Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 5


__ADS_3

***


Terbiasa mengurusi ibu hamil dan ibu yang baru saja selesai melahirkan, kini tiba-tiba harus mengurusi bayi. Rasanya sedikit aneh. Malvin suka anak kecil, dulu bahkan ia sempat berpikir untuk mengambil spesialis anak seperti yang dilakukan sang Mama, tapi entah kenapa ia dulu secara tiba-tiba pindah haluan ya. Sepertinya sang Papa benar, kedua orang tuanya tidak benar-benar memaksanya tapi memang ini keinginannya yang baru ia sadari. Ya, mungkin saja.


"Loh, loh, ini cucu Mami mau kamu bawa ke mana, Vin?" omel Kartika saat menyadari cucu kesayangannya sedang digendong Malvin di luar rumah pula, "ini cucu Mami perempuan, Vin, jangan kamu ajarin yang aneh-aneh!"


"Ya elah, Mi, bayi begini mau diajarin aneh-aneh yang gimana deh," gerutu Malvin tidak terima. Ia kemudian langsung menyerahkan bayi yang tadi ia gendong kepada Kartika, "btw, Mami masak apa?"


Kartika menatap pria yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri dengan tatapan heran. "Emang belum sarapan?"


Malvin mengangguk cepat. "Udah sih sebenernya, Mi, tapi kangen masakan Mami."


Kartika mendengus lalu mengajak pria itu untuk ke rumahnya. "Ya udah, ayo, main dulu ke rumah Mami."


"Tapi nanti dimasakin ya, Mi?

__ADS_1


"Kamu dinas jam berapa?"


Malvin langsung berdecak kesal karena pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan lagi. Yana itu sungguh sangat mirip sang Mama ya, seketika pertanyaan random hinggap di otaknya. Nanti kira-kira Mala, putri Mala dan Saga bakalan lebih mirip kelakuan Yana atau Papanya ya?


"Yang penting ya dimasakin dulu lah, Mi. Masalah dinas jam berapa nggak usah dipikirin."


"Ya, kalau udah makan ngapain minta dimasakin? Kamu ini ada-ada aja. Diet lah, Vin, kamu kan pasti sering begadang ngurusin istri orang, makannya pasti nggak aturan. Masa nanti di hasil foto nikahan pipi kamu chubby, kurang oke lah. Harus keren dong anak Mami "


Senyum Malvin seketika langsung sirna kala mengingat nasibnya yang tak tentu arah ini. Hubungannya dengan Yasmin terancam benar-benar kandas, itu artinya tidak akan ada rencana pernikahan untuknya.


Malvin menghela napas sedih. "Enggak tahu lah, Mi. Pusing." ia langsung merebahkan tubuhnya pada sofa begitu sampai di rumah Kartika.


Melihat wajah frustasi Malvin, Kartika langsung duduk di sebelah pria itu. "Kenapa sih? Kok kayaknya masalahnya berat banget? Kenapa? Mama-mu kurang setuju sama calonmu?" ia lalu menepuk pria itu pelan, "makanya, kan Mami udah pernah bilang kalau mau kenalin cewek ke Mama-mu, bawa dulu ke Mami, kira-kira itu cewek cocok atau nggak, layak atau enggak, jadi kamu tahu."


"Bukan, Mi."

__ADS_1


"Terus?"


"Masalahnya lebih serius dari itu."


"Seserius apa?" tanya Kartika kepo, "kamu ini jangan bikin Mami penasaran deh."


Malvin menghela napas berat lalu melirik Mala yang kini tengah terlelap di pangkuan Kartika.


"Mi, kira-kira nanti Malvin bisa nggak ya kayak Yana. Nikah, punya anak sendiri, nemuin orang yang tepat."


"Ya tergantung."


"Maksud Mami?"


"Ya tergantung seberapa niatnya kamu buat dapetin atau wujudin itu semua, Vin, kalau kamu niat ya pasti bisa. Cuma kalau kamunya nggak yakin sama diri kamu sendiri, ya jangan harap!" Kartika kemudian langsung berdiri, "udah, tunggu sebentar, Mami mau nidurin Mala dulu. Nanti Mami masakin!"

__ADS_1


__ADS_2