
"Lah, udah mau cabut? Gue baru nyampe loh, Na. Temenin ngopi dulu, yuk."
Ayana hanya mampu memutar kedua bola matanya saat mendengar rengekan Malvin. Ia pun hanya bisa pasrah saat pria itu merangkul lengannya secara posesif dan mengajaknya ke sebuah warung kopi dekat rumah sakit. Dilihat dari wajah ditekuk pria itu, Ayana dapat menebak kalau Malvin sedang butuh teman curhat.
Beruntung warung kopi yang mereka kunjungi lumayan sepi, jadi Malvin bisa curhat sepuasnya dengan Ayana. Kebetulan warung kopi yang mereka kunjungi adalah warung sederhana yang kurang nyaman jadi tempat curhat kalau sedang ramai pengunjung. Sepertinya pria itu sedang dalam rangka ngirit mode on.
"Gue lagi kesel sekesel-keselnya deh, Na, sama bonyok gue. Mau mereka itu apa sih?"
Wajah Malvin terlihat makin ditekuk saat pria itu memulai percakapan mereka.
"Ya, mau mereka lo jadi kebanggaan mereka lah, Vin. Cuma itu kan yang diinginkan orang tua." Kemudian cepat-cepat Ayana mengimbuhi, "ah, sama yang penting anaknya bahagia."
Malvin berdecak kesal setelah meletakkan gelas kopi hitamnya. "Gue bukan anak mereka deh, Na, kalau begini ceritanya. Soalnya gue nggak bahagia."
"Vin, jangan mulai deh!"
Ayana menyilangkan kedua tangan sambil menatap Malvin dengan ekspresi tidak suka. Ia tahu hubungan pria itu dengan kedua orang tuanya memang tidak sebagus hubungan antar orang tua dan anak pada umumnya. Tapi bukan berarti Malvin boleh berbicara demikian.
"Ya, abis gue tuh kesel, Na. Anak itu kan titipan Tuhan yang harusnya dijaga dan diberi kasih sayang. Lah, gue? Adanya cuma dipaksa menuruti ekspektasi mereka doang. Mereka itu kayaknya nggak pengen gitu lihat anaknya seneng, maunya--"
"Malvin Prawicaksana," potong Ayana dengan nada suara memperingatkan. Kedua matanya terlihat benar-benar tidak bersahabat dan itu cukup membuat nyari Malvin menciut seketika.
"Sorry."
Ayana berdecak sambil mengangguk. "Lanjut!"
"Lo tahu nggak apa lagi yang dipengenin mereka?"
Ayana memutar kedua bola matanya, pura-pura memasang wajah sedang berpikir serius. "Lo harus segera menikah?" tebak Ayana yang sayangnya langsung tepat sasaran.
Malvin bahkan sampai tersedak kaget karena sahabatnya itu berhasil menebak. "Kok lo tahu?"
Ayana tertawa. "Soalnya gue juga digituin, Vin." Ia masih terlihat tidak percaya, "serius lo digituin? Umur kita udah warning banget ya buat orang tua?"
Ayana pikir kedua orangtua Malvin ingin pria itu fokus dengan spesialisnya baru boleh memikirkan pernikahan. Tapi ternyata ia salah.
Malvin mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Mana gue tempe, kalau lo sih kayanya emang iya. Cuma kalau gue belum sih."
Wajah Ayana langsung berubah tidak terima. "Kenapa gitu?"
"Lo perempuan, Na."
"Vin, sekarang udah zamannya emansipasi perempuan dan lo masih bawa-bawa gender?" Ayana berdecak sambil geleng-geleng kepala, "wah, parah banget lo, Vin."
"Bukan begitu maksud gue, kampret! Maksud gue, perempuan dan problematika hamilnya, elah. Itu yang gue maksud," balas Malvin tidak terima.
Ayana hanya memasang wajah cemberutnya.
"Tapi kalau lo sampai dijodoh-jodohin nggak sih, Na?"
"Sampai lah. Bokap gue sih santai ya, Vin, cuma nyokap gue sih yang kayak udah nggak tahan banget gitu."
__ADS_1
"Serius?! Demi apa lo?"
"Demi lo nggak lulus spesialis."
Brak!
Dengan wajah emosi, Malvin menggebrak meja hingga membuat gelas berisi kopinya sedikit bergoyang. Umpatan samar terdengar tak lama setelahnya.
"Sembarangan banget lo kalau ngomong! Tiap malam begadang nungguin istri orang lahiran, ya kali gue nggak lulus spesialis," protesnya dengan wajah tidak terima.
Tangan Malvin kemudian terulur maju dan menjitak kepala Ayana dengan cukup keras. Hingga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Sakit, Vin."
"Rasain! Hati gue juga sakit tahu lo bilang gitu."
"Bercanda elah, sensi banget lo."
"Bercanda lo nggak lucu ya. Masa depan gue anjir, Na, masa dibecandain gitu."
Ayana menyengir sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V. "Iya, iya, gue minta maaf."
"Enggak usah senyum-senyum, nanti gue naksir."
"Naksir aja, gue juga udah biasa kalau banyak yang naksir." Ayana memasang wajah sok malu-malunya dan langsung disambut ekspresi wajah ingin muntah dari pria yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Skip buat yang tadi, sekarang gue mau nanya serius, jawab yang bener! Lo beneran dijodohin? Dijodohin kayak yang ada di tv-tv gitu? Yang dipaksa-paksa gitu?"
"Terus yang kayak gimana?"
"Ya, dikenalin gitu lah intinya. Disuruh pdkt, kalau cocok lanjut, kalau enggak ya udah."
Sekarang Malvin paham. Pria itu manggut-manggut mengerti, kembali menyesap kopinya dan berkomentar, "Gue kirain sampai yang dipaksa-paksa gitu, Na. Tapi syukur deh kalau enggak."
"Alhamdulillahnya enggak sih."
"Terus lo udah ketemu orangnya?"
Ayana mengangguk cepat. "Udah. Temen Bang Tama, dan kebetulan sekarang jadi tetangga gue. Jadi otomatis lumayan sering ketemu lah."
"Anjir, kayak ftv dong?"
"Maksudnya?"
"Jodohku lima langkah, kan deket tuh, tetanggaan," ledek Malvin sambil tertawa renyah, "terus-terus kelanjutannya gimana? Asik nggak?"
"Kalau asik ya cocoknya dijadiin temen nongkrong, bukan menantu nyokap gue. Tipe yang nggak banyak ngomong tapi lebih ke banyak tindakan, dewasa, mapan, dan alhamdulillah untungnya tampan sih, Vin. Jadi nggak rugi-rugi banget."
"Terus lo mau gitu nikah sama dia?"
"Ya, kalau dalam waktu dekat sih enggak ya. Gue belum lama putusnya, njir, ya kali langsung gas nikah. Gue kebetulan belum sengebet itu sih. Lo sendiri gimana?"
__ADS_1
Malvin menunjuk dirinya sendiri menggunakan ujung jarinya. "Gue?" Saat mendapati anggukan kepala dari Ayana, baru lah Malvin menggeleng. "Ya, sama aja pake acara dijodoh-jodohin. Semua-muanya pokoknya harus sesuai keinginan mereka. Dan gue masih nyari-nyari alesan buat menghindar sih. Enggak sanggup gue yang begini-beginian."
"Kenapa nggak dicoba dulu sih?"
"Gue udah keseringan nurutin mereka, Na. Capek gue lama-lama, gue juga pengen kali bahagia dengan jalan yang gue pilih sendiri."
"Tapi, pilihan mereka biasanya juga cocok di lo kan? Kenapa nggak dicoba aja sih?"
Malvin menggeleng tegas. "Keburu males duluan gue. Lagian gue nggak ada rencana nyari yang seprofesi."
"Eh, dokter juga?"
Malvin mengangguk sambil menyesap kopinya lagi. "Tapi masih koas." Ia kemudian melirik Ayana ragu, "lo dokter juga?"
Ayana mengangguk cepat. "Dan udah spesialis. Kalau masih koas, masih imut-imut gemes dong?"
Malvin mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. "Ya mana gue tahu, ketemu aja belum. Dan gue juga ogah sih ketemu, pokoknya gue bakal terus cari-cari alesan sih biar nggak ketemu. Zaman udah serba canggih gini, masa mau nikah aja pake acara dijodohin. Kayak anaknya nggak laku aja," gerutu Malvin dengan wajah betenya. Ia kemudian melirik Ayana ragu, "sama lo aja yuk, Na."
Ayana membulatkan kedua bola matanya kaget. Jarinya menunjuk ke arahnya sendiri. "Gue? Ngapain?"
"Kawin. Eh, nikah maksudnya, kan mending nikah sama temen sendiri, Na, ketimbang nikah sama orang lain. Seenggaknya kita udah tahu baik buruknya masing-masing. Nikah sama gue aja, yuk, Na!" ajak Malvin ngawur.
Ayana hanya memutar kedua bola matanya malas sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, saat mendengarkan ucapan ngelantur sang sobat karib.
"Gue yakin nyokap bokap gue bakal seneng kalau lo calon menantunya," ucap Malvin mengimbuhi.
"Tapi nyokap gue enggak, Vin."
Malvin terlihat tidak percaya. Seingatnya ia sangat disayangi oleh Mama Ayana, lalu kenapa gadis itu bilang kalau Kartika tidak senang kalau dirinya jadi anak menantu Mama Ayana?
"Nyokap lo suka banget loh, Na, sama gue. Masa nggak mau kalau gue yang jadi menantunya?" nada suara pria itu terdengar seperti tidak terima.
Ayana menjentikan jarinya. "Nah, justru itu, Vin, karena nyokap gue suka sama lo, beliau nggak mau kalau gue yang jadi pendamping hidup lo. Paham?"
Malvin terkekeh sambil meletakkan gelasnya. "Rada loading nih gue, maksudnya saking sayangnya nyokap lo sama gue, beliau mau gue dapet yang lebih dari lo. Gitu?"
Ayana mengangguk dengan ekspresi malasnya. "Kurang lebih gitu."
"Lo anak tiri apa gimana deh, Na? Jangan-jangan dulu kita ketuker lagi."
Ayana terlihat tidak peduli dan langsung berdiri. "Udah lah, gue cabut duluan ya. Udah di WA nih gue."
Malvin menampilkan wajah bingungnya. "Siapa?"
"Jemputan gue."
"Yang lo ceritain barusan?" tebak Malvin, yang langsung diangguki Ayana, "anjir, langsung gas banget nih?" sambungnya kemudian.
"Apaan sih, ngaco! Kita mau ke rumah Bang Tama. Dah lah, gue duluan! Selamat bertugas dokter Malvin. Semangat!"
"Kambing!"
__ADS_1