Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 44


__ADS_3

***


Ailee menghela napas berat selepas kepergian Malvin. Gadis itu menatap sedih ke arah pintu, di mana ia sudah tidak dapat menatap pria itu kembali. Ia tidak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan, yang jelas ia merasa cemburu dengan sang kakak. Kenapa lagi-lagi harus sang kakak yang merebut sesuatu yang ia suka.


Sejak kecil, keduanya bisa dikatakan memiliki ketertarikan yang sama. Ailee sering kali merasa iri dengan pencapaian sang kakak yang bisa dengan mudah mendapatkan semua yang ia inginkan sedangkan dirinya tidak.


Sejak dulu Yasmin selalu menjadi pusat perhatian karena parasnya yang cantik. Dan ia tak jarang merasa iri dengan segala hal yang dimiliki sang kakak.


Saat dirinya ditawari untuk dijodohkan dengan salah satu anak teman Papa-nya, Ailee tidak terlalu tertarik tapi setelah mengetahui orang itu Malvin, mendadak ia bersemangat. Ia tiba-tiba berubah menjadi anak yang rajin. Tapi lagi-lagi ia harus menelan pil pahit karena pria itu tidak tertarik dengannya. Karena ia merasa egonya tersentil, maka ia berpura-pura menolak perjodohan itu. Ia bahkan sampai harus pura-pura mencari pria agar mau dijadikan pacar pura-puranya saat tahu kalau ternyata pria yang ia suka lebih menyukai kakaknya.


Ailee masih ingat betul patah hatinya kala itu. Ia tidak akan marah atau membenci kakaknya meski sudah merebut semangatnya secara tidak langsung. Tapi ia berubah menjadi sangat marah karena sang kakak justru bersikap seolah mempermainkan pria yang ia suka.


Sebelum Yasmin pergi ke luar negeri, mereka sempat bertengkar. Tapi Yasmin tetap kekeuh pada pendiriannya untuk pergi meninggalkan Malvin dan Indonesia. Kemudian ia memilih pura-pura abai, tapi secara tidak terduga, Malvin tiba-tiba menemuinya. Ia mencoba agar bisa dekat dengan pria itu dengan iming-iming kalau ia akan memberitahu keberadaan sang kakak, meski padahal ia tidak tahu menahu tentang sang kakak karena mereka sempat bertengkar.


Lagi-lagi Ailee merasa seperti jatuh cinta lagi dengan pria itu. Ia menyukainya tapi ia tidak ingin serakah dengan memilikinya. Sampai sang Papa memberitahu kalau dirinya ingin dijodohkan kembali dengan Malvin. Ia tidak tahu harus senang atau sedih, tapi yang jelas di pikirannya ia harus menemui pria itu.


Benar, keputusannya untuk menemui pria itu memang termasuk keputusan nekatnya. Tapi ia tidak peduli karena ia ingin melihat reaksi pria itu langsung sebelum memberi jawaban kepada sang Papa apakah dirinya bisa menerima perjodohan ini kembali atau tidak. Tapi naas, justru kemalangan malah menimpa mereka sehingga membuat kakinya terluka. Kalau boleh jujur ia ingin menyalahkan semua, siapapun yang bisa ia salahkan tapi, kemudian ia tersadar kalau ia melakukan itu pun tidak akan merubah keadaan.


Cklek!


"Lama banget sih, Ma?"


Oh, ternyata Ailee salah. Ia kira orang yang masuk ke dalam ruang inapnya sang Mama, tapi ternyata bukan. Dia adalah Yasmin, sang kakak.


"Mama mendadak harus pergi karena ada urusan jadi gue dateng buat jagain lo," ujar Yasmin sambil meletakkan tasnya di sofa yang tersedia di ruangan tersebut.


Ailee langsung melengos. "Enggak perlu, gue bisa sendiri. Lebih baik lo pulang," usirnya kemudian, "lagian di sini ada banyak perawat dan dokter ngapain Mama sampe nyuruh lo ke sini segala?"

__ADS_1


"Mama nggak nyuruh, tapi gue yang nyuruh. Biarin Mama istirahat juga lah, kasian kalau harus jagain lo terus-terusan."


Ia tidak membenci sang kakak, tapi ia membenci keputusan egois sang kakak yang membuatnya lebih menderita.


"Gue nggak butuh lo kasianin, Kak."


Yasmin mengangguk. "Gue tahu, gue ke sini bukan buat itu. Gue cuma mau bantu Mama buat jagain lo." ia menghela napas lalu mendekat ke arah ranjang, ia tidak menarik kursi untuk dia duduk. Tapi ia memilih berdiri di dekat ranjang, "dek," panggilnya tiba-tiba.


"Gue mau lo bahagia."


"Tai," balas Ailee dengan umpatan kasar.


Tanpa sadar Yasmin tertawa kecil. Ia sangat suka dengan sikap sang adik yang selalu terang-terangan. Tidak seperti dirinya yang selalu ingin tampil sempurna padahal ia sadar betul kalau dirinya serba kekurangan.


"Kalau lo mau liat gue bahagia nggak begini caranya, kak. Asal lo tahu gue malah makin tersiksa karena liat orang yang gue sayang terluka karena sikap sok pahlawan lo yang pengen ngebahagiain adik lo. Tai, gue nggak butuh itu. Gue bisa menemukan kebahagian gue dengan cara gue sendiri, seperti dulu, biar gue temuin kebahagiaan gue, kak. Lo nggak perlu ikut campur!"


"Gue nggak nyuruh lo nikah sama Malvin, Dek."


"Itu murni keinginan Papa."


"Papa maksa lo, Kak?"


Yasmin menggeleng cepat. "No, nggak mungkin Papa maksa gue. Lo tahu betul seberapa sayang Papa sama kita kan? Gue cuma mau berpikir realistis."


"Dengan cara ninggalin Kak Malvin?"


Di luar dugaan, Yasmin mengangguk cepat. "Iya, dengan cara ninggalin Malvin."

__ADS_1


"Kak!"


"Dengerin gue dulu! Iya, gue emang egois, perempuan egois kayak gue nggak layak dapet Malvin, Dek. Dia terlalu baik buat gue, dan menurut gue Malvin lebih cocok sama lo. Gue nggak bisa sama Malvin karena dia terkesan mendewakan gue."


Ailee menatap datar sang kakak. "Kak, serius?"


"Oke, lo boleh sebut gue terlalu kepedean, kegeeran, besar kepala atau apapun itu terserah. Tapi kalau sama gue Malvin itu selalu mengiyakan apapun yang gue inginkan, jadi gue ngerasa kayak hubungan gue kalau sama dia nggak akan berhasil, kayak berat sebelah, dek. Gue nggak mau, gue butuh orang yang beneran bisa nerima gue apa adanya, bisa kasih gue nasehat dan juga arahan. Dia masih terlalu muda dan kurang dewasa bagi gue, Dek."


Ailee semakin menatap sang kakak dengan ekspresi tidak percayanya. "Kak, gue rasa alasan lo semakin mengada-ada deh," komentarnya kemudian.


"Terserah, terserah lo mau bilang apa tapi yang jelas gue sekarang beneran nggak bisa sama dia. Selama di luar negeri gue banyak mikir, Dek."


"Tapi lo pulang ke Indo demi dia kan?"


"Demi lo juga," sambung Yasmin kemudian.


Ailee menggelengkan kepalanya. "Gue nggak ngerti."


Yasmin tersenyum. "It's okay, dek. Lo nggak perlu ngerti, karena yang lo perluin cukup sembuh dan bahagia."


"Tapi lo?"


"Gue juga akan bahagia dengan cara gue, tapi enggak dengan Malvin."


"Gue juga," sahutnya tidak mau kalah, "kalau gitu buruan lo temuin Kak Malvin, dia butuh kejelasan atas semua yang udah dia lalui selama ini. Dia bilang dia mau bahagia dengan pilihan barunya."


"Maksudnya dia udah punya cewek baru?" Yasmin terlihat terkejut.

__ADS_1


Sedangkan Ailee hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.


Tbc,


__ADS_2