
***
Olivia tidak yakin dengan keputusannya ini benar atau tidak. Sisi dalam dirinya seperti tidak begitu yakin dengan ide ini, tapi sisi dalam dirinya yang lain menyuruhnya melakukan ini. Bingung sekaligus bimbang. Tapi meski demikian ia sudah siap dan rapi untuk diajak pergi. Hanya batinnya saja yang belum siap atau pun yakin.
Olivia berdiri di depan cermin seraya memandang bayangannya yang ada di sini. Batinnya kembali bertanya-tanya terhadap dirinya sendiri, apakah keputusannya kali ini benar-benar tepat. Perasaan khawatir dan cemas mulai hinggap dalam dirinya. Haruskah ia menyerah?
Cepat-cepat ia menggeleng cepat lalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri, kalau keputusan yang sudah ia ambil memang sudah tepat. Ia tidak boleh goyah. Setelah merasa jauh lebih yakin, ia bergegas keluar dari unit, di mana Malvin sudah siap dengan stelan kemeja biru laut panjangnya yang bagian lengannya di lipat hingga siku. Sebuah penampilkan yang membuatnya lemah. Benar-benar mengggoda imannya yang seujung kuku. Sepertinya sekarang ia sudah tidak perlu merasa ragu lagi.
“Sudah siap?” tanya Malvin sambil menatap perempuan itu.
Olivia mengangguk yakin. Tekadnya sudah bulat, toh, ia tak akan goyah lagi. Kita lupakan soal kasta yang mereka punya untuk sesaat. Masalah ini bisa ia pikirkan nanti, yang penting ia hanya perlu menyobanya. Toh, keduanya tidak mempunyai peraaaan spesial, jadi ia tidak perlu khawatir kalau seandainya dirinya tidak bisa diterima keluarga Malvin dengan baik.
“Nanti di sana aku harus ngapain aja, Mas?” tanya Olivia mulai kembali cemas.
Ia tidak mau nantinya bingung di tempat karena tidak dikasih arahan dulu.
Kini keduanya sudah masuk ke dalam lift menuju lantai dasar. Malvin menoleh sebentar lalu menggeleng. “Enggak harus ngapa-ngapain kok, cukup makan malam ngobrol, udah pulang. Selesai.”
Malvin kemudian teringat sesuatu. “Oh ya, lo nggak perlu bantu-bantu apapun nantinya, cukup makan nemenin gue, udah itu doang.”
Olivia berpikir sebentar. Kedua matanya kemudian menyipit curiga. “Kedua orang tua Mas Malvin punya klinik sendiri nggak?” tanyanya random.
Awalnya Malvin mengerutkan dahinya heran, namun, tak lama setelahnya pria itu menggeleng cepat sebagai tanda jawaban. “Enggak kok. Enggak punya.”
Olivia mengangguk paham. Itu artinya ia tidak perlu terlalu khawatir, pikirnya merasa aman.
“Lo butuh jawaban tambahan nggak sih?” tanya Malvin kemudian. Mendadak ia merasa khawatir kalau nantinya Olivia terkejut karena kedua orang tuanya yang memiliki rumah sakit sendiri.
Olivia mendadak merasa janggal dengan pertanyaan pria itu. “Maksudnya?”
__ADS_1
Malvin menggeleng tak lama setelahnya. “Enggak papa, enggak penting.”
Sepertinya pikirnya terlalu berlebihan. Batinnya berasumsi. Malvin kemudian memilih untuk mengajak perempuan itu keluar dari lift. Olivia hanya mengangguk paham dan tidak protes sama sekali. Jadi Malvin pikir tidak akan ada masalah.
***
“Mas,” panggil Olivia saat mobil milik Malvin memasuki komplek perumahan mewah. Malvin menoleh sambil mengerutkan dahinya heran.
“Kenapa?”
Perasaan Olivia mulai tidak enak. Ini hanya perasaannya saja atau memang firasat sih? Batinnya keheranan.
Malvin mulai khawatir. “Kenapa sih? Kamu nggak enak badan?” tanyanya, “mau puter balik?” sambungnya kemudian.
Olivia menggeleng tidak yakin. Kewarasannya terasa seperti mulai menipis. Ia tidak gila kan karena mengambil keputusan untuk menerima tawaran pria itu. Ia tidak akan menyesali keputusannya kelak? Entah kenapa ia mendadak menjadi sekhawatir itu. Logikanya menyuruhnya untuk berhenti. Lantas haruskah ia benar-benar berhenti mumpung keduanya belum terlalu jauh?
“Liv, lo jangan bikin gue khawatir deh.”
“Lo kenapa? Apa yang lo rasain? Kira-kira kita perlu ke rumah sakit apa enggak? Serius lo bikin gue khawatir deh, Liv.”
Perempuan itu kemudian menggeleng. “ Enggak perlu, Mas, aku cuma gugup aja.”
Malvin memandang perempuan itu kurang yakin. “Lo yakin? Soalnya muka lo beneran keliatan pucet, Liv, gue jadi khawatir. Apa gue terlalu maksain diri? Kan lo akhir-akhir ini lumayan sering lembur. Beneran nggak papa?"
Kali ini Olivia mengangguk cepat seraya memasang senyum terbaiknya. “Enggak ada yang perlu dikhawatirkan, semua aman kok, Mas. Serius.”
“Bener?” tanya Malvin mencoba menanyakannya sekali lagi, karena ia belum terlalu puas dengan jawaban perempuan itu. Ia tidak enak kalau harus memaksakan kondisi gadis itu. Apalagi mengingat akhir-akhir ini Olivia lumayan sering lembur, jadi wajar kalau seandainya ia merasa khawatir dengan perempuan itu.
“Iyaaa.”
__ADS_1
Malvin kemudian mengangguk paham. Mungkin kekhawatirannya sedikit berlebihan. Ia kemudian kembali menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumahnya yang sudah semakin dekat. Wajah Olivia terlihat kembali memucat saat melihat bangunan mewah dan super megah yang ada di hadapannya sekarang. Spontan, ia menoleh ke arah pria itu bermaksud meminta penjelasan.
“Kenapa?”
Olivia menggeleng. “Enggak, kenapa kamu berhenti di sini, Mas?” tanyanya heran. Perasaannya mulai kembali was-was.
Malvin mengerutkan dahinya heran. “Kenapa? Emang kamu pernah ke sini?” ia kemudian balik bertanya, yang langsung dibalas dengan gelangan kepala oleh perempuan itu.
"Ya udah ayo, masuk," ajaknya tanpa beban.
"Ini seriusan rumah kamu?" tanya Olivia terlihat seolah tidak percaya. Batinnya bertanya-tanya, sekaya apa keluarga pria ini?
Malvin kemudian menggeleng cepat sebagai tanda jawaban. "Aku belum ada rumah, tapi ini rumah kedua rumah aku."
Seketika Olivia merasa merinding saat pria itu menggunakan kata aku. Kenapa efeknya sedahsyat ini? Jantungnya langsung berdebar kencang.
"Aku?" beo Olivia mencoba memastikan kalau ia tidak salah dengar. Sepertinya tidak mungkin kan kalau ia salah dengar, soalnya pria itu menggunakan kata aku sebanyak dua kali.
"Simulasi, Liv, biar ntar nggak kaku kalau udah di hadapan kedua orang tua gue. Eh, aku maksudnya. Kan, lidah gue masih aja keliru terus, duh, sampe takut ketahuan aku. Eh, gue, eh, ya bener aku maksudnya."
Olivia meringis. Ia tidak mengerti. Sebenarnya apa yang sedang coba mereka lakukan? Bersandiwara atau serius sih? Olivia tidak mengerti bahkan saat keduanya sudah sampai di depan kedua orangtua pria itu. Bukankah kalau begini, ia terlalu nekat?
"Mas, sebelum kita masuk, boleh aku nanya sesuatu?"
"Nanya aja, kenapa pake prolog segala sih, Liv? Bikin deg-degan aja. Sok, atuh, nanya."
"Sebenernya nanti kita cuma pura-pura atau mau serius sih?"
"Hah?" seketika Malvin langsung melongo kaget. Wajah pria itu terlihat menegang, entah kenapa itu membuat Olivia merasakan kekecewaan.
__ADS_1
Entah lah, ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan. Kenapa ia harus kecewa?
Tbc,