
***
Malvin terlihat antusias menunggu kedatangan Olivia, beberapa kali saat pintu kamar inapnya terbuka dan bukan sang kekasih yang muncul di sana, ekspresinya langsung berubah kecewa. Hal ini membuat beberapa rekan kerjanya yang menyempatkan diri untuk menjenguk nampak sedikit tersinggung dengan reaksi pria itu. Ia bahkan sampai harus meminta maaf beberapa kali ini. Maklum ia dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja, jadi rekan-rekannya tentu saja ingin menjenguk pria itu.
Baru setelah ia sudah tidak terlalu semangat, Olivia datang. Tak disambut hangat, ia tampak kecewa. Bahkan Malvin memilih sibuk dengan ponselnya ketimbang menyambut kedatangnnya.
“Aku pulang aja gimana, Mas?” sindir Olivia dengan nada kesalnya.
Mendengar panggilan Mas, baru lah Malvin mengalihkan pandangannya dari ponselnya. “Eh, kok udah dateng nggak bilang?” ia langsung meletakkan ponselnya dan beralih menatap Olivia dengan wajah shocknya.
Bagaimana tidak shock, kala melihat bawaan gadis itu yang terlihat seperti orang mau pindahan. Tanpa sadar ia tertawa tak lama setelahnya.
“Diusir dari kost kamu?”
Olivia langsung terbahak saat sedang meletakkan dua tas besarnya.
“Itu apa aja isinya, Liv?”
“Yang ini isinya baju ganti,” ucap Olivia sambil mengangkat tas satunya, “terus yang ini isinya laptop sama beberapa naskah yang perlu aku seleksi.”
Malvin manggut-manggut paham. “Penerbit kamu lagi ngadain event apa gimana?”
“Enggak, bukan seleksi naskah dari event kok. Emang naskah yang masuk ke penerbit aja, kan nggak semua penulis bisa nerbitin buku lewat event doang, bisa kirim langsung ke penerbit ini.”
Malvin memanyunkan bibirnya, terlihat sedikit kesal. “Berarti kamu bakalan lembur dong?”
Olivia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Emang kamu pikir aku ke sini mau main? Aku mau kerja sambil nemenin kamu karena kamu nggak ada yang nemenin.”
Kali ini Malvin manggut-manggut setuju. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar adanya, tapi di sisi lain ia merasa sedikit tidak rela karena harus ditinggal lembur. Entah kenapa itu terasa menyebalkan baginya.
“Apa aku pulang aja?”
“Jangan dong, masa kamu mau pulang, kalau kamu pulang aku sama siapa? Kamu tahu nggak sih tiap aku butuh sesuatu aku harus panggil perawat. Yana nggak mungkin di sini, meski dia nggak lagi praktek tetep aja kan dia punya anak yang harus ia urus. Nyokap gue jelas lebih milih ngerawat anak orang ketimbang anaknya sendiri.”
Olivia meringis. Merasa prihatin dengan pria ini. Nasib Malvin sangat jauh berbeda dengannya, biasanya kalau ia hanya demam saja sang ibu akan merelakan jam mengajarnya demi menemaninya yang sakit.
Tapi Malvin?
Pria itu bahkan baru mengalami kecelakaan cukup serius dan bahkan sampai harus menjalani operasi. Tapi sang Mama masih saja rela meninggalkan pria itu, sesaat gadis itu merasa prihatin dengan pria itu. Memang benar ya, menjadi kaya itu tidak selamanya enaknya.
__ADS_1
Sambil menghela napas Olivia kemudian berjalan mendekati pria itu. “Sekarang Mas Malvin udah butuh bantuan apa belum?”
“Kenapa?” Malvin balik bertanya dengan wajah herannya.
“Ya kalau belum butuh bantuan aku mau kerja dulu. Soalnya aku dari kemarin belum liat kerjaan.”
“Ya udah kamu kerja aja. Aku liatin dari sini kalau gitu.”
Olivia mengangguk paham lalu kembali berjalan menuju sofa lalu membongkar tasnya. “Ngomong-ngomong Mas Malvin udah sarapan dulu tadi?”
Malvin mengangguk untuk mengiyakan. Pria itu terlihat seperti orang yang sedang mengantuk.
“Kalau ngantuk tidur aja nggak papa kali, Mas, obatnya bikin ngantuk, ya?”
Kali ini Malvin menggeleng saat menjawab pertanyaan gadis itu. “Cuma agak pusing dikit.”
“Mau aku panggilin dokter?” tawar Olivia. Perempuan langsung berdiri dan menghampiri pria itu raut wajah khawatir terlihat jelas pada wajahnya.
Kali ini Malvin tersenyum lalu terkekeh geli. “Kamu khawatir ya?”
Wajah Olivia kali ini berubah datar. “Mas, jangan bercanda dong. Aku beneran khawatir tahu.”
Malvin terbahak puas. “Hehe, iya, iya, maaf. Iya aku ngantuk, biasanya juga aku kalau jam segini abis minum obat langsung ngantuk terus tidur. Kalau siang sih enggak biasanya.”
“Eh, ada yang nungguin ternyata.”
Olivia yang tadinya fokus dengan pekerjaanya disambi makan bekal yang ia bawa sedikit terkejut saat menyadari kalau Malvin mendapat tamu. Dengan sedikit panik, ia cepat-cepat mengunyah makanan yang ada di mulutnya lalu menelannya dengan sedikit susah payah, karena gadis itu belum mengunyah dengan benar.
"Eh, santai aja, dikunyah aja dulu pelan-pelan,” ucap perempuan paruh baya itu, “aduh, cantik banget sih, pacar barunya Malvin ya?”
Olivia terlihat sedikit bingung. Otaknya berpikir keras, mengkira-kira siapa wanita ini. Sepertinya kalau Mama Malvin tidak mungkin, kan kalau Mama-nya, ia pernah bertemu. Lalu siapa wanita paruh baya ini? batinnya bertanya-tanya.
“Udah pernah ketemu Yana belum? Ayana?”
Olivia mengangguk cepat untuk mengiyakan.
“Nah, saya ini Mama Ayana, biasa dipanggil Mami sama Malvin.”
“Oh,” respon Olivia spontan. Cepat-cepat ia membersihkan kedua telapak tangannya sebelum mengajak Kartika berjabat , tangan, “maaf, Tante, saya nggak tahu. Saya Olivia, biasa dipannggil Olive.” Dan mencium punggung tangan Kartika.
Kartika merasa senang dengan sikap gadis itu. “Ngerjain tugas kampus?”
__ADS_1
“Hah?” respon Olivia dengan wajah bingungnya, “maksudnya gimana, Tante?”
“Ini kamu lagi ngerjain tugas kampus kan?”
Olivia tertawa sambil menggeleng cepat. “Saya udah lulus kok, Tante.”
Kartika tertawa samar. “Oh, Tante kira kamu masih kuliah gitu, lagi sibuk ngerjain tesis atau tugas kampus kamu.”
Kali ini Olivia meringis malu. Ya tidak mungkin sih kalau sampai Mama Yana berpikir ia masih kuliah S1, sudah jelas kalau dirinya akan dikira S2. Sedikit mengenaskan juga ya.
“Terus ini kamu lagi kerja? Kok sambil jagain Malvin? Kan kamu bukan istrinya. Ngapain kamu sampai tungguin begini sementara orangnya aja sibuk tidur?’
Sambil meringis Olivia menggeleng tidak masalah. Ia bahkan sudah siap kalau seandainya nanti dirinya akan dikatai bucin atau apapun itu. ia sudah siap. ia juga tidak akan protes apalagi mengelak. Terserah sih orang mau bilang apa, yang jelas ia melakukan ini karena satu alasan, yaitu peduli dengan Malvin. Ia tidak tega membiarkan orang sakit tanpa ada yang mendampingi, apalagi kondisi Malvin yang mengalami cidera bahu membuat pria itu sedikit kesulitan saat hendak bangun. Mana tega dirinya meninggalkan pria itu sendiri, ya meski sudah ada perawat yang disewa orang tuanya.
“Hehe, iya, Tante.”
“Ya ampun baik banget sih. Jadi menantu saya ya? Tenang aja Malvin anaknya baik kok, Mami jamin kamu nggak bakalan nyesel kalau nikah sama Malvin.”
Lagi-lagi respon Olivia hanya mampu meringis tanpa tahu harus membalas apa.
“Duh, nggak papa deh mulai sekarang kami bisa manggil Tante sama kayak Malvin, Mami. Mau ya?”
Kali ini ekspresi Olivia terlihat tidak begitu yakin dan salah tingkah. Ia tidak berani bereaksi lebih karena takut kalau ia salah bereaksi. Ia kemudian menoleh ke arah Malvin yang terlihat masih terlelap nyenyak di atas ranjang.
“Belum lama ya itu anak tidurnya?” tanya Kartika ikut menoleh ke arah Malvin.
“Udah lumayan lama sih, Tan—“
“Mami,” koreksi Kartika, “Malvin juga panggil Mami kok, jadi kamu juga boleh panggil begitu. Bahkan disarankan buat manggil begitu juga, Mami maksa.”
Sambil meringis canggung,Olivia hanya mengangguk seadanya.
“Duh, mami sedih banget deh pas tahu kalau dia habis kecelakaan apalagi sampai harus dioperasi. Soalnya Malvin udah saya anggap kayak anak sendiri meski saya udah punya anak laki sendiri. Tapi memang Mami udah nganggep Malvin kayak anak sendiri.” Kartika menoleh ke arah Olivia, “jadi nanti kalau kalian jadi menikah. Berarti boleh kan kalau Mami nganggep kayak anak sendiri?”
“Boleh kok, Ta... Mi, maksudnya,” ralat Olivia cepat.
Kartika puas dengan jawaban Olivia. Ia senang bukan main karena orang yang sudah ia anggap seperti putra sendiri menemukan orang yang tepat.
Tbc,
__ADS_1