
Saga merasa heran dengan sikap Ayana sejak kemarin, yang terkesan seperti menghindarinya. Saat ia mengajaknya bertemu ada aja alasan gadis itu menolaknya. Padahal ia tidak merasa habis melakukan kesalahan, lalu kenapa sang calon istri terkesan seperti menghindarinya? Karena bingung harus bagaimana, ia akhirnya memutuskan meminta bantuan Tama. Saga sudah benar-benar kehilangan akal untuk membujuk Ayana. Sepertinya kalau ia menemui Tama, ia bakal dapet solusi dari calon kakak iparnya itu.
Begitu jam prakteknya kelar, Saga langsung menemui Tama di kantor. Saat ia sudah tiba di sana, ternyata ia tidak bisa langsung bertemu pria itu. Karena Tama masih ada rapat dengan tim. Mau tidak mau ia harus menunggu selama beberapa saat.
"Ada angin apaan di luar, kok seorang dokter spesialis bedah jantung sekaligus dosen super sibuk kayak lo, mau datang ke kantor gue? Apa di luar lagi ujan badai?" sambut Tama begitu masuk ke dalam ruangan sudah disambut Saga di sana, sedang duduk di sofa panjang yang ada di ruangannya. Tama terkekeh geli.
Lain halnya dengan Saga yang kini sedang mendengus kesal sambil menunjuk ke arah luar jendela, yang kini sedang menampakkan pemandangan ibukota yang sedang cerah.
Tama terbahak lalu duduk di salah satu sofa singlenya. "Lo kenapa deh, tumbenan main ke kantor gue? Serem tahu, besok belum kiamat kan?"
Sambil berdecak kesal, Saga langsung menimpuk Tama menggunakan bantal sofa, bersamaan dengan sekertaris Tama yang masuk ke dalam ruangan sambil membawa minuman.
Tama langsung melotot kesal ke arah Saga, karena tidak sopan di saat sedang ada karyawannya. Wibawanya kan jadi luntur.
"Lo berani macem-macem sama gue nggak gue kasih restu buat nikahin adek gue, ya," ancam Tama tidak main-main.
"Jangan!"
"Makanya jangan macem-macem lo sama gue. Gini-gini, gue ini calon kakak ipar lo. Ngerti nggak lo? Mau nggak mau, suka nggak suka, ya, lo harus terima kenyataan. Paham?"
Tanpa mengeluarkan protes, Saga langsung mengangguk sekali.
"Ya udah, diminum dulu sebelum cerita. Lo--"
"Yana menjauh," potong Saga tiba-tiba. Pria itu terkesan tidak suka berbasa-basi, langsung to the point.
"Hah?" Tama masih sedikit bingung, "maksudnya? Menjauh yang gimana? Bukannya kemarin nggak mau pisah, kok tiba-tiba menjauh. Lo abis bikin salah apaan emang?"
Dengan wajah datarnya, Saga menggeleng untuk merespon pertanyaan Tama. Ia tidak merasa habis membuat kesalahan. Hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja, tidak ada yang salah.
"Lo yakin?"
Kali ini ekspresi Saga terlihat ragu-ragu. Pria itu tidak mengeluarkan suara atau hanya sekedar mengangguk. Hal ini membuat Tama langsung mendengus tak lama setelahnya.
__ADS_1
"Berarti ini mah lo abis bikin salah tapi lo-nya nggak nyadar." Tama berdecak kesal, "emang dasar bego aja itu si Yana. Lupa kali, ya, kemarin berjuangnya kayak gimana," gerutunya kemudian.
Tama ikut kesal karena sang adik kembali berulah. Dalam hati ia bersumpah ia ingin sekali menghajar gadis itu karena terus-terusan membuat ulah padahal bentar lagi mereka mau menikah. Sebenarnya gadis itu niat serius mau nikah nggak sih? Heran banget Tama.
"Menurut lo dia kenapa?"
"Ya, mana gue tahu, Ga. Udah lah, ntar gampang, gue ajak dia ngobrol dulu. Sekarang mending lo pulang dulu, kalau gue udah dapet bocoran dari Yana, ntar gue langsung hubungi lo. Gimana?"
Meski wajahnya awalnya sedikit ragu-ragu, namun, pada akhirnya Saga mengangguk setuju juga. Toh, ia tidak punya pilihan lain selain itu kan?
***
Setelah pulang dari kantor, Tama memutuskan untuk pulang ke rumah Mama-nya. Ia perlu bertemu dengan sang adik dan membicarakan keluhan Saga.
Dengan langkah tergesa-gesa Tama berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Ayana. Tanpa perlu mengetuk pintu kamar, Tama langsung nyelonong masuk begitu saja.
"Bang Tama, iihh, ngagetin aja. Kenapa sih tiba-tiba dateng, masuk kamar nggak pake permisi," protes Ayana kesal, "nggak sopan banget," gerutunya kemudian.
Ekspresi Ayana terlihat kaget. "Mas Saga ngadu ke lo, Bang?" tanyanya seolah tidak percaya. Ia tidak menyangka kalau Saga si tukang ngadu.
Kali ini Tama berdecak. "Bukan ngadu. Tapi dia minta tolong kenapa lo begini. Sebenernya lo kenapa sih? Oleng ke siapa lagi lo? Gila, ya, sumpah lo itu mau gue apain biar sadar?"
Ekspresi Ayana kini berubah sedih. "Sekarang justru gue lagi berupaya menyadarkan diri."
Tama menaikkan alis tidak paham. "Maksud lo? Lo kenapa deh?"
"Gue sama Mas Saga, menurut lo kita bisa bareng nggak sih, Bang?"
"Kenapa lo mendadak nanya begitu?" tanya Tama heran, "tunggu sebentar, sekarang ini lo nggak lagi ngerasa insecure-kan?"
Ayana diam.
"Na," panggil Tama dengan suara tegasnya, "jawab gue! Lo seriusan insecure makanya ngejauh dari Saga?"
__ADS_1
Di luar dugaan Tama, Ayana tiba-tiba menangis. "Gue sebenernya pantes nggak sih, Bang, buat Mas Saga?"
"Hei, hei, hei, lo nggak boleh ngomong gitu! Meski lo kurang tinggi, kurang anggun, suka pecicilan, banyak tingkah, tapi gue tahu lo itu orangnya baik, Na. Justru orang kayak lo begini cocoknya sama yang modelan kayak Saga begitu. Lo nggak perlu peduliin orang mau bilang apa. Yang penting Saga-nya mau sama lo. Itu yang paling penting."
"Kalau keluarganya nggak bisa nerima gue gimana?"
Tama tertawa. "Lah, bukannya lo udah deket sama keluarganya? Gimana ceritanya keluarga Saga nggak bisa nerima lo?"
"Tapi gue pernah kecewain Mas Saga, Bang. Gue pernah bikin dia terluka."
Tama menghela napas sambil memeluk tubuh sang adik. Elusan lembut ia berikan, berharap sedikit menghilangkan kekhawatiran sang adik.
"Na, dengerin gue! Lo nggak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti terjadi. Paham?"
Ayana diam sebentar, lalu melepaskan pelukan mereka. "Tapi Jaka nolak gue, Mas, gue denger sendiri kemarin. Dia nggak terima kalau gue yang bakal dinikahi Mas Saga."
"Lo denger sendiri? Kapan? Di mana?"
"Dua hari yang lalu. Di rumah Mas Saga. Pas gue mau main ke rumah dia, ada Jaka di sana. Dulu padahal dia baik banget sama gue, Bang, tapi sekarang justru sebaliknya. Dia keliatan nggak rela kalau gue yang jadi istrinya Mas Saga."
Di luar dugaan. Ayana tiba-tiba mendapat jitakan dari Tama. Gadis itu pikir ia akan mendapat pelukan lagi dari sang Abang, tapi ternyata ia salah.
"Kok gue malah dijitak sih, Bang?" protes Ayana kesal.
"Ya, abis lo bego banget jadi umat manusia. Maksud lo menghindar itu biar apa? Harusnya ya lo langsung temui Saga dan obrolin, cari solusi biar Jaka mau menerima lo lagi. Bukannya malah menghindar begini," omel Tama kemudian. Ia benar-benar merasa gemas dengan tingkah sang adik, yang menurutnya tidaklah masuk akal.
"Gue perlu mikir, Bang."
"Mikir apa?"
Ayana diam. Tama tidak tahan. Ia langsung berdiri dan mengajak sang adik menuju rumah Saga. Masalah ini harus kelar malam ini juga.
"Bener-bener suka ngerepotin lo jadi adek," gerutu Tama menahan kesal.
__ADS_1