Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 61


__ADS_3

****


Hari yang ditunggu itu akhirnya tiba. Hari pernikahan Malvin dan Ivana. Acara resepsi tentu saja digelar sangat mewah mengingat Malvin anak tunggal sedangkan Ivana anak bungsu.


Jelang ijab qobul, Malvin mendadak terserang diare karena gugup. Pria itu bolak-balik ke kamar mandi sampai pria itu terlihat begitu lemas, beruntung hari ini hanya acara ijab qobul saja, acara resepsi baru digelar besok dan lusa. Dua hari berturut-turut, satu acara resepsi dan yang hari berikutnya acara ngunduh mantu.


"Ini gimana ya, Bang, kalau semisal gue ntar tiba-tiba pingsan pas ijab qobul?" keluh Malvin sambil memandang langit-langit hotel dengan wajah pasrahnya.


Tama yang mendengar kalimat ngaco Malvin langsung menepuk pipi pria itu pelan.


"Sadar! Jangan aneh-aneh! Ntar pasti udah enakan kok as ijab qobul, lo tenang aja makanya, jangan gugup!" ucap Tama berusaha meyakinkan Malvin agar tidak gugup sama sekali. Tapi justru kalimatnya itu membuat Malvin semakin bertambah gugup.


"Aduh, Bang, gue mules lagi," keluh Malvin frustasi.


Secara tidak terduga, Malvin tiba-tiba merasa mulas kembali dan berlari terbirit-birit menuju kamar mandi, Tama yang melihat itu mulai khawatir. Ia kemudian menoleh ke arah sang adik ipar. "Menurut lo dia bakalan bisa nggak, Ga? Anjir, lah, kok gue khawatir ya jadinya. Ah, Malvin ini pake acara diare segala. Makan apaan sih dia?"


"Kayaknya sih gegara gugup, Tam. Dia nggak makan aneh-aneh yang bisa memicu diare kok, gue pastiin apa aja yang masuk ke dalam perutnya."


Tama kembali berdecak kesal. "Tapi endingnya itu anak diare juga tapi, Ga. Ini acara bentar lagi mau mulai kalau itu orang masih bolak-balik ke kamar mandi, gimana sama acara ijab qobulnya coba?" tanyanya semakin bertambah cemas.


"Bisa," ucap Saga optimis.


"Bisa apa? Bisa gila gue lama-lama di sini," ucap Tama semakin frustasi dan tidak tahu harus berbuah apa.


Saga menggeleng cepat. "Enggak, tenang aja, kayak yang lo bilang ke Malvin barusan," ucapnya masih tetap optimis.


"Gue nenangin dia biar itu orang nggak gugup, padahal aslinya gue mah lebih gugup, Ga. Ah, kalau bisa ijab qobul diwakilin, udah gue wakilin deh, sumpah, gereget banget buset gue liat kelakuan Malvin yang malah bolak-balik ke kamar mandi dari tadi."


Cklek!


Baik Tama dan Saga langsung menoleh ke arah pintu dengan kompak. Di sana mereka menemukan Ayana sendiri, masih memakai kaos biasa dan celana pendek. Tapi wajahnya sudah full make up.


"Kok cuma berdua? Calon penganten lakinya mana? Enggak kabur kan?" tanyanya heran, ia kemudian celingukan mencari keberadaan Malvin yang tidak keliatan batang hidungnya. Ia heran ke mana perginya sang pengantin.


"Kabur mah tinggal cari penggantinya, lah, ini?"


Ayana mengerutkan dahinya bingung. Ia kemudian menoleh ke arah sang suami. "Kenapa, Mas? Ada masalah?"


Saga mengangguk dan mengiyakan, namun, wajahnya terlihat kalem seperti biasa. "Malvin diare, bolak-balik ke kamar mandi."


Kedua mata Ayana spontan melotot kaget. "Hah? Diare? Diare beneran apa cuma mules doang?" tanyanya heran.


Saga dan Tama bertukar pandang sebentar lalu menggeleng. "Ya, kalau itu kita kurang bisa memastikan dengan mata kepala kami sendiri lah, Na. Yang jelas dia keliatan lemes gitu, udah kayak orang mau pingsan." kali ini yang menjawab Tama.


Merasa khawatir dengan sang sahabat, Ayana langsung mengetuk pintu kamar mandi.


Tok Tok Tok


"Vin, Malvin, are you okey?" tanya Ayana untuk memastikan keadaan sang sahabat baik-baik saja atau tidak.


"No!" teriak Malvin dengan nada suara yang terdengar cukup lantang. Mereka bahkan agak sedikit kaget karena nada bicara pria itu.


"Coba keluar dulu!" ucap Ayana menyarankan.


"Bentar, Na, perut gue mules banget tapi nggak ada yang mau keluar," keluhnya terdengar frustasi.


"Mau gue ambilin obat pencahar?" tawar Ayana kemudian.


Hening, tidak ada jawaban. Mungkin pria itu sedang berpikir sejenak.


"Vin, lo bisa denger gue? Waktu kita nggak banyak, Vin." Ayana terlihat kembali khawatir karena pria itu tidak menyahut sama sekali.


"Ya udah oke, gue mau."


Ayana kemudian menatap sang suami dan sang kakak diiringi gelengan kepala, baru setelahnya ia keluar kamar. Lalu tak lama kemudian, ia kembali masuk sambil membawa obat pencahar yang ia maksud.


Malvin menerima obat itu lalu meminumnya. Setelah tertelan, Ayana menyerahkan botol minyak angin.


"Buat jaga-jaga. Gue mau ke ruangan sebelah lagi, jangan ada yang bikin ulah. Terutama lo, Vin."

__ADS_1


Ketiga pria itu melongo tidak percaya. Memang mereka bisa berbuat ulah apa saja sampai perempuan itu berkata demikian.


"Adik lo tuh, Bang," ucap Malvin.


Tama tidak terima lalu menoleh ke arah Saga. "Istri lo tuh."


Sedangkan Saga hanya diam saja. Ya, memang kalian berekspektasi itu orang mau ngapain? Udah lah, nggak usah berekspektasi yang terlalu tinggi nanti takutnya jatuh.


****


Malvin akhirnya bisa bernapas lega karena ijab qobulnya hari ini berjalan dengan lancar dan kini statusnya sudah resmi menjadi suami Ivana. Sang istri kini sedang sibuk membersihkan sisa make up dengan serius.


"Va, nanti kita langsung bikin dedek apa enggak dulu?" tanya Malvin dengan santai.


Ivana nyaris tersedak air ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan konyol sang suami. Ia menutupi wajahnya malu lalu geleng-geleng kepala.


"Harus banget ya kamu nanya begitu, Vin?" tanyanya tidak habis pikir, ia merasa agak lucu juga sejujurnya.


Dengan wajah polosnya, Malvin mengangguk. "Harus, soalnya gue nggak mau ntar kita salah paham atau nggak nyaman atau gimana karena kita nggak saling jujur. Jadi gimana? Langsung gas enggak?"


"Emang mau nunggu apa?" kali ini Ivana yang balik bertanya.


Malvin mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu. "Ya kalau aku sih nunggu sesiapnya kamu, kalau malam ini siap, ya gas aja nggak sih?" tawarnya menyarankan.


Ivana tersenyum tipis. "Ya udah, kalau gitu berarti jawabannya jelas kan?"


"Mau?" tanya Malvin dengan wajah konyolnya.


Ivana tertawa geli lalu geleng-geleng kepala. "Ya, kamu pikir aku nikah buat apa sih kalau bukan buat itu?" tanyanya kemudian.


"Buat kamu nggak dibilang perawan tu--aduh!"


Malvin langsung mengaduh kesakitan karena Ivana tiba-tiba melemparinya wadah tisu. Ia kemudian tertawa.


"Heh, sama suami itu nggak boleh begitu."


Ivana berdecak lalu menyuruh sang suami untuk segera mandi, biar bisa gantian. Tapi dengan wajah sok polosnya, Malvin malah menyarankan untuk mandi bersama.


Mendadak Malvin mengerutkan dahi heran, kenapa perubahan emosi sang istri terlihat seperti orang yang sedang PMS? atau mungkin itu memang sebenarnya sifat aslinya?


Tahu lah, ia tidak ingin ambil pusing dan langsung memutuskan untuk masuk kamar mandi dan mandi.


"Aku udah, nih, sekarang giliran kamu," ucap Malvin dengan wajah antusiasnya.


Seperti laki-laki pada umumnya, ia tidak sabar menunggu momen itu.


Ivana mengangguk paham lalu berdiri dan bergegas menuju kamar mandi. Tapi saat perempuan itu bahkan belum sampai memegang handle pintu, Malvin menemukan pemandangan yang membuatnya terkejut.


Sang istri betulan sedang menstruasi? Batinnya shock.


"Va?" panggilnya membuat sang istri menoleh.


Sebelah alisnya terangkat. "Kenapa? Kamu jangan macem-macem ya, jangan ngerjain aku, aku capek banget, gerah, nggak nyaman pengen mandi."


Malvin menggeleng cepat. "Kamu mens? Kamu tembus itu, Va?"


Ivana terlihat shock. Ia kemudian mencoba mengecek roknya dan memang terdapat bercak darah di sana. Ia meringis tak lama setelahnya.


"Astaga, ya ampun, pantesan aja rasanya dari tadi perut aku sakit dan nggak nyaman tahunya."


Malvin langsung menatap nanar ke arah sang istri. "Terus gimana kita dong? Berarti nggak jadi?"


Wajah Ivana terlihat merasa bersalah. "Ups, sorry, Vin, ternyata kita perlu nunggu satu minggu."


Hal ini membuat kedua bahu Malvin seketika langsung melemas. Apa dirinya sesial ini?


****


Tama terlihat heran saat melihat Malvin keluar dari kamar. Ia kemudian langsung menghampiri pria itu dan menggodanya.

__ADS_1


"Woi, penganten baru, mau ke mana nih? Pengantin baru bukannya unboxing kok malah kelayapan," ledeknya kemudian.


Malvin yang sedang tidak dalam mood bagus langsung menatap pria itu galak. "Diem deh lo, Bang, sebelum gue hajar beneran muka lo," ancamnya tidak main-main.


"Widih, galak banget kenapa deh lo?" Tama pura-pura memasang wajah takutnya, "iiih, serem."


Dengan sikap sok asiknya, menurut Malvin, Tama langsung merangkul pundak pria itu. "Kenapa? Dia nggak mau lo sentuh? Apa jangan-jangan kena tipu lo?" guraunya sedikit keterlaluan.


"Mulut lo, Bang, sembarangan banget. Tulen beneran dia, anjir, sembarangan aja," balas Malvin tidak terima.


"Lha terus kenapa muka lo bete gitu, udah sah juga, kan lo tadi juga nggak mules-mules lagi, acara lancar, tinggal besok acara resepsi. Aman lah kalau resepsi, paling gigi lo aja yang bakalan kering karena harus senyumin ribuan tamu. Mampus, bokap-nyokap lo ngundang tamu kebanyakan mentang-mentang lo anak tunggal."


"Ya wajar lah, Bang. Ntar Yana juga bakalan kayak nyokap-bokap gue."


"Kenapa emang? Adek gue nggak bisa hamil lagi?" tanya Tama shock.


Malvin langsung menggeleng. "Enggak dibolehin lakinya soalnya."


"Anjir," reaksi Tama spontan, "bodo amat lah, urusan mereka itu, nggak mau ikut campur gue. Itu lo gimana kenapa nggak bete begitu?"


"Bini gue mens soalnya."


Tama manggut-manggut prihatin lalu menepuk pundak pria itu, seolah sedang menguatkan.


"Tahan seminggu nggak lama kok, yuk, bisa, yuk! Semangat!" ucap Tama mencoba menyemangati.


Malvin tertawa lalu ikut berteriak, "Semangat!"


"Ya udah, balik ke kamar sono, lu! Meski gagal unboxing ya bukan berarti lo bisa pergi kelayapan sesuka hati lo. Buruan sana masuk!"


Malvin mengangguk paham lalu pamit dan kembali masuk ke dalam kamar. Ternyata saat ia masuk sang istri belum tidur dan baru selesai mandi. Wajah cantiknya nampak segar, ia merasa terpesona kala melihatnya. Perasaan tadi waktu memakai make up justru tidak begini? Batinnya merasa keheranan.


"Kenapa?" tanya Ivana heran.


Malvin menggeleng. "Lo cantik," pujinya tulus dan serius. Tapi sang istri justru melempar handuk basahnya.


"Gue beneran super sensitif kalau lagi mens, Vin, gue bisa gampang nangis tapi juga gampang ngamuk."


Malvin mendengus, pura-pura memasang wajah kesalnya. "Kenapa baru bilang setelah ijab qobul."


"Emang kalau ngomong sebelum ijab qobul kenapa?"


Malvin terkekeh dengan nada bercanda. "Ya kan kalau sebelumnya berarti masih bisa dibatalin." ia kemudian menggeleng dan memiringkan kepalanya, "tapi serius sih, Va, lo beneran cantik ternyata, ya."


"Maksud lo, lo barus sadar?" Ivana menatap Malvin tidak terima.


Dengan wajah polosnya Malvin mengangguk. "Iya," ucapnya tanpa sadar. Ia langsung terbahak tak lama setelahnya saat menyadarinya, "maksud gue, iya, gue sadar kemarin-kemarin lo cantik, tapi ternyata kalau natural tanpa make up gini lebih cantik," sambungnya kemudian.


Ivana mendengus guna menutupi perasaan gugupnya. "Enggak usah sok muji, Vin, lo nggak akan dapet hadiahnya malam ini, tapi masih seminggu lagi, jadi tahan itu pujian lo sampai minggu depan."


Malvin menggeleng tidak masalah karena memang ia tulus melakukannya. Ia berkata jujur dan sesuai fakta.


"Makasih ya, Va," ucap Malvin tulus, "makasih udah mau dan bersedia buat nikah dan jadi istri gue. Gue mungkin nggak akan ngerasain perasaan gugup saat ijab qobul kalau aja lo nggak mau nikah sama gue. Jadi, makasih banget. Meski hubungan kita nggak kayak pasangan suami-istri pada umumnya, ayo, kita tetap berjuang yang terbaik. Untuk masa depan yang lebih baik."


Mendengar kalimat sang suami, kedua mata Ivana mendadak terasa perih. "Malvin, iiih, dibilang gue kalau lagi mens itu sensitif, jadi gampang ngamuk sama nangis, tapi lo malah ngomong gitu. Kan gue jadinya pengen nangis."


Padahal sekarang kedua pipi perempuan itu sudah basah oleh air matanya, tapi masih bisa-bisanya dia bilang 'jadi pengen nangis'. Sambil terkekeh geli karena merasa bersalah, Malvin langsung memeluk sang istri.


"Iya, iya, aku minta maaf, lain kali nggak gitu lagi," ucap Malvin sambil membantu sang istri mengelap sisa air matanya, " udah dong nangisnya," sambungnya kemudian. Karena beberapa kali ia mencoba mengusap pipi sang istri, pipinya masih saja terus basah.


"Bentar, aku juga mau ngomong."


Malvin manggut-manggut seraya mengelus punggung sang istri. "Tenangin diri dulu," ucapnya menyarankan.


"Aku juga mau bilang makasih karena udah mau nikah sama aku, meski aku begini adanya, tapi kamu masih tetep nikahi aku. Makasih ya, maaf juga kalau aku sebenernya cengeng. Udah nggak bisa masak, nggak bisa nyetir, eh, masih aja cengeng. Apes banget ya kayaknya kamu."


"It's okay, yang penting masih bisa bikin dedek kan?" godanya membuat Malvin langsung mendapat pukulan manja dari sang istri.


"Ayo, hidup bahagia abis ini!"

__ADS_1


"Mari berbahagia sekarang dan seterusnya!"


End.


__ADS_2