Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Malvin Story 36


__ADS_3

***


"Duh, kasian banget deh."


Olivia sontak langsung menoleh saat mendengar gumaman salah satu rekan editornya yang kini sedang sibuk scroll sosial media. Tadi begitu selesai menjenguk Malvin dari rumah sakit, ia langsung bergegas menuju kantornya diantar Ayana. Sejujurnya ia sudah menolak, tapi perempuan itu kekeuh memaksanya, alhasil ia merasa tidak enak dan pada akhirnya setuju juga.


"Apanya yang kasian?"


"Ini loh, ada kecelakaan. Kasian deh, Liv, dua-duanya kritis. Kamu tahu nggak keluarga Rajendra grup?"


Sambil meringis tipis, Olivia menggeleng. "Siapa mereka? Artis?"


Hani, teman Olivia itu berdecak kesal. "Kan gue bilang grup, Liv, Rajendra grup. Otomatis itu adalah crazy rich family lah."


Olivia garuk-garuk kepala karena ia tidak pernah mengikuti perkembangan keluarga orang-orang kaya. Karena menurutnya itu sama sekali tidak menarik.


"Ah, payah lo, masa gitu aja nggak tahu?" Hani kemudian menunjukkan layar ponselnya, "nih, gue kasih liat. Rajendra grup itu perusahaan besar yang punya banyak usaha di mana-mana, hotel sama resortnya di mana-mana. Belum anak perusahaannya yang gosipnya menjamur di mana-mana."


"Nah, terus yang kecelakaan ini anak bungsunya."


Olivia mulai terlihat sedikit tertarik. "Itu yang kecelakaan cowok?"


Hani menggeleng sebagai tanda jawaban. "Bukan. Cewek. Anaknya cewek semua, yang pertama, Liv, gila cetakan demi Yunani. Cantik banget, nggak keliatan berumur kepala tiga, tapi sayangnya nggak tertarik buat nikah, sayang banget sih. Terus dua-duanya dokter, yang pertama dokter bedah kecantikan gitu katanya, punya klinik kecantikan sendiri. Nama kliniknya apa ya, gue lupa, pokoknya itu lah. Terus yang adiknya, yang abis kecelakaan ini jadi dokter muda gitu."


"Oh," respon Olivia tak lama setelahnya. Kali ini ekspresinya sudah tidak terlalu terlihat tertarik lagi.

__ADS_1


"Terus yang cowoknya ini juga nggak kalah keren backgroundnya.''


Olivia terkekeh samar. "Ya wajar lah kalau anaknya orang kaya dapetnya anak orang kaya juga, yang nggak wajar itu kalau anak orang miskin kayak gue dapetnya anak orang kaya," balasnya kemudian.


Hani menggeleng tidak setuju. "Ya mana bisa begitu, harusnya itu hidup saling melengkapi, yang miskin macem kita dapetnya anak orang kaya, sedangkan anak orang kaya harusnya dapet miskin. Biar abis itu nggak ada orang miskin lagi karena derajatnya udah diangkat sama orang kaya tersebut. Nah, harusnya begitu. Bukannya sebaliknya, ntar yang ada yang kaya jadi makin kaya, terus yang miskin jadi makin miskin. Kayak kita." lalu keduanya terbahak tak lama setelahnya.


"Tapi serius kasian sih, Liv, mobil bagus-bagus begini, ringsek, orangnya gimana ya? Katanya dua-duanya kritis dan sempet masuk ruang ICU, bahkan yang cowok sampai harus dioperasi."


Olivia sedikit melongok ke arah layar ponsel Hani, peka karena sang rekan ingin melihat, ia pun langsung menyerahkan ponselnya kepada Olivia.


"Denger-denger yang cowok itu anak tunggal pemilik rumah sakit khusus ibu dan anak yang ada di Jakarta pusat, Liv. Namanya siapa ya, Navin? Marvin? Duh, lupa gue."


"Malvin?" tebak Olivia tepat sasaran.


Wajah Olivia seketika langsung berubah tidak suka. Ia kemudian menyerahkan ponsel milih Hani.


"Bisa lo cariin bokapnya?"


"Ya elah, tinggal nyari di Google nyebar di mana-mana."


"Cariin!"


"Iya, iya, gue cariin," decak Hani langsung mengutak-atik laptop milihnya, "pake laptop aja ya, gue lagi pengen CO barang deh."


"Terserah," komentar Olivia terlihat galak. Hani sampai heran sendiri. Siapa yang minta tolong, tapi siapa yang galak.

__ADS_1


"Tuh, ini orangnya."


"Tapi bukannya dia dokter?"


Hani langsung mengangguk cepat. "Iya, katanya sih emang dokter juga, tapi emang sekaligus pemilik rumah sakitnya sih."


Tanpa sadar Olivia meremas kertas yang ada di atas meja begitu saja. Ia marah, kenapa rasanya ia seperti dipermainkan begini?


"Aku mau pergi sebentar, kalau Mas Tegar nyariin bilang ya aku ada urusan."


Tanpa memperdulikan teriakan sang rekan, Olivia langsung bergegas pergi begitu saja. Pikirannya berkecamuk. Marah, kecewa, sekaligus sedih. Semua jadi satu. Jadi hanya dirinya satu-satunya yang tidak tahu. Pria itu mengajaknya menikah tapi ia sama sekali tidak tahu latar belakang pria itu. Lalu sekarang ditambah berita bahwa ia sudah memiliki kekasih? Sebenernya apa yang sedang terjadi? Kenapa Malvin melibatkannya kalau memang kisah cintanya belum usai?


Olivia kemudian mencoba menghubungi Ayana, karena mungkin perempuan itu tahu banyak tentang hal ini.


"Halo, Mbak Yana? Bisa ketemu nggak?"


"Aduh, sorry, Liv, gue shift sore, nggak bisa pergi nemuin lo. Tapi kalau semisal lo mau ke sini, bisa kok, lo ke sini aja," ucap Ayana menyarankan.


Olivia mengangguk paham. "Ya udah, kalau gitu bentar lagi aku ke sana, Mbak."


"Oke, hati-hati ya."


Klik.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2