Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Kekecewaan Tama


__ADS_3

Tama menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam mobil saat melihat mobil Saga nampak masuk ke halaman rumah orang tuanya. Batinnya bertanya-tanya. Bukankah tadi Mamanya bilang kalau Ayana pergi dengan Saga, tapi kenapa pria itu sendirian? Tanpa ragu, Tama kemudian memutuskan untuk menghampiri pria itu.


"Ga! Saga!" panggil Tama, menghentikan niat Saga yang hendak masuk ke dalam rumah.


Spontan Saga menghentikan langkah kakinya dan menoleh. Tama kemudian langsung mempercepat langkah kakinya, ia bahkan sedikit berlari kecil untuk menghampiri Saga.


"Kok sendirian? Yana mana?"


"Kenapa tanya gue?" Saga balik bertanya dengan nada herannya. Ekspresinya terlihat tidak begitu bersahabat.


Hal ini membuat kening Tama berkerut heran. Kenapa ini orang? Batinnya heran.


"Dia nggak pergi sama lo? "


Saga menggeleng.


"Terus pergi sama siapa? Tadi nyokap gue bilang perginya sama lo."


Saga mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.


"Lo kenapa sih? Sariawan?"


Lagi-lagi Saga hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Tak ingin menyerah, Tama kembali bertanya, "Lo abis dari mana?"


"Bimbingan."


"Bimbingan?" beo Tama dengan ekspresi tidak percayanya. Pria itu mendengus dan ingin memprotes, tapi kemudian teringat kalau Saga adalah seorang dosen juga, "sejak kapan lo jadi dosen pembimbing juga?"


"Belum lama," balas Saga singkat.


"Lo lagi marahan sama Yana?" tanya Tama ragu-ragu, "adek gue bikin ulah apa lagi kali ini?"


Saga kembali membalas dengan gelengan kepala. "Itu mungkin," ucapnya tak lama setelahnya. Saat kedua netranya tak sengaja menangkap mobil yang kini tengah berhenti di depan rumah orang tua Tama.


Tama langsung menoleh. "Siapa?"


"Adik lo."


Tama kembali menoleh ke arah Saga. Nada suara pria itu terdengar sedikit berbeda saat menyebut kata 'adik lo'. Apa ini hanya perasaannya saja? Tak ingin terlalu ambil pusing, Tama kembali memfokuskan pandangannya pada mobil yang berhenti di depan rumah Mama-nya. Ternyata benar sesuai tebakan Saga. Itu Ayana, adik semata wayangnya. Dan sedang bersama siapa dia?


"Anjir, siapa cowok itu, Ga?" Nada bicara Tama terdengar terkejut bercampur marah.


"Pacarnya mungkin."


"Kok lo selow? Enggak cemburu?"


Saga menggeleng. "Bukan hak gue."


"Kok bisa?" Tama terlihat tidak paham. Ia menggeleng cepat dan kembali fokus memperhatikan sang adik dan entah siapa pria itu. Keduanya terlihat mesra, bahkan sesekali tangan pria itu merapikan anak rambut sang adik, yang sebenarnya kalau ia perhatikan rapi-rapi saja. Emang dasar modus sepertinya pria itu. Emosinya semakin meradang saat melihat pria itu mencium kedua pipi sang adik secara bergantian, "brengsek, Ga, dia siapa kok berani-beraninya nyium adek gue?"


"Dia adek lo, kenapa tanya gue?" balas Saga terlihat tenang. Ia kemudian menepuk pundak Tama seraya berkata, "gue masuk duluan."


"Tapi... tapi... lo kan--"


"Capek. Duluan, lain kali aja kalau mau mampir," potong Saga lalu masuk ke dalam. Ada perasaan kecewa yang tengah ia rasakan dan ia tidak ingin menunjukkannya pada Tama.


Tama sendiri kemudian langsung memutuskan untuk pulang saat mobil itu pergi. Ia bahkan sampai berlari demi bisa segera meminta penjelasan dari sang adik.


"Na! Yana!"


Ayana langsung menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Gadis itu langsung melambaikan sebelah tangannya, menyapa Tama.


"Siapa cowok tadi?"

__ADS_1


Bukannya menjawab, Ayana malah balik bertanya. "Abis main dari rumahnya Mas Saga, Bang?"


"Gue tanya siapa cowok tadi, Na. Kenapa malah balik nanya?" decak Tama emosi.


"Cowok baru gue."


"What?! Cowok baru? Lo udah gila? Saga gimana, Na? Lo nggak mikirin perasaan dia?"


"Ya, kan gue sama Mas Saga nggak ada hubungan apa-apa, Bang. Kita cuma temenan, dia udah gue anggep kayak Kakak gue sendiri. Kayak lo, Bang."


Tama berkacak pinggang sambil menghela napas berat. Ekspresinya terlihat tidak percaya. Ia seperti ingin mengamuk tapi tidak tahu apa yang bisa ia amuk.


"Gila ya, lo, Na, gue nggak nyangka lo begini. Lo bilang nggak ada hubungan apa-apa tapi lo mau diajak ke nikahan Jaka, yang notabene-nya itu adik Saga." Dengan wajah sinisnya Tama bertepuk tangan, "waw, enak banget lo ngomongnya. Kalau lo emang nggak ada hubungan apa-apa sama temen gue, harusnya lo nggak mau diajak ke sana. Lo itu udah secara nggak langsung kasih harapan ke Saga dan keluarganya, dan sekarang lo dengan entengnya bilang nggak ada apa-apa sama dia? Dan parahnya lagi lo malah jadian sama cowok lain?" Terdengar umpatan kasar tak lama setelahnya, "sumpah ya, kalau aja lo bukan cewek, udah gue gampar muka lo, Na. Enggak peduli meski lo itu adek kesayangan gue."


"Bang, menurut gue omongan lo keterlaluan deh. Lo nggak punya hak buat ngatur dengan siapa gue mau pacaran. Ini hidup gue. Ini hak gue. Ini juga kebahagiaan gue. Lo nggak boleh ngejudge pilihan gue!"


"Iya, bener, ini emang hidup lo. Tapi lo juga perlu ingat, Na! Hidup lo nggak cuma tentang lo dan kebahagiaan lo sendiri. Lo juga perlu ingat di hidup lo masih ada gue, Mama, sama Papa. Dan lo udah ngecewain kita demi memuaskan kebahagiaan lo sendiri. Nggak cuma itu, lo juga udah ngecewain Saga, sahabat gue dan juga keluarganya. Lo kasih harapan ke mereka, tapi endingnya lo kecewain kita. Saga sahabat gue, Na, kalau emang lo nggak mau, harusnya lo nggak kasih harapan. Enggak begini. Gue kecewa, Na. Gue kecewa banget sama lo."


Tama terlihat frustasi dan bingung harus berbuat apa setelah menumpahkan kekecewaannya. Ia menyugar rambutnya ke belakang sambil berkacak pinggang. Ditatap kedua bola mata sang adik yang nampak berkaca-kaca. Tama menggeleng lalu bergegas pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meninggalkan Ayana yang kini mematung dengan kedua pipinya yang basah.


______________________________________


Malvin langsung tersenyum cerah saat membuka pintu apartemennya, dan menemukan Ayana berdiri di sana sambil membawa kantong plastik. Gadis itu langsung menyodorkan plastik itu, dengan senang hati ia menerima bungkusan itu.


"Tengkiyu, my BFF. Lo emang yang terbaik. Sesuai permintaan kan?"


Ayana mengangguk dan melenggang masuk ke dalam apartemen tanpa menunggu dipersilahkan. Malvin langsung mengacungkan jempol lalu menutup pintu.


"Lo aneh banget sih, pesen seblak nggak pake kerupuk," komentar Ayana langsung memilih menghempaskan tubuhnya pada sofa.


"Abis gue geli liatnya, Na, kerupuk itu enaknya digoreng bukan direbus macam itu. Gue heran deh, kok orang-orang aneh banget sih makan gituan?"


"Lo yang aneh, makan seblak nggak pake kerupuk."


"Siapa yang bilang?" Malvin langsung menunjukkan toples kerupuknya, "ini namanya kerupuk ya, tolong!"


"Iya lah, terserah gue, masa terserah Bapak lu. Suka-suka gue lah."


Ayana tidak membalas. Gadis itu diam sambil menopang dagunya. Helaan napas panjang terdengar tidak lama setelahnya. Malvin yang tadinya hendak menyuap, mendadak menghentikan niatnya dan ikut menghela napas.


"Jadi kenapa?"


Ayana melirik ke arah pria itu lalu menggeleng. "Lo makan aja dulu, gue ceritanya nanti."


"Mau es krim? Di kulkas ada tuh, ambil aja kalau mau."


Ayana mengangguk dan langsung berdiri. Tanpa berkata sepatah kata pun ia langsung bergegas menuju dapur untuk mengambil es krim yang Malvin maksud.


Suasana apartemen Malvin nampak sepi, keduanya larut dengan kegiatan masing-masing. Malvin dengan seblak tanpa kerupuknya dan Ayana dengan es krim dengan lamunannya.


"Vin, apa yang gue lakuin ini salah ya?"


Malvin mendadak bimbang. Suapan terakhirnya baru hendak menyentuh bibir, tapi Ayana sudah bertanya? Bukankah tadi gadis itu bilang kalau akan bercerita setelah acara makannya selesai, tapi kenapa ini sudah mulai. Kalau ia jawab sekarang bagaimana dengan suapan seblak terakhirnya? Kalau tidak dijawab Ayana pasti merasa diabaikan.


"Vin!"


Kan, apa dia bilang?


"Bentar, gue abisin ini dulu. Nanggung tinggal sesuap, kalau gue tinggal jawab dulu ntar keburu nggak nafsu."


Ayana berdecak sambil melirik Malvin sinis. "Bilang dong kalau belum abis."


"Ya, kan barusan bilang," balas Malvin di sela kunyahannya.


Setelah selesai, Malvin pergi ke dapur untuk membereskan piringnya dan mengambil air minum. Ia kembali ke ruang tengah dan duduk di sebelah Ayana.

__ADS_1


"Enak nggak?"


Ayana mengangguk sambil menyodorkan wadah es krim itu kepada Malvin.


"Jadi yang gue lakuin itu salah ya, Vin?"


"Soal?"


"Gue yang pacaran sama Aska."


Malvin menyuap sesendok es krim. "Kenapa lo mikir gitu?"


"Karena sebelumnya gue deket sama Mas Saga. Tadi gue abis ketemu Bang Tama, dia kayak marah banget sama gue. Bang Tama kecewa banget sama gue, Vin. Emang gue salah ya?"


"Ya, enggak sepenuhnya salah sih sebenernya. Lo punya hak memilih orang yang sayang, kalau lo ngerasa lebih sayang sama Aska, ya nggak papa. Itu pilihan lo, asal lo siap dengan segala konsekuensi dan resikonya nanti."


"Berarti gue nggak salah kan?"


"Ya, tapi bukan berarti apa yang lo lakuin itu benar, Na. Lo kemarin ngasih harapan ke Saga dan keluarganya secara nggak langsung. Lo bisa bayangin kecewanya mereka? Jadi lo bisa bayangin juga kan kecewanya Bang Tama sekarang?"


"Berarti emang gue yang salah?"


"Sekarang ini intinya bukan lo salah atau bener, Na."


"Terus apa?"


"Intinya yang penting lo bahagia dengan apa yang lo pilih."


"Tapi gue ngecewain mereka, Vin." Kedua mata Ayana mendadak perih dan berkaca-kaca, dengan sigap Malvin langsung mengusap punggungnya.


"It's okay, Na, nggak papa, namanya manusia pasti pernah khilaf bikin salah kan? Percaya sama gue, Bang Tama cuma kecewa sebentar, besok juga bakal lupa sendiri. Jangan terlalu dipikirin lah, yang ada ntar lo stress! Gila lama-lama ntar lo."


Ayana diam dan larut dengan pikirannya sendiri. Malvin dengan sengaja menyuapi sesendok es krim ke mulut gadis itu.


"Enggak papa, Na. Bang Tama pasti marahnya cuma sebentar, Na, percaya sama gue. Lo nggak usah terlalu khawatir!"


"Tapi gue kepikiran sama Mas Saga. Gue nggak enak sama dia, sama keluarganya juga, gue baru kepikiran, Vin, dia pasti kecewa dan marah banget sama gue kan? Dia bahkan nggak mau temenan sama gue sekarang, sekarang Mas Saga itu bener-bener kayak ngehindari gue, Vin. Gue harus apa ya?"


Malvin langsung menegakkan tubuhnya kaget. "Serius dia nggak mau temenan sama lo lagi?"


"Ya, serius, gue kan kemarin udah bilang, Vin."


"Emang iya? Enggak tahu, gue lupa."


"Iya, dia nggak mau temenan sama gue karena nggak mau terjebak friendzone sama gue."


Malvin ber'oh'ria sambil mengangguk paham. Sebagai sesama pria, ia maksud Saga dan ia cukup menghargai itu.


"Ya udah, lo hargai keputusan dia lah, biar dia juga bisa menghargai keputusan lo untuk memilih pria lain. Ya udah sih, selow. Baru jadian kok malah pusing mikirin cowok lain, ntar cowok lo cemburu. Hargai perasaan dia juga lah."


"Lo enak banget sih ngomong gitu? Semua nggak semudah itu kali, Vin."


"Na, kalau bisa kita permudah kenapa harus dibikin ribet sih? Ini yang penting lo udah yakin kan sama pilihan lo. Lo beneran udah yakin kan milih Aska ketimbang Saga?"


"Ya, yakin lah, kalau nggak yakin nggak mungkin gue mau jadian sama dia."


"Ya, udah kalau gitu, santai. Kecuali kalau lo mendadak ragu sama perasaan lo sendiri. Baru deh, wajar kalau lo pusing. Paham?"


Ayana tidak membalas. Gadis itu mendadak diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Malvin yang memanggil-manggil namanya bahkan sampai diabaikan.


"Ayana!" seru Malvin.


"Hah?"


"Lo kenapa mendadak bengong?" Kedua mata Malvin melebar, "anjir, Na, lo nggak mendadak bimbang sama perasaan lo sendiri kan?"

__ADS_1


Ekspresi Ayana mendadak gugup. Tangannya langsung meraih wadah es krim yang dipegang Malvin. "Enggak lah," elaknya kemudian.


__ADS_2