
______________________________________
"Na, bangun cepetan! Sholat subuh terus mandi!"
Ayana merasa tidak peduli. Semalam ia begadang dan sekarang ia masih sangat mengantuk. Bukannya bangun atau sekedar membuka mata, perempuan itu malah membenarkan selimutnya dan mencari posisi ternyaman-nya. Kartika yang melihat itu jelas saja langsung kehilangan kesabaran. Dengan sekuat tenaga wanita itu langsung memukul bokong sang putri cukup keras, sehingga membuat Ayana mengaduh kesakitan dan akhirnya membuka mata.
"Mama, iiih, sakit! Seneng banget sih gangguin anaknya tidur?" gerutu Ayana dengan wajah jengkelnya.
"Kamu juga seneng banget bikin Mama-mu marah-marah. Kamu lupa ini hari apa?"
"Enggak inget. Lupa. Selasa kali," balas Ayana masih terlihat cuek.
Kartika berdecak tidak percaya. "Mama bilang bangun, Na! Astaga, kamu ini benar-benar ya, hari ini, hari pernikahan kamu, harusnya bangun lebih awal terus siap-siap, bukannya malah asik tidur begini. Ini kalau Saga tahu kelakuan calon istrinya begini, Mama rasa juga dia bakal mikir buat batalin pernikahan kalian tahu."
Hari pernikahan? Beo Ayana dalam hati.
Ayana yang tadinya kembali memejamkan kedua matanya seketika langsung membuka mata kembali. Pandangannya kemudian mengedar ke sekeliling arah. Astaga! Ini bukan kamarnya, melainkan kamar hotel. Dan itu artinya benar dong hari ini hari pernikahannya. Kenapa dirinya bisa lupa? Ia menepuk dahinya reflek.
"Mama, iiih, kenapa nggak bangunin dari tadi?" protes Ayana kesal. Ia langsung berlari menuju kamar mandi dengan langkah terburu-buru. Bahkan saking terburu-burunya ia sampai bertingkah ceroboh. Bukannya masuk kamar mandi, ia malah menabrak tembok hingga badannya nyaris terjungkal.
"Ya gitu, punya mata nggak dipake, apa-apa ditabrak. Kamu ini gimana sih, Na?" omel Kartika galak. Ia benar-benar tidak mengerti dengan kelakuan putri bungsunya ini. Ada saja kelakuannya.
"Ma, anaknya lagi kena musibah bukannya ditolongin malah diomelin. Mama itu khas ibu-ibu Indonesia banget sih," keluh Ayana sambil merasakan ngilu sekaligus pusing pada kepalanya, "sakit ini loh. Duh, mana kenceng banget lagi tadi nabraknya. Enggak benjol kan, Ma?"
"Enggak. Udah, sana buruan mandi, nanti keburu MUA-nya dateng."
Kali ini Ayana langsung menurut dan tanpa membantah sedikit pun. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Begitu masuk, ia langsung mencari cermin dan betapa terkejutnya dia saat menemukan benjolan cukup ketara pada dahi sebelah kanannya. Ingin rasanya ia menangis pada detik itu juga.
"Mama! Dahi aku benjol," teriaknya histeris, "gimana ini, Ma?"
Kartika tidak tahu harus tertawa atau merasa iba saat melihat benjolan pada dahi Ayana.
"Mama, iiih, kenapa malah diketawain?" seru Ayana semakin histeris, "ini gimana nasib aku, Ma? Nikahnya bisa diundur sampai benjolannya ilang nggak sih?"
"Hussh, ngawur aja kamu. Udah nggak usah mikir yang macem-macem, sekarang kamu tenangin diri, terus mandi. Masalah benjol, nanti biar jadi urusan MUA-nya."
"Gimana bisa tenang sih, Ma, ini benjolnya gede loh," keluh Ayana panik, "Mama telfon room servis, mintain es batu."
"Buat apaan?"
"Buat ngompres, meski nggak hilang seenggaknya harus kempes meski dikit."
Kartika mengangguk paham. "Ya udah, iya, Mama telfon room servis, kamu sekarang mandi. Mama keluar dulu."
Kartika kemudian langsung bergegas keluar dari kamar mandi. Tepat saat ia selesai menutup pintu dan kakinya hendak kembali melangkah, terdengar teriakan dari dalam kamar mandi sekali lagi. Cepat-cepat ia berbalik dan mengetuk pintu.
"Kenapa lagi, Na? Kamu nggak jatuh kan?"
"Mama! Ya ampun, kenapa aku apes banget sih," keluh Ayana sambil menangis dan keluar dari kamar mandi, "astaga, Tuhan, hari ini hari pernikahan aku loh."
Kartika yang melihatnya jelas saja panik. "Kenapa lagi?"
"Aku mens." Ayana merengut sedih.
__ADS_1
Kartika langsung memukul lengan sang putri gemas. "Astaga, Mama kirain kenapa, kamu bikin Mama panik tahu, Na. Udah, bentar, Mama telfon room servis dulu, minta dibawain pembalut sama es batunya."
"Duh, Mas Saga gimana nanti ya, Ma? Aku jadi kasian sama dia."
"Ya, berarti harus bersabar lah sampai kamu kelar menstruasinya."
"Kasian dia, ya, Ma."
Kartika mengangguk setuju. "Iya, nikah sama kamu juga Mama kasian, Na."
"Astaga, Mama!"
______________________________________
Akhirnya setelah ijab qobul selesai dilaksanakan dan sorakan kata 'sah' menggelora di seluruh ruangan. Ayana masuk ke dalam ballroom didampingi teman-temannya yang bertugas sebagai Bridesmaids. Perasaan bahagia tidak bisa ia bendung, meski demikian perasaan gugup itu tetap ada. Meski pada kenyataannya saat ini dirinya sudah resmi menjadi istri Saga.
Ya ampun, Ayana seolah tidak percaya kalau dirinya kini sudah resmi menyandang status sebagai istri Saga. Mendadak ia ingin menangis saking bahagianya, tapi karena takut merusak make up-nya, maka ia berusaha keras untuk menahannya. Ia tidak boleh menangis seperti saat sedang lamaran kemarin, karena kalau sekarang banyak tamu undangan dari keluarga maupun relasi kedua orang tua mereka. Belum beberapa rekan-rekan mereka. Sudah jelas banyak, jadi Ayana bertekad untuk tidak menangis.
Selesai menanda tangani buku nikah, kini saatnya sesi foto-foto. Sebelumnya Ayana mencium punggung tangan Saga, lalu dilanjut dengan Saga yang mencium kening Ayana.
"Mas, hati-hati, dahiku lagi benjol," bisik Ayana, "sebelah kanan, jangan sampai kena, ya, soalnya masih sakit."
"Hah?" respon Saga reflek. Pria itu kemudian mundur dan menatap sang istri tidak paham.
"Pokoknya gitu, nanti aja aku ceritanya, intinya hati-hati jangan sampai kena," bisik Ayana memperingati.
"Yang mana?" Saga khawatir tangannya tidak sengaja menyentuh dahi Ayana yang terluka.
"Aduh, aduh, ini pasutri malah ngobrol aja. Itu Mas fotografernya udah nungguin mau foto loh, dilanjut nanti ya ngobrolnya. Sekarang foto dulu," seloroh sang MC dengan nada menggoda.
"Nggak kena kan?" tanya Saga memastikan.
Ayana langsung mengangguk dan mengiyakan.
Selesai acara foto-foto selepas ijab qobul, saatnya kembali ke ruangan untuk berganti pakaian dan membenarkan make up-nya. Tak ingin repot, keduanya memang memutuskan ijab qobul dan resepsi dilakukan pada hari yang sama. Sebenarnya keputusan ini ditentang oleh kedua belah pihak keluarga, namun, mengingat profesi keduanya dan Ayana malas mengurus surat izin cuti kelamaan, maka dari itu diputuskan untuk menggelar acara resepsi dan ijab qobul pada hari yang sama.
"Coba aku mau lihat yang luka."
Ayana langsung membuka rambut poni yang menutupi benjolan pada dahinya.
Saga meringis saat melihat benjolan itu ternyata cukup besar. "Kok bisa?" Bibirnya secara reflek langsung meniup benjolan itu, "masih sakit?"
"Masih lah, Mas."
"Kena apa?"
"Tembok."
"Lain kali hati-hati."
"Ya, emang lagi apes aja kali, Mas."
"Emang dasar lo aja yang banyak tingkah, ada aja kelakuannya. Itu kepala difitrahin tiap tahun, Na, jangan main lu bentur-benturin gitu. Badan lo sekarang bukan cuma punya lo, tapi punya Saga juga. Harus lebih hati-hati sekarang lo," sahut Tama tiba-tiba masuk ke dalam ruangan ditemani kedua buah hati dan sang istri.
__ADS_1
"Lo mah bisanya nyinyir, Bang, kayak netizen," balas Ayana dengan wajah cemberutnya.
"Soalnya kelakuan lo minta dinyinyirin. Untung temen gue masih mau sama lo."
"Udah-udah, berantem aja kalian tuh kalau ketemu. Giliran nggak ketemu aja dicariin. Mending foto dulu, yuk, mumpung belum ganti kostum," ajak Fira dengan antusiasnya.
"Nanti, gue mau foto berdua dulu sama suami gue, Kak. Antri ya, nanti deh kita foto bareng." Ayana kemudian merangkul lengan Saga dan mengajak sang suami untuk foto berdua. Saga yang sebenarnya sedikit anti foto selfi tidak bisa menolak karena hari ini hari pernikahan mereka.
"Bibit suami-suami takut istri nih kayaknya, diajakin foto tanpa ngeluh," ledek Tama sambil terkekeh geli.
"Diem deh lo, Bang, nggak usah iri sama pengantin baru."
"Terserah lo, Na. Sebahagia lo."
Ayana langsung tersenyum puas seraya mengacungkan jempolnya. Setelah mendapatkan beberapa foto yang diinginkan ia meletakkan ponselnya lalu mengajak Kakak iparnya untuk berfoto bersama.
"Ngomong-ngomong kado buat kita apaan, Bang?" Ayana kemudian menoleh ke arah Saga, "rumah kamu kira-kira butuh apa, Mas? Ada perabot yang perlu diganti?"
Saga langsung menggeleng sebagai tanda jawaban.
"Saga baru pindahan kali, Na, jadi perabotnya baru semua jadi nggak ada yang perlu diganti. Otomatis nggak ada kado buat lo dalam waktu dekat, ntar aja kalau lo udah lahiran. Sekarang gue juga lagi bokek."
"Dasar pelit lo, Bang," cibir Ayana.
"Biar cepet kaya kayak suami lo," balas Tama asal.
______________________________________
Setelah menyelesaikan shift-nya Malvin langsung bergegas pulang dan mandi. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menghadiri acara ijab qobul Ayana tadi pagi. Dengan langkah buru-buru, ia langsung menyambar kemeja batiknya dan memakainya. Setelah dirasa penampilannya sudah oke, ia langsung keluar dari unit apartemennya.
"Mau ke mana lo? Rapi banget pake batik segala."
"Kepo lo."
Perempuan itu mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Sebenernya bukan karena gue kepo sih, basa-basi aja. Gue mau nanyain soal mobil lo, gimana kabarnya? Gue harus ganti berapa? Nggak bisa gue punya utang lama-lama."
"Nanti gue kabarin. Gue belum sempet bawa mobil gue ke bengkel. Sorry, ya, gue duluan, lagi buru-buru soalnya gue."
"Dih, sok sibuk banget sih jadi manusia."
Meski mendengar dengan jelas, Malvin memilih untuk tidak menggubrisnya. Bukan tanpa alasan, jelas saja karena ia tidak ingin semakin telat datang ke acara resepsi Ayana. Ia sudah telat terlalu lama dan tidak boleh telat lebih lama lagi kalau tidak ingin kena omel perempuan itu. Dan benar saja, saat ia sampai di acara resepsi Ayana, perempuan itu nampak sudah menyambutnya dengan ekspresi tidak bersahabatnya.
"Temen macam mana lo jam segini baru dateng?"
"Sorry, nggak dapet temen yang mau diajak tukeran shift, njir. Ini tadi aja gue langsung buru-buru ke sini, belum sempet makan gue. Btw, congrats ya, akhirnya sah jadi istri orang juga lo." Malvin langsung memeluk Ayana sebentar lalu beralih pada Saga, "dok, selamat ya. Titip temen gue. Kalau dia nakal, sentil aja jidatnya, dijamin."
"Langsung jinak?"
"Langsung ngamuk lah, spesies macem Yana itu jinaknya kalau dikasih makan doang." Malvin langsung meringis sambil mengacungkan jari telunjuknya membentuk huruf V, "hehe, canda, dok."
"Sialan lo!" umpat Ayana cemberut, kepalanya kemudian celingukan mencari seseorang, "btw, lo tadi ke sini sendirian banget?"
Malvin langsung mengangguk cepat.
__ADS_1
"Ya, ampun kasian banget sih temen gue. Itu dek koas apa kabar? Kenapa lo nggak ajak dia?"
"Udah ke laut. Dah lah, gue gabung sama yang lain ya sekalian cari makan. Sekali lagi selamat untuk kalian ya, cepet-cepet kasih gue momongan. Bye!"