
"Akhirnya bisa ketemu juga sama ibu dokter yang cantik ini." Aska langsung berdiri saat menyambut kedatangan Ayana. Dengan gentleman, pria itu langsung menarik kursi dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk, "gimana kabarnya? Kejebak macet nggak tadi?"
Satu nilai plus dari Aska. Selain memiliki wajah yang rupawan dan ramah, pria itu benar-benar memiliki good manner yang membuat wanita langsung klepek-klepek dalam hitungan detik. Jadi jangan salahkan siapa pun, kalau dalam beberapa menit ke depan dan seterusnya, Ayana jatuh cinta dengan pria ini dengan mudahnya.
Kebetulan mereka sudah sering bertukar pesan cukup intens selama beberapa minggu terakhir sebelum bertemu hari ini. Ada banyak hal yang sudah mereka bahas, sehingga mereka sedikit banyak mengetahui tentang satu sama lain. Termasuk pekerjaan, hobi, makanan favorit, atau bahkan makanan yang paling tidak mereka sukai masing-masing.
Aska sendiri ternyata seorang arsitek, pria itu bekerja untuk perusahaan kontruksi yang namanya sudah cukup terkenal. Buktinya ia tahu perusahaan itu, karena jujur Ayana kurang paham tentang perusahaan kontruksi, jadi kalau dirinya sampai tahu, itu artinya perusahaannya cukup terkenal. Begitulah menurut Ayana.
Pria itu anak kedua dari 4 bersaudara. Aska memiliki adik kembar indentik yang masih duduk di bangku SMA dan Kakak perempuannya yang kini sudah berkeluarga. Bisa dibilang Aska satu-satunya anak laki-laki di dalam keluarganya, mungkin ini lah yang membuat pria itu ahli dalam menghandle perempuan, karena Aska sudah terlalu sering melakukan itu di rumah. Mungkin. Toh, itu hanya tebakan Ayana saja.
Ayana mengangguk. "Thank you." Ia tersenyum manis lalu duduk di sana, "lumayan, cuma nggak sampai yang parah banget sih. Masih bisa dimaklumi karena udah terlalu terbiasa. Lo udah lama?"
Aska menggelengkan kepala sambil memamerkan senyum terbaiknya. "Enggak, baru nyampe juga kok," ucapnya lalu kembali duduk di kursinya.
"Udah pesen belum lo?" tanya Ayana.
Aska menggeleng. "Belum dong, kan nungguin lo."
"Ya ampun, kenapa pake nunggu segala sih?" Ayana berdecak lalu memanggil pelayan, "Mbak! Minta menunya dong!"
"Ya, harus dong, kan yang traktir lo," gurau Aska kemudian.
Ayana terkekeh, lalu menyipitkan kedua matanya tidak setuju. "Kan gue cuma traktir kopi, kalau mau makan sekalian berarti lo harus bayar sendiri lah, jadi harusnya nggak usah nungguin gue. Gitu nggak sih seharunya konsepnya?"
"Loh, kok gitu sih? Kan gue udah nungguin traktiran ini sampai berminggu-minggu lamanya, masa cuma kopi doang traktirannya?" protes Aska seolah tidak terima, "harus plus makan dong?" Kedua alisnya ia mainkan naik turun.
Ayana pura-pura berdecak dengan wajah seolah tidak setuju. Namun, tak lama kemudian dengan wajah sok terpaksa, perempuan itu mengangguk setuju. "Ya udah, oke, tapi nggak boleh yang mahal-mahal ya?" ucapnya sambil menerima buku menu yang disodorkan sang pelayan.
"Siap ibu dokter."
Setelah selesai memesan, mereka kembali melanjutkan obrolan mereka.
__ADS_1
"Janji, habis ini gue yang traktir. Dan sebagai bonus boleh lo yang milih, di tempat yang mahal juga gue nggak masalah. Deal?"
Dengan penuh rasa percaya diri, Aska menyodorkan telapak tangannya. Mengajak perempuan di hadapannya ini berjabat tangan.
Tahu, ini hanya akal-akalan Aska. Ayana tidak dapat menahan diri untuk tidak mendengus.
"Oh, ini trik lo biar bisa makan lagi bareng gue, ya?" tuduh Ayana dengan nada bergurau.
Masih dengan senyum percaya dirinya, Aska mengangguk yakin. Tangannya masih terulur ke arah Ayana, menunggu perempuan itu membalas jabat tangannya. Membuat Ayana tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk dan mengiyakan. Gadis itu terlalu lemah kalau dikasih senyum semanis itu, jadi susah buat nolak.
"Ya udah, oke, deal."
Tak ingin menyembunyikan kegembiraannya, Aska langsung bersorak sambil mengacungkan kepalan tangan ke udara.
Ayana yang melihat itu sontak langsung terbahak. Merasa konyol dengan sikap pria yang duduk di hadapannya ini.
"Btw, Na, ini gue ngajak lo makan berdua ke sini nggak papa kan?"
Kening Ayana mengkerut heran. "Kenapa-napa gimana maksudnya?"
Ayana terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Apaan sih, Ka? Enggak lah. Enggak bakalan ada yang gituin lo kok, tenang aja. Gue belum punya calon suami. Santai."
Dalam hati Ayana membatin. Saga bukan calon suaminya kan? Toh, hubungan mereka belum jelas.
"Serius belum ada?" Raut wajah Aska terlihat tidak percaya, "kalau gue daftar boleh? Kebetulan nyokap gue juga lagi nyari calon mantu, kali aja lo minat."
"Kriteria nyokap lo gimana dulu nih? Ntar kira-kira gue bisa masuk apa enggak? Gue sih ogah ya, kalau udah capek-cepak daftar tahunya nggak lolos seleksi."
Dengan wajah jumawanya Aska menepuk dada. "Tenang aja, kalau ada orang dalem pasti lolos." Ia kemudian mengacungkan kedua jempolnya, "beres. Aman pokoknya. Asal uang pelicinnya lancar," guraunya kemudian.
Spontan Ayana terbahak. "Oh, jadi lo masuk ke perusahaan tempat lo kerja lewat jalur orang dalem? Pantesan ya lo bisa masuk?" sindirnya dengan nada bercanda, "soalnya gue denger dari temen gue buat masuk ke sana tuh susah gitu. Apalagi untuk jadi arsitek tetap."
__ADS_1
Wajah Aska langsung merah padam. Entah malu karena ketahuan, atau malu karena ia telah salah memilih jokes-nya sendiri. Yang jelas ekspresi pria itu terlihat menyesali ucapannya sendiri.
Sambil memijit pelipisnya sendiri, Aska mengaduh. "Aduh, kok jadi gue yang kena, ya."
Tak berapa lama pesanan mereka akhirnya datang. Obrolan mereka terjeda selama beberapa saat untuk mengisi amunisi. Setelah selesai, baru lah mereka melanjutkan obrolan mereka kembali.
Aska suka mengobrol, tapi saat makan pria itu memilih untuk tidak banyak mengobrol dan lebih banyak diam. Kebiasaan ini sudah diterapkan dalam keluarganya sejak kecil, jadi ia sudah terlalu terbiasa dengan itu. Biasanya kalau sedang makan dengan orang baru, ia lebih sering menjawab dengan seadanya. Tersenyum, menggeleng, dan mengangguk.
"Alhamdulillah, akhirnya kenyang. Berasa beda banget ya kalau makan bayar sendiri sama dibayarin itu." Aska mendesah lega sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit karena kekenyangan, "berasa kayak lebih fresh, lebih plong, lebih enteng gitu. Pokoknya jadi keterusan deh sampai sekarang," sambungnya menirukan gaya iklan yang ada di televisi itu.
Mendengar candaan Aska, Ayana langsung terbahak sambil memegangi perutnya, yang mendadak kram karena menertawakan guyon Aska barusan. Pria itu memang paling bisa ya. Selera humornya benar-benar susah untuk Ayana tebak.
"Ya ampun, Ka, lo korban iklan banget sih? Aduh, sampe sakit perut gue karena ketawa."
"Eh, tapi bener loh, Na, coba deh besok gue yang traktir, tapi tempat gue yang nentuin. Yang tempatnya sesuai yang lo mau, ntar nunggu gue abis gajian. Lo buktiin betapa fresh dan plong-nya otak lo nanti nggak perlu pikirin bayar. Enak banget, dan yang pasti lo bakal ketagihan."
"Iya, iya, gue percaya. Tapi nggak usah modusin gue juga bisa lah?"
Aska sok memasang wajah seriusnya. "Enggak bisa, ini karena emang bagian dari trik gue untuk menarik minat lo, biar lo nantinya daftar jadi menantu nyokap gue."
"Iya, deh, Ka, iya. Sebahagia lo aja maunya gimana."
"Bener ya?" tanya Aska mencoba memastikan. Ekspresinya terlihat tidak bisa Ayana tebak. Ragu-ragu gadis itu mengangguk.
"Iya. Terserah lo."
Aska menjentikan jarinya. "Yes! Besok gue ada meeting deket RS lo dinas, maksi bareng ya?"
Ayana tertawa, setengah mendengus tidak percaya. "Ya oke, atur aja deh!"
"Gue yang traktir."
__ADS_1
"Iya. Ditraktir masa iya gue tolak? Enggak boleh kan nolak rezeki itu?"
Aska langsung mengacungkan jempolnya. "Cakep," pujinya kemudian.