
Ayana dan Saga sedang menikmati quality time mereka berdua. Menikmati sore hari dengan bersantai di balkon rumah mereka, jarang-jarang kan mereka memiliki momen seperti ini.
"Mas, kamu sadar nggak sih kita abis nikah belum honey moon loh, kok kamu kemarin nggak nawarin aku buat diajakin ke mana gitu sih?" tanya Ayana. Bibir wanita itu merengut kesal kala mengingat fakta itu.
"Kan kamu nggak minta," sahut Saga santai.
Ayana makin merengut. "Ya, harusnya kamu inisiatif dong, Mas, masa kaya gini harus diajarin," gerutunya kemudian.
Saga menghela napas. "Kan abis nikah fokus kamu mau ambil program spesialis, meski ujungnya nggak jadi."
"Kamu nyindir, Mas?" Tatapan Ayana berubah sinis.
Saga menggeleng dengan wajah andalannya. "Emang bener kan?" tanyanya kemudian, "nggak jadi ambil program spesialis, kamu ngajakin program hamil. Gimana sempet nawarin honey moon?"
"Iya juga sih. Gimana kalau kita mulai bikin plan baby moon?"
"Enggak usah aneh-aneh!" sahut Saga.
Ayana langsung merengut. "Aku aneh-aneh gimana sih, Mas?"
Saga hanya memasang wajah datarnya. Hal ini membuat Ayana semakin merengut karena menahan kesal.
"Tapi kalau dipikir-pikir kita belum pernah kemana-mana loh, Mas, orang-orang pacaran doang aja sampe liburan bareng, masa kita yang udah nikah nggak pernah?"
Saga menggeleng. "Enggak bisa, Yan, jadwal operasi aku penuh bulan ini."
"Ya, kapan-kapan gitu, bikin plan dulu yang penting."
"Bikin plan kalau nggak jadi pergi yang ada kamu makin ngambek," respon Saga sambil mencubit hidung mancung sang istri, "lagian kamu abis nonton apaan sih tiba-tiba ngajakin baby moon?"
Ekspresi Ayana seketika langsung berubah cerah. Tubuhnya langsung tegap. "Tadi ada pasien yang masuk IGD kan, Mas, pasangan suami-istri gitu. Istrinya hamil, mereka baru pulang baby moon katanya. Dari Lombok sama Bali."
Saga mengerutkan dahinya heran. "Kok kamu yang nanganin?"
"Soalnya yang diperiksain suaminya. Suaminya kecapekan karena abis baby moon, aneh ya, Mas, yang hamil istrinya tapi yang loyo suaminya."
"Suaminya juga yang morning sick?" tebak Saga, yang langsung diangguki cepat oleh Ayana.
"Kok kamu tahu sih, Mas?"
"Keliatan."
Ayana menerjapkan mata heran. "Kok bisa? Keliatan dari apanya?"
"Wajah kamu."
Reflek Ayana langsung menyentuh wajahnya sendiri. Bibirnya kembali merengut entah yang keberapa kali. "Emang wajah aku kenapa?"
Saga hanya mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, sebagai respon.
Ayana tidak peduli. Ia mencoba mengabaikan respon sang suami. "Tapi enak ya, Mas, kan katanya kalau istrinya hamil terus yang morning sick suaminya, itu tandanya suaminya cinta banget sama istrinya."
Saga langsung menyipitkan kedua mata tidak suka. "Kok aku tersinggung."
Spontan Ayana langsung terbahak. "Dih, baperan," ledeknya kemudian.
"Kalimat kamu menyinggung, Yan. Teori dari mana yang kamu dapet itu? Enggak masuk akal."
Ayana tersenyum malu-malu sambil merangkul lengan Saga, kepalanya ia sandarkan pada bahu pria itu. "Jadi, meski Mas Saga nggak begitu, Mas Saga tetep cinta banget sama aku?"
"Kamu masih nanya?"
__ADS_1
Seperti biasa, ditanyain tapi malah balik nanya. Suaminya memang begitu.
"Ya, aku butuh kepastian, Mas."
"Masih kurang?"
"Masih lah."
"Nikahin kamu, dan bikin kamu begini, masih ngerasa kurang juga kamu?" tanya Saga sambil mengelus perut Ayana. Ia langsung mendengus tidak percaya saat mendapat anggukan dari sang istri, "emang lupa cara bersyukur kamu," sambungnya kemudian.
Ayana langsung tertawa sambil melepaskan rangkulannya. "Loh, kok aku-nya malah dikatain?" protesnya tidak terima.
"Terus apa kalau bukan itu?"
"Ya, namanya istri--"
Kalimat Ayana mendadak terhenti karena ponsel Saga yang berbunyi.
"Mas, hape kamu bunyi."
Saga langsung meraih ponsel yang Ayana sodorkan. Nama Nabila yang tertera di sana. Cepat-cepat ia menggeser tombol hijau untuk menjawab sambungan telfon.
"Ya, halo, La?"
"Akhirnya lo angkat juga, tadi gue nyoba nelfon Yana, istri lo nggak diangkat-angkat. Lagi dinas, ya, dia?"
Saga menoleh ke arah sang istri. "Enggak. Ini lagi sama gue. Kenapa?"
"Oh, gue kirain. Enggak, gue cuma mau ngabarin kalau Bianca udah mau melahirkan itu aja sih."
Saga kembali menoleh ke arah Ayana. Sang istri langsung bertanya kenapa. Lalu kemudian ia sedikit menjauhkan ponselnya. "Bianca mau lahiran," ucapnya kemudian
"Speaker!" suruh Ayana.
"Halo, Kak Nabila, ini aku Yana. Bia beneran udah mau lahiran?"
"Ah, Yana? Kenapa aja kamu dari tadi aku telfon nggak bisa-bisa?"
"Hape aku di kamar, Kak, lagi aku charger. Udah pembukaan berapa emang, Kak?"
"Masih dua, tapi anaknya udah nggak bisa diem dari tadi. Ngeluh mulu, Na, buset. Sampe kasian aku sama adik ipar kita. Minta caesar terus."
Ayana dan Saga langsung bertukar pandang.
"Aku cuma ngabarin ya, Na, kamu nggak usah ke sini, kalau mau ke sini besok aja. Soalnya kamu juga lagi hamil, nggak usah nyuruh Saga juga. Di sini ada orang banyak jadi santai aja. Ini aja aku juga mau pulang kok bentar lagi, nunggu Papa-nya anak-anak jemput."
"Iya, thanks ya, La, infonya."
"Oke, sip. Baik-baik buat kalian."
"Iya, Kak, hati-hati pulangnya!" pesan Ayana sebelum mematikan sambungan telfon.
"Gimana nih, Mas?"
"Gimana apa?" Saga balik bertanya dengan ekspresi herannya.
"Ya, masa kita nggak ke sana? Aku nggak enak sama Jaka deh."
"Enggak papa. Jaka ngerti, kan kamu hamil juga."
"Ya, tapi tetep aja dong, Mas. Kita kan Kakaknya masa nggak langsung jengukin pas dikabarin?"
__ADS_1
Saga berdecak. "Kan kamu hamil juga, orang-orang bakalan paham."
"Tapi tetep aja nggak enak, Mas. Kita ke sana, ya, abis maghrib? Jengukin bentar terus pulang?"
Saga diam saja. Pria itu tidak bereaksi apapun. Wajahnya datar seperti semula.
"Mas," panggil Ayana dengan nada membujuk. Kedua matanya mengedip genit, "mau, ya? Simulasi sekalian."
Saga menyipitkan kedua matanya heran. "Simulasi apa?"
"Ya, biar ntar nggak kaget pas aku lahiran. Aku pengen liat suasananya."
Ekspresi Saga makin heran. "Emang dulu pas koas di stase obgyn kamu ngapain?"
"Belajar. Aku kan dokter muda teladan, jadi fokusku belajar dong, nggak sempet merhatiin yang lain, Mas."
Kali ini Saga langsung mencibir.
"Mas, ya udah kalau kamu nggak mau anterin--"
"Ya udah, iya," potong Saga cepat, "seneng banget ngancem suami sendiri."
"Biarin, abis kamu kalau nggak diancem nggak nurut. Emang dasar kamu-nya kan yang suka diancem, Mas."
Tak ingin berdebat lebih, Saga langsung mengangguk dan mengiyakan.
***
Akhirnya Saga dan Ayana memutuskan ke rumah sakit, mereka tiba di rumah sakit sekitar setengah delapan. Dan saat mereka sampai di sana, Bianca sedang bersiap akan dioperasi. Mendengar itu Ayana jadi khawatir.
"Loh, emang masih belum nambah pembukaannya?" tanya Ayana pada Nabila. Kakak iparnya itu tidak jadi pulang karena tahu sang adik ipar akan segera dioperasi.
Sebelum menjawab pertanyaan Ayana, Nabila mengomel panjang lebih dulu. Karena adik iparnya yang satu ini tidak mau mendengarkan dirinya. Nabila padahal sudah melarang Ayana ke sini, tapi adik iparnya ini tidak mau mendengarkan tentu saja ia kesal.
"Aku kan kerjanya di sini, Kak, udah biasa. Santai aja. Emang kondisi Bianca gimana sih kok sampai harus dioperasi."
"Sebenernya nggak harus, Na, cuma ini permintaan Bia. Tadi sempet dicek pembukaannya udah nambah jadi empat, tapi Bia bilang udah nggak kuat dan mau dicaesar aja. Dokter sih masih minta nunggu sampai pembukaan lengkap, tapi dia nggak mau, katanya alesannya udah nggak kuat. Jaka mana tega liat istrinya ngeluh terus, ya udah akhirnya terpaksa dokter setuju untuk caesar."
"Terus kenapa langsung tindakan? Kenapa nggak nunggu puasa dulu sebelum operasi?"
"Udah. Dia udah nggak mau makan sama minum sama sekali dari siang, emang udah persiapan pengen caesar sih aku rasa." Nabila langsung terkekeh melihat wajah Ayana yang mendadak pucat, "kenapa, Na? Kamu takut?"
Ayana meringis. "Dikit sih, Kak."
Nabila kemudian mengelus punggung Ayana untuk menenangkan. "Enggak papa, sakitnya orang mau melahirkan emang rasanya nggak wajar, tapi, nanti begitu liat si baby lupa sendiri. Ini versi aku sih, ya, Na, nggak tahu yang lain. Soalnya ada yang bilang--" Nabila langsung menghentikan kalimatnya, "eh, kok gue kesannya bukannya mau nenangin diri lo, malah nakut-nakutin ya, kesannya. Pokoknya kamu jangan khawatir. Meski rasanya orang melahirkan itu sakit, tapi percaya deh, setiap perempuan bisa kok menghadapinya. Udah, nggak usah terlalu dipikirin. Selow aja, oke?"
Sambil tersenyum tipis Ayana mengangguk dan mengiyakan.
Akhirnya setelah hampir satu jam menunggu, dokter yang melakukan tindakan caesar keluar dari ruangan dan memberitahu kalau operasinya berjalan lancar. Bayi dan ibunya dalam keadaan sehat dan berjenis kelamin pria. Keluarga nampak bahagia, begitu pun juga Ayana. Tahu sang keponakan sudah lahir dan dalam kondisi sehat, Saga kemudian langsung mengajak Ayana pulang.
"Tengok bayinya dulu dong, Mas, masa langsung pulang?" protes Ayana.
"Udah malem. Aku besok ada visit pagi, Yan."
"Ya aku pengen liat baby-nya, Mas. Kita ke ruang bayi dulu, yuk! Kita tengokin bentar terus pulang."
"Enggak boleh, sayang."
"Aku hamil loh, Mas."
Saga langsung berdecak. "Kamu selalu manfaatin anak kita," gerutunya kesal, "ya udah, abis ini langsung pulang. Enggak ada tawar-menawar."
__ADS_1
"Siap, bos!"