
Sepulang dari dinas, Ayana memutuskan untuk mampir ke rumah mertuanya. Sendirian. Tanpa dianter supir atau diantar Saga dan menyetir sendiri. Sebenarnya dari sebelum mereka menikah Saga sudah sering kali menawari dirinya, kalau semisal ingin menggunakan jasa Agus kapan saja. Agus pun juga tidak masalah kalau seandainya pekerjaannya jadi double, mengantar-jemput pasangan suami istri itu secara bergantian. Karena Saga bilang akan memberi gaji double juga kalau seandainya pekerjaannya double.
Tapi Ayana menolak. Menurutnya ia lebih nyaman menyetir kemana-mana sendirian karena sudah terbiasa demikian. Di satu sisi, Ayana juga merasa kasian dengan Agus kalau harus bolak-balik mengantar-jemput dirinya dan Saga. Alhasil, Ayana memilih menyetir sendirian saat hendak pergi kemana-mana atau bekerja.
Menurut informasi yang Ayana dapat, di rumah mertuanya akan ada arisan. Bukan arisan keluarga, melainkan arisan bersama teman-teman komplek ibu mertuanya. Ia pikir kakak ipar dan adik iparnya juga akan berada di sana, tapi dugaannya salah.
Saat ia sampai di sana, hanya ada ibu mertua dan beberapa asisten rumah tangga yang memang bekerja di sana.
"Sehat, Bu?" tanya Ayana selesai mencium punggung tangan sang mertua.
"Alhamdulillah, sehat. Kamu sama Saga sehat-sehat juga kan?"
"Alhamdulillah, sehat, Bu," ucap Ayana sambil menyerahkan plastik berisi dua wadah tupperware berisi risol mayones buatannya.
"Itu bawa apa? Dibilangin kalau ke sini itu nggak usah bawa apa-apa." Agnes mengintip ke dalam plastik bawaan sang menantu, "frozen food? Kok nggak ada merk-nya? Kamu beli di mana?"
Ayana mengusap tengkuknya karena gugup. Kepercayaan dirinya mendadak timbul. Ia meringis tipis. "Yana nggak beli, Bu, tapi bikin sendiri. Tapi enggak tahu juga layak disuguhin ke tamu apa enggak."
Agnes sedikit terkejut mendengar jawaban sang menantu. "Ya ampun, kamu bikin sendiri? Emang sempet? Tadi katanya shift pagi."
"Bikinnya kemarin sore, Bu, terus aku taruh di freezer. Baru dibawa Agus siang tadi kok, Bu, terus aku bawa ke sini."
Agnes mengangguk paham. Cukup takjub dengan usaha sang menantu. Yang masih sibuk bekerja, mengurus anaknya, eh, masih sempat membuatkan camilan untuk konsumsi acara arisannya.
"Ya udah, sekarang kamu mending makan dulu. Ini risolnya biar digoreng Mbak."
"Yana udah makan tadi di rumah sakit, Bu, dan kebetulan belum laper."
"Ya udah, kalau gitu kamu istirahat dulu. Kan baru pulang kerja."
Ayana menggeleng cepat. "Enggak papa, bu, kan Yana emang ke sini mau bantu-bantu. Kalau cuma mau istirahat di rumah."
"Tapi ibu undang kamu ke sini bukan buat bantu-bantu, tapi karena temen-temen ibu mau kenalan sama kamu. Mbak di sini cukup kok kalau buat bantu-bantu." Agnes kemudian mengajak Ayana menuju ruang keluarga, "ayo, kalau gitu ke depan aja. Biar semua diterusin sama Mbak."
"Lah, kalau gitu aku ganggu dong, Bu?"
"Ngomong apa sih? Masa mantunya dateng dibilang ganggu."
"Hehe."
__ADS_1
"Gimana, Saga? Dia memperlakukan kamu dengan baik kan?"
Jujur, Ayana sedikit kaget dengan pertanyaan sang mertua. Ia pikir, mertuanya ini akan menanyakan apakah dirinya sudah memiliki tanda-tanda kehamilan atau belum. Tapi ternyata ia salah. Padahal tadi ia sudah sempat mempersiapkan diri kalau seandainya ia bakalan ditanyai perihal kehamilan.
"Em... iya, Bu, Mas Saga memperlakukan Yana dengan baik kok. Meski kadang-kadang ekspresi atau kalimatnya ambigu, yang berujung bikin Yana su'udzon, tapi sejauh ini kami menikah. Mas Saga selalu memperlakukan Ayana dengan baik. Tiap Yana pulang malem karena shift sore, Mas Saga pasti bakalan nunggu aku. Padahal kalau Mas Saga yang pulang malem karena operasinya, Yana selalu tidur duluan, tiap nyoba nungguin tapi ujungnya tetap aja ketiduran. Hehe."
Agnes tersenyum lega. "Syukurlah, Ibu senang dengernya. Dibandingkan dengan Bara dan Jaka, Saga memang paling pendiem dari kecil, sebenarnya cuma Jaka yang cerewet tapi untuk Saga, ya memang begitu. Lebih pendiem lagi dibandingkan Bara." ia kemudian meraih telapak tangan Ayana dan mengelusnya pelan, "nanti kalau ada apa-apa atau semisal Saga nyakitin kamu, kamu bisa kasih tahu Ibu, ya."
"Iya, Bu. Makasih."
"Ibu juga makasih karena kamu mau menerima anak ibu dengan sangat baik. Maaf, ya, kalau semisal Saga masih sering mengecewakan kamu. Masih terlalu sibuk juga di kerjaannya."
Ayana tersenyum maklum. "Ibu nggak boleh ngomong gitu, ah, selama ini Mas Saga udah berusaha semaksimal mungkin kok buat bahagiain aku. Toh, Yana juga masih sama aja, masih sering ngerepotin Mas Saga. Justru Yana yang mau minta maaf sama ibu." di akhir kalimatnya terdengar memelan.
Agnes mengerutkan dari tidak paham. "Minta maaf kenapa?"
"Karena Yana belum bisa segera kasih ibu cucu."
"Astaga, ya ampun, sayang. Kan kalian baru nikah wajar dong kalau memang belum dikasih, nggak perlu terlalu berkecil hati. Kalian bisa menikmati waktu berdua dulu. Toh, kalian masih sama-sama masih sehat dan muda. Ayah dan Ibu juga masih sehat, jadi jangan terlalu dipikirin ya kalau semisal pada nanya begitu."
Ayana mengangguk seraya memeluk sang mertua. "Makasih, Bu."
***
Ayana rasanya sangat ingin mengeluh saat melihat beberapa bawaan yang disiapkan sang ibu mertua untuk ia bawa. Kebetulan acara arisan sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Menurutnya teman-teman komplek sang mertua cukup menyenangkan, beberapa dari mereka memuji risol buatannya. Bahkan ada yang ingin memesan risol buatannya untuk acara mereka. Mendadak Ayana ingin menyombongkan diri. Pokoknya kalau sudah sampai di rumah nanti, ia akan menyombongkan diri di hadapan sang suami.
"Bu, kayaknya ini bawaan aku banyak banget deh. Sebagian aja, ya, yang aku bawa?" tawar Ayana sedikit ngeri melihat wadah yang sudah Agnes siapkan.
"Enggak bisa, dibawa semua. Kalau nggak abis kan bisa kamu bagiin ke Mama kamu. Rumah kalian kan deket, hadap-hadapan gitu kok."
"Ya, tetep aja, Bu. Ini kebanyakan, susah juga aku bawanya."
"Kan naik mobil, emang tadi kamu naik ojek?"
Ayana garuk-garuk kepala salah tingkah.
"Sekarang Agus di mana? Udah on the way ke sini belum?"
"Hah? Ngapain Pak Agus ke sini, Bu?"
__ADS_1
"Buat jemput kamu." Agnes kemudian tersadar akan sesuatu, "kamu ke sini tadi nyetir sendirian?"
Ayana mengangguk seraya mengiyakan. "Yana jarang pake supir sih, Bu, kecuali kalau sama Mas Saga."
"Astaga, ya ampun, jadi kamu kemana-mana nyetir sendirian, sedangkan suami kamu yang disupirin?"
Ayana meringis sambil menggaruk rambutnya yang mendadak sedikit gatal.
"Terus kalau kamu shift malam? Nyetir sendirian juga?"
"Iya. Soalnya aku males, Bu, kalau harus nunggu jemputan, jadi, ya aku milih nyetir sendirian."
"Astaga, sayang, abis ini dibiasain pake supir aja, ya. Biar Saga aja yang nyetir sendirian. Bukannya sekarang dia udah nggak ngajar, ya?"
"Tapi Yana lebih nyaman nyetir sendiri sih, Bu. Tapi, iya, kok, Bu, nanti kalau Yana udah mulai isi, Yana pake supir deh. Tapi kalau untuk sekarang enggak dulu."
"Ya udah, nggak papa, senyamannya kamu aja. Yang penting hati-hati, ya, kalau nyetir, nggak usah ngebut yang penting sampai tujuan dengan selamat." Agnes berdecak tidak habis pikir, "tapi ibu nggak ngerti deh sama suami kamu, masa iya tega ngebiarin kamu nyetir sendirian kemana-mana, kan bahaya perempuan nyetir malam-malam sendirian."
"Nggak papa, Bu, Yana udah biasa. Jadi insha Allah aman."
Agnes kembali berdecak tidak percaya. "Enggak, maksud ibu, kok ya, suami kamu tega itu loh. Bukannya kalau shift malam tuh berangkatnya sekitar jam 9?"
"Jam 9 udah mulai tugas, Bu, paling jam delapan lebih atau jam setengah sembilan sih aku berangkatnya."
"Suami kamu siap tidur terus kamu berangkat kerja nyetir sendirian? Bisa tidur itu?"
Spontan Ayana tertawa. "Ya, bisa dong, Bu, kan Mas Saga capek habis operasi pasien seharian. Masa nggak bisa tidur cuma karena gantian aku yang berangkat kerja." ia tersenyum menenangkan sang mertua, "lagian kami sudah biasa, bu. Resiko menikah dengan sesama dokter, ya, memang begitu. Jaga rumah aja shift-shiftan, hehe. Makanya itu, kemungkinan kita agak susah kasih ibu cucu dalam waktu dekat."
"Hussh, nggak boleh ngomong gitu. Ucapan adalah doa, kalau ngomong yang bagus. Nanti takutnya beneran dikasih susah," tegur Agnes.
Ayana langsung meringis malu. "Hehe, iya, Bu, maafin Yana."
"Udah nggak papa. Nggak perlu minta maaf. Mau langsung pulang apa nginep di sini?" tawar Agnes tiba-tiba.
"Pulang lah, Bu, nanti Mas Saga gimana kalau aku nggak pulang?"
"Ya, gampang, tinggal disuruh pulang ke sini."
Ayana hanya mampu meringis tanpa berniat untuk membalas.
__ADS_1