Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Mengobrol


__ADS_3

"Bang, pelan-pelan! Sakit," rengek Ayana karena Tama menarik tangannya secara paksa.


Namun, Tama seolah tidak peduli. Ia terus menarik tangan gadis itu hingga kini keduanya sampai di ruang tamu Saga. Pria itu sedikit kaget dengan kedatangan dua bersaudara yang tiba-tiba itu. Ia langsung menutup bukunya dan meletakkannya di atas meja. Kakinya yang tadi menyilang kini ia turunkan.


"Ada apa?" tanya Saga heran. Karena kalau ia perhatikan ekspresi keduanya terlihat sama-sama tidak bersahabat.


"Calon istri lo bego," ucap Tama tanpa beban sambil menunjuk Ayana secara terang-terangan.


"Bang!" protes Ayana tidak terima.


"Apa?" balas Tama tak mau kalah.


Saga masih dalam mode kalemnya. Hanya memperhatikan kedua bersaudara ini sedang asik saling memelototi satu sama lain.


Sampai akhirnya Tama tidak tahan. "Tahu lah, cabut aja gue. Lo urusin calon bini lo. Gue pamit."


"Bang," rengek Ayana, "gue ikut."


"Enggak! Lo tetep di sini, ngobrol sama Saga. Obrolin semuanya. Nih, gue kasih tahu ya pernikahan itu tentang mengobrol. Ngerti nggak lo, pokoknya kalau ada apa-apa ya diobrolin, ada masalah diobrolin, mau ngambil keputusan diobrolin, kalau kalian nggak bisa, ngobrolin semuanya atau menurut satu sama lain nggak bisa diajak ngobrol, kata gue mending mundur. Paham?"


Saga langsung mengangguk cepat. Lain halnya dengan Ayana yang hanya memasang wajah cemberut sambil berusaha menghindari tatapan mata dari Saga.


"Ya udah, gue cabut dulu. Selesaiin secepat mungkin, soalnya nyokap udah dapet dekor buat acara lamaran kalian."


"Hah?! Apa lo bilang, Bang?" tanya Ayana kaget. Pasalnya ia tidak tahu-menahu perihal ini. Seingatnya juga kalau tidak salah, dulu Kartika pernah bilang malas mengurus beginian. Tapi kenapa sekarang mendadak semangat nyari dekor cuma buat acara lamaran?


Dengan wajah cueknya Tama mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. Tanpa perlu menjawab pria itu langsung pergi begitu saja.


Lalu sekarang tinggal Ayana dan juga Saga. Jantung Ayana mendadak berisik, ia takut dengan tatapan datar pria itu saat ini. Sebenarnya kalau boleh jujur tidak terlalu mengintimidasi memang, tapi tetap saja ia ketakutan.


"Duduk!" ucap Saga sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Ragu-ragu Ayana mendekat ke arah sofa. Namun, perempuan itu memilih duduk di sofa single ketimbang sofa panjang, sesuai instruksi pria itu.


Saga menghela napas. "Aku salah apa?" tanyanya pasrah.


Ayana menggeleng dengan kepala menunduk.


"Lalu kenapa kamu begini?"


"Soalnya aku malu, Mas."


Saga menaikkan alis tidak paham. "Sama aku?"

__ADS_1


Ayana menggeleng panik. "Enggak, Mas, enggak gitu. Aku malu sama diri aku sendiri. Rasanya aku kayak nggak pantes deh buat kamu. Jaka bener, aku udah jahatin kamu, Mas, tapi kenapa kamu masih mau sama aku?"


"Karena aku maunya sama kamu," balas Saga dengan ekspresi andalannya. Meski terlihat datar seolah tanpa ekspresi, tapi ia dapat merasakan keseriusan pria itu saat mengatakan kalimat itu.


Hal ini membuat kedua mata Ayana mendadak perih. Detik berikutnya ia menangis terharu. Hanya lima kata, tapi sanggup membuatnya langsung merasakan kelegaan. Ternyata ia tidak butuh kalimat panjang penuh dengan kalimat romantis. Memang tidak salah ia mendapatkan calon suami, Saga benar-benar terbaik di antara yang baik. Dan Ayana semakin menyukai pria ini.


"Makasih ya, Mas. Maafin aku sempet bodoh dua hari ini."


Saga mengangguk maklum. Ia kemudian menarik selembar tisu dan diberikan pada Ayana. "Kamu dengar ya?" tanyanya kemudian.


"Soal?"


Ayana sedikit kebingungan. Saga terlalu kesulitan menghilangkan kebiasaannya ngomong setengah-setengah begini.


"Kita. Jaka."


Ayana mengangguk. "Maaf, Mas, aku nggak sengaja."


Saga menghela napas panjang. "Jangan dipikirkan. Dia memang begitu. Nanti juga lupa."


"Ya, mana bisa, Mas. Jaka keliatan nggak suka banget sama aku loh."


"Ya udah, terserah," balas Saga pada akhirnya.


Saga awalnya sedikit kebingungan. Namun, tak lama setelahnya ia langsung mengangguk paham. "Ya udah, jangan dipikirin."


Ayana berdecak kesal. "Yang enggak segampang itu lah, Mas."


"Ya udah, terserah."


"Mas!!"


Saga menatap Ayana kebingungan. "Masalahnya di mana sih?"


Ayana menarik napas panjang lalu menggeleng. "Enggak. Masalahnya di aku," ucapnya langsung berdiri.


"Mau ke mana?" tanya Saga heran.Biasanya Ayana paling betah kalau di rumahnya, udah berasa seperti nyonya rumah saja, padahal mereka belum resmi menikah.


"Dapur. Pengen masak mie. Mas Saga mau?"


Saga menggeleng. Ia kemudian memilih meneruskan kegiatan membacanya yang tadi sempat tertunda.


Tanpa sungkan atau bertanya-tanya lebih dahulu, Ayana langsung bergegas menuju dapur dan memasak mie. Kalau kalian heran atau bertanya-tanya kenapa Saga menyetok mie jawabannya tentu saja ada pada Ayana. Gadis itu yang menyetoknya sendiri. Karena kalau masak ia mie di rumahnya sendiri, Mama-nya akan mengomel panjang. Mengatai dirinya anak durhaka, karena udah capek-capek dimasakin, eh, anaknya malah masak mie. Tentu saja Kartika mengomel.

__ADS_1


Selesai memasak mie, Ayana kembali ke ruang tamu untuk menyusul Saga. Pria itu masih sibuk membaca dengan ekspresi seriusnya.


"Yakin nggak mau, Mas?" tawar Ayana, "aku kasih sayur juga loh, sama telur juga. Sama cabe, sama sosis, terus bakso juga. Enak loh, Mas. Yakin nggak mau?"


Kali ini perempuan itu duduk tepat di sebelah Saga. Sengaja memamerkan mie kuahnya tepat di depan wajah pria itu, sehingga menghalangi pandangan Saga saat membaca.


Sambil menghela napas, Saga langsung menutup bukunya sedikit kasar. Ayana langsung terkekeh puas. Yes, dia menang. Soraknya dalam hati.


Di luar dugaan, tiba-tiba Saga berdiri. Hal ini membuat Ayan sedikit kaget.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Ayana panik.


"Pindah. Takut kecipratan."


"Astaga!"


"Buku ini mahal, Yan."


Saga kemudian duduk di sofa single yang tadi Ayana duduki.


"Iya, iya, yang koleksi semua bukunya mahal. Beda sama punya aku yang dapetnya dari bazar buku semua," dengus Ayana dengan wajah kesal. Ia kemudian menggulung mie dan menyuapkan ke dalam mulutnya, setelah itu barulah ia menyeruput kuahnya yang masih sedikit mengepulkan asap, "ahhh, segar."


Melihat itu Saga hanya mampu berdecak sambil geleng-geleng kepala. Sebuah kebiasaan Ayana yang sebenarnya mengganggu dirinya, namun, tetap saja harus ia toleransi karena mereka akan menikah.


"Kira-kira aku harus ngapain ya, Mas, biar Jaka maafin aku."


"Traktir makan."


Ayana langsung melotot tajam ke arah Saga. "Kamu itu kalau kasih ide, yang masuk akal sedikit kenapa sih, Mas? Mikir dulu kek, apa gitu, bukannya asbun terus ngaco," gerutunya menahan kesal. Untung di hadapannya ia sedang membawa semangkuk mi rebus, jadi ia langsung merasa emosinya mereda setelah menyeruput kuah mie-nya.


Saga diam sejenak. Ia lalu menutup bukunya kembali. "Asbun apa?"


"Ya, itu, traktir makan."


Ayana melirik Saga ragu-ragu. "Tunggu sebentar, ini maksudnya kamu nggak ngerti istilah asbun, Mas?"


Saga menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Astaga, asal bunyi, Mas. Asbun."


"Oh."


Saga ber'oh'ria sambil mengangguk paham. Sedangkan Ayana menghela napas panjang. Kata Tama pernikahan itu tentang mengobrol, lalu bagaimana mereka akan menjalani pernikahan mereka nantinya kalau setiap obrolan mereka, sering kali Ayan dibuat emosi oleh Saga. Apakah ia akan sanggup menjalani semuanya? Mendadak Ayana merasa sedikit khawatir.

__ADS_1


__ADS_2