
***
Satu Tahun Kemudian
Ayana menatap sebal ke arah Malvin yang sedang main bersama putrinya. Bukan tanpa alasan, pria itu datang hampir setiap hari mentang-mentang pria itu sekarang bekerja di rumah sakit Papa-nya sendiri.
"Lo kapan bakalan ketemu cewek dan nikah, Vin, kalau yang lo temuin anak gue mulu. Sumpah, ya, gue nggak bakalan ridho kalau lo mau nungguin anak gue gede. Cari cewek sana!"
"Biarin lah, orang anak lo seneng sama gue."
Mendengar jawaban Malvin, Ayana langsung melotot kesal. Ia tidak sanggup membayangkan kalau seandainya sang putri nantinya akan benar-benar menikah dengan pria itu. Kan serem. Mau seawet muda apapun Malvin, ia tetap tidak akan terima. Yang benar saja.
"Lo jangan macem-macem ya, gue nggak mengharapkan pedofil macam lo, ngerti!" ancam Ayana dengan kedua mata tajamnya, "lagian nyokap lo udah pengen cucu itu, lo-nya jangan ntar-ntar aja, kasian mereka pengen nimang cucu juga kali."
"Tenang aja, hampir tiap hari juga mereka udah nimang cucu orang terus, bosen kali, Na," sahut Malvin dengan wajah santainya.
"Ya, beda lah, beda sensasinya, Vin. Lagian kalau anak orang juga nimangnya bisa cuma bentar, nggak bisa sepuasnya kayak nimang cucu sendiri. Sian loh, lo itu satu-satunya harapan mereka, jangan mengecewakan gitu lah."
"Mengecewakan apa sih, Na? Gue udah balik ke rumah dan tinggal sama mereka, terus sekarang gue juga kerja di rumah sakit mereka, masih mengecewakan juga? Serakah amat," dengus Malvin dengan wajah kesal.
Ia paling malas kalau sudah disuruh-suruh begini, untuk sementara ia sudah cukup menikmati kehidupannya yang sekarang.
"Udah lah, nggak usah suruh-suruh gue cepat nikah karena gue sedang menikmati masa single gue dengan baik."
Ayana menghela napas. Sebenarnya, ia tidak ingin memaksa pria itu, tapi berhubung Mama Malvin meminta tolong padanya, jadi ia harus berusaha keras agar pria itu mau dibujuk olehnya.
"Ya, pelan-pelan dong, Vin, nggak usah terburu-buru. Yang penting lo mulai buka hati lo, jangan tertutup begini. Kalau lo begini terus ya kapan mau nikahnya."
"Ntar kalau Mala punya adek."
__ADS_1
Ayana melotot kaget. Pasalnya Saga melarangnya untuk hamil lagi, dan Mala pun belum memiliki tanda-tanda menginginkan adik. Keputusan untuk menambah momongan atau tidak sekarang berada di tangan Mala, dan gadis kecilnya itu sampai sekarang tidak menunjukkan tanda-tanda menginginkannya. Dia suka dengan anak kecil tapi setiap ditanya pengen punya adik atau enggak di rumah, maka dengan tegas putrinya akan menjawab tidak. Alhasil, Ayana mulai pesimis kalau dirinya akan hamil lagi.
"Berarti kemungkinan nggak nikah lo?" sindir Ayana disertai dengusan.
"Hah?" respon pria itu kaget, "lo jadi steril? Enggak takut nyesel lo?"
Ayana menggeleng. "Belum. Tapi nggak ada yang dukung gue buat hamil lagi kecuali lo."
Malvin kemudian menunjuk Mala yang sibuk dengan mainan masak-masakannya. "Enggak mau? Apa emang nggak seneng anak kecil kayak bapaknya?"
"Bukan. Seneng dia sama anak kecil, mau cewek atau cowok dia seneng. Kalau diajak ke mana terus liat anak kecil suka ngajak main gitu-gitu, Vin."
"Terus?"
"Tapi kalau tiap ditanya mau di rumah dia selalu jawab enggak. Gitu. Jadi Mas Saga belum setuju kalau gue hamil lagi, soalnya kesepakatan gue sama laki gue, dia setuju gue bisa hamil lagi, kalau Mala minta, kalau Mala nggak minta maka anak gue selamanya cuma bakalan Mala doang."
Malvin manggut-manggut paham. "Tapi lo sedih nggak?" tanyanya kepo.
Malvin manggut-manggut paham. "Jadi ini beneran lo siap jadi ibu anak satu aja?"
Ayana berpikir ragu-ragu kemudian mengangguk cepat tak lama setelahnya. "Kayaknya iya sih," jawabnya sambil tertawa, "karena gini, Vin, menurut gue punya anak satu aja kayak Mala gue udah suka pusing. Soalnya kadang gue berasa kayak kena karma pas ngehadapin dia, gue jadi kayak mulai ngerasain apa yang nyokap gue rasain. Jadi gue mikir, kayaknya laki gue bener deh, anaknya satu aja cukup."
"Gue juga," sahut Malvin tiba-tiba.
Ayana melotot kaget. "Juga apa lo? Lo kan belum punya anak, Vin," protesnya kemudian.
"Menikmati kesendirian ini maksud gue, gue kayak ngerasa ya, nggak papa kalau semisal nggak nikah."
Mendengar jawaban Malvin, ekspresi Ayana berubah sedih. "Yah, Vin, jangan gitu lah. Lo nggak takut kesepian nantinya pas tua, jujur, anak gue satu aja kadang gue kepikiran, ntar kalau dia udah nikah dan ikut suaminya gue gimana ya, gitu."
__ADS_1
"Ya, nggak papa, gue udah terbiasa sama yang namanya kesepian, gue udah siap dengan segala resiko dan konsekuensinya."
"Vin, lo nggak serius kan? Kasian nyokap bokap lo lah kalau lo-nya milih buat nggak nikah. Lo juga nggak kasian apa emang sama 'adek burung' lo?"
Malvin tidak bisa menahan ketawanya saat Ayana menyebut kata adek burung, sedangkan Mala dengan jiwa keponya langsung menatap sang Mama penuh dengan rasa penasaran.
"Who is that, Ma?"
"Anjir, sok inggris banget anak lo, Na?" ledek Malvin sambil terbahak.
Ayana mau tidak mau mengangguk setuju. Padahal ia tidak membiasakan mengajak sang putri untuk berbicara bahasa inggris, tapi Mala sangat suka menonton film kartun bahasa inggris dan ia hanya akan mengajarinya sesekali tapi siapa sangka kalau ternyata nyangkut juga di otaknya. Ya, meski ngomongnya kadang suka ngaco atau kurang tepat. Tapi namanya juga masih bocah dan bahkan Mala belum genap berumur 3 tahun.
"Emang, gue juga heran kadang, dia mirip siapa ya, Vin? Kadang gue emang ngerasa dia mirip kelakuan gue pas kecil, kadang mirip bapaknya, tapi kadang sama sekali nggak mirip siapa-siapa."
"Ma, itu apa?" rengek Mala dengan jiwa keponya.
Sekarang ia kebingungan hendak menjawab apa. Sementara Malvin langsung terbahak puas tak lama setelahnya.
"Mampus makanya jangan suka ngomong aneh-aneh, ada laki lo abis lo, Na, Na."
"Aneh-aneh?" beo Mala dengan wajah makin kebingungan. Ia menoleh ke arah sang Mama dan sang Om secara bergantian, "apa sih?"
"Om Avin tau?"
Dengan wajah berusaha menahan diri agar tidak tertawa, Malvin menggeleng cepat. "Enggak tahu juga sih, Om, La, nanti kalau Papa pulang coba tanya ya?" ucapnya menyarankan.
Ayana yang kesal dengan ide tersebut langsung memukul pria itu. Bagaimana bisa Malvin menyarankan hal tersebut? Apa dia sengaja melakukan itu agar dirinya kena omel sang suami? Dasar teman kurang ajar. Sukanya mengerjai. Awas saja, ia akan balas di lain hari.
"Lo kalau mau ngasih ide yang bener dikit kenapa sih, Vi!?" protes perempuan itu yang hanya direspon Malvin dengan tertawa.
__ADS_1
Tbc,