
Akhirnya secara terpaksa Malvin ikut turun Ailee, masalahnya ia tidak mungkin menunggu gadis itu di dalam mobil untuk waktu yang bahkan belum bisa ditentukan. Bisa mati gaya ia nanti, meski ikut masuk sama beresiko-nya. Ya sudah lah, toh, ia sudah sampai di sana. Bersikap be gentle lah ceritanya.
Mendadak Malvin ingin menertawakan diri sendiri. Bersikap be gentle? Lah, memang dia siapa? Kan cuma mantan calon kakak ipar Ailee. Sambil geleng-geleng kepala, ia kemudian memutuskan untuk turun.
Malvin meringis kala menatap bangunan megah yang ada di hadapannya. Jujur ia tidak ada rencana berurusan dengan cara seperti ini, tapi ya sudah lah. Toh, semua sudah terlanjur.
Kalau boleh jujur, ini memang bukan kali pertama ia datang kemari. Tapi yang membuatnya sedih, Malvin datang kemari bukan bersama Yasmin melainkan Ailee. Sebenarnya ini pertanda apa?
"Kenapa sih, bro? Ada masalah?" Ailee berpikir sejenak, "perasaan lo dulu pernah ke sini juga nggak sih?" gumamnya sambil mencoba untuk mengingat-ingat.
Malvin mendengus sambil menutup pintu mobilnya sedikit kasar. "Nah, itu dia masalahnya. Kenapa gue harus ke sini buat berurusan sama lo bukan kakak lo aja," dengusnya kemudian.
Hal ini langsung mengundang tawa dari gadis itu. Umpatan samar terdengar tak lama setelahnya.
__ADS_1
"Sialan, gue tersinggung anjir, bro. Lo jangan begitu lah. Nanti gue ngerasa sirik, iri, dan juga dengki sama kakak gue."
"Bodo amat," sahut Malvin tidak peduli.
Ailee langsung mengumpat. "Wedus!"
"Apa lo bilang?"
Mama Ailee tidak bisa menahan kerutan di dahinya saat melihat putri bungsunya pulang bersama laki-laki. Dan yang membuatnya bertambah heran, pria yang diajak sang putri adalah pria yang katanya dulu pernah menolak putri bungsunya. Jelas saja ia merasa heran.
Tanpa merasa sungkan, ia langsung menarik lengan Ailee dan mengajaknya untuk berbicara agak jauh dari Malvin. Pria itu heran, justru ia merasa maklum.
"Kamu apa-apaan kok bisa sama dia? Bukannya kalian bilang nggak mau dijodohin? Kamu sendiri kan yang bilang kalau anaknya Om Damar yang nggak mau sama kamu. Terus kenapa sekarang bisa-bisanya kalian dateng bareng? Mana masih pagi banget lagi, kalian nggak abis ngapa-ngapain kan semalem?"
__ADS_1
"Astagfirullah, Mama, iih, su'udzon aja hobinya. Ini nggak kecium apa bau badan aku aja masih bau antiseptik banget, baru pulang dari rumah sakit loh."
"Terus kenapa bisa sama anaknya Om Damar?"
"Panjang lah ceritanya, nanti kapan-kapan aku cerita. Ini sekarang aku mau mandi terus siap-siap dulu." Ailee kemudian meninggalkan sang Mama, lalu beralih pada Malvin, "bro, duduk aja dulu, gue tinggal mandi bentar."
Mama Ailee tidak bisa menahan wajah terkejutnya saat mendengar sang putri memanggil orang yang bahkan beberapa tahun lebih tua dengan sebutan bro. Malu, tentu saja ia rasakan. Ia meringis canggung lalu menyuruh Malvin duduk sementara dirinya langsung bergegas menuju dapur untuk menyuruh ART-nya membuatkan minuman. Sedang Malvin hanya mampu menampilkan wajah tersenyumnya, seolah memberitahu kalau ia sama sekali tidak masalah dengan panggilan tersebut. Meski dalam hati sejujurnya ia bermasalah sih.
Dalam hati Malvin meruntuki kebodohannya sendiri karena telah memilih untuk masuk ke dalam, padahal setelah melewati momen canggung barusan, lebih memilih mati kutu di dalam mobil jika dibandingkan mengalami momen canggung seperti yang baru saja dialaminya barusan. Tidak cukup sampai di situ Malvin semakin menyesali keputusannya tersebut saat ia menyadari keberadaan Papa Ailee.
Mampus lah dia, apa yang harus ia lakukan sekarang? Tidak lucu kan kalau ia memutuskan untuk kabur sekarang. Tapi demi Tuhan ia tidak sanggup jika harus menghadapi Papa Ailee.
Tbc,
__ADS_1