
***
Olivia memandang Malvin dengan harap-harap cemas apalagi saat pria itu mengatakan hendak mengakui sesuatu. Bukankah wajar jika ia merasa demikian. Batinnya bertanya-tanya kira-kira hal apa yang hendak diakui pria itu.
“Sebenernya hubungan gue sama kedua orang tua gue nggak begitu bagus.”
Olivia hampir tersedak saat mendengar pengakuan pria itu. Ia lumayan kesal karena ia pikir pria itu akan mengatakan hal yang sangat serius, tapi ternyata dugaannya salah, ia hanya terlalu overthinking ternyata.
“Mas, kamu udah bikin aku overthinking loh. Aku pikir kamu mau ngaku kalau udah pernah nikah atau apa. Tahunya Cuma kasih tahu hal yang bahkan udah keliatan jelas begitu,” gerutunya kemudian.
Kali ini Malvin tertawa. “Emang muka gue keliatan kayak orang udah pernah nikah ya?”
Olivia menggeleng sembari menyuap kembali. “Ya enggak, Cuma secara umur kan udah cocok, Mas.”
Malvin mangggut-manggut setuju. Ia tidak mengelak karena memang benar, secara umum, umurnya sudah memasuki usia wajar untuk menikah. Bahkan beberapa teman-teman sebayanya pun mayoritas sudah berkeluarga, bahkan tidak sedikit dari mereka sudah mulai program untuk menambah momongan. Sangat berbeda jauh dengan dirinya yang satu saja belum punya.
“Lo keberatan nggak nikah sama yang umurnya lebih tua?”
Olivia menggeleng cepat. “Memang itu sih yang aku cari, aku nggak tertarik sama yang seumuran apalagi yang lebih muda. Tipe aku itu yang lebih tua, anak tunggal kaya raya dan berpendidikan tinggi,” selorohnya kemudian.
“Gue banget dong?”
Olivia mengerutkan dahi sesaat sebelum akhirnya terbahak tak lama setelahnya. “Emang lo anak tunggal?”
Dengan wajah yakinnya Malvin mengangguk untuk mengiyakan. Olivia terlihat begitu terkejut. Mulutnya nampak menganga saking tidak percayanya.
“Serius Mas Malvin anak tunggal? Beneran nggak punya adik atau kakak?”
Malvin mengangguk saat mengiyakan. “Serius nggak punya kalau dari orang tua kandung karena emang gue anak tunggal dan satu-satunya yang dimiliki nyokap-bokap gue. Tapi gue punya kenalan yang udah gue anggap kayak keluarga sendiri, gue punya sih. Gue juga punya ponakan lucu-lucu dari sana. Kapan-kapan bakalan gue kenalin ke mereka. Maksud kenapa tadi gue bilang kalau hubungan gue sama bokap-nyokap gue nggak begitu bagus karena gue punya keluarga lain yang menurut gue lo harus tahu. Cepat atau lambat.”
“Apa dia adalah keluarga yang udah ngeawat Mas Malvin sejak kecil? Kayak yang ada di tv-tv gitu, dari keluarga pengasuhnya jadi dianggap orang tua sendiri. Gitu ya, Mas?”
“Bukan, tapi yang jelas dia sangat berarti buat gue. Kalau mau gue bakalan secepatnya kenalin ke mereka. Mau?”
__ADS_1
Olivia tidak menolak. Perempuan itu hanya mengangguk patuh dan kembali sibuk menguyah nasi gorengnya.
***
Malvin nampak terkejut saat melihat Olivia baru saja keluar dari unitnya sambil memakai masker.
"Kenapa? Belum pakai make up?" tanyanya heran. Ia kemudian melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangan kirinya. Sepertinya tidak mungkin. Batinnya berasumsi.
"Kayaknya aku mau flu deh, Mas, dari semalem hidung aku mampet."
Malvin langsung mengulurkan telapak tangannya dan meletakkan pada dahi perempuan itu, setelah mendengar suara Olivia yang terdengar agak bindeng. Dapat ia rasakan hawa panas dari sana.
"Kamu demam ini, Liv, sakit kamu. Masuk aja ke dalam, yuk, kamu perlu istirahat. Denger, obat terbaik kalau flu itu ya istirahat. Flu kamu bisa tambah parah atau bahkan kamu bisa jadi batuk juga kalau maksain diri."
"Enggak papa, aku kayaknya juga mau ngantor setengah hari doang. Soalnya hari ini aku ada janji sama salah satu penulis aku, Mas, jadi nggak mungkin kalau aku nggak ngantor."
For your information, profesi Olivia adalah seorang editor di salah satu penerbitan mayor yang namanya cukup terkenal di Indonesia. Jadi tanpa ngantor pun, perempuan itu masih bisa tetap bekerja dari rumah. Meski sejujurnya ia tidak merekomendasikan perempuan itu tetap bekerja dari rumah dengan kondisi yang begini.
Bugh!
Malvin langsung ditimpuk perempuan itu menggunakan tas. "Kamu doain aku pingsan, Mas?"
"Ya bukan doain, cuma aku khawatir loh ini ceritanya. Masa iya aku malah dituduh begitu. Serius aku khawatir. Atau gini aja, minum obat flu dulu ya," bujuk Malvin yang langsung ditolak perempuan itu dengan tegas.
"Aku nggak akan bisa melek kalau minum obat flu, Mas, lagian aku kan cuma flu. Kayaknya nggak ada deh ceritanya orang kena flu doang sampai pingsan."
Malvin menghela napas pasrah. "Jadi kamu nggak mau dengerin aku?"
Olivia langsung menggeleng tegas. "Aku lebih tahu kondisi aku sendiri ketimbang kamu, Mas, meski kamu ini dokter. Tapi kan kamu dokter kandungan, ngurusinnya kandungan orang terus."
"Astaga ya ampun pacarku tersayang, dokter spesialis juga dulu pernah jadi dokter umum lah."
Olivia yang tadinya cuek-cuek saja mendadak salah tingkah saat Malvin menyebutnya pacar, bahkan pria itu masih mengimbuhi kata tersayang. Sesaat ia jadi seperti ingin melayang.
__ADS_1
"Oke, oke, terserah kamu lah."
"Kalau gitu ayo, balik masuk!" ajak Malvin.
Olivia langsung melotot tidak setuju. "Kok gitu?" protesnya kemudian, "enggak, pokoknya aku tetep mau kerja. Titik."
"Kok kamu ngeyelan sih dikasih tahu?" Malvin menatap Olivia datar sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Helaan napas panjang terdengar tak lama setelahnya.
"Ya emang aku aslinya ngeyelan, Mas."
Tak lama setelahnya Olivia langsung bersin-bersin lagi. Malvin berdecak kesal.
"Tuh, tuh, tuh, bersin terus begitu kok ngeyel mau kerja. Nanti kalau malah nularin yang lain gimana?"
"Kan aku udah pakai masker, Mas."
Kali ini Malvin menghela napas pasrah. "Ya udah lah, terserah kamu. Pokoknya yang penting aku udah kasih tahu kamu, tapi emang dasar kamunya yang ngeyelan loh ya."
"Iya, Mas."
"Jangan iya-iya aja kalau kamu nggak nurut begini, Liv," dengus Malvin dengan wajah kesal, "aku masih bisa anter kamu ke kantor, tapi kalau pulang aku nggak bisa kasih jaminan kalau aku bisa jemput. Gimana? Masih mau nekat ngantor?"
Kali ini Olivia tertawa. "Apaan sih lebay, kayak biasanya kamu anter-jemput aku aja. Kan emang akunya udah biasa pulang-pergi sendiri, Mas."
"Ya beda, biasanya lo masih jadi pacar orang lain, sekarang kamu udah jadi pacar aku, kan semenjak kita jadian gue selalu usahain buat nganter atau jemput lo. Kok lo kesannya kayak nggak menghargai usaha gue sih, Liv?"
"Kok merembet ke mana-mana?" protes gadis itu agak kesal, "lagian kamu aja kadang masih suka pake lo-gue kok kalau ngomong, tapi sok-sokan bilang aku yang nggak menghargai usaha kamu."
"Ya kalau masalah itu kan gue perlu penyesuaian, Liv," Malvin menggeleng cepat, "aku maksudnya," ralatnya kemudian.
Olivia kembali mendengus dan mengajak pria itu segera berangkat kalau pria itu tidak mau terlambat ke rumah sakit.
Tbc,
__ADS_1