
______________________________________
Ayana rasanya ingin bersorak kegirangan, saat ia membuka mata dan menemukan Saga yang berdiri di sampingnya. Dan jangan lupakan tatapan khawatir pria itu. Mungkin ini yang namanya bersyukur di saat terkena musibah. Ayana merasa insiden yang menimpanya ini bisa membuat hubungannya dengan Saga akan berjalan mulus. Mendadak ia mendapatkan kepercayaan diri tinggi.
"Gimana keadaan kamu? Apa aja yang kamu rasain?"
Senang. Itu lah yang Ayana rasakan saat ini. Bagaimana tidak senang kalau diperhatikan Mas Crush? Mau kepalanya bocor sekalipun ia tidak peduli. Apalagi kalau mengingat untuk mendapatkan perhatian pria itu tidaklah mudah.
"Ayana? Kamu bisa dengar suara saya?" Saga semakin dilanda kepanikan saat Ayana tidak kunjung merespon pertanyaannya, "apa penglihatan kamu mengabur? Ini berapa?" Saga kemudian mengacungkan dua jarinya tepat di depan gadis itu.
"Satu."
Wajah Saga terlihat semakin panik karena gadis itu tidak dapat menjawab pertanyaannya dengan benar. "Kita coba sekali lagi. Ini berapa?" Saga kembali mengacungkan jarinya.
"Satu, Mas, kamu itu tetep satu-satunya buat aku," ucap Ayana sok malu-malu.
Saga langsung menampilkan wajah galaknya. "Jangan bercanda, Yan!"
"Aku serius, Mas."
Saga tidak membalas, pria itu malah berkacak pinggang sambil menatap gadis itu lebih intens. Ayana jelas langsung lemah kalau sudah ditatap begitu.
"Iya, iya, yang tadi 2, barusan 4. Pengelihatan aku masih jelas, Mas." Ayana akhirnya menyerah dan menjawab dengan serius.
Saga lalu mengangguk. "Lalu sekarang apa yang kamu rasain? Kepalanya gimana? Ada pusing? Mual sampai pengen muntah?"
Ayana membalas dengan gelengan kepala.
"Terus bagian tubuh yang lain gimana? Ada yang sakit? Atau bikin kamu nggak nyaman?"
"Satu-satunya yang bikin aku nggak nyaman pas kamu cuekin aku, Mas. Rasanya sakit banget." Ayana memasang wajah sedihnya, namun hal itu tidak berlangsung lama karena setelahnya ia langsung memamerkan senyum terbaiknya, "tapi sekarang aku seneng banget, Mas, ngeliat kamu peduli dan juga khawatir sama aku begini. Makasih, ya."
Saga menghela napas panjang lalu duduk di tepi brankar. "Saga tidak bisa langsung abai hanya karena kamu pernah mengecewakan."
Ayana langsung bangkit dari posisi berbaringnya dibantu Saga tentu saja. Pria itu memang selalu sigap dalam hal tindakan.
"Pusing nggak?" tanya Saga penuh perhatian.
Ayana menggeleng. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. "Maafin aku, ya, Mas."
Saga mengangguk lalu mengelus punggung Ayana. "Udah, nggak usah mengungkit yang udah lewat. Sekarang kamu fokus biar sembuh dulu, nggak usah pikirin hal lain."
"Tapi, Mas--"
"Kita lupain semuanya. Mulai yang baru dan lebih baik?"
Ekspresi Ayana langsung berubah ceria. "Mas Saga mau nerima aku lagi?"
Saga mengangguk yakin seraya menyingkirkan anak rambut Ayana yang sedikit menjuntai menutupi wajah gadis itu.
"Jadi mulai sekarang kita... pacaran, Mas?" tanya Ayana ragu-ragu.
__ADS_1
Tidak sesuai ekspektasi. Saga malah menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya terlihat seperti orang yang tidak setuju.
"Pedekate lagi dulu nih?" saran Ayana pasrah.
"Nikah."
Ayana mengangguk pasrah, ekspresinya terlihat masih sedih. "Ya udah, kita nikah." Namun, beberapa saat kemudian ia tersadar, "Hah?! Gimana, Mas? Nikah?" beo Ayana dengan wajah shock-nya.
Ini sama dengan lamaran bukan sih? Batin Ayana merasa kebingungan. Selama ini belum pernah ada pria yang langsung mengajaknya menikah begini, jadi wajar kalau gadis itu terlihat masih sangat terkejut. Lain halnya dengan Saga yang nampak santai dan tenangnya.
Saga langsung mengangguk cepat. "Mau?"
"Ya, bukan masalah mau atau nggak mau, Mas. Cuma masa Mas Saga ngajakin aku nikah di UGD sih, nggak romantis banget." Bibir Ayana langsung maju karena kesal. Menambah kesan imut pada gadis itu.
Ya Tuhan, bagaimana bisa Saga tidak ingin segera menikahi gadis itu kalau disuguhi wajah menggemaskan itu?
"Nggak papa, kita sama-sama dokter. Jadi romantis."
"Ngawur," dengus Ayana dengan tatapan sinisnya, "ngajak nikah itu minimal harus ada cincin, Mas, biar pihak perempuan tahu kalau si pria serius apa enggak," gerutunya kemudian.
Di luar dugaan Ayana. Saga tiba-tiba merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak cincin. Kali ini Ayana bertambah shock. Gadis itu tidak salah lihat, yang berada dalam genggaman pria itu benar-benar kotak cincin. Dan saat dibuka pun isinya memang cincin. Tubuhnya seketika langsung lemas saat melihat cincin berlian itu.
Kok Saga bisa bawa begituan ke sini? Apa memang pria itu sudah merencanakan ingin menikahinya jauh-jauh hari makanya sudah mempersiapkan cincin? Ya, ampun, Ayana merasa semakin lemas.
Tunggu sebentar, Ayana perlu bernapas sebelum adegan selanjutnya.
Aduhhh, Ayana benar-benar tidak sabar untuk membalas 'yes, i do' atau 'ya, aku mau'.
Bukan, bukan Ayana yang protes barusan. Melainkan Saga.
Tunggu sebentar, bukankah lebih cocok kalau Ayana yang protes? Bukankah harusnya memang ia diam dan menunggu kalimat Saga saat melamarnya, lalu kenapa pria itu protes karena dia diam saja? Sebenarnya ini siapa sih yang bermasalah?
"Yan," panggil Saga khawatir.
Lamunan Ayana buyar. Kedua pasang mata itu saling bersitatap selama beberapa saat. Tidak, tidak, ia tidak bisa mengharapkan untaian kata romantis pria itu saat melamarnya. Maka dari itu ia memilih untuk langsung meraih cincin itu dari sana dan langsung memakainya.
"Nggak minta dipasangin?"
Ayana menggeleng. "Sama aja, Mas. Yang penting udah aku pake."
Saga tersenyum puas seraya mengelus pipi Ayana. Ia merasa bahagia karena gadis itu terlihat menyukai cincin pemberiannya.
"Suka?"
Ayana langsung mengangguk cepat. "Banget, Mas. Cantik. Siapa yang milihin?"
"Nabila."
Oh, pantesan. Rasanya tidak mungkin kalau pria ini yang memilihnya sendiri. Pasti ada campur tangan dari orang lain. Tapi tidak apa-apa, Ayana tetap merasa senang dengan usaha pria itu. Ia belum pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
"Udah resmi nih bau-baunya, girang banget muka lo, Na?" cibir Tama begitu selesai mengurus administrasi.
__ADS_1
Ayana tidak membalas, gadis itu hanya memamerkan cincin berlian di jari manisnya.
"Anjir, langsung gas lo, Ga?" Wajah Tama terlihat sangat terkejut dan seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat, "kapan lo nyiapinnya?"
"Lama," balas Saga singkat.
"Kok lo bisa kepikiran bawa gituan ke sini?"
"Emang udah di mobil lama."
"Terus kenapa harus nunggu kepala aku bocor dulu, Mas, baru dikasih?"
Saga tersinggung kala mendengarnya, ekspresinya berubah. "Ya, enggak nunggu kepala kamu terluka dulu, Yan."
"Terus?"
"Ya, nunggu seberapa keras usaha lo dulu lah, Na. Saga perlu memastikan lo nggak labil lagi, yang liat cogan dikit langsung ganjen," sahut Tama.
Ayana mengangguk paham lalu celingukan mencari keberadaan seseorang. "Axel mana, Bang?"
Ekspresi Tama berubah masam. "Gue usir."
"Hah? Gila lo, Bang? Dia yang bawa gue ke sini dan sekarang lo usir gitu aja?" tanya Ayana dengan ekspresi tidak percayanya.
"Ya emang lo mau acara lo diganggu?"
Ayana sedikit loading. "Acara gue? Emang gue ada acara apaan?" tanyanya bingung.
"Ya itu, dilamar Saga."
"Oh iya, ya. Tapi gue nggak enak, Bang, soalnya gue belum bilang makasih sama dia karena udah bawa gue ke sini."
"Ntar lah gampang, kapan-kapan kalau ketemu kan bisa. Enggak usah terlalu dipikirin, gue udah bilang makasih, mending sekarang kita pulang dulu, ntar anak istri gue nyariin lagi kalau gue perginya lama-lama."
"Kita pulangnya ke rumah lo dulu deh, Bang."
"Kenapa?" Saga menoleh ke arah Ayana dengan wajah herannya.
Tama yang menyadari keresahan sang adik langsung tertawa. "Takut diomeli nyokap gue tuh."
Saga masih terlihat tidak paham. Secara bergantian ia menatap Ayana dan Tama.
"Lo belum dikasih tahu penyebab kepala Yana bocor?"
Saga menggeleng.
"Calon istri lo habis jatuh dari pohon."
Kedua bola mata Saga spontan melotot dengan wajah terkejutnya ke arah Ayana. "Yan?" panggilnya mengkonfirmasi. Ekspresi tidak percaya makin terlihat saat Ayana merespon dengan ringisan malunya.
Ya Tuhan, Saga benar-benar shock saat mendengar fakta itu. Ia tidak mampu berkata-kata setelahnya karena terlalu shock.
__ADS_1