
Ayana akhirnya pulang ke rumah setelah selesai mandi dan berganti pakaian di rumah Tama. Untuk sementara ia tidak boleh ketahuan kalau habis mengalami insiden yang menimpanya barusan.
"Aku nggak ikut turun?"
Ayana menggeleng cepat. "Enggak usah, nanti Mama nanya-nanya kamu jawab jujur lagi. Udah kamu langsung pulang aja, Mas, baru deh nanti abis maghrib main ke sini ya?"
Saga langsung mengangguk paham dan membiarkan Ayana turun dari mobilnya. Baru setelah memastikan gadis itu turun dan masuk ke dalam rumah, ia pulang ke rumahnya.
"Dari mana kamu?" sambut Kartika dengan wajah tidak bersahabatnya. Kedua tangannya menyilang di depan dada, lirikannya pun terlihat tajam, membuat Ayana merasa ngeri tiba-tiba.
Tidak mungkin dirinya langsung ketahuan kan?
"Kenapa diam saja?" gertak Kartika dengan wajah galaknya.
"Ini juga mau dijawab, tadi abis main ke rumah Bang Tama, Ma. Kenapa sih marah-marah mulu?" gerutu Ayana dengan wajah cemberut.
Kartika berkacak pinggang sambil menatap putrinya tidak percaya. "Masih nggak mau jujur?" desaknya kemudian.
Meski sebenarnya Ayana takut ketahuan, tapi ia masih berusaha untuk stay cool dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. "Iiih, Mama nggak percayaan banget sama anaknya sendiri. Tadi aku beneran ke sana, Ma. Kalau nggak percaya coba Mama telfon Kak Fira, Kak Fira nggak mungkin bohong kan?" ucapnya menyarankan.
"Kamu pikir Mama nggak tahu?"
Wajah Ayana seketika langsung berubah pucat. "Mama tahu?" tanyanya panik.
Kartika seketika langsung meradang. Dengan wajah emosinya, ia langsung melempar bantal sofa yang tadi berada di sebelahnya. Dan untungnya Ayana dengan sigap berhasil menghindar.
"Aduh, Ma, ampun! Janji ini yang terakhir kalinya aku naik pohon, abis ini nggak bakal gitu lagi," ucap Ayana penuh permohonan. Ia menyatukan kedua telapak tangan sambil menggosok-gosoknya, meminta ampun.
"Kamu itu benar-benar ya, Na, Mama nggak ngerti lagi harus gimana kasih tahu kamu. Kamu itu perempuan! Udah tua, harusnya seumur kamu itu ngurusin suami sama anak kamu, bukannya malah manjat pohon kayak orang hutan begitu."
Emosi Kartika terlihat benar-benar meledak. Ia terlihat tidak tahan menghadapi putri bungsunya yang satu ini. Tertekan jelas ia rasakan.
"Iya, Ma, iya, Yana ngaku salah. Yana kapok, Ma. Janji nggak bakal manjat pohon lagi."
__ADS_1
"Enggak, Mama nggak percaya. Sini dulu kamu! Jangan lari!"
"Iiih, nggak mau, nanti Mama pasti mau jewer kuping aku kan? Aku hafal banget kebiasaan Mama." Ayana masih terus berusaha menghindari Kartika yang pantang menyerah mengejarnya, "udah lah, Ma, Yana capek main kejar-kejaran terus. Udahan ya? Kepala Yana masih sakit tahu, aku perlu istirahat, Ma. Mama nggak takut kalau ternyata aku kena gegar otak ringan?"
Kartika masih terbawa emosi jadi tidak peduli. "Salah sendiri banyak tingkah!"
"Ya ampun, galak banget sih, Ma. Anaknya abis kecelakaan bukannya disayang-sayang malah diamuk. Jangan kayak Mama tiri gini lah, Ma."
"Mama nggak akan begini kalau kamu-nya nggak begitu," balas Kartika tidak mau kalah. Wajahnya masih terlihat marah dan ini membuat Ayana bingung bagaimana menenangkan sang Mama.
"Kan aku udah minta maaf, Ma. Yana ngaku salah. Udah lah, maafin, kasian loh ini anaknya lagi sakit masa malah diajak main kejar-kejaran kayak Tom & Jerry bukannya disuruh istirahat?"
Kali ini ekspresi Kartika mulai melunak, meski raut wajah kesal itu belum sepenuhnya hilang.
"Sana kamu langsung naik ke atas! Mama bawaannya masih emosi lihat muka kamu," ucap Kartika pada akhirnya.
Senyum Ayana langsung cerah. "Nah, gitu kek dari tadi. Makasih Mama-ku sayang, Yana ke atas dulu ya. Nanti kalau Mama udah nggak emosi lagi, Yana turun lagi kok. Dan Yana baik-baik saja, Ma. Mama nggak perlu khawatir. Yang luka cuma bagian kepala aja, sisanya memar dikit," cengirnya sebelum naik ke lantai atas.
Begitu sampai di kamar, ia langsung memutuskan berbaring di atas ranjang. Badannya mulai berasa sakit semua dan ia butuh istirahat. Namun, ia gagal beristirahat karena mendengar suara pintu kamarnya diketuk.
Tanpa menunggu ia persilahkan pintu kamarnya langsung terbuka, karena ia memang tidak pernah menguncinya.
Benar. Orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Kartika, sang Mama.
"Mana yang memar? Udah dikasih salep belum?" tanya Kartika penuh perhatian.
Sambil menyengir Ayana menggeleng. Memang tidak ada yang bisa meragukan kasih sayang seorang ibu. Mau sekesal-kesal apapun mereka, tetap mereka lah yang paling peduli dan perhatian terhadap kita. Tidak ada yang dapat menandinginya.
"Mana yang memar?"
Ayana langsung bangkit dari posisi berbaringnya. Ia membuka kancing atasnya dan sedikit menurunkan kemejanya. Ternyata yang memar adalah bagian bahunya. Luka memarnya tidak terlalu lebar, hanya saja rasanya lumayan sakit.
"Kok bisa sampe begini?"
__ADS_1
"Enggak tahu. Yana juga kurang inget pas kejadiannya."
"Masih mau diulangi?"
Dengan ekspresi seriusnya Ayana menggeleng. "Maafin Yana ya, Ma, udah bikin Mama khawatir."
"Kamu itu loh, kenapa sih seneng banget bikin Mama khawatir. Udah umur segini belum ada yang ngelamar, punya pacar belum, eh, malah kamu-nya dipu--"
"Eits, Mama lihat dulu ini dong!" potong Ayana sambil memamerkan cincin berlian pemberian Saga yang kini tersemat pada jari manisnya.
"Halah, paling juga kamu beli sendiri," cibir Kartika.
"Iiih, enggak dong, Ma. Ini Yana beneran dilamar."
"Hah?! Dilamar? Laki-laki mana yang bisa khilaf sampai mau ngelamar kamu?"
Ayana jelas tersinggung mendengar kalimat sang Mama. "Ma, ini anaknya loh, masa dibilang khilaf karena ada yang ngelamar?"
"Iya, iya, maaf. Terus siapa orangnya?" Kartika sudah tidak terlalu peduli dengan luka memar pada bahu sang putri, pandangannya beralih pada jari manis Ayana yang terdapat cincin berlian di sana, "coba Mama lihat. Mahal ini, Na, siapa orangnya? Kasih tahu Mama siapa yang bakal jadi menantu Mama. Kamu balikan sama Aska?"
"Enggak."
"Terus siapa?"
"Mas Saga."
"Saga tetangga kita? Temennya Abang kamu? Yang dulu suka kamu ikutin kemana-mana itu?" tanya Kartika mencoba memastikan.
Ayana hanya mengangguk sebagai tanda jawaban. Tapi ekspresinya terlihat senyam-senyum seperti orang yang sedang salah tingkah.
"Kok bisa? Kok dia masih mau sama kamu? Padahal kalau Mama jadi dia, Mama nggak bakal sudi tuh untuk sekedar ketemu lagi sama kamu. Lah, ini malah sampe langsung lamar?" Kartika langsung bertepuk tangan, "emang calon idaman menantu Mama itu. Enggak salah Mama milihnya, cuma kamu aja dulu yang bodoh sampe sok-sokan nolak."
"Bahas aja terus!" sindir Ayana dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Lah, emang dulu kamu yang bodoh kan? Udah dikasih daging salmon seger, eh, malah milih ikan bandeng."
"Mama!!"