Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story Part 1


__ADS_3

Malvin tidak bisa menahan decakannya saat mengetahui siapa orang yang mencarinya. Sempat berharap kalau orang itu adalah Yasmin, meski hati kecilnya sudah mengatakan kalau itu tidak mungkin, tapi sisi lain dalam dirinya masih berharap kalau Yasmin akan datang dan menemuinya.


Sekarang dirinya bertambah kecewa saat mengetahui bahwa orang yang mencarinya adalah Papa-nya sendiri.


"Ngapain sih ke sini nggak kasih kabar dulu? Bisa kali nelfon," gerutu Malvin sambil menahan kesal, "jaman juga sudah canggih," sambungnya kemudian.


Sang Papa langsung mendengus samar. "Memangnya kalau Papa nelfon dulu kamu mau langsung nemui Papa? Enggak kan? Paling juga kamu bakalan nyari-nyari alasan terus buat menghindar."


Malvin tidak membantah karena apa yang dikatakan sang Papa adalah sebuah kebenaran. Kalau sang Papa mengajak bertemu, ia pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghindarinya. Apapun akan ia lakukan demi agar tidak bertemu dengan sang Papa.


Sambil menghela napas, Malvin memasukkan kedua tangannya pada saku jas putihnya lalu melirik sang Papa dengan tatapan ragu.


"Jadi ada apa gerangan nih, seorang dokter spesialis obgyn terbaik se-Jakarta pusat datang menemui dokter residen obgyn yang karirnya biasa-biasa aja?"


Papa Malvin mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Mungkin karena nama belakang kita sama."


Malvin langsung berdecak kesal. Ia paling membenci fakta bahwa mereka memiliki nama belakang yang sama. Ia mungkin tidak akan sekesal itu jika ia memiliki tiga suku kata untuk namanya, tapi masalahnya namanya hanya memiliki dua suku kata. Alhasil yang membedakan nama dirinya dan sang Papa hanya nama panggilan mereka saja. Malvin Prawicaksana dan Damar Pramicaksana.


"Yuk, traktir Papa kopi!"


Malvin langsung menyipitkan kedua matanya, sambil menyingkirkan tangan sang Papa yang tadinya sempat merangkul pundaknya.


"Enggak kebalik?" tanya Malvin, "harusnya yang tua traktir yang muda, yang senior traktir junior. Bukannya sebaliknya begini," gerutunya kemudian.


"Astaga ya ampun, perhitungan banget sama Papa-nya sendiri?" tanya Damar dengan ekspresi tidak percayanya.


"Uang Papa banyak, ngapain minta traktir anaknya yang miskin?"


"Kamu miskin?" sindir sang Papa, "nurut orang tua makanya biar nggak miskin."


Malvin mendengus tidak percaya. "Emang masih kurang ya, Pa? Apa yang Malvin lakuin selama ini masih kurang?"


Dengan wajah tidak bersalahnya, sang Papa mengangguk untuk mengiyakan. "Sifat manusia bukannya masih selalu kurang meski sudah diberi kecukupan? Kamu sudah dapat fasilitas bagus begini masih merasa miskin juga, berarti memang masih merasa kurang juga kan?"


Dalam hati Malvin langsung mengumpat samar. Ia kesal. Kesal karena tidak bisa mengelak dengan ucapan sang Papa yang benar adanya.

__ADS_1


"Ya udah, ayo!" ajak Malvin kemudian.


Wajahnya terlihat sedikit terpaksa. Lain halnya dengan sang Papa yang justru terlihat puas. Keduanya kemudian berjalan dengan Malvin yang memimpin sedangkan Damar hanya mengekor di belakang sang putra.


"Mau ke mana?" tanya Damar heran.


Pasalnya sekarang keduanya sudah keluar dari gedung rumah sakit. Padahal di dalam gedung ada coffe shop, lalu kenapa sang putra tidak mentraktirnya di sana saja daripada harus keluar?


"Katanya minta ditraktir kopi?"


Kali ini Damar mengangguk paham. Kemudian membatin, 'Oh, mungkin dekat rumah sakit ada coffe shop yang lebih enak kopinya. Makanya sang putra mengajaknya ke sana ketimbang hanya mentraktirnya di coffe shop yang ada di rumah sakit.


Damar merasa terharu sesaat, ternyata putranya seperhatian ini terhadap dirinya.


"Pa, kenapa diam saja? Ayo, masuk!" ajak Malvin, "jadi minta ditraktir enggak sih?" decaknya kemudian.


Damar masih memasang wajah bingungnya. Mendengar pertanyaan sang putra, ia langsung menampilkan wajah tidak percayanya.


"Dari sekian banyak tempat, harus banget kamu ngajak Papa minum kopi di sini?" decak Damar sedikit emosi.


"Kenapa?" Malvin balik bertanya, "jangan salah, Pa, kopi di sini nggak kalah enak sama kopi yang ada di Starbuck. Selain enak, nilai tambah dari kopi ini udah jelas murah. Masih bisa sama makan gorengan plus ngutang. Kalau udah paket komplit begini, ngapain repot-repot beli minum di tempat mahal?"


Damar menatap sang putra dengan ekspresi tidak percayanya. "Kamu beneran miskin ya, Vin?"


Malvin terkekeh geli saat mendapati wajah shock sang Papa. "Ya, namanya masih dokter residen, ya masih miskin lah, Pa," balasnya langsung masuk ke dalam warung kopi sederhana yang letaknya dekat rumah sakit.


Damar menghela napas. "Tahu begini harusnya dulu Papa suruh kamu kuliah bisnis manajemen aja buat S2-nya."


Malvin mengangkat kedua bahunya cuek. "Ya kan mana aku tahu, salah sendiri dulu aku disuruhnya ambil spesialis."


"Gara-gara penjualnya ya?" tanya Damar tiba-tiba, saat keduanya sudah masuk ke dalam.


Malvin menoleh ke arah sang Papa lalu beralih ke arah gadis cantik yang tengah melayani pembeli lain. Ia kemudian terkekeh samar tak lama setelahnya, kedua bahunya terangkat secara bersamaan. Membiarkan sang Papa berspekulasi sesuka hati. Padahal gadis itu hanya anak dari pemilik warung itu, yang kebetulan sedang menggantikan orang tuanya berjualan, karena Bapaknya sedang sakit. Tapi Malvin akui jika gadis itu memang cantik sih.


Damar kemudian duduk di kursi yang kosong. Malvin ikut duduk setelah memesan minuman untuk mereka.

__ADS_1


"Kelar spesialis mau ambil bisnis management nggak?"


Malvin langsung menatap sang Papa dengan tatapan mata sinis. Hal ini membuat Damar langsung terkekeh.


"Papa cuma nanya, nggak nyuruh, Vin. Matanya biasa aja. Setelah kamu besar, Papa rasa Papa lebih takut sama kamu deh ketimbang sama Mama-mu."


"Lucu banget. Mana ada Papa takut sama aku? Kalau Papa takut, Papa bakalan biarin aku ngelakuin apa yang aku suka. Dan bukannya maksa-maksa begini."


Damar menaikkan sebelah alisnya heran. "Siapa yang maksa? Emang Papa maksa kamu ngapain?" tanyanya tidak habis pikir.


Malvin mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Masuk kedokteran dan ambil spesialis. Papa pikir itu atas kemauan Malvin?"


Damar kemudian balik bertanya, "Terus kemauan siapa? Seingat Papa, Papa nggak pernah tuh maksa kamu buat ambil kedokteran apalagi ambil spesialis. Papa cuma mengarahkan, nggak pernah mengharuskan. Kenapa sekarang nyalahin Papa?" balasnya tidak terima, "orang dari awal kamu nggak menunjukkan tanda penolakan kok. Kamu menikmati, kenapa sok nyalahin Papa?"


Malvin mendengus. Ia ingin membalas tapi terpaksa urung karena pesanan minumannya sudah datang.


"Tujuan Papa datang menemui Malvin apa?"


Damar hampir lupa. "Oh iya, Papa ke sini karena meminta kejelasan hubungan kamu sama perempuan yang katanya pernah kamu ajak ke rumah itu. Gimana? Jadi kapan kita bisa ke rumah calon menantu Papa?"


Ekspresi Malvin berubah masam. Ia meletakkan gelas berisi kopi hitamnya yang tidak jadi ia minum. Moodnya seketika melayang. Ia paling benci momen ini. Ia benar-benar sedang menghindari topik ini. Dan sekarang ia harus membahasnya dengan sang Papa, tentu saja ia bertambah malas.


"Berantem?" tebak Damar.


Malvin masih diam.


"Ya sudah, kalau masih berantem. Papa nggak akan maksa, kalian bisa obrolin dulu baik-baik sebelum memutuskan ke jenjang yang lebih serius. Kabari saja nanti kalau udah siap ngelamar."


Damar kemudian menyesap segelas kopi hitamnya lalu memperhatikan ke sekelilingnya. Tiba-tiba dirinya bernostalgia semasa koas dan residennya yang suka nongkrong di warung kopi sejenis ini. Kalau sekarang boro-boro, bisa makan bersama dengan sang istri tercinta seminggu sekali saja sudah termasuk prestasi yang luar biasa.


"Kayaknya harapan Malvin buat nikah sama Yasmin udah nol besar, Pa," gumam Malvin dengan suara pelan.


Damar yang duduk tepat di sebelahnya tentu saja mampu mendengarnya dengan cukup jelas. Ia bahkan sampai tersedak karena kaget.


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2