Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story Part 2


__ADS_3

*


*


*


Damar menatap putranya dengan ekspresi tidak percayanya. Tubuhnya menegak lebih condong ke arah sang putra. "Kamu nggak serius kan, Vin?" tanyanya dengan wajah shock yang terlihat jelas.


Malvin diam saja. Pria itu terlihat lebih acuh tak acuh untuk membalas. Damar yang tadinya sudah begitu antusias meluangkan waktu untuk menemui sang putra jelas saja merasa kecewa saat mendengar jawaban pria itu.


"Vin, jawab Papa!" desak Damar tidak sabaran.


"Nggak usah bikin keributan di tempat umum, Pa, nggak lihat itu kita jadi pusat perhatian," balas Malvin dengan ekspresi wajah santainya. Seolah tidak bersalah sama sekali.


Malvin jelas tidak merasa bersalah karena ia tidak merasa mengundang sang Papa untuk datang menemuinya, jadi ia tidak merasakan dirugikan sama sekali. Begitu prinsipnya.


"Kamu jangan mempermainkan Papa, Vin!" Damar merasa semakin tersulut emosinya


Malvin melirik sang Papa secara sekilas lalu mendengus tidak percaya. "Siapa yang mempermainkan siapa sih, Pa?" ia terkekeh geli tak lama setelahnya, "ada-ada aja. Udah lah, mending aku duluan, Pa, masih banyak kerjaan yang harus diurus. Maklum, Pa, anak residen."


"Enggak, bentar dulu dong, Vin, kamu jangan main pergi gitu aja," cegah Damar, "Ini seriusan kamu nggak jadi nikah?"


Malvin hendak berdiri, namun, Damar dengan cepat menarik tangan itu lalu menyuruh sang putra agar kembali duduk.


Dengan wajah tanpa keraguan Malvin mengangguk dan kembali duduk. "Jadi. Tapi nggak sama Yasmin. Mungkin." ia mengangkat kedua bahunya sedih.


"Kenapa? Kamu bahkan baru kenalin perempuan itu ke Mama-mu saja, kenapa bisa-bisanya tiba-tiba batal nikahi dia?" Damar berdecak kesal tak lama setelahnya, "ini seriusan kamu ini sebenernya niat buat nikah atau enggak sih?"


Malvin sedikit tersinggung. Padahal niatnya untuk menikahi perempuan itu sangatlah serius, tapi justru perempuan itu lah yang seolah mempermainkannya. Dan itu membuatnya cukup marah.


"Kalau serius ya, tunjukin keseriusanmu lah, Vin, jangan cemen. Namanya orang mau nikah itu pasti ada aja halangannya, tapi bukan berarti kamu langsung pasrah begitu saja. Kamu pikir dulu Mama-mu sebelum nikah sama Papa nggak pake ngedrama dulu? Ada ada alasan dan cobaannya, kamu sebagai anak muda harusnya lebih kuat dan tahan banting buat memperjuangkan kisah kalian. Paham?" Damar menepuk pundak Malvin lalu sedikit mencengkeramnya, "ingat, Vin, perempuan itu butuh diperjuangkan."


Malvin menghela napas lalu berpikir panjang. Sepertinya apa yang dikatakan sang Papa ada benarnya juga, ia tidak boleh menyerah begitu saja hanya karena Yasmin minta berpisah. Ia sudah bertekad sebelumnya maka seterusnya pun harus begitu.


"Papa bener, mungkin sekarang Yasmin lagi bimbang makanya minta putus."


"Nah, makanya itu kamu jangan nyerah gitu aja. Berjuang lah, apalagi denger-denger dia udah spesialis ya? Dia pasti lagi bingung itu, masa iya udah punya karir cemerlang malah harus sama residen labil macem kamu. Ya pasti harus mikir-mikir lah--"


"Pa," potong Malvin dengan ekspresi tidak terimanya.

__ADS_1


"Dengerin dulu makanya, jangan asal motong pembicaraan orang," decak Damar kesal karena kalimatnya dipotong sesuka hati sang putra, "maksud Papa, kamu harus nunjukin keseriusan kamu, biar Yasmin tidak ngerasa salah pilih meski kamu masih residen."


Malvin mengangguk setuju. "Baik, Pa, makasih atas saran dan masukannya." ia langsung berdiri dan pergi begitu saja, tanpa berniat untuk membayar lebih dahulu.


"Vin, Malvin! Ini minumannya belum dibayar, hei, katanya kamu mau traktir Papa," teriak Damar agak emosi. Ia meringis canggung karena sama sekali tidak membawa uang cash. Lantas bagaimana ia harus membayar?


"Maaf, saya nggak bawa uang cash. Kalau saya bayarnya via transfer bagaimana?"


"Tidak apa-apa, Pak, Bapak bisa langsung pergi. Nanti minuman ini saya masukin ke catatan."


"Maksudnya ini saya ngutang gitu?"


Si penjual kopi meringis lalu mengangguk dan mengiyakan. "Ya, kurang lebih begitu."


"Baik lah, kalau begitu, tunggu sebentar, saya ke ATM sebentar." setelah mengatakan itu Damar langsung pergi begitu saja.


*


*


*


Terlalu lama berpikir, sehingga membuat Malvin menyadari keberadaannya dengan cepat. Pria itu langsung berdiri dari posisi jongkoknya sambil tersenyum tulus ke arahnya. Yasmin yang merasa lemah terhadap senyuman itu pun mau tidak mau akhirnya berjalan dan menghampiri pria itu. Bersikap seolah tidak ada masalah apapun yang terjadi di antara keduanya.


"Akhirnya kamu pulang juga, Yas."


Yasmin menghela napas, ia langsung memalingkan wajah ke samping sebelum menatap pria di hadapannya ini dengan tatapan kurang bersahabatnya.


"Mau ngapain, Vin? Mau minta indomie?" Yasmin langsung menggeleng cepat, "enggak ada, aku nggak punya."


"Bukan itu. Aku mau ngomong, kasih aku izin masuk."


Yasmin kembali menggeleng. "Sorry, Vin, aku nggak bisa. Kalau mau ngomong, ya, silahkan ngomong di sini."


Malvin celingukan ke arah sekitar. Ya saat ini memang lumayan sepi tapi ia yakin sebentar lagi beberapa orang akan berlalu lalang.


"Enggak di sini, Yas." Malvin menggeleng tidak setuju.


"Ya sudah, kalau gitu aku masuk duluan."

__ADS_1


Malvin langsung mencekal telapak tangan Yasmin, saat perempuan itu hendak masuk ke dalam unitnya.


"Kamu mau ngomongin apa lagi sih, Vin, aku rasa pembicaraan kita sudah selesai."


"Tapi aku mau memulai pembicaraan yang baru. Aku mau bahas yang lain."


Yasmin menghela napas. "Mau bahas apaan lagi sih? Aku capek, Vin."


"Aku janji nggak akan lama, tapi, please, kasih aku kesempatan."


Di luar dugaan, Yasmin menggeleng. "Enggak, Vin, kalau sekarang aku kasih kamu kesempatan, aku yakin kamu bakalan minta kesempatan yang lain."


"Yas, kamu udah nggak sayang sama aku?"


Yasmin diam.


Malvin mendengus.


"Untuk pertanyaan sesederhana ini aja kamu nggak bisa jawab, Yas, terus kamu berharap aku kabulkan permintaan kamu buat pisah? Ya gimana aku bisa sih, kamu yang bener aja dong." Malvin menggeleng cepat, "enggak. Aku nggak bisa. Kamu belum kasih tahu aku alasan masuk akal itu."


"Masuk akal buat aku, mungkin nggak masuk akal buat kamu, Vin. Ini mungkin masalah persepsi."


"Serius kamu mau bersikap begini."


Dengan pandangan lurus ke depan dan tanpa menoleh ke arahnya, Yasmin mengangguk cepat.


Malvin merasa frustasi sekaligus putus asa. Tapi tidak boleh, ini tidak boleh terjadi. Ia mengangguk paham tak lama setelahnya.


"Oke, kalau memang itu mau kamu. Aku kasih kamu waktu untuk mikirin semuanya dulu, tapi jangan berharap kalau aku akan nyerah, Yas."


Yasmin melotot dengan wajah kagetnya. "Maksud kamu?"


"Pokoknya aku bakal nunggu sampai kamu siap. Pokoknya aku nggak akan biarin kamu nyerah, akan aku buktikan kalau kamu nggak akan nyesel karena milih aku pada akhirnya."


"Terserah kamu, Vin, yang jelas keputusan aku udah bulat. Enggak akan ada yang berubah."


Malvin mengangguk dengan ekspresi percaya dirinya. "Iya, nggak ada yang berubah karena aku sendiri yang akan ngerubahnya. Kamu harus ingat itu, Yas! Kamu bisa istirahat, aku mau kembali ke rumah sakit. Mungkin aku nggak akan pulang selama beberapa hari, jadi tolong jaga kesehatan kamu, meski aku tahu kamu lebih baik dalam mengurus yang satu ini. Aku pamit."


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2