
______________________________________
Brak!
Emosi Malvin seketika langsung meradang saat mendengar sesuatu mengenai mobil kesayangannya. Ia baru selesai begadang karena menunggu pembukaan pasiennya, giliran pulang ingin beristirahat dengan tenang, eh, tapi mobilnya malah disenggol? Ingin sekali rasanya ia memaki.
Dengan emosi yang menyelimuti diri, Malvin memutuskan untuk keluar dari mobil dan mencari tahu siapa yang baru saja mencari masalah dengannya.
"Heh, bisa nyetir nggak sih lo? Kalau emang nggak bisa nyetir, nggak usah sok-sokan nyetir dan bikin susah orang gini. Keluar lo!" seru Malvin sambil memukul mobil yang menyebabkan mobil kesayangannya tergores.
Tak berapa lama, seorang perempuan turun dari mobil itu dengan kepala tertunduk penuh penyesalan.
"Maaf--" kalimat perempuan itu mendadak terhenti saat melihat sang pemilik mobil yang mobilnya tidak sengaja ia tabrak.
"Lo lagi?" potong Malvin dengan ekspresi tidak percayanya, "abis bikin dosa apa sih gue di masa lalu, sampai kalau ketemu lo sial mulu? Heran gue," gerutunya kemudian.
"Heh, maksud lo apa ngomong gitu? Selow aja bisa dong? Kan gue nggak sengaja, gue ngaku salah karena gue kurang hati-hati. Lagian mobil lo cuma baret dikit, dipoles dikit juga udah kinclong lagi, lo nggak usah nyari gara-gara bisa nggak sih?" seru perempuan itu.
Malvin seketika langsung tercengang, karena perempuan itu malah lebih galak darinya. Padahal jelas-jelas yang salah perempuan itu. Memang benar ya istilah perempuan selalu benar tuh, tidak peduli siapa yang salah yang marah-marah mereka. Memangnya R.A Kartini memperjuangkan emansipasi wanita untuk ini? Ia rasa tidak.
"Heh, yang salah lo kenapa yang lebih nyolot lo?" tanya Malvin tidak habis pikir.
"Lo yang mulai," balas perempuan itu.
"Heh, gue juga bakal nyelow kalau lo nggak nyenggol duluan."
"Kan gue udah minta maaf."
"Lo pikir kata maaf lo bisa bikin mobil baret gue ilang?"
"Astaga, perhitungan banget sih lo jadi manusia. Iya-iya, gue bakal tanggung jawab. Lo nggak perlu khawatir, lo bisa bawa mobil ke tempat langganan lo, nanti biayanya gue yang tanggung. Puas lo?"
Malvin langsung tertawa meremehkan. "Emangnya lo mampu? Lo kan pengangguran, biaya perawatan mobil gue itu mahal, nggak sembarangan. Ngerti nggak lo?"
"Wah, udah perhitungan songong lagi. Benar-benar sampah masyarakat."
"Apa lo bilang?"
__ADS_1
Perempuan itu langsung menggeleng cepat. "Enggak ada. Udah gue buru-buru, nggak bisa lama-lama ngobrol sama orang nggak penting. Karena kita tetanggaan, jadi nggak perlu tukeran kontak. Langsung ketuk aja pintu unit gue kalau mobil lo udah beres dibenerin. Nanti gue ganti," ucap perempuan itu lalu masuk ke dalam mobilnya begitu saja. Meninggalkan Malvin dengan emosi dan umpatan kasarnya.
"Woi, woi, lagi belajar nama-nama hewan apa gimana lo? Semua binatang lo sebut?"
Mendengar suara yang cukup familiar, Malvin langsung menoleh ke asal suara. "Abis ketemu orang gila," balasnya asal.
"Hah?" Ayana melongo bingung.
Malvin langsung mengibaskan tangannya. "Udah, nggak penting. Btw, lo ngapain ke sini?"
"Bawain lo makanan," balas Ayana sambil menggoyangkan kantong kresek bawaannya, "lo pasti belum makan kan?"
Dengusan tanda tidak percaya langsung keluar. "Ada udang di balik mendoan kan? Nggak percaya banget gue sama lo. Pasti lo lagi ribut lagi kan sama calon suami lo itu?" tuduh Malvin sambil menyipitkan kedua matanya curiga. Jari telunjuknya pun menunjuk ke arah wajah Ayana secara terang-terangan, "ngaku lo sama gue!"
"Mana ada udang di balik mendoan. Ngaco aja lo! Lagian lo nggak boleh Su'udzon, gue sama Mas Saga nggak lagi ribut. Lagi akur kita tuh dan itu berkat lo. Hehe, tengkiyu ya my bestie seperti biasa lo emang selalu bisa diandalkan."
"Ya, emang gue tuh selalu bisa diandalkan. Nggak kayak lo, bisanya cuma ngerepotin," balas Malvin sedikit sinis.
"Itu gunanya bestie, kawan," kedip Ayana sambil merangkul pundak Malvin, yang tentu saja langsung dibalas dengan dengusan tidak percaya dari pria itu.
"Nasi goreng kambing sama kwetiau."
Malvin langsung mengangguk paham dan mengajak Ayana untuk segera meninggalkan basement.
"Laki lo tahu kan lo ke sini? Soalnya gue males ada drama di antara kalian."
"Aman. Gue udah bilang kok, dan dia juga yang bayarin makanan kita ini. Dia ada operasi jadi gue sendiri deh yang ke sini."
Keduanya kemudian masuk ke dalam lift. "Oh, jadi lo ke sini gegara lagi ditinggal dinas?"
"Kurang lebih gitu. Kalau dia nggak ada operasi, ya jelas gue milih makan berdua sama calon suami gue lah."
"Kambing!"
***
Ayana yang tadinya sibuk memainkan ponselnya, mendadak langsung menoleh ke arah Malvin, saat mendengar suara helaan napas pria itu.
__ADS_1
"Buset, beban lo berat banget, Vin? Sampe menghela napas begitu?" tanyanya heran.
"Iya. Berat banget nih, bes. Lagi galau gue. Pusing banget gue rasanya." Helaan napas kembali terdengar keluar dari mulut pria itu, "Na, menurut lo, apa gue terima perjodohan yang disusun nyokap gue ya? Menurut lo gimana?"
"Saran gue sih, mending lo coba temui dulu orangnya baru putusin buat terima apa enggak. Bukannya asal terima aja padahal belum tahu wujudnya kayak gimana."
Malvin menggeleng. "Gue nggak tahu. Gue sebenernya males dijodoh-jodohin gini, tapi mau gimana lagi. Nyokap gue makin hari makin maksa gue, apalagi lo bentar lagi nikah. Makin-makin lah dia sama usahanya. Gue sampe bingung gimana nolaknya.
Kali ini Ayana meletakkan ponselnya di atas meja. Atensinya sepenuhnya untuk sang sobat karib. "Kalau lo minta saran dari gue, ya, saran gue cuma itu. Lo coba, kalau suka ya terima, kalau enggak, ya udah. Simple kan?"
"Ya itu lo, sayangnya emak gue itu bukan lo," decak Malvin sambil membenamkan wajahnya pada bantal sofa. Kepalanya benar-benar terasa pening memikirkan solusi dalam menghadapi kedua orangtuanya.
"Mau gue bantuin? Gue bisa nemuin nyokap atau bokap lo terus ngomongin soal ini," tawar Ayana.
Malvin menggeleng. "Enggak usah deh, Na, biar ini jadi urusan gue sama bokap-nyokap gue. Lo nggak usah ikutan pusing. Cukup lo dipusingin sama persiapan pernikahan kalian." ia langsung menegakkan tubuhnya, "oh ya, ngomong-ngomong gimana sama persiapannya? Udah berapa persen?"
"Udah hampir 80%."
"Laki lo masih suka bikin ulah nggak?"
"Masih calon," koreksi Ayana, "ya, kalau soal itu bukan masalah besar sih menurut gue. Soalnya gimana ya, emang dia orangnya begitu, mau gue gimana lagi coba? Ya, tinggal terima keadaan."
"Cie cie, kayaknya beneran udah siap nikah nih ceritanya," goda Malvin sambil menyenggol lengan Ayana. Gadis itu langsung tertawa malu-malu.
"Apaan sih? Kan emang gue beneran udah siap. Persiapan aja udah 70% lebih, masa belum siap juga?"
Malvin langsung merebahkan punggungnya pada badan sofa, seraya merenggangkan kedua tangannya dan berteriak kencang. "Ahh, gue bentar lagi beneran mau ditinggal kawin sobat gue." ia kemudian menegakkan tubuhnya, "ntar pas ijab qobul jangan nangis lagi kayak pas lamaran."
Ayana meringis. "Ya, semoga aja." ia kemudian menepuk paha Malvin, "ya, lo makanya doain gue, biar ntar guenya pas ijab qobul nggak nangis."
"Lo duluan aja yang doain gue."
"Emang lo minta didoain apa?" tanya Ayana heran.
"Biar gue segera ketemu jodoh gue," cengir Malvin seraya memainkan kedua alisnya naik-turun.
"Anjir."
__ADS_1