Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Umur Hanyalah Angka


__ADS_3

Kegiatan rutin Malvin beberapa minggu terakhir adalah langsung menuju apartemen Angel begitu pulang dari rumah sakit dan bukannya pulang ke apartemennya sendiri, padahal jelas-jelas apartemen mereka satu gedung dan satu lantai. Tapi Malvin lebih memilih pulang dan mandi di apartemen Angel ketimbang di apartemennya sendiri.


Kalau dipikir-pikir kan bisa saja ia pulang ke rumahnya dulu, baru kemudian setelah selesai mandi dan bebersih Malvin main ke rumah Angel. Tapi justru pria itu memilih langsung berkunjung ke rumah Angel.


Perempuan itu langsung memasang wajah datarnya, begitu ia membuka pintu apartemen dan menemukan Malvin yang berdiri di sana.


"Lo sebenernya masih tinggal di unit lo apa udah diusir sih?" ketus Angel.


Malvin terkekeh. Tanpa perlu menunggu dipersilahkan masuk, pria itu langsung masuk begitu saja, seolah masuk ke rumahnya sendiri.


"Masak apa?" tanya pria itu.


Angel merasa gemas sendiri saat mendengarnya. "Anjir, lo lagi berlagak jadi suami yang baru pulang kerja terus nanya dimasakin apa sama istri lo?"


"Ide yang bagus. Kalau gitu kita ulang, yuk, biar lebih men--aduh! Kok gue dipukul?"


"Biar lo sadar diri! Sana buruan mandi, gue siapin makannya."


Malvin menggeleng. "Gue mandi di apartemen gue sendiri aja, gue mau minta makan doang ini."


"Mau balik ke RS lagi?"


"Kenapa? Berharap gue nemenin lo malam ini?"


Angel langsung memasang senyum terbaiknya. "Kenapa emang kalau, iya? Lo bersedia?"


"Bersedia."


Angel langsung terbahak. Umpatan samar terdengar tak lama setelahnya. Ia tidak berkomentar lebih, dan memilih untuk langsung ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


Malvin sendiri kemudian memutuskan untuk berbaring di bed sofa, tempat ternyamannya saat ia berada di sini. Baru memejamkan mata beberapa detik, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Saat ia mencoba mengeceknya, tahu-tahu ponselnya malah mati.


"Angel! Charger lo di mana?" Malvin kemudian memamerkan ponsel layar ponselnya yang gelap, "hape gue metong nih."


"Ada di tempat biasa, cari aja."


Malvin kemudian bangkit bangun dan mencari keberadaan charger Angel. Namun, ia tidak kunjung menemukannya.


"Di mana sih? Kok gue nggak nemu? Masa iya, gue udah perlu periksa mata?"


"Ada. Cari betul-betul."


"Tapi ini nggak ada. Emang lo taruh di mana biasanya?"


"Di meja deket... eh, enggak deh, gue bawa ke kamar tadi pagi. Coba cek aja dulu!"


"Hah? Kamar? Ambilin dong!"


"Nanggung ini loh kalau gue tinggal, lo ambil sendiri lah. Enggak papa, santai, ntar kalau ada barang gue yang ilang, tinggal gue laporin lo ke polisi."


Malvin masih terlihat ragu-ragu. "Serius nggak papa kalau gue masuk?"

__ADS_1


"Enggak. Santai aja lah. Ntar kalau ada barang gue ilang tinggal lo yang gue laporin ke polisi."


Meski awalnya ragu-ragu, Malvin akhirnya masuk ke kamar Angel. Tidak ada yang spesial dari kamar perempuan itu. Sama saja. Seperti kamar pada kebanyakan perempuan pada umumnya. Sprei bermotif gambar. Boneka dan bantal aneka bentuk. Meja rias penuh dengan kosmetik dan skincare.


Oke, baiklah, sudah cukup ia mengomentari isi kamar Angel. Ia harus ingat tujuannya kemari. Mencari charger.


"Nah, ini dia."


Malvin langsung meraih charger milik Angel dan membawanya. Saat hendak keluar, tanpa sengaja netranya menangkap sebuah kartu tanda pengenal yang terlihat menyembul dari dalam dompet. Nama belakang itu nampak tidak asing, begitu juga foto yang tertera di sana. Rasa penasarannya semakin tinggi.


Entah dapat kebenaran dari mana, akhirnya Malvin menarik kartu tanda pengenal itu.


"Yasmin Aurora Rajendra," ejanya kemudian.


Kedua mata Malvin membulat sempurna saat melihat angka kelahiran dan profesi yang tertera di sana.


"Gimana, Vin, ketemu... enggak?" Angel langsung merebut ktp yang sedang dipegang Malvin, "lancang ya lo, Vin! Apa hak lo liat-liat privasi orang begini?" bentak perempuan itu galak.


"Bisa lo jelasin semuanya?"


Hening. Tidak ada balasan dari perempuan itu.


"Siapa nama asli lo yang sebenarnya? Kenapa nama di ktp lo nggak sama dengan nama yang lo sebutin waktu kita kenalan? Jawab gue!"


"Lo nggak perlu tahu!"


Malvin langsung mencengkram pergelangan tangan perempuan itu kuat. "Gue butuh penjelasan! Siapa lo sebenarnya? Kenapa ada nama Rajendra di belakang nama lo?"


Flashback off


Ayana melirik Malvin yang terlihat sedang terkekeh geli, menertawakan nasib, tanpa berkomentar apapun. Perempuan itu masih setia menunggu pria itu melanjutkan ceritanya.


"Berasa gue rasanya kayak dipermainkan takdir."


"Vin, udahan muter-muternya, to the point!" tegur Ayana mulai kehilangan kesabaran.


"Lo tahu nggak, ternyata tetangga gue, yang gue kira pengangguran itu.... bisa lo tebak apa profesi dia?"


Ayana hanya menggeleng sebagai respon.


"Sama kayak kita."


"Dokter juga?"


Malvin mengangguk. "Bahkan udah spesialis." ia tersenyum miris, "lo tahu berapa umurnya?"


Ayana kembali menggeleng dengan ekspresi yang masih terlihat shock. "Berapa emang?"


"Seumuran laki lo."


Reflek Ayana membungkam mulutnya sendiri.

__ADS_1


"Kaget kan lo? Apalagi gue? Bahkan bisa-bisanya gue nggak nyadar selama ini, menurut lo masuk akal gitu? Jujur, sampai detik ini gue kayak masih denial dengan fakta ini. Kalau untuk profesi dokternya gue udah terima, meski untuk profesi dia yang lebih tinggi, gue masih agak insecure juga, tapi fakta kalau dia lebih tua dari gue, rasanya gue nggak percaya, Na. Gila, masa iya, gue naksir yang lebih tua?"


"Kan ada pepatah yang bilang age just number, Vin."


"Iya, juga sih, tapi masalahnya enggak cuma soal umur, Na."


"Soal apa lagi? Lo yang ngerasa insecure?"


"Kalau itu iya, jelas, cuma lo tahu nggak siapa orang tuanya?"


"Ya, mana gue tahu." Ayana mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh.


"Keluarga Rajendra."


Ayana menggaruk kepalanya bingung. Merasa tidak kenal dengan nama itu.


"Siapa itu?"


"Temen nyokap-bokap gue, nggak tahu pasti gue, entah, rekan bisnis atau apanya, yang jelas anak bungsu dari keluarga Rajendra yang pernah dijodohin ke gue, dan gue tolak."


"Apa?!" seru Ayana shock, "kok bisa? Jadi lo gagal dapetin adeknya, tapi mau ngegaet kakaknya gitu?"


Malvin melotot tidak terima. "Bukan gue yang gagal ngedapetin, tapi gue yang tolak dia," sahutnya tidak terima.


Ayana berpikir sebentar. "Oh, jadi, lo nolak adiknya, terus kakaknya deketin lo buat bales dendam?"


Malvin menggeleng. "Gue kurang tahu pasti sih, soalnya gue belum dengerin versi fullnya. Rasanya gue masih kecewa banget karena dia bohongin gue, Na. Menurut lo wajar nggak sih kalau gue marah?"


"Ya, wajar lah, kan lo udah dibohongi. Siapapun dia pasti nggak bakalan suka kalau dibohongi, apapun alasannya. Mau alasannya demi kebaikan sekalipun, sekalinya dibohongi itu artinya dia sudah merusak kepercayaan seseorang. Dan siapapun itu boleh memilih untuk tidak kembali mempercayai orang yang udah merusak kepercayaannya."


Malvin diam sesaat. Ia kemudian melirik Ayana. "Tapi gue masih pengen percaya sama dia, Na. Meski tahu udah dikecewakan, tapi rasanya gue masih pengen kembali percaya sama dia. Tapi di sisi lain, ego gue melarang keras. Menurut lo, gue harus gimana?"


"Kalau kata gue, mending lo sembuhin dulu kekecewaan lo. Kalau lo ngerasa lebih baik, baru mulai dengerin penjelasan dia. Kenapa dia lakuin itu dan apa tujuannya. Setelah itu biar hati lo sendiri yang nentuin maunya gimana."


Malvin mengangguk paham. "Iya, thanks ya, bakal gue coba. Btw, congrat's ya, atas kehamilan lo. Gue seneng akhirnya bentar lagi nambah ponakan."


"Iya, thanks ya, Vin, lo cepet nyusul ya?"


Malvin langsung mencibir. "Lo ajak gue ajakin nyusul nggak nyusul-nyusul, kok sekarang minta gue nyusul lo yang lagi bunting. Ogah!"


Ayana loading sesaat. "Emang lo ngajakin gue nyusul kemana?"


"Program spesialis, anjir! Pake segala sok lupa lagi," gerutu Malvin sambil mendengus.


Ayana tidak terima. "Ya, lo yang bikin gue ragu-ragu buat ambil program spesialis kali, nggak sadar diri banget deh lo."


"Lah, kok jadi gue?" protes Malvin tidak terima.


"Ya iya lah, lo lupa lo pernah bilang kalau jadi anak yang profesi orangtuanya sama-sama dokter spesialis itu berat."


"Buset, jangan bilang lo gagal ambil program spesialis gegara itu?"

__ADS_1


Ayana mengangguk. "Salah satunya emang itu."


"Lah, jadi ngerasa bersalah gue," gumam Malvin sambil memalingkan wajahnya, menghindari tatapan dari Ayana.


__ADS_2