
Ayana menopang dagunya sambil menghela napas panjang. Hal ini membuat Saga yang tadinya sedang asik membaca data pasiennya, otomatis menoleh dengan sebelah alis terangkat.
Merasa peka, Ayana langsung menjawab tanpa menunggu pria itu bertanya. "Aku pusing deh, Mas."
Tanpa mengeluarkan suara Saga langsung mengulurkan telapak tangannya dan menempelkan pada dahi Ayana. Memeriksa suhu perempuan itu.
Ayana berdecak sambil menyingkirkan tangan Saga yang tadinya masih menempel pada dahinya. Bukan pusing gegara sakit, Mas. Tapi pusing karena mikirin solusi buat bujuk adik kamu."
"Enggak usah dipikirin," balas Saga santai.
Ayana berdecak kesal. "Enak banget kamu ngomongnya."
Ayana benar-benar merasa sangat kesal saat Saga bilang 'enggak usah dipikirin'. Ingin sekali rasanya ia menjambak rambut seseorang untuk melampiaskan emosinya. Lebih bagus lagi kalau yang ia jambak adalah Saga sendiri.
"Daripada bikin pusing," balas Saga tidak mau kalah.
Sekali lagi Ayana kembali berdecak. Pandangannya kemudian beralih pada Agus, supir pribadi Saga yang kini tengah fokus memperhatikan jalanan ibukota. Kebetulan mereka baru selesai dinas dan bisa pulang bersama.
Baiklah kesabaran Ayana memang sedang diuji. Jadi ia harus lebih bersabar dalam menghadapi sang calon suami. Mau bagaimanapun, mereka akan menikah, meski baik dirinya atau Saga sama-sama belum tahu kapan menikahnya. Ya, boro-boro menikah, dilamar saja belum.
Bagi Ayana, ajakan nikah Saga waktu di UGD klinik deket komplek bukanlah sebuah lamaran.
Ayana menghela napas panjang. "Kamu bisa nggak sih, Mas, bantuin kasih solusi gitu bukannya malah nyuruh nggak usah dipikirin mulu. Bosen. Dan itu sama sekali nggak membantu loh, Mas."
Saga menatap Ayana sebentar lalu menggeleng. "Enggak tahu."
Ayana berdecak kesal. "Ya, kalau nggak bisa kasih ide atau solusi, mending diem daripada komentar begitu terus. Kesel aku tuh."
"Iya, maaf."
"Gini deh, aku ada ide, Jaka itu sukanya apa sih, Mas?"
"Uang."
"Mas! Serius dikit lah. Iya, tahu semua suka uang, cuma ya, masa iya aku kasih uang. Dari mana? Uang dia pasti lebih banyak ketimbang uang aku." Ayana berdecak kesal saat mendengar jawaban Saga, ia langsung memukul pria itu. Beruntung mereka punya supir, jadi semisal mau berantem pun, aman, "yang lain. Kayak semacam hobi dia apa gitu? Barang-barang kesukaan dia apa. Kira-kira bisa nggak aku--"
__ADS_1
"Dia suka otomotif," potong Saga, "dan barang branded."
Ayana langsung merengut. "Selain itu, Mas? Ya kali aku harus beliin adik kamu barang branded? Aku aja biasa ngandelin diskonan di online shop," gerutunya kemudian.
Saga berpikir serius. "Gundam?"
"Hah? Gundam? Itu apa, Mas?" Ayana garuk-garuk kepala bingung, merasa asing dengan kosa kata barusan Saga sebutkan, "soalnya aku tahunya gandum, Mas, bukan apa tadi Gundam?"
"Kamu nggak tahu?" Bukannya langsung menjawab, Saga malah balik bertanya.
Ayana langsung menggeleng cepat sebagai tanda jawaban.
"Coba cek di google."
Cepat-cepat Ayana merogoh tasnya, mencari ponsel pintarnya. Setelah ketemu ia langsung membuka aplikasi Google. Mengetik kosakata yang Saga sebutkan tadi lalu menunjukkan pada pria itu sekali lagi untuk mengkonfirmasi.
"Begini tulisannya?"
Saga hanya mengangguk sebagai tanda jawabannya.
Saga kembali mengangguk. "Dia kolektor sejak kecil."
Ayana meringis ngeri. "Mahal ya, Mas, beginian tuh?"
Lagi-lagi Saga kembali mengangguk. "Lumayan. Macem-macem harganya. Dulu aku pernah beliin. Kamu mau beliin?"
Ayana langsung menggeleng cepat. Jiwa miskinnya meronta-ronta. "Ya, kalau mahal mana aku mampu, Mas. Kamu ini ngaco banget sih. Aku kan miskin, nggak kayak kamu."
Saga mengangguk paham. "Koleksi dia udah banyak."
Ayana merengut sedih. "Terus gimana dong? Aku kehabisan akal, Mas. Dia suka kue-kue gitu nggak, Mas? Kalau aku bikinin dia sesuatu kira-kira bakalan dimaafin nggak, ya?"
"Coba aja. Dia omnivora."
"Astaga, masa iya, adeknya sendiri disebut Omnivora," gerutu Ayana sambil berdecak tidak percaya.
__ADS_1
"Tapi dia memang apa aja dimakan," balas Saga serius.
"Oke deh, terserah. Berarti kalau gitu aku bikinin dia sesuatu aja ya, Mas? Nanti kamu bantuin aku atur waktu biar aku bisa ketemu dia. Oke?"
Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Saga langsung mengangguk seraya mengacungkan jempol. Akhirnya, Ayana bisa sedikit bernapas lega.
***
Akhirnya, setelah mendapat masukan dari Saga. Ayana memutuskan untuk membuat cup cake. Kata pria itu, Jaka sangat menyukai cup cake sejak kecil. Kebetulan bahan di rumahnya bisa ia gunakan untuk membuatnya, jadi begitu selesai mandi dan makan malam, Ayana langsung mengeksekusinya. Ia tidak memperdulikan rasa lelah, letih, dan mata mengantuknya.
Kalau sudah bertekad, Ayana memang akan sangat semangat sampai lupa waktu. Tapi kalau saat ia bilang malas, jangan ditanya. Untuk sekedar menggerakkan badan atau turun dari kasur saja mungkin ia tidak akan sudi. Memang begitulah Ayana.
"Kesurupan setan mana lagi kamu malam-malam mau bikin kue? Atau mau ambil kerja sampingan buat biaya nikah? Hei, jangan sedih, ingat siapa orang tua dan juga calon mertua kamu. Nggak usah pusing, tinggal sebut pengen yang kayak gimana? Maunya di Indo atau luar negeri aja? Biar kami yang atur."
Ayana berdecak kesal. Ia merasa terganggu dengan keberadaan sang Mama.
"Mama, Yana lagi sibuk ini, bisa nggak sih nggak usah diganggu?"
"Oh, jadi keberadaan Mama ganggu nih?"
"Iya."
Kartika menatap putrinya sinis lalu beranjak pergi. "Nggak usah tidur malem-malem! Terus kalau ini semua udah selesai, diberesin, jangan langsung tidur gitu aja! Awas aja kalau besok Mama bangun dan dapur masih, Mama usir kamu dari rumah. Beneran," ancamnya terdengar tidak main-main.
Ayana hanya mengangguk seraya mengiyakan berulang kali. Setelah itu ia fokus kembali membuat adonan. Hasil cup cakes nya harus memuaskan. Ia tidak boleh melakukan kesalahan.
Cup cake buatannya berhasil ia selesaikan sekitar pukul dua belas malam. Sebenarnya Ayana sudah sangat mengantuk. Namun, ia tidak boleh langsung tidur karena harus membereskan dapur dan mencuci perabotan yang ia kotori. Kalau ia langsung tidur, bisa-bisa Mama-nya besok marah-marah, atau mungkin bisa jadi mengamuk dan benar-benar akan mengusirnya. Setelah semua beres baru lah, ia bisa tidur dengan tenang.
Lalu saat pagi hari tiba, Ayana langsung memutuskan menemui Jaka di kantor. Atas bantuan Saga tentu saja, ia bisa menemui pria itu lebih mudah. Jantungnya berdebar kencang, ia merasa gelisah bukan main. Mendadak ia seperti ingin kabur. Tapi tidak boleh, ia harus berani. Ia harus menemui Jaka dan membujuk pria itu agar memaafkan kesalahannya yang dulu. Ayana benar-benar merasa tidak ingin menikah tanpa restu. Ia ingin mendapatkan restu dari semua orang. Harus. Bagaimanapun caranya.
Setelah menunggu hampir lebih dari tiga puluh menit, akhirnya Ayana bisa bertemu dengan Jaka. Hatinya senang bukan main.
Ayana langsung bangkit berdiri dan berjalan tergesa-gesa mengikuti sang resepsionis. Kebetulan tadi saat menunggu di lobi, bukan di ruangan pria itu. Karena terlalu terburu-buru, Ayana si gadis ceroboh sampai tidak terlalu memperhatikan langkah kakinya. Akibatnya ia tersandung kakinya sendiri. Beruntung ia tidak terjatuh, karena ada pria yang membantunya.
"Ter...ima kasih." Kedua bola mata Ayana membulat sempurna, ia terkejut bukan main saat mengetahui siapa pria itu.
__ADS_1
"No problem. Tapi lain kali hati-hati, ya, Na. Aku duluan."