
Hari ini semangat Ayana sedang bagus-bagusnya. Tekadnya sudah bulat, ia akan memperjuangkan cintanya terhadap Saga. Ayana tidak ingin mengecewakan Saga kembali. Ia bertekad tidak melakukan kesalahan yang sama. Pokoknya Ayana akan melakukan berbagai upaya agar dapat merebut hati Saga sekali lagi. Ia tidak boleh mudah menyerah, apalagi lari dari kenyataan seperti yang dilakukannya beberapa hari terakhir. Kini saatnya ia membuktikan keseriusan hatinya terhadap Saga. Ayana akan membuang semua gengsi yang ia punya demi mendapatkan sang pujaan hati.
"Astaga, ya ampun, Yana. Ini apa-apaan? Kenapa dapur Mama jadi kayak kapal pecah begini?"
Kartika merasa shock luar biasa saat masuk ke dapur dan menemukan berbagai perabotannya kotor tergeletak di atas wastafel.
"Hehe, pinjem dapurnya bentar ya Mama cantik. Nanti Yana beresin kok. Janji."
"Nanti?" beo Kartika dengan raut wajah tidak percaya, "kenapa nggak sekarang?"
"Duh, kalau sekarang Yana nggak bisa, Ma. Takut telat."
Dengan gerakan terburu-buru, Ayana langsung membereskan kotak bekalnya lalu mencium pipi sang Mama baru kemudian langsung lari melarikan diri. Hal ini membuat emosi Kartika meradang.
"Ayana! Beresin sekarang atau Mama coret kamu dari daftar kartu keluarga!"
"Iya, Mama, nanti Yana beresin. Pokoknya nggak bisa sekarang," balas Ayana sambil ikut berteriak.
Kartika mendengus kesal. Lalu secara terpaksa ia mulai membereskan kekacauan yang dibuat sang putri sambil menggerutu panjang.
"Dasar anak tidak tahu diri. Bisanya bikin kekacauan aja, paling jago kalau bikin rumah berantakan, giliran disuruh beresin bisanya jawab nanti-nanti doang."
Setelah selesai merias diri, Ayana langsung pergi ke rumah sakit.
"Mau ke mana kamu jam segini udah rapi?" tanya Kartika heran. Ia baru saja keluar dari dapur dan tidak sengaja melihat sang putri dengan penampilan rapinya.
"Nyari calon mantu buat Mama."
"Hah?"
"Ya pokoknya gitu. Yana berangkat dulu ya, Ma. Doain semuanya lancar. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Wassalamu'alaikum. Hati-hati nyetirnya!" Kartika hanya mampu berdecak sambil geleng-geleng kepala saat melihat tingkah polah sang putri yang terburu-buru sampai nyaris jatuh.
***
Ayana mengenakan jumpsuit lengan panjang berwarna biru muda, yang membuatnya terlihat cantik dan juga elegan. Rambutnya sengaja ia gerai khusus untuk menemui Saga. Sambil menenteng paper bag berisi masakannya, ia melenggang penuh percaya diri menuju ruangan Saga. Ini kali pertamanya ia berkunjung kemari, perasaan cemas dan gugup mendominasi. Tapi sebisa mungkin ia menghilangkannya karena Ayana butuh kepercayaan diri yang lebih untuk menemui sang pujaan hati.
Tepat saat tangan Ayana terangkat dan bersiap mengetuk pintu ruangan Saga, pintu terbuka dan muncullah sang pemilik ruangan.
Jantung Ayana mendadak seperti ingin meloncat dari tempatnya. Ia belum siap dengan keberadaan pria itu langsung di depannya, padahal ia baru mengatur napas agar tidak grogi melihat Saga. Namun, belum selesai ia mengatur napas, eh, pria itu malah duluan nongol. Ayana jelas panik.
"Eh, hai, Mas Saga?" sapa Ayana canggung. Gadis itu terlihat sekali kalau sedang gugup.
"Ada apa?" tanya Saga sambil menutup pintu ruangannya.
"Emm... anu... itu..." Ayana gelagapan, bingung harus berkata bagaimana, "Mas Saga udah makan?" tanyanya kemudian. Sepertinya perlahan nyawanya mulai terkumpul jadi ia tidak seperti orang bodoh, karena bingung sendiri.
Tidak seperti yang Ayana harapkan, Saga kemudian mengangguk. Jawaban pria itu jelas membuat Ayana merasa sedih. Kecewa. Ingin marah, tapi tidak bisa.
Ayana mendadak seperti orang linglung dan tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Maaf, saya buru-buru, kalau tidak ada yang penting boleh saya duluan?"
Hati Ayana semakin hancur saat mendengar kalimat formal Saga. Kedua matanya mendadak terasa perih. Mulutnya terasa kelu untuk sekedar membalas, maka dari itu ia lebih memilih hanya sekedar mengangguk untuk menjawab pertanyaan Saga.
"Kalau gitu saya duluan," ucap Saga langsung pergi dari hadapan Ayana dengan langkah terburu-buru. Mungkin pria itu sedang ditunggu untuk melakukan tindakan.
Ayana menatap nanar ke arah paper bag-nya. Rencana yang sudah ia susun sedemikian rupa gagal dan sekarang ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Tak berapa lama ponselnya bergetar saat ia hendak melangkah. Maka dari itu ia memilih untuk membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana. Nama Tama yang terlihat pada layar ponsel. Buru-buru ia menggeser tombol hijau sebelum menempelkannya pada telinga kanannya.
"Hmm," respon Ayana seadanya. Kakinya kembali melangkah meninggalkan departemen jantung.
"Buset, gitu banget sapaan lo, Na? Assalamualaikum dulu kek, say helo atau apa gitu. Masa cuma 'hmm'," protes Tama diiringi decakan sebal. Ia menyempatkan menelfon sang adik di sela kesibukannya demi menunjukkan kepeduliannya, eh, ternyata responnya sungguh di luar dugaan.
__ADS_1
"Wassalamu'alaikum."
"Bentar, bentar, jangan bilang rencana lo gagal ya? Lo mendadak mager masak terus lo gagal bawain makan siang buat Saga?" tebak Tama sok tahu.
"Gue bangun dari subuh, Bang, enggak tidur lagi. Langsung ungkep ayam biar siangnya tinggal gue goreng kan? Eh, begitu semua masakan gue kelar udah gue bawa sampai depan ruangannya. Nggak dimakan sama dia. Bayangin betapa bete-nya gue sekarang?" Ayana merengut sambil memasang wajah sedihnya.
"Lah, kenapa? Saga gitu-gitu nggak pernah rewel soal makanan. Dia mah apa aja dia makan asal nggak haram."
Ayana makin menekuk wajahnya. "Dia udah makan siang."
"Oh, lo kalah cepet." Di seberang Tama mengangguk paham.
"Bukan masalah gue yang kalah cepet atau gimana, Bang, emang kayaknya dia yang nggak mau deh berurusan sama gue. Gue dateng jam 12 teng, masa iya udah makan siang? Keliatan banget kan ngibulnya?"
"Seriusan lo?" Tama terdengar seolah tidak percaya, "masa Saga sampai sebegitunya? Jam lo salah kali, masa iya lo dateng jam 12 teng dan dia udah makan siang?"
"Enggak, Abang. Beneran. Enggak bohong gue."
"Terus berarti ini beneran Saga-nya yang nggak mau berurusan sama lo lagi?"
Ayana mengangkat wajahnya lalu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka. "Ya, mungkin."
"Terus lo mau nyerah gitu aja?"
"Enggak tahu. Gue bingung, Bang. Gue takut."
"Saran gue jangan nyerah dulu lah, Na. Usaha terus, lo baru boleh nyerah kalau Saga udah nyuruh lo berhenti buat deketin dia. Sebelum kalimat itu terucap dari mulutnya, lo harus terus berjuang dan berusaha buat menebus kesalahan lo. Karena perlu lo ingat, kemarin lo yang salah. Ini gue bukannya bermaksud mengungkit-ungkit kesalahan lo, ya, gue cuma mau lo ingat dan terus introspeksi diri. Gue bakal selalu dukung lo, Na."
Mata Ayana langsung berkaca-kaca. "Thanks, Bang." Ia ingin menangis tapi sadar kalau dirinya masih di dalam lift, dan kondisi lift saat ini lumayan ramai, "thanks banget buat dukungan lo. Gue janji bakal terus berjuang buat bikin hati Mas Saga luluh sama gue. Jangan lupa terus doain gue yang, Bang."
"Pasti, Na. Ya udah berhubung masakannya nggak jadi dimakan Saga, mending itu makanan dikirimin ke kantor gue aja, Na. Kebetulan gue belum makan siang nih. Laper. Gue sibuk. Males keluar."
__ADS_1
"Iya," balas Ayana seadanya. Ia langsung mematikan sambungan telfon dan kembali memasukan ke dalam tas. Berhubung jam prakteknya masih lama, ia memutuskan untuk mengantarkan masakannya sendiri. Toh, ia juga sedang butuh teman mengobrol. Malvin si pendengar terbaiknya sedang sibuk. Jadi pilihan terbaik ya, Abangnya sendiri.