
***
"Lo maunya?"
Bukannya menjawab, Malvin justru malahan balik bertanya. Sumpah, demi Tuhan rasanya Olivia sangat tidak menyukai respon dari pria itu yang terkesan menyepelekannya. Sepertinya sekarang ia mulai menyesali keputusannya untuk diajak kemari.
"Bukan respon begini, Mas, yang aku inginkan."
"Terus?''
Kali ini Olivia hanya diam saja sambil menggigit bibir bawahnya. Sedangkan Malvin menghela napas panjang.
''Kalau gue minta lo buat serius emang lo mau?"
Di luar dugaan, Olivia mengangguk pelan. "Kalau kamu minta untuk hubungan yang serius, kenapa nggak?"
"Lo mau?"
"Ya, kalau emang ada yang minta hubungan serius kenapa harus ditolak? Yang dibutuhkan perempuan itu sebuah keseriusan, Mas, kalau udah ada yang serius nggak boleh dilepas."
Malvin manggut-manggut paham lalu mengajak perempuan itu untuk segera masuk kedalam. "Ya udah, ayo, tunggu apa lagi. Kedua orang tua gue pasti udah nungguin kita."
Perempuan itu mengangguk setuju. Lalu keduanya masuk ke dalam rumah mewah itu berdampingan. Ada perasaan bahagia dan lega yang dirasakan perempuan itu saat kini mendapat kejelasan.
"Jangan keliru lo-gue lagi ya, Mas," bisik Olivia.
Malvin meringis lalu mengangguk tak lama setelahnya. "Diusahakan, semoga nggak keliru ya. Nggak papa, nanti kalau keliru bisa kita jelasin kalau kita masih baru."
Olivia menaikkan sebelah alisnya heran. "Baru? Baru apanya?" tanyanya sambil terkekeh.
Malvin kemudian ikut terkekeh. "Baru jadian kan?"
"Hah?"
Olivia melongo sambil menghentikan langkah kakinya. Malvin pun mau tidak mau ikut menghentikan langkah kakinya.
"Terus apa namanya? Emang bener baru jadian kan?"
Padahal menurutnya benar kok. Batin Malvin.
Olivia kembali terkekeh. "Emang yang tadi itu jadian ya, Mas?"
Malvin langsung mengangguk semangat. "Ya emang bener baru abis jadian kan? Terus kalau bukan abis jadian apaan dong namanya?" tanyanya sambil tertawa.
__ADS_1
"Udah pada dateng bukannya langsung nyapa malah sibuk pacaran ya, kalian?" sindir Linda.
Baik Malvin dan Olivia langsung menghentikan obrolan mereka. Dengan gerakan cepat, Malvin kemudian merangkul pinggang perempuan itu seraya tersenyum dan memasang wajah jumawanya.
"Oh, kirain belum pulang makanya kita tinggal pacaran dulu. Kenalin, Ma, ini Olivia, pacar Malvin."
Ma?
Ini yang dipanggil Malvin Ma itu maksudnya Mama. Perempuan cantik dengan tubuh rampingnya ini bukan Kakak pria itu, melainkan sang Mama? Orang yang telah melahirkan Malvin.
Jujur, Olivia merasa terkejut dua kali. Yang satu karena pria itu tiba-tiba merangkul pinggangnya dan yang satu karena sang calon mertua semuda ini. Ini sebenarnya sang Mama memang masih muda atau hanya awet muda sih? Batin Olivia keheranan.
"Sayang, kenalin ini Mama aku."
"Mas, serius ini Mama kamu?" bisik Olivia setengah tidak percaya.
"Hah?" Kali ini Malvin yang memasang wajah bingungnya, "emang kenapa?"
"Cantik plus muda banget. Seriusan Mama kamu, bukan kakak kamu?"
Spontan Malvin langsung terbahak saat mendengar kalimat polos sang 'kekasih' barunya.
"Ma, Mama tahu nggak barusan Olive bilang apa?"
"Katanya muka Mama terlalu cantik dan muda untuk jadi Mama aku."
Mendengar pujian secara tidak langsung itu, Linda langsung tersenyum malu-malu. "Ah, kamu bisa aja sih, sayang. Enggak lah, kalau disebut muda. Mama ini udah tua kok, emang dasar pacar kamu aja yang boros mukanya."
Olivia tersenyum canggung lalu mencium punggung telapak tangan Mama Malvin.
"Ya udah, yuk, langsung ke ruang makan, bibi udah siapin semua."
"Papa belum pulang, Ma?"
Linda menggeleng. "Belum. Kamu kayak nggak tahu Papa-mu saja, meski menjabat direktur rumah sakit, kan pasien tetep nomor satu baginya. Padahal istri sama anaknya nomor sekian," gerutunya kemudian.
"Halah, kayak Mama nggak aja. Mama kan sama aja. Lebih mentingin anak orang ketimbang anak sendiri," dengusnya kemudian.
"Kamu juga bentar lagi begitu," balas Linda tidak mau kalah, "udah, yuk, sayang, kita ke ruang makan. Kamu ada alergi makan atau nggak?"
Malvin langsung mendengus kala melihat perlakuan sang Mama yang nampak begitu antusias menyambut sang calon menantu. Tidak seperti saat ia pertama kali mengajak Yasmin, dulu sang Mama nampak tidak percaya dengan fakta siapa yang ia bawa. Ia bahkan meragukan Yasmin, dan ternyata benar. Endingnya, Yasmin pergi meninggalkannya. Kalau mengingat fakta ini, Malvin kesal sendiri. Apalagi kalau ingat perempuan itu pergi begitu saja tanpa memberi kejelasan yang pasti. Tanpa sadar telapak tangannya mengepal.
Kenapa perempuan itu tega melakukan hal ini padanya. Padahal dulu saat sang Mama menanyakan keseriusan Yasmin, perempuan itu tampak begitu yakin dengan perasaannya tapi kenapa endingnya justru ia yang ditinggalin? Hatinya benar-benar sakit dan hancur kala mengingat semuanya.
__ADS_1
"Mas," panggil Olivia dengan nada yang sedikit tinggi. Bukan, bukan karena marah, melainkan karena pria itu tampak asik dengan lamunannya.
"Ya, gimana, Liv?"
"Ngelamunin apa sih?"
Sambil memaksakan senyumnya, Malvin menggeleng. "Enggak ada, enggak ngelamunin apa-apa kok. Langsung ke ruang makan aja, yuk!" ajaknya kemudian.
"Tapi keliatannya kamu tadi kayak orang yang lagi nahan amarah, Mas, yakin nggak papa? Kamu kesel karena apa?"
Malvin tertawa. "Enggak, apaan sih siapa juga yang kesel. Udah, yuk, kita tunggu Papa di ruang makan."
Meski sejujurnya Olivia penasaran sekaligus khawatir, tapi pada akhirnya ia mengangguk dan mencoba memaklumi pria itu. Mungkin Malvin butuh privasi untuk beberapa hal. Pikirnya.
"Papa-mu sudah mau on the way, kalian langsung duduk aja sini. Biar nanti nyusul, soalnya kalau nunggu Papa-mu nanti keburu kita yang kelaperan."
Malvin mengangguk paham karena sudah biasa akan hal ini. Ia kemudian menarik kursi untuk Olivia.
"Duh, so sweet banget sih kalian, kayak orang baru jadian aja," goda Linda iseng. Ia merasa gemas kala melihat sang putra bersikap semanis ini terhadap sang kekasih.
Malvin terkekeh lalu duduk di sebelah Olivia. "Ya emang masih baru."
Ekspresi Linda berubah terkejut. "Jadi kalian beneran baru jadian?"
Dengan wajah cueknya Malvin mengangguk untuk mengiyakan. Olivia langsung menendang kaki pria itu sambil melotot kesal terhadapnya.
"Mas," tegur perempuan itu.
"Tunggu sebentar," ucap Linda tiba-tiba, "jadi nama panggilan sayang kamu ke Malvin itu 'Mas', sayang? Ya ampun, so sweet banget sih kalian. Mama jadi gemes liatnya. Jarang-jarang loh Malvin punya pacar gemes begini."
"Emang sebelumnya mantan Mas Malvin gimana, Tante?"
Linda berdecak. "Ma, panggil Mama dong, sayang, jangan Tante," keluhnya kemudian. Hal ini membuat Malvin geli melihatnya.
"Apaan sih, Ma, orang kita masih jadi pasangan baru, masa udah disuruh panggil Mama aja."
"Ya, emang nggak boleh?"
"Enggak," sahut Malvin cepat, "lagian Mama kenapa sok asik banget sih sama Olive? Enggak biasanya juga."
"Suka-suka Mama lah, sirik aja kamu," sahut Linda tidak mau kalah.
Olivia jadi senang melihat interaksi keduanya. Mungkin gadis itu pikir kalau keduanya nampak akrab, padahal aslinya sih enggak.
__ADS_1
Tbc,