
Saga menghela napas berat saat melihat sang istri tidak menghabiskan sarapannya, bahkan susu hamilnya pun juga masih tersisa sedikit.
"Kenapa nggak diabisin?" tanyanya kemudian.
"Udah kenyang."
"Kenyang gimana? Kamu hamil, Na, yang butuh nutrisi dan makan nggak cuma kamu tapi anak kita juga. Papa baik-baik aja, yang ada kamu nanti yang kenapa-napa kalau begini. Siang ini kalau kondisi beliau udah bener-bener stabil, aku bakalan pindahin ke rawat inap biasa. Aku suapin, ya, tapi makan lagi," bujuk Saga, "kamu makannya terlalu sedikit, Yan. Nanti kamu sakit, mau kamu?"
"Aku bilang aku udah kenyang, Mas, bisa nggak, nggak usah paksa aku?"
Saga menghela napas pasrah. "Ya udah, oke, aku nggak bakalan maksa, tapi nanti jangan lupa bentar-bentar makan atau ngemil." Ia langsung berdiri, "aku suruh Darti siapin cemilan buat kamu, ya?"
Ayana tidak membalas, perempuan itu hanya berdiri lalu meninggalkan ruang makan begitu saja. Saga hanya mampu menghela napas dan secara terpaksa membiarkan kepergian sang istri begitu saja. Ia pikir semalam mereka sudah berbaikan, tapi sepertinya ia salah. Ayana masih terlihat kesal padanya.
Saga bingung harus bagaimana agar sang istri tidak bersikap begini lagi.
Selama perjalanan ke rumah sakit pun keduanya lebih banyak diam. Padahal biasanya Ayana tipe yang tidak suka dengan suasana sepi, perempuan itu akan banyak mengoceh tentang apapun. Melihat sang istri banyak diam begini benar-benar siksaan untuk Saga. Ia tidak tega melihatnya.
Begitu sampai di rumah sakit dan hendak keluar dari mobil, Ayana masih tetap pada aksi diamnya. Hal ini membuat Saga merasa pusing tujuh keliling. Ia hanya mampu menghela napas pasrah saat perempuan itu memilih langsung masuk IGD begitu saja. Sebagai suami tentu saja Saga merasa khawatir dan juga cemas.
"Buset, lecek banget muka lo, kayak belum disetrika. Kenapa istri lo semalem ngidam yang aneh-aneh?" sambut Hito saat mereka tidak sengaja bertemu di lift. Diiringi kekehan setelahnya.
Saga hanya mampu merespon dengan helaan napas beratnya.
"Buset, Ga, helaan napas lo berat banget. Kayaknya bukan sekedar nurutin istri ngidam malem-malem nih. Kenapa? Ada masalah?" tanya Hito kepo sekaligus mulai merasa khawatir.
Sekali lagi Saga menghela napas. "Mertua gue semalem kolaps."
"Hah? Kok bisa? Terus kondisi beliau gimana sekarang? Kok lo semalem nggak nelfon gue? Lo tangani sendiri gitu?"
Hito memberondong Saga dengan berbagai pertanyaan dan hanya dijawab dengan anggukan kepala dari pria itu.
"Astaga, Tuhan, Ga, harusnya lo nelfon gue lah. Biar gue yang tangani, istri lo pasti shock banget tuh? Dan lo nggak ada di sisinya?"
"Gue panik semalem. Enggak sempet mikir."
Kali ini Hito mengangguk paham. Benar juga sih, ia kalau sedang panik juga susah mikir. Dilirik Saga ragu-ragu.
"Terus kenapa muka lo sampe sekusut ini? Emang kondisinya nggak bagus?" tanya Hito khawatir, "ada komplikasi?"
__ADS_1
Saga menggeleng. "Bagus, enggak ada kendala maupun komplikasi."
"Terus kenapa lo begini?"
"Istri gue."
"Kenapa? Dia ikut drop karena kaget Papa-nya tiba-tiba kolaps?"
"Enggak, dan semoga nggak juga. Tapi dia marah."
Ekspresi Hito terlihat bingung. "Hah? Marah? Marah yang gimana?"
"Cuma dia yang nggak tahu kondisi beliau sejak awal."
Hito langsung berdecak. "Lah, kenapa juga lo nggak kasih tahu?"
Saga menghela napas. "Yana lagi hamil waktu gue tahu kondisi mertua, istri gue itu orangnya gampang overthinking, gue khawatir kalau kasih tau dia. Apalagi selama kehamilan tekanan darah Yana tinggi terus, ya, gue nggak mungkin kasih tahu lah."
"Terus sekarang istri lo gimana? Di rumah apa ikut jagain mertua lo?"
"IGD."
Kedua bola mata Hito melotot kaget. "Heh, kenapa di IGD?"
"Ah, istri lo jaga IGD." Hito manggut-manggut paham. Namun, beberapa detik kemudian ia baru menyadari sesuatu, "eh, tapi kenapa lo kasih izin? Biasanya kan lo overprotektif banget kalau udah menyangkut wanita lo, apalagi sekarang istri lo lagi hamil."
"Ya, mau gimana lagi. Terpaksa," ucap Saga pasrah. Ia khawatir kalau semakin mendebat Ayana, sang istri akan semakin marah dengannya. Demi keamanan bersama, ia memilih untuk mengalah.
"Ya udah, percaya aja sama istri sendiri sama berdoa semoga semua nggak papa." Hito menepuk pundak Saga untuk menenangkan pria itu.
Saga diam sebentar lalu menoleh ke arah Hito. "Perasaan gue nggak enak."
"Nggak usah mikir macem-macem!" tegur Hito, "itu cuma perasaan lo aja. Semua baik-baik aja."
Saga mengangguk ragu diiringi helaan napas berat. "Semoga saja," gumamnya kemudian.
***
"Gimana kondisi Papa, Ga?"
__ADS_1
Saga mengangguk seraya melepas maskernya. "Abis ini bisa pindahin ke ruang rawat inap biasa."
"Syukur lah. Terus Yana gimana? Gue belum liat dia dari tadi?" Tama celingukan mencari keberadaan sang adik, "dia nggak papa kan?"
Saga menghela napas. "Semoga."
"Maksudnya?" Tama tidak paham.
"Dia di IGD. Tugas."
Tama terlihat tidak percaya. "Serius lo? Kenapa nggak izin? Tumben? Jangan bilang dia masih marah?"
Helaan napas kembali terdengar dari mulut Saga. "Enggak tahu, dia diem aja dari pagi tadi. Sarapannya nggak abis, susu hamilnya nggak abis. Gue khawatir banget aslinya, tapi mau larang juga nggak berani karena takutnya dia malah tambah marah."
"Bener sih, kalau lo paksa libur yang ada dia malah makin marah. Bujuk Yana tuh gampang-gampang susah." Tama berdecak sambil manggut-manggut setuju, "eh, lo udah coba minta tolong Malvin? Tuh anak kan suka gampang nurut kalau sama dia, nggak coba minta tolong ke dia."
"Tadi gue udah ke departemen obgyn, tapi Malvinnya sibuk banget, gue nggak enak, Tam."
"Masalahnya itu anak juga ikutan ngambek sama gue, kalau gue yang bujuk yang ada lebih ngamuk pasti."
Saga mencoba untuk tetap tersenyum meski terlihat seperti orang tidak ikhlas. Ia kemudian menepuk pundak Tama. "Enggak papa, ntar biar gue yang urus. Lo urusin Papa aja, ya. Gue soalnya masih ada pasien."
"Iya, tenang aja lo, thanks, ya sekali lagi."
Saga mengangguk lalu pamit undur diri, karena harus melanjutkan pekerjaannya. Meski pikirannya sedang kacau, ia tetap harus profesional tentu saja.
Selesai mem-follow up pasien. Niat Saga awalnya ingin mampir ke ruang rawat sang mertua, namun, baru beberapa kakinya melangkah, ponselnya tiba-tiba bergetar. Ia memutuskan untuk langsung menggeser tombol hijau, sebelum menempelkan ponselnya pada telinga kanannya.
"Ya, halo?"
"Halo, dokter Saga?"
"Iya, ini saya, Ri, ada apa?"
"Dokter Saga bisa ke IGD sekarang?"
Saga melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. "Bisa kamu jelaskan kondisi pasien?"
"Bukan, dok, tapi dokter Yana...."
__ADS_1
Deg!
Langkah kaki Saga tiba-tiba memberat. Dunianya seolah berhenti, ia tidak bisa berpikir jernih. Bahkan ia tidak dapat memastikan dengan pasti apa saja yang dibicarakan Eri, dokter jaga IGD yang baru saja menelfonnya.