Cinta Sesuai Dosis?

Cinta Sesuai Dosis?
Ayana mode on


__ADS_3

"Istirahat, woi, bukannya ngegame!" sindir Ayana saat masuk ke dalam ruang rawat inap Malvin.


Setelah menyelesaikan shift-nya, Ayana memutuskan untuk menjenguk Malvin dulu sebelum pulang. Meski dokter yang menjadi penanggung jawab Malvin selalu update perkembangan kondisi pria itu, tapi rasanya tetap kurang lega kalau ia belum memastikan kondisi pria itu dengan mata kepalanya sendiri.


"Pulang kerja itu langsung pulang, bukan malah nyamperin jodoh orang," balas Malvin tak mau kalah. Pandangannya masih tetap fokus pada layar ponsel. Jari-jemarinya sibuk menekan layar, bibir komat-kamit, entah sedang apa. Mungkin membaca mantra agar tidak kalah.


"Gimana kondisi lo?"


"Sangat bagus."


"Bukan itu, tapi hati lo. Dokter Yasmin udah ke sini belum sih? Masalah kalian udah beres?"


"Siapa itu?"


Tidak, tidak, Malvin tidak sedang pura-pura tidak mengenal nama itu. Hanya saja pria itu betulan lupa.


"Gebetan lo, anjir."


"Astaga, lupa gue, kalau gebetan gue dokter dan nama dia Yasmin," ucap Malvin sambil terkekeh seolah tidak memiliki beban.


Ayana berdecak sambil menatap Malvin iba. "Nasib lo kenapa begini banget sih, Vin?"


"Enggak usah sok mengasihani gue deh, nggak cocok."


"Tapi seriusan beliau belum ke sini?" tanya Ayana kepo.


Malvin menggeleng. "Dia nggak punya alasan buat ke sini."


"Padahal gue udah bilang kalau lo sakit parah. Kena hepatitis."


Mendengar kalimat Ayana, mood Malvin bermain game mendadak menguap begitu saja. Ia bahkan tidak peduli karena kalah. Tangannya kemudian mencari sekotak tisu dan bersiap melemparkan kepada perempuan itu.


"Lo bilang apa barusan?"


"Santai, Vin, santai, gue lagi hamil! Lagian kan gue nggak sepenuhnya salah."


"Enggak salah apa? Gue cuma gejala hepatitis, kondisi gue nggak seserius itu. Apa emang lo berharap kondisi gue beneran sakit parah, hah?" seru Malvin emosi, "gue timpuk beneran ya lo lama-lama."


"Dengerin penjelasan gue! Maksud gue bilang gitu biar beliau langsung nyamperin lo."


"Tapi mana buktinya?"


Ekspresi Ayana berubah gugup. "Ya, mana gue tahu. Kan gue cuma berusaha, kalau masalah dia beneran nyamperin lo apa enggak, itu di luar kuasa gue."


Malvin menatap Ayana sinis. "Lo bilang gue hepatitis tanpa bilang hepatitis apa?"


Ayana menggeleng sebagai tanda jawaban.


"Bego! Lo itu dokter gadungan apa gimana sih? Angel bisa mikir gue 'jajan' sembarangan kalau begini ceritanya, Na. Astaga, Tuhan!" Malvin merasa gemas sendiri melihat kelakuan sang sahabat.


"Tapi kan yang penting lo nggak begitu."

__ADS_1


"Ya itu karena lo tahu dan kenal gue, luar dalam, sedangkan Angel belum."


"Gue enggak ya, anjir, sembarangan aja lo ngomong. Kalau laki gue denger mau tanggung jawab?"


"Yang penting enggak denger kan? Lagian apa yang lo lakuin lebih fatal, Na, lo ngomong sembarangan ke Angel. Image gue ini yang jadi taruhan."


"Tapi ya, Vin, belum tentu juga karena gue. Bisa jadi dokter Yasmin nggak ke sini karena emang lo bukan seleranya."


Malvin langsung menatap Ayana sinis. "Maksud lo apa ngomong gitu?"


"Ya, coba lo pikirin baik-baik! Eh, enggak, maksud gue kita pikirin baik-baik! Logikanya nih, dokter Yasmin kan cantik. Gila, buset, Vin, gue baru pertama ketemu rasanya kayak terpesona, padahal gue cewek juga. Tapi rasanya gue kayak insecure melihat kecantikannya. Sedangkan lo biasa aja, nggak jelek emang, cuma kan nggak ganteng-ganteng amat. Itu yang pertama, yang kedua, kata lo kan beliau udah spesialis kan?"


Malvin mengangguk dan mengiyakan.


"Nah, lo-nya aja begini, masih residen kaga kelar-kelar. Gue kalau jadi dokter Yasmin juga bakalan mikir-mikir lah."


"Sialan, lo kok jadi kesannya kayak jatuhin mental gue gini deh," balas Malvin tidak terima.


"Gue ngomong begini karena gue peduli sama lo.


"Peduli apaan lo?"


"Ya, peduli sama lo. Kalau gue nggak peduli, lo pikir gue bakalan repot-repot nemuin gebetan lo?" Ayana langsung menggeleng tegas, "enggak lah. Gue nggak bakalan membiarkan waktu berharga gue terbuang percuma kalau gue nggak peduli sama lo."


Malvin menghela napas. "Iya, iya, sorry, gue tahu lo sayang sama gue, gue tahu lo peduli sama gue, makanya lo sampe bela-belain nemuin dia dengan kondisi hamil begini. Thanks, ya, sorry, kalau gue banyak ngerepotin."


"Santai. Lo makanya buruan sembuh, biar nggak ngerepotin gue sama Mas Saga terus."


Malvin langsung tertawa. "Iya, iya, jangan kek nggak ikhlas gitu kenapa sih? Apa jangan-jangan beneran nggak ikhlas ya lo?"


"Anjir, sombong bener yang sekarang punya supir pribadi," cibir Malvin.


Ayana langsung mengibaskan rambut kudanya. "Iri bilang, bos!"


"Najis."


***


"Kenapa?" tanya Saga heran. Ia dan Ayana sudah berbaring lebih dari tiga puluh menit yang lalu, tidak ada obrolan karena Saga bahkan tadi sudah sempat tertidur sesaat. Tapi sang istri nampak masih gelisah dengan kedua mata terpejam.


Tak tahan, Saga kemudian bangun dari posisi berbaringnya. "Enggak bisa tidur?" tanyanya, "mau nonton dulu?" tawarnya kemudian.


Ayana menggeleng. "Kayaknya kepikiran Malvin."


Saga langsung mendengus. "Kamu kalau mau bohong nggak bisa cari alasan yang lain?"


Ayana kembali menggeleng. "Soalnya kalau pake alasan yang lain, ntar kamu cemburu. Dulu sempet mikir, kayaknya seru kamu cemburuin tapi ternyata serem."


Saga kemudian kembali berbaring di sisi Ayana dengan posisi miring menghadap sang istri. Telapak tangan kiri ia gunakan untuk menopang kepalanya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk mengelus perut sang istri.


"Kamu kenapa nggak bilang kalau nemuin Yasmin."

__ADS_1


"Eh, Mas Saga tahu dari mana?"


"Yasmin."


Ayana langsung menutup mulut menggunakan telapak tangannya. "Mas Saga nemuin dokter Yasmin?"


Saga mengangguk. "Kan kamu yang nyuruh."


"Iya, juga sih, terus hasilnya gimana? Kira-kira beliau mau nemui Malvin nggak?"


Saga menggeleng. "Susah. Yasmin punya alasan kuat kenapa dia begini."


"Apa?"


"Bukan kapasitas aku buat cerita, Yan. Bukan hak aku."


"Oke, kita lupain alasan itu. Sekarang fokus ke perasaan, sebenernya dokter Yasmin mau nggak sama Malvin."


Saga hanya merespon dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Dia nggak ngaku."


"Tapi menurut aku emang suka sih, cuma gegara alasannya itu yang bikin beliau nggak mau sama Malvin?"


"Ini urusan mereka, biar mereka selesaikan sendiri, Yan."


"Tapi aku nggak tahan, Mas, liatnya."


Elusan tangan Saga kini beralih ada rambut Ayana. "Jadi yang bikin gelisah kamu beneran soal Malvin?"


Dengan wajah ragu-ragu, Ayana menggeleng. Detik berikutnya ia langsung memeluk sang suami. "Aku kalau bilang ngidam tengah malem begini bakal kamu omelin nggak sih, Mas?"


Saga langsung mengurai pelukan mereka. "Kamu ngidam?"


Ayana mengigit bibir bawahnya. "Enggak tahu ini ngidam apa bukan, cuka pengen aja gitu."


"Pengen apa emang?"


"Janji nggak marah?"


Saga menyipitkan kedua matanya curiga. "Apaan emang?"


"Enggak mau lah, besok aja, ntar kamu ngomel lagi."


Saga mengangguk tidak masalah lalu memeluk sang istri. "Ya udah, tidur aja kalau gitu."


"Kok Mas Saga gitu?"


Ayana merengut kesal, karena sang suami tidak ada inisiatif nyenengin istri.


"Kalau kamu khawatir aku ngomel dan bisa nahan sampe besok, nggak papa. Mending kita tidur kan?"


"Jawaban kamu enteng banget, Mas?"

__ADS_1


"Emang harusnya gimana? Kan kamu yang bilang besok aja. Salah aku?"


Ayana menggeleng cepat. "Enggak, Mas, tapi salah aku," ucapnya ngambek.


__ADS_2