Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Baikan


__ADS_3

"Udah selesai shiftnya?" tanya Aska saat melihat sang kekasih baru saja keluar dari ruang IGD sambil menyampirkan jas putihnya.


Mendengar pertanyaan Aska, Ayana reflek menghentikan langkah kakinya. Ia mengangguk untuk membalas pertanyaan pria itu. Moodnya sedang tidak begitu bagus saat ini dan ia malas berdebat maka dari itu Ayana hanya membalas seadanya.


"Pulang bareng aku ya?" bujuk Aska.


Ayana menggeleng lalu merogoh kunci mobilnya dari dalam tas dan menggoyangkannya tepat di hadapan sang kekasih.


"Besok aku anter deh. Mobil kamu tinggal aja di sini, lagian sekarang kan udah malem. Mending aku anter pulang."


Mendengar jawaban sang kekasih, Ayana langsung mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Yakin besok mau nganter aku? Aku besok shift malam, Ka, berangkat jam dua siang. Bisa gitu kamu anter aku?"


Wajah Aska seketika langsung berubah pias. Pria itu kehilangan kata-kata untuk sekedar membalas. Otaknya berpikir keras mencari jawaban.


"Terus gimana dong?" tanya Aska putus asa, "aku perlu ngomong sama kamu. Kita perlu bicara berdua, sayang. Aku mau minta maaf soal kemarin. Aku ngaku salah, nggak seharusnya aku begitu."


"Baru sadar kalau salah?" sindir Ayana. Pasalnya ini sudah hari keempat setelah adegan ia diturunkan di tengah jalan waktu itu. Kesal tentu saja masih begitu kental ia rasakan.


"Iya, aku ngaku salah soal waktu itu. Bahkan waktunya juga nggak pas, aku udah telat beberapa hari ini. Tapi aku punya alesan, sayang."


"Mau pake alasan apa? Sibuk?"


Aska diam saja dengan kepala menunduk takut. Hal ini membuat Ayana dapat menebak kalau apa yang ia katakan pasti ada benarnya.


"Kenapa diem aja?"


"Aku harus jawab apa?" Aska malah balik bertanya, "bukannya kita emang sama-sama sibuk? Jam kerja kamu susah disesuaikan sama jam kerja aku, makanya itu kenapa aku baru bisa ke sini nemuin kamu. Bukan karena sok alesan sibuk atau nggak mau nemui kamu."

__ADS_1


"Oh, jadi jam kerja aku yang salah? Ka, kamu tahu kan profesi aku? Aku dokter, jam kerja aku emang begini. Kalau kamu nggak suka ya harusnya dari awal nggak pacarin aku," seru Ayana emosi.


"Kok kamu jadi ngomongnya gitu?" protes Aska tidak terima, "aku nggak ada ngomong begitu kan?"


Ayana mendengus tidak peduli. "Tahu lah, terserah. Aku mau pulang. Capek."


Saat Ayana berusaha meninggalkan Aska, pria itu dengan cepat langsung mencekal pergelangan tangan perempuan itu.


"Kamu nggak bisa pergi gitu aja, Na, kita perlu bicara."


"Aku tahu. Aku tahu, Ka, kita emang perlu ngomong tapi nggak sekarang. Ini udah malem, kita sama-sama lagi capek nggak bakal nemu ujungnya karena yang ada kita bakal sama-sama kemakan emosi. Besok aja. Setidaknya kita perlu bicara dengan kepala yang sama-sama dingin. Aku pulang duluan, kamu hati-hati pulangnya," pamit Ayana kemudian.


Mau tidak mau akhirnya Aska membiarkan Ayana pergi. Seperti yang dikatakan sang kekasih, baik dirinya maupun Ayana masih sama-sama terselimuti emosi jadi ada baiknya kalai mereka menenangkan diri sebelum membahas hubungan mereka.


***


Karena hari ini Ayana kembali mendapat shift malam, ia memutuskan untuk mengalah dan berkunjung ke kantor Aska saat jam makan siang. Pria itu kemudian mengajak sang kekasih makan di warung makan dekat kantor. Pilihan Aska adalah soto betawi. Ayana tidak protes dan menurut.


Setelah selesai memesan pesanan mereka, keduanya sama-sama memilih dalam mode diamnya. Sampai akhirnya Aska tidak tahan dan mulai kembali membuka pembicaraan.


"Belum tahu. Kayaknya mampir ke mall dulu deh, pengen nyari sepatu."


Aska mengangguk paham. Pria itu menghela napas panjang sebelum memulai permintaan maafnya.


"Aku mau minta maaf soal--"


"Udah lah, Ka, yang lalu biarin berlalu, aku juga ngaku salah kok kemarin. Kita lupain aja ya?"


"Kamu udah nggak marah?"

__ADS_1


Ayana menghela napas pendek. "Sebenernya masih kesel dikit, cuma ya udah sih. Aku bisa apa?"


Tangan Aska terulur dan menggenggam telapak tangan Ayana. "Kamu bisa marah, Na, aku ngaku salah. Nggak seharusnya aku begitu."


"Aku tahu, aku bisa marah. Terus yang kamu lakuin kemarin menurut aku udah lumayan keterlaluan, kok kamu bisa-bisanya turunin aku di tengah jalan begitu aja."


"Maaf," ucap Aska penuh penyesalan.


Ayana tersenyum tipis. "Enggak papa. Kita sama-sama emosi kemarin."


"Tapi--"


"Udah lah, Ka," potong Ayana cepat. Wajahnya terlihat kalau perempuan itu seperti benar-benar membahas perihal itu.


Aska masih merasa sedikit bersalah. "Terus kamu pulangnya gimana kemarin?"


"Minta jemput."


"Siapa?"


"Malvin."


"Temen kamu yang dokter juga itu?"


Ayana mengangguk dan mengiyakan sambil mengambil sendok dan garpu karena pesanan mereka sudah tiba.


"Malvin itu cowok kan?"


Alis Ayana terangkat sebelah. Gerakan tangan mengaduk kuah soto mendadak terhenti. "Emang kenapa? Kamu ada masalah?"

__ADS_1


Sambil tersenyum tipis Aska menggeleng dan menyuruh Ayana segera makan soto mereka.


__ADS_2