerti kok. Gue pernah cerita kalau gue deket sama bokap lo."
"Papa gue nggak papa kan, Vin? Beliau akan baik-baik aja kan?"
Malvin mengangguk dan mengiyakan. Dengan gerakan sigap ia menarik pundak Ayana untuk dirangkul. "Iya lah, Ayah kan orangnya kuat, Na. Bang Saga juga dokter hebat, pasti semua bakalan berjalan lancar. Yang penting kondisi lo ini, lo lagi hamil, Na. Jangan disamain kayak waktu lo sebelum hamil." tangannya kemudian mengelus perut Ayana, "Istirahat, ya, Na? Kasian dedeknya," bujuknya kemudian.
"Tunggu Mas Saga kelar."
"Begitu kelar operasi langsung pulang?"
Ayana langsung mengangguk untuk mengiyakan.
"Good job," puji Malvin sambil mengacungkan jempolnya.
Lama menunggu akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Saga keluar tak lama setelahnya.
"Ga, gimana kondisi Papa-mu?"
"Alhamdulillah, operasi pemasangan ring-nya lancar, Ma. Tapi untuk sementara masuk ICU dulu untuk observasi lanjutan, nanti begitu semua sudah stabil baru kita pindah ke ruang rawat inap biasa."
"Syukur lah."
Saga kemudian bergegas menghampiri sang istri yang kini sedang ditemani Malvin.
"Thanks, ya, Vin, udah jagain Yana," ucap Saga tulus sambil mengelus pundak pria itu.
"Siap, Bang, selama gue nggak lagi jaga sih, nggak masalah." Malvin kemudian menoleh ke arah Ayana, "operasinya udah kelar, sekarang saatnya pulang."
"Aku kalau mau liat Papa bentar boleh nggak, Mas?"
Saga menghela napas. "Besok aja ya? Ini udah malem, nanti kamu tidurnya kemaleman."
"Aku pengen liat Papa dulu, Mas."
"Udah, Bang, turutin aja. Kan lo dokter penanggung jawabnya, daripada ntar makin ngambek, repot."
Saga menghela napas pasrah. "Ya udah, tapi janji abis itu pulang?"
__ADS_1
Ayana langsung mengangguk cepat.