Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Nikahan Jaka


__ADS_3

Selesai acara sesi foto-foto, Ayana diajak menemui keluarga Saga. Ia tidak punya alasan untuk menolaknya, ia tahu resiko ini akan terjadi saat menerima permintaan adik Saga kala itu. Salahnya sendiri yang mau menerima permintaan pria itu, padahal jelas-jelas Saga sudah membantu dan menyarankannya untuk tidak memaksakan diri, kalau saja ia menolak tentu ia tidak perlu melakukan semua ini. Memang salahnya sendiri sih.


Keluarga Saga sedikit kaku, hal ini membuat Ayana kesulitan menebak apakah keluarga Saga menyukainya atau tidak. Meski sebenarnya kalau dipikir-pikir ia tidak terlalu butuh pengakuan ataupun disukai. Toh, ia tidak terlalu mengharapkan itu semua. Mengingat hubungan mereka yang, menurutnya tidak memiliki tanda menuju ke arah sana.


Kalau boleh jujur, semua anggota keluarga Saga bukan tipe yang banyak bicara kecuali Jaka dan Nabila--Kakak ipar Saga--. Semua bicara seperlunya. Bukan tipe yang suka basa-basi tidak penting.


Untuk karakter Saga, menurutnya pria itu lebih cenderung mirip dengan sang Ibu, sedangkan untuk wajah dan postur tubuh, pria itu lebih banyak mewarisi gen sang Ayah. Yang membedakan Saga dengan sang Ayah hanya terletak pada ekspresi wajahnya saja. Meski sama-sama tidak banyak bicara, tapi setidaknya Ayah Saga lebih murah senyum seperti Bara, tidak pelit macem pria itu. Kakak Saga ini juga demikian, meski bicaranya hanya seperlunya, lengkap dengan nada suara yang terdengar dingin, tapi setidaknya pria itu cukup murah senyum, kalau ngomong juga jelas. Tidak seperti Saga yang sudah irit ngomong, sekali ngomong suka setengah-setengah, kadang bikin salah paham dan senyum pun pelit. Pokoknya versi Ayana, Saga adalah pria menyebalkan yang sama sekali bukan tipenya.


Mari lupakan karakter mereka yang sebenarnya tidak jauh berbeda itu. Lebih baik kita bahas soal wajah rupawan mereka. Ayana cukup mengakui kalau keluarga Saga memiliki gen super. Ia tidak bercanda. Selain memiliki wajah rupawan, mereka semua terlihat awet muda. Semua. Tanpa terkecuali kedua orang tua Saga, yang sudah memiliki tiga cucu tapi masih terlihat segar bugar, mengingat usianya yang sudah masuk usia lanjut.


Dilihat wajah-wajah mereka yang awet muda itu, Ayana pikir setidaknya salah satu dari mereka ada yang terjun di dunia kesehatan. Tapi ternyata ia salah. Saga satu-satunya yang terjun ke bidang kesehatan seperti dirinya. Ayah Saga memiliki perusahaan kontruksi yang cukup berpengaruh, yang kini diurus Bara. Sedangkan Jaka ternyata seorang arsitek, sama kayak Aska nih.


Bisa dibilang profesi Saga yang paling menyimpang dari keluarganya. Bahkan Nabila, sang Kakak ipar pun katanya dulu juga lulusan teknik sipil.


Ayana sudah cukup mengenal anggota keluarga Saga dengan baik, berkat cerita Nabila tentudaja. Ia merasa bersyukur dengan keberadaan Nabila yang sangat ramah terhadapnya. Kalau tidak, entah lah, ia tidak tahu. Mungkin ia akan mati kutu berada di tengah-tengah keluarga Saga.


"Na, gue dipanggil Ibu nih, titip Fiona bentar boleh nggak?" ucap Nabila.


Saga langsung berdecak saat mendengar permintaan sang Kakak ipar. "La," panggilnya terdengar tidak suka, "lo nggak kasian?"


Usia Nabila memang lebih muda ketimbang Saga, jadi pria itu memang tidak pernah memanggil sang Kakak ipar dengan embel-embel imbuhan Kakak atau Mbak.


"Ya elah, Ga, bentaran doang. Itu Ibu manggil, Fiona ngantuk ini, rewel ntar kalau gue ajak. Gue titip ke kalian ya, itung-itung simulasi gratis sebelum jadi orangtua beneran ntar. Oke?"


Tanpa menunggu jawaban Saga, Nabila langsung menyerahkan putri bungsunya pada Ayana. Karena perempuan itu sudah mengiyakan permintaannya. Mungkin Ayana sungkan harus menolak permintaan perempuan itu.


"Thanks adik ipar. Ajak ke keluar aja biar nggak terlalu ramai, atau kalian tidurin di kamar hotel juga boleh. Lo chek in kan, Ga?"

__ADS_1


Saga mengangguk malas sambil mengibaskan sebelah tangannya, mengusir sang Kakak ipar.


"Mas, kayaknya di sini terlalu rame deh. Fiona dari tadi kebangun terus."


Saga langsung berdiri dan mengajak Ayana keluar ballroom. "Ke kamarku?" tawarnya kemudian.


"Mbak Nabila nggak chek in kamar?" tanya Ayana.


Saga menggeleng. "Rumah mereka dekat dari sini. Jelas Nabila enggan keluar uang buat chek in hotel. Biar aku yang gendong," ucapnya saat melihat Ayana terlihat menggendong keponakannya.


Ayana mengangguk setuju. Ia memang merasa kesulitan menggendong tubuh Fiona yang semakin memberat karena sudah semakin terlelap, ditambah heels-nya yang cukup tinggi. Tentu saja ia kesulitan.


Dengan penuh kehati-hatian, Ayana menyerahkan Fiona pada Saga. Belum genap semenit Fiona berada di gendongan pria itu, bocah berumur tiga tahun itu langsung menangis dan merasa tidak nyaman. Ayana berdecak kesal karena Saga ternyata tidak cukup bisa diandalkan.


Ayana langsung melepas heels-nya, dan membawa Fiona ke dalam gendongannya lagi. "Mas bawa heels-nya sama tas aku aja deh kamu, Fiona biar aku yang gendong," ucapnya final.


"Kamu nggak papa?" Saga melirik kedua kaki Ayana yang kini tanpa alas kaki.


"Sebenernya ya kenapa-kenapa, tapi mau gimana lagi daripada Fiona nangis." Ekspresi perempuan itu terlihat cemberut, seperti orang yang sedang menahan kesal secara mati-matian.


Saga mengangguk paham lalu mengajak Ayana menuju kamarnya. Ia membiarkan pintu kamar tetap terbuka untuk menghindari segala fitnah.


"Mas, badan aku rasanya remuk semua," keluh Ayana begitu selesai menidurkan Fiona di ranjang dengan nyaman.


"Tidur saja," ucap Saga sambil meletakkan tas dan heels milik Ayana di atas meja.


Ayana melirik ke arah pintu yang dibiarkan tetap terbuka dan mengangguk setuju. Tubuhnya kelelahan dan ia mulai mengantuk, jadi lebih baik memang Ayana tidur untuk persiapan jaga malamnya nanti.

__ADS_1


***


Ayana bangun sekitar pukul empat sore. Saat ia membuka mata, ia hanya menemukan Saga yang berada di kamar. Fiona sudah tidak berada di sisinya.


"Mas, Fiona ke mana?" tanya Ayana panik.


"Ikut Mamanya."


Ayana mengangguk paham. "Kenapa aku nggak dibangunin?" protesnya kemudian. Ia mulai merenggangkan otot-ototnya yang terasa lebih segar setelah tidur barusan.


"Nggak tega," balas Saga singkat.


"Astaga, ya ampun, Mas. Pake acara nggak tega segala. Tapi nggak papa deh, thanks, ya, berkat rasa nggak tega Mas Saga, aku jadi bisa tidur. Lumayan."


Saga hanya mengangguk sebagai respon.


"Kalau gitu kayaknya mending aku pulang deh, Mas. Acaranya udah selesai kan?"


"Belum. Tapi kamu bisa pulang."


Ayana mengangguk paham. "Ya udah, tas sama sepatu aku mana?"


Tanpa mengeluarkan suara Saga menunjuk ke arah meja, di mana tas selempang dan heels-nya tergeletak di atas sana.


"Kalau gitu aku cuci muka bentar deh. Minta izin numpang cuci muka ya, Mas?"


Lagi-lagi masih tanpa mengeluarkan suara, Saga mengangguk untuk mengiyakan. Hal ini membuat Ayana menggerutu kesal dalam hati. Ini orang lagi sariawan apa gimana sih, tinggal jawab pake suara susahnya kayak mindahin ibukota.

__ADS_1


__ADS_2